Zahra tumbuh sebagai pribadi yang tenang dan tertutup.
Ia tidak terluka, hanya terbiasa menjaga jarak dan memilih diam.
Schevenko berbeda.
Di balik sikap dingin dan wibawanya, ada masa lalu yang membentuknya menjadi pria yang tidak mudah percaya, tidak mudah berharap.
Pertemuan mereka tidak pernah dibungkus dengan janji manis. Tidak ada cinta yang datang tiba-tiba, hanya kebersamaan yang pelan, percakapan seperlunya, dan perhatian yang tak terucapkan.
Zahra tidak datang untuk menyembuhkan.
Ia hanya hadir—dan entah bagaimana, kehadiran itu cukup.
Hingga akhirnya, dua orang yang sama-sama dingin, dengan alasan yang berbeda, ditakdirkan untuk saling menggenggam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah baruku
Mobil masih melaju ketika langit mulai berubah warna. Biru terang berganti jingga kusam, lalu perlahan menggelap. Lampu-lampu jalan kembali menyala, memantul di kaca depan. Aku menyandarkan punggung, menatap jalanan yang semakin sepi.
“Mas,” panggilku pelan.
“Hm?”
“Rumah kamu… jauh juga ya.”
Ia tersenyum kecil. “Iya. Aku memang nggak suka terlalu ramai.”
Aku mengangguk, lalu terdiam beberapa detik sebelum kembali membuka suara.
“Di sini… cuma kamu sendiri?”
“Iya.”
“Sejak lama?”
“Cukup lama.”
Jawabannya singkat, tapi nada suaranya datar, seolah topik itu bukan sesuatu yang ingin ia jelaskan lebih jauh. Aku mengangguk lagi, meski di kepalaku muncul banyak pertanyaan.
Tak lama kemudian, mobil melambat. Gerbang besar berwarna hitam dengan ornamen sederhana terbuka perlahan. Aku menegakkan tubuhku.
“Mas…” suaraku refleks mengecil.
Mobil masuk ke halaman yang sangat luas. Lampu taman menyala lembut, menerangi deretan tanaman hijau yang tertata rapi. Pohon-pohon tinggi berdiri anggun, membuat rumah besar di tengahnya tampak semakin megah.
Aku terpaku.
Rumah itu bukan sekadar besar. Ia terlihat tenang. Kokoh. Indah dengan cara yang tidak berisik.
“Ini… rumah kamu?” tanyaku, hampir berbisik.
Ia memarkir mobil dengan rapi. “Iya.”
Aku menelan ludah. “Besar banget.”
Ia terkekeh pelan. “Nanti juga biasa.”
Kami turun dari mobil. Udara malam terasa sejuk, aroma tanah dan daun bercampur menjadi satu. Aku berdiri sejenak, menatap sekeliling, lalu tanpa sadar melangkah lebih dulu ke arah pintu utama.
Ia mengikutiku dari belakang.
Begitu pintu terbuka, aku langsung mengucap,
“Assalamualaikum.”
Sunyi.
Tidak ada jawaban. Tidak ada suara langkah. Tidak ada tanda-tanda orang lain.
Aku menoleh ke arahnya, sedikit kikuk.
Ia menutup pintu, lalu berkata,
“Waalaikumsalam.”
Ia tersenyum tipis. “Nggak ada orang lain. Cuma kita berdua.”
Dadaku berdebar. Kata kita berdua terasa aneh. Nyata. Terlalu nyata.
Mataku langsung tertuju ke ruang tamu. Sofa besar berwarna abu-abu gelap tampak empuk dan menggoda. Tanpa berpikir panjang, aku berjalan cepat lalu menjatuhkan diri ke sana.
“Ya ampun,” kataku sambil menghela napas panjang.
“Akhirnya… selesai juga.”
Rasanya seperti baru saja menyelesaikan maraton panjang. Semua kejadian hari ini berputar-putar di kepalaku—akad, catatan sipil, universitas, toko, dan sekarang… rumah ini.
Aku menoleh ke arahnya.
“Kamu nggak mau duduk? Mau berdiri terus?”
Ia melepas jam tangannya, meletakkannya di meja kecil.
“Aku mau mandi dulu.”
Aku mengangguk. “Oh… iya.”
Ia berjalan menjauh, langkahnya tenang, seolah rumah itu sudah menyatu dengannya. Aku duduk sendiri di ruang tamu, mataku menjelajah setiap sudut.
Langit-langit tinggi. Lampu gantung sederhana tapi elegan. Dinding bernuansa hangat. Tidak terlalu ramai, tapi terasa mahal dan rapi. Rumah ini seperti dirinya—tenang, tertutup, tapi kokoh.
Aku berdiri perlahan, berjalan pelan menyusuri ruang tamu. Jari-jariku menyentuh permukaan meja, rak buku, bingkai foto—kosong. Tidak ada foto keluarga. Tidak ada potret masa lalu.
Aku berhenti di depan jendela besar yang menghadap taman. Lampu-lampu kecil di luar berkelip pelan, membuat suasana terasa damai… dan sedikit sepi.
“Jadi… ini rumah baruku,” gumamku pelan.
Aku kembali duduk di sofa, memeluk bantal kecil. Perasaan aneh menyelinap—antara canggung, gugup, dan sadar bahwa mulai malam ini, hidupku benar-benar berbeda.
Tak lama kemudian, suara langkah terdengar dari arah tangga.
Aku menoleh.
Ia kembali, rambutnya masih sedikit basah, ujung-ujungnya meneteskan air. Kaus sederhana berwarna gelap menggantikan kemeja sebelumnya, membuatnya terlihat jauh lebih santai. Entah kenapa… justru seperti itu ketampanannya terasa lebih jelas. Tidak dibuat-buat. Tidak berjarak.
Aku terpaku.
Mataku benar-benar tak bisa lepas darinya.
Ia membawa secangkir susu hangat di tangannya. Aku masih melamun, pikiranku kosong, pandanganku hanya mengikuti setiap langkahnya. Saat ia mendekat dan meletakkan cangkir itu di atas meja, suaranya menyadarkanku.
“Kamu mikir apa?”
Ia mendorong cangkir itu sedikit ke arahku. “Ini, susunya diminum.”
Aku berkedip, tersadar. “Hah? Oh… iya.”
Ia duduk sebentar, lalu berkata dengan nada santai,
“Kalau kamu capek, kamu bisa ke kamar. Kamarmu di lantai dua, yang sebelah kiri. Yang kanan itu kamarku.”
Aku menatapnya tanpa berpikir panjang. Kata-kataku keluar begitu saja, tanpa filter.
“Kenapa nggak satu kamar aja?”
Begitu kalimat itu meluncur, aku sendiri belum sepenuhnya menyadarinya. Aku masih terlelap menatap wajahnya.
Ia membeku.
“Haaaa?”
Ia menoleh cepat ke arahku. “Gimana-gimana?”
Aku ikut terkejut. “Hah? Apanya yang gimana?”
“Kamu ngomong apa tadi?” tanyanya lagi, alisnya terangkat.
Aku panik. “Hah? Aku ngomong apa, an?”
Ia menatapku, setengah bingung setengah tidak percaya.
“Kamu tadi bilang, kenapa nggak sekamar aja.”
Aku terdiam.
Ia melanjutkan, nadanya masih terdengar kaget tapi jujur,
“Emangnya… mau sekamar?”
Panas.
Panas sekali.
Aku refleks mengambil bantal di sampingku dan langsung menutup wajahku dengannya.
“ENGGAK!” suaraku terdengar teredam.
“Aku tadi cuma ngawur! Sumpah! Aku nggak mikir!”
Aku meringkuk sedikit di sofa, menahan malu yang rasanya ingin menelanku hidup-hidup. Jantungku berdegup kencang.
Ia tertawa kecil. Bukan mengejek—lebih seperti tertawa lega.
“Yaudah,” katanya lembut.
“Itu susunya diminum. Kamu kan suka susu.”
Aku menurunkan bantal perlahan. Menatap cangkir di meja.
Aku teringat.
Aku memang pernah bilang—entah kapan—kalau aku suka susu hangat sebelum tidur.
Dadaku terasa hangat. Aneh. Pelan tapi nyata.
Aku meraih cangkir itu, meniupnya pelan, lalu menyeruput sedikit. Hangatnya menyebar di tubuhku.
“Mas…” ucapku lirih.
“Hm?”
“Kamu inget.”
Ia tersenyum tipis. “Hal kecil.”
Aku menatapnya, dan untuk pertama kalinya, pikiranku benar-benar berhenti berlarian. Aku menyadari satu hal dengan jelas: ia memperhatikan. Ia peduli. Ia tidak asal menjalaninya.
Entah kenapa, rasanya seperti… aku dijaga. Seolah-olah aku ditempatkan di posisi yang aman, dihargai, bahkan dimanjakan—bukan sebagai beban, tapi sebagai seseorang yang penting.
Aku meneguk sisa susu itu perlahan.
“Terima kasih,” kataku akhirnya.
Ia berdiri. “Istirahatlah. Besok kamu pasti capek.”
Aku mengangguk. “Iya.”
Aku berdiri dari sofa, masih sedikit kikuk, lalu berjalan menuju tangga. Di anak tangga pertama, aku berhenti dan menoleh ke arahnya.
“Mas…”
“Iya?”
“Selamat malam.”
Ia menatapku, lalu menjawab dengan suara tenang,
“Selamat malam, Zahra.”
Aku melangkah naik ke lantai dua. Tangga itu panjang dan berlapis kayu mengilap. Mungkin karena kelelahan, mungkin karena pikiranku terlalu penuh, kakiku tiba-tiba salah pijak di tengah-tengah anak tangga.
“A—!”
Tubuhku kehilangan keseimbangan.
Aku terjatuh.
“Mas—!” teriakku refleks.
Belum sempat tubuhku benar-benar menyentuh lantai, ada sepasang tangan yang menangkapku. Gerakannya cepat, nyaris tanpa ragu. Dalam satu tarikan napas, tubuhku sudah terangkat.
Ia menggendongku.
“Zahra!” suaranya terdengar panik.
Aku refleks memegang bahunya. Detak jantungku terasa keras, bukan hanya karena kaget, tapi karena jarak kami yang mendadak sangat dekat. Terlalu dekat.
Aku menatap wajahnya.
Dari jarak ini, aku bisa melihat segalanya dengan jelas—alisnya yang sedikit berkerut, rahangnya yang menegang, dan sorot matanya yang gelisah. Ada kepanikan yang nyata di sana. Bukan dibuat-buat.
“Kamu kenapa? Sakit?” tanyanya cepat.
“A—aku nggak apa-apa,” jawabku pelan, meski suaraku sedikit bergetar.
Ia tidak langsung percaya. Langkahnya tetap cepat saat membawaku menuju kamar. Aku masih menatap wajahnya, tanpa sadar memperhatikan hal-hal kecil—hela napasnya yang berat, genggamannya yang kokoh, cara ia menahan tubuhku seolah aku bisa pecah kapan saja.
Begitu sampai di kamar, ia membuka pintu dengan kakinya.
Aku langsung tercengang.
Kamar itu… indah. Cahaya lampu temaram memantul lembut di dinding, tirai putih bergoyang pelan tertiup angin dari jendela yang sedikit terbuka. Tempat tidur besar dengan seprai bersih, meja kecil dengan bunga segar, dan aroma lembut yang menenangkan.
Sampai-sampai aku lupa… aku baru saja jatuh.
“Indah banget…” ucapku spontan.
Ia berhenti melangkah.
“Mas,” kataku sambil menoleh ke wajahnya. “Ini beneran kamar aku?”
Tanpa sengaja—entah karena aku bergerak terlalu dekat atau ia sedikit menunduk—bibirku menyentuh pipinya.
Hanya sebentar. Sekilas. Tapi cukup.
Waktu seperti berhenti.
Aku membeku. Ia juga.
“Ma—maaf,” ucapku cepat, panik. “Aku nggak sengaja.”
Ia menurunkanku perlahan ke tepi ranjang. Tangannya masih menopangku beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya, lalu cepat-cepat ia menariknya.
Wajahku terasa panas. Sangat panas.
Ia pun terlihat sama—wajahnya memerah, sorot matanya tidak tenang, napasnya sedikit tidak beraturan.
“Kamu… beneran nggak apa-apa?” tanyanya akhirnya, sambil duduk di lantai mengecek kakiku. suaranya lebih rendah.
Aku mengangguk cepat. “Iya. Cuma kaget.”
Ia berdiri tegak, mencoba mengatur napas. Ada jarak di antara kami sekarang, tapi justru jarak itu terasa penuh dengan sesuatu yang tak terucap.
“Hati-hati lain kali,” katanya pelan. “Tangga itu licin.”
Aku menunduk. “Iya.”
Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
“Mas,” panggilku lirih.
“Iya?”
“Makasih.”
Ia menatapku, lalu mengangguk. “Istirahatlah.”
Ia melangkah menuju pintu, lalu berhenti sejenak. Tangannya terangkat, seolah ingin mengatakan sesuatu… tapi kemudian diturunkan kembali.
“Kalau butuh apa-apa,” katanya tanpa menoleh, “panggil aku.”
Pintu tertutup pelan.
Aku duduk di ranjang, jantungku masih berdebar. Tanganku menyentuh pipiku sendiri—hangat.
Malam ini sunyi. Tapi sunyi yang penuh getar.
Dan aku sadar satu hal dengan jelas:
hidup baruku bukan hanya berubah—ia mulai mengguncang perasaanku, pelan tapi pasti.