Anies Fadillah hanya ingin menenangkan hatinya yang lelah.
Namun satu langkah tergesa tanpa perhitungan di malam hari menyeretnya pada fitnah yang tak sempat ia luruskan.
Faktanya Anisa Fadillah gadis tujuh belas tahun itu berada di dalam kamar Ustadz Hafiz Arsyad, yang tak lain adalah putra bungsu dari Kiai Arsyad.
Sebuah peristiwa yang menguncang kehormatan, meski keduanya tak pernah berniat melanggar syari'at.
Ketika prasangka lebih dulu berbicara dan kebenaran tak sempat di bela, jalan yang paling tepat menjaga marwah adalah pernikahan.
Hari itu juga Mereka dinikahkan secara tertutup, dan pernikahan itu dirahasiakan dari publik, hanya orang ndalem yang mengetahui pernikahan rahasia antara Hafiz dan Anies.
Apakah pernikahan mereka akan bertahan?
Atau mungkin pernikahan mereka akan terbongkar?
Ikuti kisahnya yuk...!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZIZIPEDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Kegelisahan Gus Hafiz
Bus melaju memasuki Semarang.
Langit gelap mewarnai malam. Sawah-sawah membentang luas, berkabut tipis. Embun menempel di kaca jendela.
Anisa masih tenggelam dalam lamunannya
Getaran itu masih terasa di genggaman tangannya.
Nama itu terpampang jelas di layar pipihnya, layar terus berkedip. Jantungnya seperti diremas.
Senyum getir terbit di bibirnya. Senyum yang tak sampai ke mata. Ia menatap nama itu lama. Sangat lama.
Hanya satu sentuhan… dan ia bisa mendengar suara lelaki itu.
Suara yang beberapa minggu ini ia rindukan diam-diam.
Tapi sekarang, apa yang harus ia katakan?
Bahwa ia baru saja tahu dirinya anak siapa?
Bahwa pernikahannya sedang dipertimbangkan untuk dibatalkan?
Bahwa ia mungkin hanya penghalang bagi cinta lama yang sedang direncanakan kembali?
Hatinya tengah hancur lebur.
Jiwanya rapuh, tangannya bergetar.
Kenapa dia masih peduli…
aku bukan wanita yang ia sebut dalam doanya… bukan aku.
Kalimat itu lolos begitu saja dari dalam pikirannya.
Dering kembali berhenti.
Tak sampai semenit, panggilan masuk lagi.
Anisa memejamkan mata.
Lalu… dengan satu gerakan pelan, ia menekan tombol daya.
Layar gelap, ponsel ia matikan.
Seolah dengan begitu, rasa sakitnya ikut padam.
Tapi tidak, yang padam hanya sinyalnya.
Hatinya tetap menjerit.
Ia menatap ke luar jendela. Sawah yang luas terhampar seperti tak berujung. Hijau yang biasanya menenangkan kini tampak kabur oleh gelap malam.
Matanya mengabur.
Air mata jatuh lagi. Menetes ke jemarinya sendiri. Ia tak menyekanya.
Biarlah. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar kecil di hadapan takdir.
Sementara di Jakarta
Di sebuah kamar hotel, Gus Hafiz berdiri dekat jendela. Ponsel masih di tangannya.
Panggilan gagal.
Lagi. Ia menurunkan ponsel perlahan.
Sejak siang tadi, hatinya sudah tidak tenang.
Tadi sore ia menerima kabar dari Ibu Nyai Fatimah di Jawa Tengah, Anisa izin pulang ke Ponorogo, Jawa Timur, karena libur seminggu menyambut bulan Ramadhan.
Kabar itu membuatnya terdiam cukup lama.
Anisa pulang?
Tapi tanpa memberitahunya?
Ia segera menghubungi ndalem. Mengonfirmasi pada Umi Laila.
Jawabannya membuat alisnya berkerut.
“Lho? Anisa ndak ada di sini, Fiz. Sejak pagi Umi juga ndak lihat ada yang datang.”
Gus Hafiz makin khawatir, harusnya Anisa sudah sampai jam dua atau tiga siang tadi.
Ini sudah jam lima sore. Anisa tak juga sampai di pondok. Padahal ia izin pulang ke Jawa Timur sejak pagi.
Dan sekarang nomornya kembali tidak aktif.
Dada Gus Hafiz terasa berat.
Ia bukan lelaki yang mudah panik.
Namun kali ini berbeda.
Bayangan-bayangan tak baik mulai bermunculan.
Kenapa ia tak memberi kabar?
Kenapa tidak menjawab?
Kenapa mematikan ponsel?
Gus Hafiz mengusap wajahnya kasar.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu terakhir, ia merasa kehilangan kendali, hanya karena memikirkan istri kecilnya itu.
Ia mencoba menghubungi lagi.
Tidak aktif. Ia memejamkan mata.
“Hafiz, tenang,” gumamnya pada diri sendiri.
Tapi hatinya tidak mau diajak tenang.
Bayangan wajah Anisa yang terakhir kali ia ingat, tenang, pendiam, selalu menunduk, tiba-tiba terasa berbeda.
Ada sesuatu yang terlewat.
Ada sesuatu yang tidak ia lihat.
Ia terduduk di tepi ranjang hotel.
Kenapa perasaannya seperti ini?
"Kenapa... apa dia marah lagi?"
"Atau, dia marah aku cium keningnya?"
Pikiran Gus Hafiz terasa tak waras, hanya karena satu nama.
"Anisa..." desahnya
Di saat yang sama, jauh di dalam bus yang terus melaju menjauh, Anisa memeluk dirinya sendiri, menahan dingin yang tak hanya berasal dari pendingin udara.
***
Tepat pukul sebelas malam, bus yang ditumpangi Anisa berhenti tak jauh dari pondok cabang Jawa Tengah.
Udara malam terasa dingin menusuk.
Langkahnya pelan saat melewati gerbang. Lampu-lampu halaman masih menyala temaram. Beberapa santri yang piket malam menoleh heran.
“Lho, Mbak Nisa? Katanya pulang ke Jawa Timur?”
Anisa tersenyum tipis.
“Iya… ndak jadi,” jawabnya ringan.
Ia melangkah menuju ndalem, tempat Nyai Fatimah biasa menunggu santri setor hafalin
Begitu pintu diketuk, Nyai Fatimah yang membukanya tampak terkejut.
“Lho, Nduk? Kok balik lagi? Bukannya sudah jalan ke Ponorogo?”
Anisa menunduk sopan.
“Iya, Nyai… tadi mobil yang saya tumpangi rusak di tengah jalan. Lama sekali nunggunya. Jadi saya putuskan balik saja.”
Kalimat itu mengalir lancar.
Padahal hatinya seperti digorok.
“Lho terus kok ndak ngabarin?”
Anisa menggenggam tali tasnya lebih erat.
“Maaf, Nyai… baterai HP Nisa habis.”
Kebohongan itu terasa pahit di lidahnya.
Tapi ia tidak punya tenaga untuk menjelaskan yang sebenarnya.
Ia tak ingin siapa pun tahu bahwa ia baru saja mendengar dirinya disebut sebagai penyesalan.
Tak ingin ada yang tahu bahwa ia sedang dipertimbangkan untuk dilepas.
Nyai Fatimah menghela napas lega.
“Ya Allah, Umi kira kamu kenapa-kenapa. Tadi Gus Hafiz juga sampai konfirmasi ke Jawa Timur.”
Nama itu lagi.
Hatinya kembali berdenyut.
“Oh…” jawabnya pelan, berusaha tetap datar.
“Sudah, sudah. Masuk istirahat sana. Wajahmu pucat sekali.”
Anisa mengangguk cepat.
“Iya, Nyai. Maaf bikin khawatir.”
Nyai Fatimah mengangguk. Beliau tak menaruh curiga. Ia langsung meraih ponselnya.
Di depan Anisa, ia menghubungi satu nama, yang sejak tadi terus menanyakan kabar Anisa.
“Halo, Fiz? Nggih… Alhamdulillah, Anisa sudah sampai sini. Ternyata mobil yang ditumpangi rusak, jadi dia balik lagi ke Kudus. HP-nya habis baterai, katanya.”
Anisa berdiri kaku.
Lagi-lagi dadanya sesak seperti ada yang meremas.
Ia tak ingin mendengar percakapan itu, tapi suaranya jelas di ruangan tempat ia berdiri.
“Iya, nggih. InsyaAllah aman. Sudah di pondok.”
Telepon ditutup.
Anisa menunduk dalam-dalam.
“Nisa izin masuk dulu, Nyai.”
Tanpa menunggu jawaban lebih jauh, ia buru-buru melangkah menuju kamarnya.
Begitu pintu tertutup, barulah kakinya lemas.
Ia bersandar di balik pintu.
Hening.
Tak ada siapa-siapa.
Topengnya runtuh.
Air mata yang sejak tadi ia tahan kembali mengalir deras.
Ia menutup mulutnya sendiri agar isaknya tak terdengar keluar.
Ia berbohong.
Tentang mobil rusak.
Tentang baterai habis.
Padahal yang rusak adalah hatinya.
Yang kehabisan bukan daya ponsel…
melainkan kekuatannya sendiri.
Ia terduduk di lantai, memeluk lututnya.
Dalam satu malam, ia kehilangan banyak hal.
Tentang siapa dirinya.
Tentang tempatnya.
Tentang kemungkinan masa depannya.
Dan ia harus berpura-pura baik-baik saja.
Sungguh menyedihkan.
Di Jakarta
Sementara itu, di kamar hotel yang masih terang, Gus Hafiz menatap layar ponselnya ketika panggilan dari Nyai Fatimah masuk.
Ia langsung mengangkatnya.
Dan saat mendengar kalimat,
“Anisa sudah sampai di Jawa Tengah, Gus…”
Bahu yang sejak tadi tegang akhirnya sedikit mengendur.
"Alhamdulillah."
Ia menutup mata sejenak.
“Terima kasih, Bulek,” ucapnya tenang.
Setelah sambungan terputus, ia meletakkan ponsel di meja.
Rasa lega itu nyata.
Tapi anehnya… ada sesuatu yang masih mengganjal.
Kenapa Anisa tak mengabarinya langsung?
Kenapa ia memilih mematikan ponsel, selama hampir dua pekan?
Gus Hafiz menatap kosong ke arah jendela hotel yang memantulkan bayangannya sendiri.
Ia tak tahu, bahwa malam ini, yang hampir kehilangan bukan sekadar kabar.
Melainkan hati seorang perempuan, yang sedang belajar menerima bahwa dirinya mungkin tak pernah benar-benar diinginkan.