NovelToon NovelToon
Pernikahan Paksa Dengan Pembullyku Di Masa Lalu

Pernikahan Paksa Dengan Pembullyku Di Masa Lalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Cinta Murni
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sabina

Rania Wiratama seorang gadis yang dipaksa menikahi pembully-nya di Masa lalu atas keinginan terakhir Eyang Kartika, Rania bekerja sebagai Photography dan penjual foto lewat website.
Arga Prananda seorang pria yang bekerja di anjungan laut lepas, nampak menyesali perbuatannya pada Rania. Rasa bersalah selama bertahun-tahun mengubahnya menjadi obsesi sekaligus cinta. Rania yang sudah memendam rasa benci dan trauma tak mampu menatap apalagi bersama Arga. Tapi Arga selaku suami dan Imam bagi Rania berjanji untuk membimbing dan menuntun istrinya ke jalan agama, sekaligus mencintai Rania. Bagaimana akhir pernikahan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Ruang tamu rumah Arga, nampak minimalis. Dengan cat dinding warna putih sekaligus dihiasi lampu gantung ala kafe sebagai penerangan.

Malam menyesakan bagi Rania yang sedang duduk menunduk saat neneknya memberikan ceramah, gadis ini mengenakan gaun warna salem sampai bawah lutut dan rambut ikalnya di biarkan tergerai.

Sementara sang ibu duduk di samping Rania---Lena Wiratama.

Lena dengan rambut gerai keriting seleher, duduk anggun di sofa mengenakan gaun satin elegan warna merah---Kulitnya juga hitam manis.

Wajah Lena tetap tenang, namun sorot matanya menyimpan kegelisahan yang tak bisa di ucapkan.

"Ini keterlaluan!" marah Eyang Kartika yang mengenakan kebaya merah, dan rambut putihnya tengah di sanggul.

"Bagaimana bisa baru menikah kamu dan suamimu tidur pisah ranjang!" lanjutnya dengan suara menggema di malam sunyi.

"Ibu tenang dulu," ucap Lena pelan mencoba menangkan ibu mertuanya itu.

Lampu gantung berwarna kuning temaram hangat menggantung rendah, nampak memantulkan bayangan putih estetik.

"Mereka baru sehari menikah, dan pelan-pelan juga keduanya masih canggung," Lena melanjutkan dengan kata-kata yang menenangkan.

"Pelan-pelan bagaimana Lena?! Usiaku sudah semakin tua! Sebelum aku pergi aku mau mengendong cicit!" ucap tegas Kartika kepada menantunya.

Mendengar itu Rania yang tadi menunduk langsung menatap neneknya dengan kaget, sungguh tak percaya ternyata sang nenek menikahkannya secepat ini hanya untuk mengendong cicit.

"Eyang...," ujar Rania dengan suara lirih.

"Ibu...Ini terlalu terburu-buru, Mereka baru sehari menikah bagaimana mau memliki anak secepat itu!" tegas Lena.

"Mereka masih mengenal satu sama lain dan rasanya canggung! Apalagi ibu tahu masa lalu putriku dan Arga!" bela Lena selaku ibunya Rania.

Kartika Wiratama hanya menghela napas.

"Masa lalu tak bisa kita ubah, Arga sangat mencintai cucuku!" kata Kartika.

"Tapi---" ucapan Lena di hentikan oleh Rania yang menahan tangan sang ibu.

Rania menatap ibunya dan menggelengkan kepala, Kartika menatap cucunya.

"Rania, apa saja yang kamu lakukan semalam! Sehingga sprei yang ada noda darah tak ada?" tanya Kartika dengan tegas kepada cucunya.

"Sudah aku katakan eyang...Kalo Rania dan Arga pisah ranjang karena masih canggung," jawab Rania menelan ludahnya.

"Arga?" ucap sang eyang.

"Kenapa kamu memanggil suamimu dengan nama seperti itu! anak gadis jaman sekarang tak bisa menjunjung yang nama tata krama!" tegas Kartika.

Jujur saja, Kartika kaget mendengar cucunya berani menyebut nama sang suami seperti itu tanpa panggilan Mas, atau panggilan terhormat lainnya.

"Ibu sudahlah trada masalah ee, sa dan ayahnya Rania juga kadang panggil nama saja trada masalah."

"Sudahlah ibu, su jangan terlalu lebihkan masalah," lanjut Lena nampak berpihak kepada putrinya.

Di hari kedua pernikahannya Rania hanya bisa memejamkan matanya, sungguh tak menyangka eyangnya bisa membela Arga sampai segitunya.

Padahal dulu sang Eyang amat mencintainya, karena Rania cucu pertama dan pintar segala hal.

"Rania dengarkan Eyang! Eyang tak mau dengar alasan apapun! Malam ini kamu layani suamimu dengan baik!" titah Kartika menatap cucunya.

Hal yang tak terduga terjadi Arga Prananda baru pulang dari kantornya---Malam ini dirinya membawakan martabak telor untuk istrinya.

Sebelumnya Arga sudah bertanya pada ayahnya Rania---Karto Wiratama apa saja makanan kesukaan Rania.

"Makan kesukaan anak ayah itu, setiap abis gajian--Rania sangat suka membeli martabak telor bebek."

Ucapan Karto membuat Arga langsung membelikan martabak telor bebek untuk istrinya, tapi saat di depan pintu pria yang mengenakan kemeja ungu dan celana hitam itu mendengar percakapan mertuanya.

"Assalamualaikum eyang...," ujar Arga lirih.

"Nang kamu disini?" ucap Kartika.

Ketiganya langsung menoleh ke arah pintu menatap Arga, keduanya langsung berdiri satu sama lain.

Arga menyalami eyang Kartika dan ibu mertuanya Lena.

"Su sudah pulang?" tanya Lena.

"Iya Bu," jawab Arga.

Sementara Rania keningnya berkeringat takut Arga menceritakan apa yang terjadi semalam kepada nenek juga ibunya, hal yang di takutkan Rania adalah---Eyang Kartika masuk rumah sakit lagi karena tak sanggup mendengar rumah tangga cucunya.

"Arga bawain martabak telor bebek buat Rania, karena ayah bilang Rania suka ini." Arga menunjukan Martabak itu pada keluarga istrinya.

"Maaf, Arga nggak tahu kalian datang."

Eyang Kartika langsung menatap Rania, dan seolah menampar hati cucunya secara tak langsung.

"Lena, tolong ambilkan piring dan mangkuk! Aku mau bicara dengan cucu dan menantuku," kata Kartika dengan mata menyipit.

"I-iya bu," ujar Lena segera pergi ke dapur.

Kartika menatap Rania yang sudah menunduk, sementara Arga sudah melepas sepatunya yang penuh lumpur, lalu duduk di samping Rania.

"Maaf Eyang tadi saya tak sengaja mendengar percakapan kalian," kata Arga menatap nenek istrinya ini.

"Apa yang kamu dengar, Nduk?" tanya Eyang Kartika.

"Rania tidak melakukan apa pun yang pantas disalahkan, saya memang belum menyentuh Rania." Arga berbicara.

Hal yang membuat Rania panas dingin, dirinya takut jika Arga menceritakan perihal kejadian malam pengantin.

"Arga tahu...Eyang kesini mau mengambil sprei putih darah malam pertama sebagai tradisi keluarga, Malam itu Rania baru bangun pingsan dan tak bisa melakukan malam pertama."

Arga berusaha membela sang istri di hadapan Kartika.

Wanita tua itu mengernyitkan keningnya menatap menantunya ini.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Kartika yang nada suaranya sudah lebih rendah.

Arga menatap Rania yang menunduk dan tersenyum berusaha menyembunyikan apa yang terjadi, pada dirinya dan sang istri.

"Semalam tubuh Rania masih lemah karena saat akad dia pingsan, jadi untuk malam pertama saya selaku sang suami belum bisa menyentuhnya sebagai mana pasangan malam pertama," bela Arga dengan nada lembut.

Rania langsung mendongakkan dan menoleh ke samping menatap suaminya, "Arga...kenapa dia belain gua," batin Rania.

"Oh begitukah?" ujar Kartika.

Arga hanya menganggukkan kepalanya, lalu segera menoleh ke arah istrinya. Sorot mata pria itu menunjukan jika akan menutupi segalanya.

"Kalo begitu besok aku akan kirimkan jamu kuat untuk kamu Rania," kata sang nenek.

Rania hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

"Itu benar eyang," ucap Rania.

"Baiklah, Arga apa makanan kesukaanmu?" tanya Eyang Kartika.

Arga langsung tersenyum dan menjawab jika dirinya amat menyukai masakan yang simpel, yakni sayur capcay dan ayam bakar.

*

*

*

1
DewiKar72501823
kak putri cerita mu bagus sekali..the best 👍🏻🥰
Putri Sabina: makasih kakak udah mampir🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!