💞💞Ini kisah remaja si triple dari "Ratu Bar-Bar Milik Pilot Tampan"💞💞
______________________________________________
"Akankah 'Pilot's Barbaric Triplets' terbang tinggi, atau jatuh berkeping-keping ketika identitas mereka terungkap?
Alvaro Alexio Nugroho (Varo): di mata dunia, ia adalah pewaris ketenangan sang pilot Nathan. Namun, di balik senyumnya, Varo menyimpan pikiran setajam pisau, selalu selangkah lebih maju dari dua saudara kembarnya. Ia sangat protektif pada Cia.
Alvano Alexio Nugroho (Vano): dengan pesonanya memikat, melindungi saudara-saudaranya dengan caranya sendiri. Ia juga sangat menyayangi Cia.
Alicia Alexio Nugroho (Cia): Ia mendominasi jiwa Bar-bar sang ibunya Ratu, ia tak kenal rasa takut, ceplas-ceplos dan juga bisa sangat manja di saat-saat tertentu pada keluarganya namun siap membela orang yang dicintai.
Terlahir sebagai pewaris dari dua keluarga kaya raya dan terkenal, triplets malah merendahkan kehidupan normal remaja pada umumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Mentari pagi di SMA Garuda menyambut Cia dengan hangat. Mungkin tidak sepenuhnya hangat. Lebih tepatnya, mentari itu menyorotinya, sementara lirikan tajam sebagian siswi di sekitarnya menusuknya. Cia menghela napas, memasang tampang sedingin es, sudah jadi perisainya. Ia berjalan menuju lokernya dengan langkah tegap, seolah koridor itu adalah panggung catwalk pribadinya.
Baru saja ia membuka lokernya, sebuah suara menginterupsi, "Cia, tunggu!"
Cia memutar bola matanya malas. "Bisa gak sih sehari aja gue gak diganggu?" gumamnya pelan. Sudah bisa ditebak siapa yang datang mengganggu paginya. Aksa. Si cowok populer, ketua geng motor, kapten basket, dan sekarang, penguntitnya. Agak janggal sih, tapi itu faktanya.
"Lo mau apa?" tanya Cia ketus, tanpa berbalik sedikitpun. Ia pura-pura sibuk menyusun buku-buku di lokernya, padahal jantungnya sudah berdebar tak karuan.
"Gue cuma pengen ngobrol sama lo, Cia," jawab Aksa, mendekat ke arah Cia dengan penuh percaya diri. Senyumnya yang menawan seolah tak pernah luntur.
"Gue gak punya waktu buat ngobrol sama lo," balas Cia dingin, menyimpan jaketnya dalam loker dengan gerakan kasar. "Gue harus belajar buat ulangan." Alasan klise, tapi cukup ampuh untuk mengusir cowok-cowok yang mendekatinya selama ini.
"Ayolah, sebentar aja," mohon Aksa, berusaha menghalangi jalan Cia. "Gue janji gak bakal ganggu lo lagi setelah ini." bujuk Aksa penuh harap. Matanya memancarkan ketulusan yang membuat Cia sedikit goyah.
Cia terdiam sejenak, memutar otaknya untuk mempertimbangkan pilihannya. Ia memang tidak suka dikejar-kejar seperti ini, tapi mungkin menyelesaikan masalah dengan cepat jauh lebih efektif daripada terus-terusan menghindarinya. Ia menghela napas pasrah.
"Oke," jawabnya singkat tanpa basa-basi. "Cuma lima menit saja. Dan jangan harap gue bakal jadi pacar lo." Cia menekankan kata 'pacar' seolah itu adalah kata yang paling menjijikkan di dunia.
Aksa langsung tersenyum penuh kemenangan. "Deal!" serunya dengan semangat, lalu mengikuti langkah Cia yang berjalan menuju kelas melalui koridor yang mulai ramai dengan siswa lain. Ia merasa seperti memenangkan lotre.
Tanpa mereka sadari, dari sudut koridor yang agak tersembunyi, Vano dan Varo mengawasi gerakan mereka dengan cermat. Bukan dengan tatapan yang posesif atau iri hati, melainkan dengan pandangan yang penuh waspada. Vano, dengan ekspresi datar khasnya, menyipitkan mata sambil mengamati setiap gerakan dan kata-kata Aksa dengan seksama. Sedangkan Varo, meskipun wajahnya masih terpampang senyum ceria, tapi bibirnya sedikit meringis dengan nada sinis.
"Sepertinya tuh cowok benar-benar serius suka sama Cia ya, Van!" gumam Varo dengan suara pelan. Ia merasa sedikit khawatir dengan Cia yang selalu dikejar-kejar cowok.
"Gue tahu!" sambung Vano dengan nada datar namun tegas. "Tapi kita harus cari tahu lebih dalam tentang dia. Pastikan aja dia bukan orang yang punya niat jahat sama Cia."
Mereka tidak ingin Cia terluka oleh cowok yang salah.
"Pasti dong!" balas Varo dengan nada penuh semangat. "Kita tetap harus waspada. Kalau dia berani bikin Cia merasa tidak nyaman, kita siap siap untuk bertindak!" Ia mengepalkan tangannya, siap melindungi Cia dari bahaya apapun.
Sementara itu, di sisi lain koridor, Viona dan gengnya yang dikenal sebagai ratu bully sekolah, menyaksikan interaksi Cia dan Aksa dengan tatapan yang penuh campuran emosi: iri, kagum, tapi sebagian besar adalah kemarahan yang luar biasa. Viona, dengan riasan make-up yang mencolok di wajahnya, mengepalkan tangan dengan kuat hingga buku pelajaran yang digenggamnya hampir terjatuh. Ia merasa Cia adalah ancaman terbesar bagi kedudukan dan harga dirinya.
"Sialan!" gerutunya dengan suara pelan tapi penuh amarah. "Berani-beraninya dia deket-deketan sama Aksa! Dia pikir dia siapa sih?"
"Sabar aja, Vio," ujar Sindy, salah satu anggota gengnya yang berusaha menenangkan sahabatnya dengan lembut. "Dia kan anak baru, mungkin belum tahu situasinya ..."
"Jika Aksa cowok yang gue incara?" potong Viona dengan nada tajam yang membuat beberapa siswa di sekitarnya menoleh melihatnya. "Dia harus tau sendiri tempatnya sebagai anak baru!" Viona merasa harga dirinya diinjak-injak oleh Cia.
"Tenang aja, Vio," timpal Mira yang berdiri di sisi lain. "Kita akan bikin dia sadar diri sendiri. Kita pastiin hidup dia di sekolah ini jadi neraka." Ia menyeringai licik, membayangkan rencana jahat yang akan mereka lakukan.
Viona langsung menyeringai sinis, wajahnya tampak puas dengan ide yang diberikan temannya. "Bagus sekali. Dia harus benar-benar nyesel udah berani cari masalah sama gue!" Ia merasa dendam kesumat terhadap Cia.
Sementara itu, di dalam kelas, Cia berusaha sekuat tenaga untuk mengabaikan keberadaan Aksa yang kini malah duduk di kursi kosong tepat di sebelahnya, hal yang membuatnya merasa cukup terganggu. Ia bahkan bisa merasakan pandangan mata cowok itu yang terus terpaku padanya, meskipun ia berusaha sekerasnya untuk tidak memperdulikan.
Cia membuka buku pelajarannya dan pura-pura membaca, tapi pikirannya melayang entah kemana. Ia merasa risih dengan kehadiran Aksa yang terlalu dekat, dan ia tidak tahu bagaimana cara mengusirnya.
"Lo bisa berhenti natap gue gak?" tanya Cia dengan nada ketus, tanpa menoleh ke arahnya. Ia berusaha untuk tetap fokus pada bukunya, tapi sulit sekali.
"Gue gak natap lo kok," balas Aksa dengan senyum tipis yang terlihat dari sudut pandang Cia. Ia tahu bahwa Cia sedang berusaha menghindarinya, dan ia merasa tertantang untuk menaklukkannya.
"Bohong," jawab Cia dengan suara dingin. "Gue bisa merasain tatapan matamu yang terus-terusan itu. Kayak laser yang mau nembus kepala gue." Ia menghela napas kesal.
Aksa terdiam sejenak, lalu menghela napas perlahan sebelum akhirnya mengakui. "Oke deh, gue memang lagi natapin lo," ujarnya dengan jujur. "Karena kamu tuh sangat menarik untuk di abadikan. Kayak lukisan Mona Lisa yang gak pernah bosen buat dipandang."
Cia mengerutkan kening dengan rasa tidak nyaman. "Menarik apanya sih? Gue gak ngerasa punya sesuatu yang menarik." Ia merasa aneh dengan pujian Aksa yang terlalu berlebihan.
"Semuanya," jawab Aksa dengan nada yang tiba-tiba menjadi serius. "Lo beda banget dari cewek-cewek lain di sekolah ini. Lo terlihat dingin dan cuek, tapi itu yang bikin gue jadi penasaran banget sama lo. Lo kayak teka-teki yang pengen gue pecahin."
Cia terdiam sejenak, benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Ia memang tidak terbiasa menerima pujian secara langsung dan terang-terangan seperti ini. Ia mendengus pelan, berusaha menyembunyikan rasa gugup yang tiba-tiba muncul di dalam dirinya. Ia merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Gue gak peduli kamu penasaran atau enggak," balasnya dengan suara yang tetap dingin. "Waktunya udah habis. Mending lo cabut deh. Sebelum gue berubah pikiran dan bikin lo nyesel." Ia melirik jam tangannya dengan tatapan tajam.
Aksa hanya bisa tersenyum tipis lalu mengangguk. "Oke gue pergi," ujarnya dengan nada mengalah. "Tapi ingat urusan kita belum kelar. Gue bakal terus ngejar lo sampai lo jadi milik gue." Ia mengedipkan matanya sebelum beranjak dari tempat duduknya.
Cia tidak mengeluarkan suara sedikit pun untuk membalasnya. Ia hanya menatap Aksa dengan tatapan datar sampai cowok itu benar-benar berdiri dan pergi meninggalkannya. Setelah pandangan Aksa benar-benar hilang dari kelas, Cia menghela napas lega seolah merasa bebas dari beban yang menekannya. Akhirnya, ia bisa bernapas dengan lebih tenang.
Namun, rasa lega itu hanya berlangsung sebentar saja. Tiba-tiba saja, Viona dan gengnya menghampiri mejanya dengan tatapan yang penuh dengan kesinisan. Cia hanya bisa mendecih dalam hati. "Drama apalagi ini?" gumamnya pelan.
"Hai, Cia," sapa Viona dengan nada yang dibuat-buat manis tapi terasa menusuk telinga. "Kayaknya kamu makin berani ya, beraninya deket-deketan sama Aksa! Cowok paling populer di SMA ini." Viona merasa geram melihat Cia yang seolah tidak takut padanya.
Cia hanya mengangkat bahu dengan sikap acuh tak acuh. "Bukan urusan lo kan?" balasnya singkat dan lugas. Ia tidak ingin terlibat dalam perdebatan yang tidak penting.
"Oh, tentu aja ini urusan gue!" balik Viona dengan senyum sinis yang membuatnya tampak lebih menjijikkan. "Aksa itu milik gue! Dan gue gak suka ada orang lain yang berani deket-deketan sama dia, apalagi cewek udik kayak lo!"
Cia mengerutkan kening dengan rasa tidak suka. "Ck! Yang gue tahu, Aksa bukan barang milik siapapun juga kan? Dan bukannya kamu pacaran sama Reno ya? Kasian banget Reno, punya pacar tapi malah asik ngehalu cowok lain!" sindir Cia dengan nada tajam yang membuat wajah Viona langsung memerah karena marah. Ia merasa tersinggung dengan sindiran Cia yang menohok.
"Jaga mulut lo ya! Gue Viona, semua yang gue mau pasti bisa gue dapatkan! Jadi jangan pernah sekali-kali bermimpi untuk merebut perhatian Aksa dari gue! Dia hanya milik Viona seorang!" Viona mengancam Cia dengan tatapan yang penuh kebencian.
Bersambung ...
yg disini kalang kabut yg disana tenang tenang saja😄
waah mereka emang berjodoh ya😄
suka banget ma story ny kk
beda level sama km
🤭🤭
kak dtggu next bab ny yx ,,
cerita ny baguuuus ,,