NovelToon NovelToon
Api Jatayu Di Laut Banda

Api Jatayu Di Laut Banda

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Kutukan / Dokter / Romansa Fantasi / Ruang Bawah Tanah dan Naga / Harem
Popularitas:395
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Dengan nuansa mitologi Nusantara yang kental, Api Jatayu di Laut Banda adalah kisah epik tentang reinkarnasi, gairah terlarang, dan pengampunan di antara api dan ombak. Siapkah kau menyaksikan bagaimana sebuah bara kecil mampu menenggelamkan lautan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak yang Tak Seharusnya Ada

Matahari sudah condong ke barat ketika Banda dan Jatayu kembali ke desa Karangwangi. Rumah panggung kecil itu terlihat sepi dari kejauhan—hanya asap tipis dari dapur yang menandakan Ibu Sari masih ada di dalam. Bayu sudah menunggu di beranda, wajahnya penuh kekhawatiran yang belum hilang sejak kejadian di hutan.

“Kalian baik-baik saja?” tanyanya langsung saat melihat mereka mendekat.

Banda mengangguk singkat. “Kami selamat. Tapi mereka akan kembali.”

Jatayu tidak bicara banyak. Ia hanya berdiri di belakang Banda, mata kuning keemasannya menyapu sekeliling desa seperti sedang menghitung ancaman tak terlihat. Luka di lengannya sudah mulai menutup sendiri—keajaiban Phoenix yang lambat tapi pasti—tapi noda darah kehitaman masih terlihat jelas di kain bajunya.

Ibu Sari keluar dari rumah, membawa kain basah. Matanya langsung tertuju pada Jatayu. Bukan tatapan takut, melainkan tatapan yang sudah terlalu sering melihat hal-hal aneh dalam hidupnya.

“Kau perempuan yang dicari orang-orang tadi pagi,” katanya pelan. “Masuklah. Luka itu perlu dibersihkan.”

Jatayu ragu sejenak, tapi akhirnya mengikuti. Di dalam rumah yang sempit, aroma ikan asin dan kayu bakar menyambut mereka. Ibu Sari menyuruh Jatayu duduk di tikar pandan, lalu mulai membersihkan luka dengan air garam hangat.

Saat kain menyentuh kulit, Jatayu meringis pelan—bukan karena sakit, tapi karena sensasi yang asing. Sudah berabad-abad ia tidak disentuh dengan kelembutan seperti ini.

“Terima kasih,” gumamnya, hampir tak terdengar.

Ibu Sari tersenyum tipis. “Anakku bilang kau mau membunuhnya. Tapi kau malah bertarung bersamanya. Jadi aku pikir… mungkin ceritanya lebih rumit dari itu.”

Jatayu menunduk. “Ceritanya memang rumit.”

Banda duduk di seberang, memandang keduanya bergantian. “Bu, aku harus pergi sebentar. Ke utara. Ada tempat yang mungkin bisa jelaskan apa yang terjadi padaku.”

Ibu Sari berhenti sejenak. Matanya menatap Banda lama, seperti sedang membaca sesuatu di wajah anak angkatnya yang sudah ia besarkan sejak bayi.

“Kau tahu kau bukan anak kandungku, kan?” tanyanya tiba-tiba.

Banda terdiam. Ia memang tahu—cerita itu pernah diceritakan samar-samar oleh ayahnya dulu. Bayi yang ditemukan terapung di perahu kecil yang terseret ombak ke pantai, tanpa orang tua, tanpa nama. Hanya kain pembungkus berwarna biru tua dengan sulaman aneh yang mirip sisik.

“Tapi aku tidak pernah tanya lebih lanjut,” jawab Banda pelan. “Karena kalian sudah jadi keluargaku.”

Ibu Sari menghela napas. Ia bangkit, berjalan ke peti kayu tua di sudut ruangan. Dari dalamnya ia mengeluarkan sesuatu yang sudah lama tidak disentuh: kain biru tua yang sudah pudar, tapi sulamannya masih jelas terlihat—pola sisik naga yang melingkar seperti ombak.

“Ini yang kau pakai waktu ditemukan,” katanya sambil menyerahkan kain itu ke Banda. “Ayahmu bilang… kain ini masih basah saat kau dibawa masuk. Basah air laut, tapi tidak ada garamnya. Seperti air tawar dari dasar samudra.”

Banda menyentuh kain itu. Begitu jarinya menyentuh sulaman, denyut di dadanya kembali—lebih kuat, lebih jelas. Gambar samar muncul di benaknya: seorang wanita berambut hitam panjang dengan mata api, memeluk bayi kecil di tengah badai laut. Wanita itu menangis, tapi air matanya jatuh sebagai tetesan api kecil yang padam begitu menyentuh air.

Banda tersentak. “Ini… ini bukan mimpi.”

Jatayu yang selama ini diam tiba-tiba berdiri. Matanya melebar saat melihat kain itu.

“Pola itu…” suaranya bergetar. “Itu lambang persatuan kuno antara Naga Laut dan Phoenix. Lambang perjanjian damai yang sudah rusak sejak perang empat raja.”

Ibu Sari memandang Jatayu dengan tatapan yang tiba-tiba berubah—bukan tatapan ibu rumah tangga biasa, melainkan tatapan seseorang yang tahu lebih banyak daripada yang pernah ia ceritakan.

“Kau tahu lambang ini,” katanya pada Jatayu. Bukan pertanyaan. Pernyataan.

Jatayu mengangguk pelan. “Aku… pernah melihatnya. Di kuil tua Phoenix, sebelum semuanya hancur.”

Banda menatap ibu angkatnya. “Bu… kau tahu siapa yang meninggalkanku di laut?”

Ibu Sari diam lama. Lalu ia berbicara dengan suara yang hampir berbisik.

“Ayahmu tidak menemukanmu sendirian. Ada seorang perempuan yang membawamu ke pantai malam itu. Dia terluka parah, hampir mati. Rambutnya hitam panjang, matanya seperti api. Dia bilang padaku, ‘Lindungi dia. Jangan biarkan dia tahu asalnya sebelum waktunya.’ Lalu dia pergi ke laut lagi… dan tidak pernah kembali.”

Ruangan terasa hening mendadak.

Jatayu mundur setengah langkah. Wajahnya pucat—sangat pucat untuk seseorang yang darahnya semi-abadi.

“Itu tidak mungkin,” gumamnya. “Phoenix tidak bisa punya anak dengan manusia. Apalagi dengan Naga Laut. Itu dilarang. Itu… itu akan memicu kutukan yang lebih besar.”

Banda bangkit. “Jatayu… apa yang kau sembunyikan?”

Jatayu menatapnya, matanya berkaca-kaca—sesuatu yang belum pernah Banda lihat sebelumnya.

“Aku… aku pernah punya saudara perempuan. Namanya Garini. Dia adalah Phoenix terkuat di generasinya. Dia jatuh cinta pada seorang naga—bukan raja, tapi pelayan setia Naga Laut. Mereka melarikan diri. Klan Phoenix memburunya. Aku… aku yang ditugaskan membunuhnya.”

Kata-kata itu jatuh seperti batu ke dalam sumur dalam.

Banda merasa dunia berputar pelan.

“Dan?” tanyanya, suaranya serak.

“Garini hamil. Saat itu. Dia melahirkan di laut, di tengah badai. Aku menemukannya terlalu terlambat. Dia sudah sekarat. Dia memintaku membunuh bayinya juga—supaya kutukan tidak berlanjut. Tapi aku… aku tidak bisa. Aku membiarkan perahu kecil itu hanyut. Aku bohong pada klan bahwa bayi itu mati bersama ibunya.”

Jatayu menatap Banda dengan mata yang penuh rasa bersalah yang sudah berabad-abad ia pendam.

“Kau… kau keponakanku, Banda. Darah Phoenix dan Naga Laut bercampur dalam tubuhmu. Itu sebabnya kau reinkarnasi. Itu sebabnya kutukan semakin kuat sekarang. Karena darah campuran ini… bisa mematahkan atau menghancurkan keseimbangan empat raja.”

Banda terdiam. Kain biru di tangannya terasa lebih berat.

Bayu yang selama ini mendengar dari pintu masuk, akhirnya angkat bicara dengan suara gemetar.

“Jadi… selama ini kau tahu? Kau tahu siapa dia sejak pertama kali melihatnya?”

Jatayu menggeleng pelan. “Aku tidak yakin. Aku hanya merasakan ikatan itu. Tapi aku menolak mengakuinya. Karena kalau aku akui… berarti aku gagal membunuh Garini sepenuhnya. Berarti aku pengkhianat klan sejak ratusan tahun lalu.”

Ibu Sari menyentuh bahu Banda pelan. “Nak… apa pun yang kau putuskan sekarang, aku tetap ibumu.”

Banda menatap Jatayu lama.

“Kau mau membunuhku karena tugas… atau karena kau takut kalau aku hidup, kutukan akan menghancurkan segalanya?”

Jatayu menunduk. Air mata pertama yang jatuh dari mata Phoenix itu menguap jadi asap kecil sebelum menyentuh lantai.

“Aku tidak tahu lagi,” jawabnya jujur. “Tapi sekarang… aku tidak bisa membiarkanmu mati. Bukan karena kutukan. Karena kau satu-satunya yang tersisa dari Garini.”

Malam itu, mereka tidak langsung berangkat ke utara.

Banda duduk di beranda, memandang laut yang gelap. Jatayu berdiri di sampingnya, jarak mereka dekat tapi tidak bersentuhan.

“Kita masih pergi ke pulau itu besok,” kata Banda pelan. “Aku ingin tahu semuanya. Tentang kutukan. Tentang ibuku. Tentang kenapa aku lahir seperti ini.”

Jatayu mengangguk. “Aku ikut. Sampai akhir.”

Di kejauhan, ombak Laut Banda bergemuruh pelan—seolah menyambut, seolah memperingatkan.

Dan di balik semua itu, sebuah rahasia yang lebih besar masih menunggu: Si Abu-abu, alpha werewolf tertua, sudah tahu siapa Banda sebenarnya. Dan ia tidak akan berhenti sampai darah campuran itu musnah—atau menjadi senjata yang bisa membangkitkan Naga Tanah yang korup.

1
Sibungas
Alur cerita mudah d mengerti dan mengalir lancar.
Sibungas
patahkan kutukan emang perlu perjuangan.. semngat💪💪💪
Kashvatama: semangat 💪
total 1 replies
Sibungas
mantab thor ceritane lanjutttt. 👍
Kashvatama: makasih supportnya🙏
total 1 replies
Sibungas
alur cerita nya bagus. 👍
Kashvatama: terimakasih banyak. semoga bisa kasih karya yg konsisten menarik 🙏
total 1 replies
Sibungas
cerita cukup menarik utk d ikuti.. lanjutt thor🤭
Kashvatama: terimakasih supportnya 😍
total 1 replies
Kashvatama
kisah fantasi petualang dan romansa antara Jatayu dari kaum Phoenix dan Banda sang reinkarnasi Naga Laut 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!