NovelToon NovelToon
LAKSANA SAMUDRA

LAKSANA SAMUDRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Inar Hamzah

Melihatmu tersenyum lebar dibawah sinar mentari pagi, membuatku semangat menjalani hari.

Dandelion, adakah kesempatan untukku ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inar Hamzah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

INI BUKAN KESEMPATAN

Di depan toko foto copy an itu, terlihat Deya dan Rico yang saling memandang. Sesekali Deya mengerjitkan dahinya mendengar penjelasan. Sedangkan Rico tak menyembunyikan apapun dari Deya, laki-laki itu berkata terus terang padanya.

“Oh.” Satu kata yang membuat Rico menggeleng kepala pelan.

“Dee, ayolah.”

Gadis itu menatap sinis pada Rico. “Tuh, cewek mu sudah selesai di dalam.”

Seketika Rico tersentak, dan melihat ke arah pandangan Deya. Ia kini menangkap wajah manis sang adik yang mengobrol dengan Dira. Rupanya mereka teman sekampus, meski tak sejurusan.

Rico menahan tawa. “Namanya Diana, dia adik ku satu-satunya De. Dia yang membuat hari-hari ku berwarna. Karena dia, sekarang aku ada di disini.”

“Kenapa gitu ?”

“Iya, tadi di depan kantormu dia melihat ku duduk seperti anak Ayam yang kehilangan Induknya. Dia berceloteh untuk mengantarkannya ke tempat foto copy an langganannya. Perempuan yang punya usaha itu cantik, siapa tau cocok dengan ku. Ternyata pemilik tempat itu memang perempuan yang sangat cocok dengan ku.”

“Dira maksud mu ?”

“Mungkin.” Seru Rico menjahili.

Deya hanya menganguk pelan tanda mengerti.

“Jadi gimana ? Maafin aku kan ?”

“Aku pikir-pikir dulu, udah ah aku udah mau nutup nih.” Deya beranjak dari tempat duduknya.

“Aku antar kamu pulang. Tunggu disini aku antar Diana ke kosnya dulu. Kamu jangan kemana-mana.” Titah Rico dan beranjak dari duduknya.

Deya tak menggubris Rico, ia memilih mulai menutup toko foto copy an nya dibantu oleh Dira.

***

Setelah mengantar kan Diana, Rico segera melajukan motornya ke toko Deya. Sesaat setelah dia sampai, benar saja toko itu sudah tutup, namun Deya masih menunggu, di tempat mereka berbicara beberapa saat yang lalu.

“Mau pulang langsung atau ada keperluan dulu ?” Tanya Rico yang memperhatikan wajah lelah Deya.

“Pulang aja.” Jawabnya dan langsung menuju motor.

“Mau makan dulu nggak ?” Tawar Rico.

Deya hanya menggeleng sebagai jawabannya.

“Aku belum makan De.” Jujur Rico menatap wajah Deya. “Tapi nggak apa-apa, ayo pulang. Biar nanti aku makan di rumah saja.” Jelasnya lagi.

“Kamu mau makan apa ?”

“Tidak usah, aku makan di rumah saja.”

“Kamu mau makan apa ?” Tanya Deya kembali dan mengeluarkan ponselnya.

“Apa saja De, asal jangan makanan yang tidak bisa dimakan.”

“Omnivora, ternyata.”

“Iya, pemakan segala. Kalau kata anak muda zaman now ya.”

Deya sibuk melatih jempolnya, menggulir di atas layar yang bercahaya itu. “Deliv aja ya, makan disini aja nggak apa-apa kan ?”

“Dimana saja De, yang penting makan.”

Rico percayakan makanan yang akan dimakannya malam ini pada pilihan Deya. Laki-laki itu sibuk memperhatikan setiap sudut bangunan yang cukup tertata dan bersih itu dari luar.

“Kamu mulai ini sejak kapan De ?”

“Mulai apa ?” Deya balik bertanya.

“Usaha foto copy an mu ini.”

“Hmm, mungkin sudah 3 tahunan yah. Setelah selesai kuliah aku kan nganggur cukup lama. Bermodalkan nekat dan tabungan yang nggak seberapa aku memulai usaha ini.”

“Berani yah kamu De, untuk ngambil resikonya.”

“Kalau nggak pernah nyoba, aku nggak bakal tau berhasil atau nggak.”

Setuju Rico dengan anggukan kepalanya. “Apalagi yang belum aku tahu tentang kamu De ? Bagaimana hari-hari mu selama ini De ?”

“Tidak perlu kamu tahu tentang aku lebih dalam lagi, aku takut kamu akan menelan kepahitan di akhirnya nanti.”

“Bantu aku buat menggantinya dengan rasa manis di akhir itu nanti De.”

“Jangan memaksa aku memberikan yang tidak bisa ku beri.”

Pembicaraan mereka mulai serius.

“Tidak, aku tidak memaksa. Kan aku cuma bilang bantu aku.”

Pandangan mereka lurus ke depan memperhatikan kendaraan yang berlalu lalang seperti tak ada henti-hentinya.

“Selama ini, Alhamdulillah hidup ku baik. Aku kembali menjadi diriku lagi seperti dulu. Capek istirahat. Itu saja.”

“Kamu anak tunggal De, sedari kecil kamu selalu dimanjakan. Tapi sekarang kenapa kamu bisa sekuat dan setangguh ini De. Keras kepala juga.”

Lirikan sekilas Deya tujukan pada Rico. “Dari mana kamu tahu aku dari kecil dimanjakan ?”

Rico gelagapan mencari alasan, “Iy, iy, iya pasti tahu lah. Kamu anak tunggal pasti dimanjakan toh.”

“Aku hanya tak ingin terlalu bergantung pada siapapun dan apapun yang sewaktu-waktu bisa saja meninggalkan kita. Berdiri di atas kaki sendiri sangat-sangat ku usahakan, karena jika suatu saat dunia ku tidak baik-baik saja. Aku bisa memilih bagaimana aku harus menyikapinya.”

Rico menatap Deya kagum, “De, aku tidak akan pernah membiarkan dunia tidak baik pada mu. Sampai kapan pun itu, aku usahakan yang terbaik untukmu.” Janjinya dalam hati.

“Kamu sendiri, bagaimana hidup mu selama ini ?” Deya balik bertanya.

“Jika kamu ingin tahu, coba buka chat ku dan baca satu per satu isi pesan itu.” Jelas Rico dan mengambil pesanan mereka yang kini sudah sampai.

Rico hendak bertanya jumlah yang harus dibayarkan, tetapi ternyata Deya sudah membayar melalui dompet digitalnya.

Deya membantu Rico membuka bungkus makanan yang dipesannya. Rupanya gadis itu memesan nasi padang dengan beberapa lauk-pauk.

“Aku tidak tahu selera mu apa, jadi ku rasa ini yang paling beragam lauk pauknya.” Selorohnya dan menuangkan kuah ke atas nasi Rico.

“Aku makan apapun itu De. Kirimkan aku nomor rekening mu, aku transferkan ganti uang mu untuk makanan ini.”

“Tidak perlu, aku Ikhlas untuk ini.”

Setelah menyantap makan malamnya, Rico mengantarkan Deya pulang dengan mengikutinya dari belakang. Malam ini Rico memilih untuk langsung pulang tanpa bertemu dengan kedua orang tua Deya.

Sepanjang jalan, lagi-lagi dia dibuntuti oleh pemotor dan dua orang. Namun, Rico baru menyadarinya dua orang yang mengikutinya adalah orang yang berbeda dari bulan-bulan lalu.

“Apa yang menarik dariku memangnya.” Gerutu Rico dan semakin melajukan motornya.

Malam ini, laki-laki itu sampai di rumah dengan selamat.

***

Hari-hari terus berganti dengan cepat, siang kini berganti malam. Kediaman bapak Handoko kini disibukkan dengan rencana mereka untuk melamar Deya kembali setelah bulan lalu keduanya memilih untuk berbaikan.

Rico sengaja tak memberi tahu lebih dulu, karena ingin memberi kejutan untuk Deya. Namun yang sebenarnya ia takutkan ialah penolakan untuk kedua kalinya. Degup jantung laki-laki itu kian kencang dan semakin jelas terdengar. Tampak dari wajahnya sebuah ketakutan yang tak bisa di sembunyikan lagi.

Malam ini, Rico sendiri yang menyampaikan niat baiknya, dihadapan Samsu, Kia dan Deya. Ia mengungkapkan perasaan tulus itu. Gadis yang dilamar itu tak merasa kaget sama sekali, ia sudah bisa menebak ini akan terjadi. Baginya ini seperti boom waktu yang menunggu saat meledak.

Berkali-kali ia memberikan penjelasan pada Rico, bahwa dia tak bisa menerimanya lebih dari teman. Namun laki-laki itu tetap teguh pada pendiriannya.

“Ikut aku.” Deya meninggalkan mereka yang berada diruang tamu dan membawa diri menuju taman samping rumahnya. Rico mengekori Deya dengan perasaan was-was. Ia merasa ini adalah akhir dari kisahnya.

“Aku sudah memberi tahu mu lebih dulu, tapi kenapa kamu seperti tidak pernah mengindahkan perkataan ku.”

“Kasih aku kesempatan De. Aku mohon.” Rico menangkupkan kedua tanganya di hadapan Deya.

“Ini buka kesempatan, tapi kamu memanfaatkan ini.”

“Apa yang aku manfaatkan Deya ? Apa aku terlalu buruk dimata kamu, sehingga baik ku tak bisa kau lihat ?”

“Bukan begitu.”

“Lalu apa ? Kamu tidak mencintai ku ?”

“Iya, aku tidak pernah mencintaimu. Aku tidak bisa, karena aku ingin menghabiskan waktuku dalam sendiri.”

Gemetar Rico mendengarkan kejujuran gadis di hadapannya itu. Kepalanya seperti dihantam benda besar, ia memilih duduk menelaah setiap kata yang keluar dari Deya. Ini lebih sakit dan rumit dari benda-benda besar yang menjadi kerjaannya.

“Dee.” Lirih Rico.

“Iya aku tidak akan menerima lamaran mu. Jadi silahkan cari perempuan yang lebih layak dibanding aku.” Tegasnya sekali lagi dan meninggalkan Rico.

Sebelah kakinya baru saja akan melangkah untuk memasuki rumah, namun ia dikejutkan oleh seseorang yang saat ini tepat di hadapannya. Ia merasa tatapan itu bisa mengiris tubuhnya sedikit demi sedikit.

Susah payah ia menelan ludah, dan menormalkan suara “Ayaah.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!