Sasha difitnah hamil oleh adik seorang konglomerat, dan hidupnya hancur dalam semalam. Untuk menutup skandal keluarga, Gio Artha Wijaya dipaksa menikahinya.
Di mata publik, Sasha adalah istri sah pewaris Wijaya. Di dalam rumah itu, ia hanyalah perempuan yang dibeli untuk menjaga reputasi. Gio membencinya. Menganggapnya jebakan.
Sasha membencinya karena telah menjadikan hidupnya alat tawar-menawar. Namun semakin lama mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta itu, Sasha mulai menyadari satu hal yang lebih menakutkan dari kebencian Gio.
Ia mungkin tidak pernah difitnah secara kebetulan. Seseorang telah merencanakan semua ini dan Sasha hanyalah bidak pertama.
Akankah Sasha mengetahui siapa dalang dari kejadian yang menimpanya selama ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjebak Sasha
Suasana di ballroom semakin menyesakkan bagi Sasha. Efek dari minuman yang disuguhkan pelayan suruhan Dimas mulai mencapai puncaknya. Pandangannya mengabur, lampu kristal di langit-langit seolah mencair dan meneteskan cahaya yang menyakitkan matanya. Di depannya, Gio masih berdiri kokoh seperti karang, menahan amarah yang siap meledak ke arah Dimas.
"Bawa aku pergi, Gio..." bisik Sasha parau. Suaranya nyaris hilang di antara denting gelas dan tawa basa-basi para tamu.
Gio menatap istrinya dengan kecemasan yang mendalam. Ia tahu, jika ia menghajar Dimas di sini, reputasi yang susah payah Sasha bangun akan hancur dalam semalam karena skandal. Dengan rahang mengeras, Gio memberikan instruksi singkat pada ajudannya melalui earpiece.
"Antar dia ke kamar presidential suite. Pastikan tidak ada yang mengikuti," perintah Gio dingin. Ia menoleh pada Sasha, mencium keningnya sekilas. "Pergilah duluan, Sha. Aku harus menyelesaikan 'sampah' ini agar tidak membuntutimu lagi."
Sasha mengangguk lemah. Dengan sisa kesadarannya, ia melangkah menjauh, dipandu oleh staf keamanan menuju lift. Ia tidak menyadari bahwa di sudut ruangan, Dimas sedang menyesap minumannya dengan senyum kemenangan yang ganjil.
Satu jam berlalu sejak Sasha meninggalkan ballroom. Di sebuah ruangan terpisah yang gelap, Dimas duduk terdiam. Napasnya memburu. Ia merasakan pusing kepalanya begitu hebat, efek dari adrenalin dan obsesi yang bercampur aduk. Ia mengepalkan kedua jemarinya hingga menampilkan urat-urat kekar di punggung tangannya yang memutih.
Ia beranjak dari duduknya, seolah tidak tenang. Aura panas mulai merasuki seluruh tubuhnya, sebuah hasrat primitif untuk memiliki kembali apa yang ia anggap miliknya. Ponsel yang sejak tadi digenggamnya pun bergetar, menampilkan sebuah pesan singkat berisi nomor kamar. Dimas tersenyum tipis—sebuah senyum yang tidak sampai ke mata—lalu melangkah pergi menuju kamar yang tertera di layar ponselnya.
Koneksi lamanya di hotel ini ternyata masih bisa diandalkan.
Sementara itu, di kamar 1204, Sasha merasa dunianya berputar. Sesuai instruksi Gio tadi, Sasha melaju ke kamar hotel karena mereka memang sedang berada di luar kota untuk urusan bisnis ini. Ia merasa aman di sini. Ia melepas sepatu hak tingginya, membiarkan gaun merah marunnya tersingkap sedikit saat ia mencoba mencari air minum. Namun, rasa hangat yang menjalar di tubuhnya membuatnya tak berdaya. Ia hanya ingin memejamkan mata.
Mendengar pintu berderit, Sasha yang semula membelakangi pintu langsung menoleh ke arah daun pintu. Ia mengira itu adalah Gio yang datang untuk memeluknya dan menenangkannya. Namun, matanya langsung terbelalak kaget. Jantungnya mencelos jatuh ke dasar perut ketika melihat seorang pria tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya dan langsung mengunci pintu dari dalam.
"Kenapa kau main masuk saja ke kamarku?" suara Sasha bergetar, antara takut dan pengaruh zat yang membuatnya sulit berpikir jernih.
Perempuan itu tak lain adalah Sasha, ia begitu terkejut ketika melihat seorang pria berkemeja putih yang lengannya sudah digulung hingga siku. Hidungnya mancung, wajahnya tampan secara fisik, namun tatapannya begitu mencekam bak harimau yang mau menerkam mangsanya. Cahaya remang lampu tidur membuat siluet pria itu tampak mengancam.
Samar namun jelas, pria itu adalah Dimas.
"Aku bilang kita belum selesai, bukan?" suara Dimas berat, bergetar oleh gairah yang salah arah.
Pria itu langsung mendekati Sasha yang sedang merebahkan tubuhnya di kasur empuk karena lemas. Tanpa peringatan, Dimas langsung menyambar selimut, melemparkannya ke lantai dengan kasar, lalu mendorong bahu Sasha yang hendak bangun untuk duduk. Dengan gerakan cepat yang terlatih, ia menindih tubuh Sasha, mengunci pergerakan wanita itu di bawah beban tubuhnya.
"Pergi kau dari sini, Dimas!" pekik Sasha setengah sadar. Suaranya parau, tangannya mencoba memukul dada Dimas, namun tenaganya seolah menguap karena pengaruh alkohol dan obat yang ia minum tadi. "Gio... Gio akan membunuhmu!"
Dimas tertawa, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan logam. Ia mencengkeram kedua pergelangan tangan Sasha, menyatukannya di atas kepala wanita itu dengan satu tangan yang kuat.
"Tak perlu menolak! Aku akan memberikan apapun yang kau mau, Sasha. Kau harusnya menjadi milikku, bukan milik pria bayaran itu," balas Dimas seraya semakin menindihnya, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Sasha yang ketakutan.
"Kau sakit, Dimas... Kau gila!" Sasha meronta, namun setiap gerakannya justru membuat Dimas semakin mengencangkan cengkeramannya.
"Mungkin aku memang gila. Dan kegilaan ini adalah karyamu," bisik Dimas di telinga Sasha, suaranya mengerikan. "Malam ini, aku akan mengingatkanmu siapa pria pertama yang memilikimu, dan siapa pria terakhir yang akan kau ingat sebelum kau hancur."
Sasha memejamkan matanya rapat-rapat, air mata mulai mengalir di sudut matanya yang sayu. Di tengah kabut kesadarannya, ia hanya bisa berdoa agar pintu itu hancur dan Gio muncul sebelum semuanya terlambat.
Namun Dimas tidak berhenti. Ia menunduk, hendak mencium leher Sasha dengan paksa, membiarkan aura panasnya menyelimuti wanita yang kini hanya bisa gemetar di bawah kekuasaannya.
"Lihat aku, Sasha," tuntut Dimas dengan nada posesif yang mematikan. "Lihat pria yang kau buang ini, dan sadarilah bahwa kau tidak akan pernah bisa lari dariku."
Sasha hanya bisa terisak, sementara di luar sana, langkah kaki yang terburu-buru mulai terdengar menggema di sepanjang lorong sunyi lantai dua belas.
Sasha bisa merasakan deru napas Dimas yang tidak beraturan di ceruk lehernya. Aroma alkohol mahal dan parfum maskulin yang tajam menyerang indranya, menciptakan mual yang luar biasa. Ia mencoba memalingkan wajah, namun tangannya yang terkunci di atas kepala membuat setiap gerakannya justru memberikan akses lebih bagi Dimas. Di bawah pengaruh zat yang mulai membakar sarafnya, tubuh Sasha terasa seperti pengkhianat—ia merasa panas dan lemas di saat jiwanya justru berteriak untuk melawan.
"Lepaskan... kau menjijikkan, Dimas," rintih Sasha dengan suara yang nyaris habis.
Dimas tidak mendengarkan. Ia justru tertawa rendah, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan logam di atas marmer. Matanya yang gelap memindai wajah Sasha dengan intensitas yang mengerikan, seolah sedang memetakan setiap jengkal ketakutan wanita itu. Baginya, ketakutan Sasha adalah bentuk pengakuan yang paling murni atas kekuasaannya.
"Kau selalu keras kepala, Sasha. Itu yang membuatku tergila-gila," bisik Dimas sembari menekan berat tubuhnya lebih dalam, mengabaikan rintihan kesakitan dari pergelangan tangan Sasha yang mulai memerah. "Kau pikir Gio bisa menyelamatkanmu setiap saat? Dia hanya bayangan yang akan hilang saat cahaya ini kupadamkan."
Dimas menjilat bibirnya yang kering, tangannya yang bebas mulai merayap dari pinggang Sasha menuju kerah gaun merah marunnya. Ia merasa telah memenangkan permainan ini. Baginya, malam ini bukan hanya tentang kepuasan fisik, tapi tentang menghancurkan harga diri Gio melalui Sasha. Ia ingin membuktikan bahwa ia bisa mengambil apa pun yang ia inginkan, tak peduli berapa banyak hukum yang ia langgar.
Sasha memejamkan mata, memanggil nama Gio dalam hati seolah itu adalah mantra perlindungan. Di tengah kesunyian kamar yang menyesakkan itu, ia bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri yang berpacu liar, beradu dengan suara deru napas Dimas yang semakin liar.
"Pilihannya hanya satu, Sasha," gumam Dimas pelan, tepat di depan bibir Sasha. "Menyerah padaku sekarang, atau aku akan memastikan Gio melihatmu hancur di tanganku."