Kirana adalah gadis ceria, polos dan kebal bully apa jadinya kalau ia bertemu dengan seorang pemuda raja bully yang tidak sengaja mobilnya ia tabrak saat pulang dari kampus, dan parahnya ia harus rela menjadi pelayan dirumah pemuda itu, karena sang pemuda dendam gara-gara kejadian itu ia diputuskan pacarnya, baca keseruan, kekonyolan dan kekocakan mereka berdua di novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia X, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu tidak diundang
Bik Sum berlari menghampiri Ana yang sedang asik menyiram bunga di taman belakang.
“Non.. non Ana," teriak nya kencang, membuat Ana menoleh seketika.
“Ada apa to bik, teriak-teriak,” tanya Ana mematikan kran air.
“Gawat non,” jawab bik Sum dengan nada panik.
“Gawat?, gawat gimana bik, yang jelas dong,” tanya Ana bingung.
“Itu, sepupu nak Dewa datang dan mau tinggal disini, gimana ini menjelaskannya kalau nanti bertanya tentang non Ana,” ucap bik Sum dengan wajah masih panik.
“Mas Dewa kemana?” tanya Ana ikut panik.
“Belum datang non, entah nyasar kemana, jam segini belum pulang,” jawab bik Sum.
“Pasti nongkrong sama teman-teman laknatnya, trus aku harus gimana bik, aku sembunyi dikamar bik Sum aja dulu sampe mas Dewa datang, dan menjelaskan, gimana,?” ucap Ana memberi solusi.
“Kayaknya itu ide bagus non, ayok ke tempat bibik," ajak bik Sum, namun belum mereka melangkah seorang pemuda berjalan mendekat dengan gaya sedikit melambai.
“Bik Sum” panggil nya dengan suara cempreng, bik Sum pun menatap pemuda itu pasrah.
“Iya den Angga, ada yang bisa bibik bantu?” tanya bik Sum mencoba biasa, pemuda bernama Angga itu terdiam menatap kearah Ana yang berdiri di belakang bik Sum, matanya memicing, penasaran, karena setahu Angga bik Sum tidak memiliki anak usia muda.
“Dia siapa bik?” tanya Angga penasaran, Ana hampir saja tertawa terbahak mendengar logat Angga yang sedikit kemayu, ia melipat bibirnya rapat agar tawa yang sudah ia tahan tidak pecah.
“Ini.. anu den,” jawab bik Sum bingung mau jawab gimana.
“Eh Badrun, ngapain loe kesini.” tanya Dewa yang tiba-tiba muncul dengan tas yang masih tergantung dipundaknya. Angga seketika menolah dan mendengus kesal.
“Sembarangan manggil nama orang, loe gak tahu apa gue udah dandan pari purna begini loe panggil Badrun, gak banget deh.” jawab nya dengan nada mendayu, dan Ana sudah tidak tahan, tawanya pecah seketika.
“Hahahaha...” suara tawa Ana seketika membuat Dewa dan Angga kembali menatap kearah Ana.
“Kenapa loe tertawa ikan buntal, mau gue goreng dan gue penyet loe di cobek,” ucap Dewa kesal, ia kesal aja, teringat wajah Rian tadi siang.
“Ikan buntal?” tanya Angga yang kini gantian tertawa.
“Pas itu Wa, pendek soalnya, iuuh,” tambah Angga sembari mengusap rambutnya gemulai.
“Tambah lagi keknya teman mas Dewa yang gesrek, ya Gusti, kenapa begitu banyak cobaan hamba, jangan lama-lama, nanti perut aku bisa kram lihat mahluk yang kau ciptakan langka ini.” ucap Ana tanpa dosa, membuat Dewa yang mendengarnya hampir tersedak sedangkan bik Sum sudah terkikik, tidak sanggup menahan tawa mendengar ucapan Ana.
“ Eh, apa maksud loe ubur-ubur, seenaknya aja loe ngatain gue ye.. gini-gini gue laki ya, mau gue buktiin, aduh Wa, loe Nemu dimana sih mahluk pendek mulut mercon ini, lagian siapa sih ni bocah,” ucap Angga tidak terima sembari menunjuk kearah Ana kesal sembari menghentakkan kakinya.
“Ponakannya bik Sum.” jawab Dewa singkat membuat bik Sum dan Ana kaget mendengar jawaban Dewa.
“Oh, ponakan bik Sum, maaf ya bik, habis ponakan bibik mulutnya lemes banget, gak kayak bik Sum yang kalem.” ucap Angga jujur, membuat bik Sum hanya tersenyum kikuk.
“Tidak papa den, maaf ponakan bibik memang suka bercanda,” jawab bik Sum yang jadi ikut berbohong, mengikuti ucapan Dewa.
“Maaf ya aku panggil nya mas apa mba nih ,” ucap Ana yang masih sempat-sempatnya mengusili Angga. Dewa sudah menutup mulutnya, menahan tawa mendengar pertanyaan Ana untuk Angga, Angga yang mendengar itu seketika melotot kan matanya garang kearah Ana.
“Kesel deh, panggil kak aja, gue kan masih muda tahu,” jawab Angga menahan marah.
“Oh, iya maaf, maaf, maaf ya kak mangga, tadi aku ngomong kurang sopan,” ucap Ana sembari tersenyum. Angga yang mendengar namanya diplesetkan tidak bisa lagi menahan kekesalan, rasanya ia ingin mencomot bibir Ana yang seenaknya saja kalau ngomong.
“Ih.. Dewa, mulut ubur-ubur ini bikin kesel, boleh gak gue tampol, bik, boleh ya aku karungi keponakannya nih dan aku buang ke Amazon,” ucap Angga kesal tapi tetap mendayu. Dewa sudah mengigit bibir nya agar tidak tertawa melihat dua mahluk yang sama-sama bikin darah tinggi naik, namun juga kadang bikin sakit perut. Sedangkan Ana hanya mesem.
“Dah yuk, jangan ngeladenin mahluk sejenis, nanti bertambah kacau rumah gue, mau kalian berdua gue kurung ditempat yang sama,” ucap Dewa datar sembari berbalik dan melangkah pergi dengan tawa tertahan. Sementara Angga menghentakkan kakinya kesal dan mengikuti langkah Dewa dengan sedikit berlari, namun itu yang membuat Ana semakin ngakak, melihat cara lari Angga yang sangat-sangat diluar Nurul, ngalahin cewek berlari gayanya. Sesampainya dikamar Angga langsung mengambil minuman dari dalam kulkas dan meneguk nya sampai separo, tenggorokan nya serasa kering karena berdebat dengan cewek yang sudah ia panggil ubur-ubur itu.
“Kesel deh, kenapa sih bik Sum punya ponakan kayak gitu, seenaknya saja tuh ubur-ubur manggil gue mangga emang gue sarung, gak tahu apa, gue cakep gini,” gerutu Angga yang masih kesal.
“Mirip mungkin, kan bentar lagi Ramadhan.” sahut Dewa asal, yang membuat Angga semakin kesal meruncingkan bibirnya.
“Kayak pernah puasa aja,” ucap Angga menohok.
“Sembarangan, pernah lah, iya kalau loe,” jawab Dewa bangga padahal dalam sebulan hanya waktu pembukaan dan penutupan saja ia puasa. Angga tersenyum mengejek, penuh tidak percaya.
“Dari wajah loe aja udah bisa ditebak ye, kalau loe itu bohong, sangat gak percaya akika,” ucap Angga mengibaskan tangannya dengan lentik, membuat Dewa ingin memotong kuku-kuku panjang milik Angga.
“Serah loe, ngapain loe kesini?” tanya Dewa datar mode serius.
“Kangen lah, kan lama kita gak ketemu, gue nginap disini ye, setengah bulan, gue ada urusan dikota ini,” jawab Angga dengan suara serius, mode cowok.
“Kenapa lama, loe kan bisa tinggal diapartemen, ngapain nginap disini,” balas Dewa tidak terima, karena ia akan sedikit susah membully si ikan buntal kalau ada Angga.
“Kejam ye ya pokoknya gue nginep sini, barang gue udah dibawah,” ucap Angga kembali kesetelan melambai.
“Gak bisa gitu dong, loe belum izin sama gue, pake mau tinggal disini, sembarang amat,” ucap Angga tidak mau kalah.
“Gue udah izin ma nyokap loe ya, gak usah ribet,” jawab Angga santai.
“Panjol bener, ok deh tapi Cuma boleh tiga hari,” jawab Dewa tidak mau kalah.
“Eh gak bisa gitu dong, loe tuh saudara apa rentenir sih pelit amat, seminggu titik, tidak pake koma.” ucap Angga tidak mau dibantah lagi membuat Dewa kesal, dan pasrah pada akhirnya.
“Ok, tapi loe tidur di kamar bawah, kalau gak mau gue usir loe dari rumah ini.” Ancam Dewa juga tidak mau kalah.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰