Seorang Gadis berambut kepang dua dengan kacamata bulat bernama Arabella Bellvania Laurent. Gadis kutu buku yang menyukai kapten basket bernama Arslan. Namun sayang Arslan mengajak Abel berpacaran hanya untuk sebuah permainan dari teman-temannya. Sebuah ciuman pertama bagi Abel terus membekas meski kenyataan pahit bahwa hubungannya adalah sebuah taruhan. 5 tahun berlalu, keduanya belum dapat mendapatkan cinta sejati masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Sebuah Tekad yang Kuat
Udara malam di balkon lounge itu terasa menusuk, namun tak sedingin tatapan Abel yang dilemparkan ke arah cakrawala kota. Arslan berdiri di sampingnya, memegang pagar pembatas dengan kuku jari yang memutih. Keheningan di antara mereka terasa menyesakkan, hanya riuh rendah musik dari dalam ruangan yang terdengar samar.
"Abel," suara Arslan memecah keheningan, terdengar berat dan sarat akan beban. "Tentang yang kamu lihat di kafe waktu itu... tentang dokter Gea. Aku perlu meluruskan sesuatu."
Abel tetap diam, matanya terpaku pada lampu-lampu jalanan di bawah sana. Namun, telinganya mendadak tajam, tak ingin melewatkan satu kata pun.
"Dia rekan sejawatku di rumah sakit. Tidak lebih," lanjut Arslan cepat, seolah takut Abel akan pergi sebelum ia selesai bicara. "Hari itu, aku terpaksa menemaninya karena sebuah kesepakatan untuk menghindari perjodohan yang dipaksakan Papaku. Apa yang kamu lihat—saat dia mencoba menyentuhku—itu bukan keinginanku. Aku menjauhkan diri, Bel. Sejak lima tahun lalu, tidak pernah ada wanita lain yang benar-benar aku izinkan masuk."
Abel masih memalingkan wajah, namun ia harus berjuang keras menekan sudut bibirnya agar tidak terangkat. Ada rasa lega yang menghangat di dadanya, sebuah beban yang tiba-tiba terangkat saat mengetahui bahwa dokter cantik itu hanyalah bagian dari skenario pelarian Arslan. Namun, Abel belum ingin luluh. Ia ingin Arslan merasakan sedikit dari rasa sakit yang ia simpan.
"Lalu kenapa kamu merokok lagi?" tanya Abel dingin, matanya kini melirik tangan Arslan yang tak lagi memegang rokok, namun masih menyisakan aroma samar. "Bukankah dulu kamu berjanji padaku tidak akan melakukannya lagi. Kamu tahu itu merusak dirimu sendiri."
Arslan tersenyum mendengar kata dulu, itu artinya Abel tidak pernah melupakan dirinya. "Karena hanya itu yang bisa mengalihkan pikiranku saat merindukanmu terasa seperti sekarat, Bel. Tapi sekarang aku janji tidak akan merokok lagi."
Arslan kemudian melangkah satu tahap lebih dekat, memangkas jarak di antara mereka hingga Abel bisa merasakan hangat tubuhnya.
"Aku serius dengan ucapanku di rumah sakit tempo hari," ucap Arslan dengan nada yang sangat dalam dan bersungguh-sungguh. "Tentang Farel. Aku tidak peduli bagaimana dia ada, atau siapa ayahnya. Aku bersedia menjadi ayah untuknya. Aku akan menyayanginya seolah dia darah dagingku sendiri, dan aku akan melindungimu dari siapa pun yang mencoba merendahkan statusmu."
Abel perlahan menoleh. Ia menatap mata Arslan, mencari jejak kebohongan atau sisa-sisa taruhan 30 juta yang dulu menghancurkan mereka. Namun, yang ia temukan hanyalah ketulusan yang murni, bercampur dengan delusi konyol pria itu.
Abel menyunggingkan senyum tipis—senyum yang sulit diartikan. Di dalam hatinya, ia ingin tertawa keras melihat betapa jauhnya imajinasi Arslan terbang. Ayah bagi Farel? Jika Reno mendengar ini, Arslan mungkin sudah tinggal nama.
"Jadi, kamu bersedia menjadi ayah bagi anakku, meskipun kamu tidak tahu siapa ayahnya?" tanya Abel dengan nada menggoda yang berbahaya.
"Iya," jawab Arslan tanpa ragu.
"Menarik," bisik Abel, ia melangkah maju dan merapikan kerah kemeja Arslan yang sedikit terlihat kaku, sebuah gestur yang membuat napas Arslan tertahan. "Kita lihat saja nanti, Dokter Arslan. Seberapa besar bualanmu ini bisa bertahan saat kenyataan yang sesungguhnya datang menghampirimu."
Abel kemudian berbalik dan berjalan meninggalkan Arslan yang terpaku di balkon, bingung dengan arti senyuman misterius Abel, namun merasa memiliki secercah harapan untuk kembali berjuang.
......................
Semangat Arslan untuk memenangkan kembali hati Abel telah mencapai level yang tak terbendung. Ia kini tidak lagi peduli dengan protokol bisnis atau rasa canggung. Arslan memanfaatkan posisinya sebagai mitra strategis perusahaan Belv-Lau Technology untuk lebih sering memantau aktivitas di kantor tersebut.
Pagi itu, Arslan memesan sebuah buket bunga mawar pink yang sangat besar—warna yang dulu pernah Abel katakan sebagai favoritnya saat mereka masih duduk di bangku SMA. Dengan penuh percaya diri, ia menyelipkan sebuah kartu kecil bertuliskan:
"Semangat bekerja, Mama Farel. Jangan lupa makan siang, ya. – A.R."
Arslan membayangkan Abel akan menerimanya dengan pipi merona, namun ia lupa satu variabel penting dalam persamaannya: Reno.
Reno sedang berdiri di lobi kantor saat kurir bunga itu datang. Begitu melihat nama "Arabella Bellvania Laurent" di alamat penerima, Reno langsung menyambar buket itu dengan wajah gelap. Tanpa memedulikan tatapan karyawan lain, ia melangkah lebar menuju ruangan Abel.
BRAK!
Buket mawar itu dilempar Reno ke atas meja kerja Abel, membuat tumpukan berkas sedikit berantakan.
"Jelaskan, siapa pria kurang kerjaan yang berani mengirimkan ini ke kantor?" tanya Reno ketus, suaranya rendah namun penuh ancaman. "Dan apa maksudnya dia memanggilmu 'Mama Farel'?"
Abel tersentak, namun pandangannya langsung tertuju pada mawar-mawar pink yang nampak segar tersebut. Ia meraih kartu kecil yang terselip di antaranya. Membaca tulisan tangan yang sangat ia kenali—tulisan dokter yang khas namun tetap rapi—senyum Abel perlahan terangkat.
Ada rasa hangat yang menggelitik dadanya. Meskipun Arslan masih terjebak dalam kesalahpahaman konyol mengenai statusnya sebagai ibu Farel, Abel tidak bisa menampik bahwa perhatian pria itu terasa sangat tulus.
"Hanya teman lama, Kak. Nggak usah berlebihan," jawab Abel santai, mencoba menyembunyikan binar matanya sambil menghirup aroma mawar tersebut.
"Teman lama?" Reno mendengus sinis, matanya menyipit melihat inisial A.R. di kartu itu. "Inisial ini... kalau sampai itu si Arslan, gue pastikan kerjaan lo di kantor akan di persulit dan gaji lo gue potong. Ngerti gak lo?"
Abel hanya terkekeh kecil melihat kakaknya yang mendidih karena cemburu protektif. Ia mengelus kelopak mawar itu dengan jemarinya. “Ternyata dia benar-benar mau serius dengan bualannya,” batin Abel.
"Awas saja kalau lo masih berhubungan dengan si Arslan itu. Kakak nggak suka ya, Bel! Titik!" bentak Reno sekali lagi, sambil menunjuk buket mawar pink itu seolah benda itu adalah virus berbahaya.
Abel tidak gentar. Ia justru menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya sambil melipat tangan di dada. "Terus kalau aku nggak nikah-nikah gimana? Kakak mau adiknya jadi perawan tua?"
"Ya daripada lo sama dia!" sahut Reno cepat.
"Kak, masa aku mau dijagain Kakak terus sampai keriput? Kakak kan sudah punya Farel. Masa aku nggak boleh punya kehidupan sendiri?" Abel mencoba memancing reaksi kakaknya.
Perdebatan itu terus memanas di ruang kerja yang kedap suara itu. Reno berdiri dengan tangan menyilang di dadanya, napasnya masih memburu. Di balik kemarahannya, ada ketakutan besar yang ia sembunyikan rapat-rapat. Reno tahu persis bagaimana hancurnya Abel tiga tahun lalu—gadis itu sempat mengurung diri, kehilangan nafsu makan, dan nyaris kehilangan jati dirinya karena pengkhianatan Arslan. Sebagai satu-satunya laki-laki di keluarga mereka, Reno merasa gagal melindungi adiknya saat itu.
Reno melihat mata Abel yang kini berkilau, namun ia juga tahu bahwa sejak kejadian taruhan sialan itu, belum ada satu pun pria yang mampu membuat Abel tersenyum seperti saat ia menatap mawar dari Arslan tadi. Ketertarikan Abel pada Arslan ternyata belum sepenuhnya padam, dan itulah yang paling ditakuti Reno: adiknya kembali ke pelukan orang yang pernah menghancurkannya.
Melihat Abel yang mulai cemberut dan memasang wajah mogok bicara, pertahanan Reno perlahan runtuh. Ia menghela napas panjang, lalu berjalan mendekat ke arah Abel.
"Sini," ucap Reno tiba-tiba.
Belum sempat Abel menjawab, Reno sudah mendaratkan cubitan gemas di hidung adiknya sampai memerah. "Aduh! Kak Reno sakit!" pekik Abel sambil berusaha menepis tangan kakaknya.
Reno tertawa kecil, kembali ke mode kakak usil yang biasanya. Beban pekerjaan sebagai pemimpin perusahaan seolah luruh saat ia melihat adiknya meringis kesal. "Habisnya lo kalau menjawab pinter banget. Jangan bawa-bawa 'perawan tua', lo itu masih cantik. Kakak cuma nggak mau ada lalat bau yang hinggap lagi."
"Arslan bukan lalat bau, Kak!" bantah Abel sambil mengusap hidungnya yang memerah.
"Ooh, jadi bener ya yang ngirim buket itu si kunyuk. Sekarang sudah berani membelanya ya?" Reno mengacak-acak rambut Abel sampai berantakan, persis seperti yang sering ia lakukan saat mereka masih kecil. "Pokoknya, selama gue belum bilang oke, mawar ini tetap statusnya 'sampah'. Paham?"
Abel hanya bisa mendengus pasrah. Di balik tingkah usil Reno, Abel tahu kakaknya hanya terlalu mencintainya. Namun, di dalam hatinya, Abel semakin penasaran: sampai kapan Arslan akan bertahan menghadapi tembok tinggi bernama Reno Oliver Laurent?