Kultivator setengah abadi Yan Biluo harus hidup sebagai Beatrice Nuo Vassal, karakter kecil dalam novel erotika yang seharusnya mati di awal cerita. Karena hal ini, ia pun merayu tunangan lisannya—Estevan De Carlitos, Grand Duke paling kejam dalam cerita tersebut.
Tujuannya sederhana—memperbaiki plot yang berantakan sambil terus merayu tunangannya yang tampan. Namun semuanya berubah saat tokoh utama antagonis tiba-tiba saja meninggal. Sejak itu, fragmen ingatan asing dan mimpi-mimpi gelap mulai menghantuinya tanpa henti.
Beatrice mengira tidur dengan tunangan tampannya sudah cukup untuk menikmati hidup sampai akhir cerita. Namun ia malah terseret dalam emosi, ingatan, dan trauma dari pemilik tubuh aslinya.
Apakah dunia ini benar-benar hanya novel?
Atau sebenarnya ia sedang menghidupi tragedi yang pernah dialami oleh karakter yang ia gantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berteman
Beatrice tak menyangka bahwa Alicia ingin berteman dengannya. Di dunia ini, tampaknya sulit untuk menemukan teman sejati. Setelah dipikir-pikir, Beatrice pun menyadari bahwa dia sendiri tak memiliki teman.
Biasanya, para nona bangsawan mengadakan acara minum teh, berkumpul di taman atau mungkin bertemu di suatu tempat untuk saling mengenal. Namun, Beatrice tahu itu semua hanyalah kedok untuk saling mengumpulkan informasi, bukan untuk menjalin persahabatan yang tulus. Tak ada yang benar-benar peduli satu sama lain.
"Apakah kamu yakin ingin berteman denganku? Kenapa?" tanya Beatrice.
Alicia terdiam sejenak, wajahnya terlihat sedikit malu. "Saya ... saya tidak memiliki banyak teman sebelumnya. Tapi saya pikir Anda baik dan bisa diajak berteman."
Beatrice tertawa kecil, meskipun ada rasa canggung dalam tawa itu. "Setidaknya kamu masih punya teman. Aku bahkan tidak punya teman," katanya, berusaha bercanda. "Tapi, tidak rugi juga berteman denganku. Aku mudah diberi makan. Serius."
Mendengar lelucon Beatrice, Alicia tersenyum, tawa kecilnya ringan dan hangat. "Anda bukan kelinci, Lady Tricia," balasnya dengan wajahnya berseri.
Pada akhirnya, keduanya pun resmi berteman. Alicia mulai berbicara lebih santai, tak lagi terlalu formal seperti sebelumnya. Percakapan mereka menjadi lebih nyaman dan alami. Tanpa terasa waktu pun berlalu begitu saja.
Bernard, yang sudah selesai berbicara dengan Leonidas, datang menghampirinya. Dia memanggil adiknya untuk pulang.
Melihat wajah Alicia yang terus tersenyum, Bernard tahu bisa menebak apa yang terjadi. Saat mereka beranjak pergi, Bernard menatap adiknya dengan rasa penasaran.
"Apakah kamu berteman dengannya?" tanyanya, suaranya terdengar santai namun dengan sedikit keingintahuan.
"Ya," jawab Alicia dengan yakin. "Berteman denganku berarti temanmu juga."
Bernard mencibir, sedikit geli. "Ck, sangat percaya diri." Meskipun dia tidak mengakuinya, sebenarnya ia merasa tak begitu buruk jika adiknya berteman dengan Beatrice.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Menjelang siang, Marionne datang untuk mengecek kondisi Beatrice yang kini sudah banyak pulih. Mendengar bahwa Beatrice akhirnya menemukan teman, Marionne tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya sebagai seorang ibu.
"Akhirnya kamu punya teman juga," kata Marionne, suaranya mulai bergetar. "Ibu merasa telah membuatmu menderita selama delapan belas tahun ini. Sekarang, ibu hanya ingin kamu aman dan sehat. Tidak ada lagi yang ibu harapkan."
Beatrice merasa sedikit terharu mendengar kata-kata ibunya, tapi dia tak ingin ibunya bersedih tentang hal-hal yang sudah berlalu. Dia memilih untuk beralih topik.
"Apakah Evan sudah datang?"
Marionne mengangguk, wajahnya cerah. "Ya, dia baru saja datang dan mengobrol dengan kakakmu. Meski kakakmu tidak terluka sama sekali, tapi dia kurang sehat belakangan ini. Jadi dia memutuskan untuk istirahat di rumah."
Mungkin Marionne tahu alasan sebenarnya mengapa Angelo lebih memilih tinggal di rumah daripada pergi bertugas. Bisa jadi, dia tidak suka melihat adiknya berdua dengan Estevan. Atau, mungkin setelah suaminya bertanya tentang putrinya yang tidur dengan Estevan semalam, Angelo merasa tidak senang.
Marionne tersenyum, mencoba mengalihkan perhatian. "Ayo turun dan makan siang. Bukankah kamu bilang ingin makan bubur ayam suwir?"
Beatrice menatap ibunya, sedikit terkejut. "Koki membuat bubur ayam suwir?"
Marionne tersenyum penuh kasih. "Tentu saja, sayangku. Apa yang kamu inginkan, akan selalu ada untukmu."
Saat mereka menuju ruang makan dan Beatrice duduk di meja, aroma bubur ayam suwir yang hangat dan menggoda langsung mengisi indera penciumannya. Perutnya mulai berteriak, rasa lapar yang sempat tertunda kini mencuat.
Marionne berkata dengan nada lembut, mengingatkan putrinya. "Lain kali, ajaklah Alicia untuk makan bersama. Kamu sekarang sudah berteman dengannya. Ibu juga ingin mengenalnya lebih banyak."
Beatrice tidak mengalihkan pandangannya dari piringnya yang penuh makanan. "Tidak masalah. Alicia bilang, berteman dengannya berarti juga berteman dengan kakaknya."
Tiba-tiba, suara dua pria yang duduk di ujung meja terdengar bersamaan. "Kamu berteman dengan keduanya?" tanya Angelo dan Estevan serempak.
Beatrice terkejut dan melirik mereka bergantian. Setelah itu, dia mengangguk pelan. "Tentu saja. Ini teman pertamaku sejak aku pulih dari sakit."
Keduanya tidak melanjutkan pertanyaan. Sebuah pemahaman diam-diam mengalir di antara mereka. Leonidas teringat pada acara debutante yang sempat ia rencanakan untuk putrinya. Sayangnya, Beatrice tidak tertarik.
"Aku tidak suka dengan acara debutante atau undangan dari siapa pun. Terlebih lagi acara minum teh palsu seperti itu. Para gadis bangsawan hanya berpura-pura baik."
Debutante adalah sebuah tradisi penting bagi seorang gadis yang telah menginjak usia dewasa. Itu adalah kesempatan untuk memperkenalkan diri ke masyarakat, bertemu keluarga-keluarga lain, dan mencari koneksi untuk masa depan. Tapi Beatrice merasa dunia seperti itu bukan untuknya.
Leonidas, meski merasa sedikit kecewa, tidak memaksanya. Lagi pula, dia tahu Beatrice sudah bertunangan dengan Estevan, jadi dia tidak perlu terlibat dalam dunia sosial yang semu itu.
"Kenapa tidak mengundang mereka saja kalau kamu bosan? Mereka tidak akan menolak undanganmu," kata Angelo sambil menghabiskan makanan di piringnya dan menyeruput teh.
Beatrice terkejut. "Bahkan mereka tidak berani menolak?"
Marionne buru-buru menimpali dengan nada lembut. "Jangan dengarkan kakakmu. Dia sesat. Tapi, Bee, tanpa pergaulan kelas atas, kamu tidak akan mendapatkan berita penting yang mungkin kamu butuhkan."
Beatrice hanya mengangguk, meskipun ketidaktertarikannya masih jelas terlihat. "Oh ...," katanya, tidak terlalu peduli.
Setelah makan siang, Beatrice kembali beristirahat di kamarnya, tubuhnya terasa lelah meski semangatnya mulai pulih.
Sementara itu, di ruang tamu, Estevan tengah berbincang dengan Angelo dan Leonidas.
"Perburuan musim semi kurang dari sebulan lagi. Sudahkah Anda menerima kabar dari ibu kota?" tanya Angelo, nada suaranya sedikit khawatir.
"Belum," jawab Estevan sambil meneguk teh dari cangkirnya. "Kemungkinan besar berita akan sampai dalam beberapa hari. Namun, kabarnya tahun ini, putra mahkota akan datang."
"Putra mahkota? Bukankah itu sepupu Anda, Pangeran Julio?" tanya Leonidas, sedikit terkejut.
"Ya. Kaisar akan pergi ke wilayah Southern tahun ini, jadi Pangeran Julio yang akan mewakili," kata Estevan, tampaknya sudah mendengar kabar tersebut beberapa waktu lalu.
Mereka bertiga membicarakan berbagai hal — mulai dari masalah perbatasan hingga persiapan perburuan musim semi yang semakin dekat. Waktu berlalu tanpa terasa dan tak lama kemudian, sore mulai menyelimuti kastil.
Estevan menatap Leonidas dan angkat bicara. "Dapatkah saya meminta izin untuk membawa Beatrice ke Istana Adipati Agung? Biarkan gadis itu menginap di sana beberapa hari."
Beatrice yang baru saja turun untuk mencari ibunya, langsung menghampiri mereka. "Aku ingin pergi! Aku akan menginap di sana," katanya dengan semangat.
"Masih menginap? Tidak!" kata Angelo, langsung menggelengkan kepala, tidak setuju. "Kamu harus pulang malam ini juga."
"Kenapa? Jarak Kastil Vassal ke Istana Adipati Agung kan cukup jauh," Beatrice membela diri, wajahnya penuh harap.
Istana Adipati Agung memang terletak di tengah wilayah yang luas dan megah, dekat dengan pusat kota. Sementara Kastil Vassal berada jauh di perbatasan yang menghubungkan Northern dan Central.
Leonidas yang sudah melihat wajah Beatrice yang kecewa, akhirnya mengalah. "Baiklah, menginap saja di sana selama beberapa hari," kata Leonidas.
"Benarkah?" Beatrice terlihat sangat senang, matanya berbinar.
"Tentu saja. Bagaimana mungkin Ayah bohong?" Leonidas tersenyum, merasakan kebahagiaan putrinya.
Beatrice langsung melompat dan memeluk ayahnya dengan semangat. "Terima kasih, Ayah!"
Lalu dengan cepat dia melepaskan pelukannya, menjulurkan lidah ke arah Angelo dan berlari ke lantai atas untuk menyiapkan barang bawaan.
Angelo menatap adiknya dengan wajah masam, tidak menyetujui keputusan itu. "Ayah!" kata Angelo, nada suaranya penuh keberatan.
Leonidas menepuk bahu putranya, mencoba menenangkan. "Biarkan adikmu pergi selama beberapa hari. Jangan terlalu mengekangnya, Angelo. Jika tidak, ia akan memberontak suatu hari nanti."
Angelo hanya terdiam, meskipun ekspresinya masih penuh keraguan. Dia melirik Estevan dengan perasaan campur aduk. Mengapa rasanya ada yang tidak beres dengan niat Estevan terhadap adiknya?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat mereka akhirnya tiba di Istana Adipati Agung, langit telah gelap. Butler Kelwin, kepala pelayan di istana tersebut, menyambut Beatrice dengan penuh keramahan dan rasa hormat. Begitu melihat gadis itu—yang tampak anggun dan cantik meski dengan tubuh yang masih tampak rapuh, senyum Butler Kelwin semakin melebar.
"Ini pasti Lady Tricia. Nama saya Kelwin, kepala pelayan di sini. Panggil saya Butler Kelwin. Saya sangat senang Yang Mulia Grand Duke akhirnya membawa Anda ke sini," sapa Butler Kelwin dengan membungkuk sopan.
"Halo, Butler. Terima kasih atas sambutannya. Ini pelayan pribadiku, Erica." Beatrice memperkenalkan Erica dengan nada ramah.
Erica membungkuk sopan. "Halo, Butler."
Kelwin mengangguk pada keduanya. "Kebetulan, hidangan makan malam telah siap. Silakan makan malam terlebih dahulu sebelum beristirahat. Kamar juga sudah disiapkan untuk Anda," katanya dengan sopan.