"Dulu aku membangun tahtamu dengan cinta, sekarang akan kuruntuhkan kerajaanmu dengan sisa tenaga sebagai tukang sapu!"
Clarissa mati sebagai istri yang dikhianati. Namun, dia bangun kembali sebagai Lestari, seorang cleaning service yang dianggap sampah oleh mantan suaminya, Kenzo, dan adiknya yang licik, Angelica.
Rencananya sederhana: Menyusup, sabotase, dan hancurkan!
Tapi rencana itu kacau saat Devan Mahendra—CEO tampan yang merupakan musuh bebuyutan suaminya—tiba-tiba menarik kerah seragamnya.
"Gadis pelayan sepertimu tahu apa soal pencucian uang pajak? Ikut aku!" seru Devan angkuh.
Kini, Clarissa terjebak di antara misi balas dendam yang membara dan bos baru yang sangat menyebalkan tapi selalu pasang badan untuknya. Bagaimana jadinya jika sang rival jatuh cinta pada "si tukang sapu" yang ternyata adalah otak jenius yang pernah mengalahkannya dulu?
"Kenzo, selamat menikmati hari-harimu di puncak. Karena aku sedang menyiapkan jurang terdalam untukmu... dibantu oleh musuh terbesarmu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Singa di Balik Domba
Suara helikopter di atas Villa Black Diamond terdengar seperti raungan monster yang lapar. Di dalam ruang aman, udara terasa tipis dan mencekam. Clarissa menatap pintu baja di depannya dengan tatapan yang tidak lagi menunjukkan ketakutan. Di tubuh Lestari yang kecil ini, jiwa seorang penguasa bisnis sedang membara.
"Clarissa, jangan gila! Mereka membawa tentara bayaran!" Devan mencengkeram bahu Clarissa, mencoba menahan langkah gadis itu.
Clarissa berbalik, menatap Devan dengan senyum yang sangat tenang—senyum yang dulu selalu ia gunakan sebelum menghancurkan lawan bisnisnya di meja perundingan. "Devan, jika kita terus bersembunyi di sini, kita hanya menunggu waktu sampai mereka meledakkan tempat ini. Biarkan aku keluar. Aku tahu apa yang diinginkan Hendrawan."
"Aku tidak akan membiarkanmu menjadi tameng!" geram Devan.
"Aku bukan tameng, Devan. Aku adalah umpannya," Clarissa menyentuh pipi Devan dengan lembut, lalu dengan gerakan cepat, ia mengambil alat pelacak kecil dari saku jas Devan dan menyembunyikannya di balik telinganya, tertutup rambut. "Tunggu sinyalku. Jangan bergerak sebelum aku memberi kode."
Sebelum Devan sempat membantah, Clarissa menekan tombol buka pintu.
Sshhh—
Pintu baja itu bergeser. Clarissa melangkah keluar dengan kepala tegak, melewati lorong mansion yang kini remang-remang. Ia berjalan menuju balkon utama tempat suara Angelica terdengar tadi.
Di sana, di bawah sorot lampu helikopter yang menyilaukan, berdiri Angelica dengan gaun mahalnya, didampingi oleh sekelompok pria bersenjata lengkap. Di tengah-tengah mereka, duduk seorang pria tua dengan setelan jas rapi dan tongkat berkepala perak. Paman Hendrawan.
"Ah, lihat siapa yang keluar," suara Hendrawan terdengar berat dan penuh wibawa palsu. "Lestari... atau haruskah aku memujimu atas aktingmu yang luar biasa, Clarissa?"
Clarissa berhenti tepat lima langkah di depan mereka. Angin kencang dari baling-helikopter membuat rambutnya berantakan, tapi matanya tetap tajam menusuk.
"Paman Hendrawan," sapa Clarissa dengan nada dingin. "Sejak kapan seorang pria terhormat sepertimu gemar bermain dengan bahan peledak dan tentara bayaran? Apakah K-Corp sudah begitu miskin hingga kau harus merampok dari keponakanmu sendiri yang sudah kau bunuh?"
Angelica tertawa melengking, suara yang membuat Clarissa mual. "Kakak, jangan sombong! Kau sudah mati! Kau sekarang hanya sampah dalam tubuh pelayan. Kau pikir Devan benar-benar mencintaimu? Dia hanya kasihan melihat kegilaanmu!"
Clarissa melirik Angelica dengan pandangan meremehkan. "Angelica, kau masih saja bodoh. Kau mengira dengan menyingkirkanku, kau akan mendapatkan segalanya? Kau hanya pion bagi Hendrawan. Begitu aku habis, kau adalah orang berikutnya yang akan dia buang ke jurang."
Wajah Angelica memucat sesaat, namun Hendrawan segera mengetukkan tongkatnya ke lantai.
"Cukup basa-basinya," ucap Hendrawan. "Clarissa, aku tahu kau memiliki hard drive cadangan berisi seluruh akses akun rahasia keluarga Wijaya di luar negeri. Berikan kepadaku, dan aku akan membiarkanmu pergi dari sini hidup-hidup bersama pelayanmu yang bernama Devan itu."
Clarissa tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat meremehkan di tengah deru helikopter. "Paman, kau meremehkanku. Kau pikir aku akan membawa benda sepenting itu di tubuh ini?"
"Lalu di mana?" tanya Hendrawan, matanya menyipit penuh ancaman.
Clarissa maju satu langkah lagi, mengabaikan moncong senjata yang diarahkan padanya. "Ada di satu tempat yang tidak akan pernah bisa kau tebak. Tapi aku punya penawaran menarik. Jika kau menarik semua tuduhan palsu soal pengeboman itu, aku akan memberitahumu kodenya."
"Jangan dengarkan dia, Paman! Dia bohong!" teriak Angelica.
Tiba-tiba, Clarissa merasakan getaran di balik telinganya—sinyal dari Devan. Bantuan sudah dekat. Ia hanya perlu mengulur waktu beberapa menit lagi.
"Paman, coba pikirkan," Clarissa mulai berjalan mengitari Angelica dengan gaya mengintimidasi. "Jika aku mati di sini, akun itu akan terkunci selamanya. Seluruh harta keluarga Wijaya akan membeku, dan kau tidak akan mendapatkan sepeser pun. Kau ingin menjadi raja, atau ingin menjadi pembunuh yang bangkrut?"
Hendrawan tampak ragu. Ketamakannya mulai bertarung dengan amarahnya. Clarissa memanfaatkan momen itu. Ia mendekati Angelica dan berbisik di telinga adiknya itu dengan nada yang sangat gelap.
"Kau tahu, Angelica? Saat mobil itu terjun ke jurang, aku tidak merasa takut. Aku hanya merasa kasihan padamu. Karena seumur hidupmu, kau hanya akan menjadi bayang-bayang seorang mayat."
"KAU!!!" Angelica yang emosional kehilangan kendali. Ia menerjang Clarissa dan mencoba mencekik lehernya.
Inilah yang ditunggu Clarissa. Saat Angelica menyerangnya, posisi para tentara bayaran menjadi kacau karena takut menembak Angelica. Clarissa dengan gerakan refleks—yang entah datang dari mana, mungkin sisa adrenalin tubuh Lestari—memutar tangan Angelica dan menjadikannya sandera, sambil menodongkan pisau lipat kecil ke leher Angelica.
"JANGAN BERGERAK!" teriak Clarissa.
"Lepaskan dia!" perintah Hendrawan, wajahnya kini merah padam.
"Suruh anak buahmu meletakkan senjata, atau aku akan memastikan adikku tercinta ini menyusulku ke neraka sekarang juga!" ancam Clarissa dengan mata berkilat gila.
Tiba-tiba, dari arah hutan, rentetan tembakan terdengar. Bukan ke arah Clarissa, tapi ke arah helikopter dan tentara bayaran Hendrawan.
RATATATATAT!
"Apa yang terjadi?!" Hendrawan panik.
"Itu adalah suara kehancuranmu, Paman," bisik Clarissa.
Dari kegelapan, sosok Devan muncul dengan tim elit Mahendra. Mereka bergerak seperti bayangan, melumpuhkan satu per satu anak buah Hendrawan dalam hitungan detik. Devan berjalan dengan tenang di tengah kekacauan, pistolnya terarah tepat ke dahi Hendrawan.
"Permainan selesai, Hendrawan," ucap Devan dengan suara yang sanggup membekukan udara. "Mansion ini sudah dikepung. Dan semua percakapanmu tadi... sudah disiarkan secara langsung ke server pusat kepolisian oleh 'Konsultanku' yang pintar ini."
Clarissa tersenyum miring sambil melepaskan Angelica yang sudah terkencing-kencing karena takut. Ia mengeluarkan ponsel bututnya yang ternyata sedang dalam mode live streaming tersembunyi.
"Dunia sudah melihat wajah aslimu, Paman," ucap Clarissa puas.
Hendrawan jatuh terduduk, tongkatnya terlepas. Ia tahu ia sudah kalah telak. Polisi benar-benar datang, kali ini bukan untuk menangkap Lestari, tapi untuk menyeret Hendrawan dan Angelica.
Saat Angelica diseret polisi, ia terus berteriak, "DIA BUKAN LESTARI! DIA SETAN! DIA CLARISSA YANG KEMBALI!" Namun polisi hanya menganggapnya gila karena stres.
Setelah keadaan kondusif, Devan mendekati Clarissa. Ia tidak mengatakan apa-apa, ia langsung menarik Clarissa ke dalam pelukannya yang sangat erat, seolah takut gadis itu akan menghilang lagi.
"Kau gila," bisik Devan di rambut Clarissa. "Kau benar-benar gila karena melakukan itu."
"Aku adalah Clarissa Wijaya, Devan. Aku tidak akan membiarkan orang lain menulis akhir ceritaku," jawab Clarissa, membalas pelukan Devan.
Namun, saat Clarissa merasa lega, kepalanya tiba-tiba terasa sangat sakit. Sebuah memori asing yang bukan miliknya tiba-tiba terlintas. Ia melihat sosok ayah Lestari yang sedang menangis, memegang sebuah kunci perak di sebuah gudang rahasia.
“Lestari, simpan kunci ini... ini adalah bukti pembunuhan yang sebenarnya...”
Clarissa tersentak dan hampir jatuh jika tidak ditangkap oleh Devan.
"Ada apa?!" Devan cemas.
Clarissa menatap Devan dengan mata yang dipenuhi teka-teki baru. "Dendam ini... ternyata jauh lebih dalam dari yang aku kira, Devan. Ada rahasia lain di balik kematian Ayah Lestari... dan kematianku."
Di kejauhan, di antara kerumunan polisi, seseorang berpakaian hitam menatap mereka dari balik pohon besar. Orang itu memegang sebuah kunci perak yang sama dengan yang ada di memori Clarissa. Ia tersenyum, lalu menghilang ke dalam kegelapan.