NovelToon NovelToon
MAHAR KEBEBASAN

MAHAR KEBEBASAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Nikahmuda / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Keyla Atmadja (18 tahun) baru saja memimpikan indahnya bangku perkuliahan sebelum dunianya runtuh dalam semalam. Ayahnya, Alan Atmadja, berada di ambang kehancuran total; kebangkrutan membayangi dan ancaman penjara sudah di depan mata. Namun, sebuah "tali penyelamat" datang dari sosok yang tak terduga: Dipta Mahendra 35 tahun), seorang konglomerat dingin dan predator bisnis yang disegani.
Pertemuan singkat yang dianggap Keyla sebagai kebetulan di sebuah kafe, ternyata adalah awal dari rencana matang Dipta. Terpesona oleh kemurnian dan kecantikan alami Keyla, Dipta menawarkan sebuah kesepakatan gelap kepada Alan: seluruh hutang keluarga Atmadja akan lunas, dan modal bisnis akan mengalir tanpa batas, asalkan Keyla diserahkan menjadi tunangannya.
Terjepit di antara rasa bakti kepada orang tua dan keinginannya untuk merdeka, Keyla terpaksa menerima cincin berlian yang terasa seperti borgol di jemarinya. Di pesta pertunangan yang megah namun penuh ketegangan, Keyla harus berhadapan dengan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. ANDAI SAJA

Beberapa hari telah berlalu sejak malam penghukuman yang mengerikan itu. Bagi Keyla, setiap hari terasa seperti berjalan di atas seutas tali tipis di tengah badai. Di kampus, ia bertransformasi menjadi sosok yang sangat tertutup—seorang mahasiswi pendiam yang selalu mengenakan pakaian tertutup untuk menyembunyikan jejak posesif suaminya.

​Keyla telah memohon, bahkan bersujud di depan Dipta, agar pria itu tidak menghancurkan hidup Rendy. Sebagai gantinya, Keyla berjanji akan menjadi bayangan di kampus. Ia tidak akan bicara pada pria mana pun, tidak akan tersenyum, dan akan segera pulang begitu kelas usai. Dipta setuju, meski matanya tetap memancarkan ancaman yang tak terucapkan.

​**

​Sore itu, perpustakaan pusat universitas tampak lengang. Hanya ada aroma kertas tua dan debu yang menari-nari di bawah cahaya matahari yang menembus jendela tinggi. Keyla memilih sudut paling terpencil di lantai tiga, di antara rak-rak buku sejarah diplomatik yang jarang dikunjungi mahasiswa.

​Ia butuh ketenangan. Ia butuh melarikan diri dari perasaan diawasi yang selalu menghantuinya. Dengan kacamata bertengger di hidungnya, Keyla fokus mencatat referensi dari sebuah buku tebal, sesekali merapikan rambutnya yang jatuh menutupi wajah.

​"HI itu memang berat ya? Sampai-sampai mahasiswi tercantik di angkatan ini harus sembunyi di pojokan begini."

​Keyla tersentak hebat. Pena di tangannya terlepas, menggelinding di atas meja kayu. Jantungnya berdegup kencang seolah akan melompat keluar. Saat ia mendongak, sosok Rendy berdiri di sana dengan senyum ramahnya yang khas, membawa beberapa tumpuk buku.

​"Kak... Kak Rendy?" suara Keyla bergetar. Ia segera mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan panik. Matanya menyisir setiap sudut rak, mencari sosok Doni atau siapa pun yang mungkin dikirim Dipta.

​"Hei, kenapa wajahmu pucat begitu? Kamu seperti melihat hantu," Rendy tertawa kecil, lalu menarik kursi di depan Keyla tanpa diminta. "Tenang, perpustakaan ini sepi sekali jam segini. Anak-anak HI lain biasanya sudah nongkrong di kafe bawah."

​**

​Keyla mencoba merapikan buku-bukunya dengan tangan gemetar. "Aku... aku harus pergi, Kak. Aku baru ingat ada janji."

​"Keyla, tunggu." Rendy menahan tangan Keyla di atas meja, namun segera melepaskannya saat melihat ketakutan yang nyata di mata gadis itu. "Ada apa denganmu? Beberapa hari ini kamu selalu menghindar. Setiap kali aku menyapa, kamu pura-pura tidak dengar. Apa aku melakukan kesalahan yang membuatmu tidak nyaman?"

​Keyla menelan ludah, berusaha mengatur napasnya. "Tidak, Kak. Tidak ada. Aku... aku hanya lebih sibuk. Tugas dari Dosen Smith benar-benar menyita waktu. Aku tidak bermaksud menghindar."

​Rendy menatap Keyla dalam-dalam. Matanya memancarkan ketulusan yang belum pernah Keyla temukan pada Dipta. "Kamu tidak pandai berbohong, Key. Kamu terlihat... tertekan. Apa ada seseorang yang mengganggumu? Atau mungkin pria yang bersamamu tempo hari di mal? Dia kakakmu? Ayahmu?"

​Mendengar kata "Dipta" secara tersirat membuat Keyla merinding. "Bukan siapa-siapa. Dia hanya... wali keluargaku. Kak Rendy, tolong, jangan tanyakan apa pun lagi. Lebih baik kita tidak terlalu sering terlihat bersama."

​Rendy menghela napas, ia mengeluarkan sebatang cokelat dari kantong jaketnya dan meletakkannya di atas buku Keyla. "Kamu terlihat kurang istirahat. Ini, makanlah. Aku tidak akan memaksamu bercerita, tapi ingat... kalau kamu butuh bantuan atau sekadar teman bicara yang tidak akan menghakimimu, aku di sini."

​**

​Untuk sesaat, pertahanan Keyla runtuh. Ia menatap cokelat itu, lalu menatap wajah Rendy yang bersih dan penuh perhatian. Dalam hati kecilnya yang paling gelap, sebuah pikiran berbahaya muncul.

​Jika saja aku menikah dengan pria seperti ini...

​Keyla membayangkan hidup yang normal. Menikah karena cinta, bukan karena utang. Menikah dengan seseorang yang menghargai pendapatnya, yang berbicara dengan nada lembut, yang tidak akan pernah merobek pakaiannya atau menyeretnya ke ranjang hanya karena rasa cemburu yang gila. Bersama Rendy, ia merasa seperti Keyla yang dulu—gadis pintar yang punya masa depan. Bukan "Nyonya Mahendra" yang hanya menjadi pemuas nafsu di sangkar emas.

​Namun, pikiran itu segera ia tepis dengan rasa sakit yang tajam.

​Tidak, Keyla. Jangan gila. Rendy akan mati jika Dipta tahu kau memikirkannya seperti ini. Pria itu monster, dan kau adalah miliknya.

​"Terima kasih, Kak. Tapi aku benar-benar harus pergi," Keyla berdiri dengan terburu-buru, memasukkan buku-bukunya ke dalam tas tanpa mempedulikan kerapiannya.

​**

​Keyla berjalan cepat menuju pintu keluar, jantungnya masih berpacu. Saat ia melewati meja resepsionis, ia melihat Doni sedang duduk di lobi bawah, sedang asyik bermain ponsel dengan earpiece yang masih terpasang. Rupanya, Doni mengira Keyla masih terjebak dalam tumpukan buku di lantai tiga dan tidak menyadari ada pintu keluar darurat di sisi lain perpustakaan yang digunakan Keyla.

​Keyla berhasil keluar dari gedung perpustakaan tanpa terlihat oleh mata-mata Dipta. Ia berlari kecil menuju gerbang kampus, memesan taksi online biasa, dan berusaha menenangkan diri sebelum sampai di penthouse.

​Hari itu, untuk pertama kalinya, Keyla merasa ia telah memenangkan sebuah pertempuran kecil. Ia berhasil berbicara dengan Rendy tanpa memicu ledakan amarah Dipta. Namun, di balik rasa lega itu, ada kesedihan yang mendalam. Ia sadar bahwa momen manis di perpustakaan tadi hanyalah sebuah fatamorgana—sebuah cuplikan dari hidup yang tidak akan pernah bisa ia miliki.

​Sesampainya di lobi apartemen, Keyla merapikan rambutnya dan memasang wajah sedingin mungkin. Ia tahu, di lantai atas, sang monster sedang menunggunya dengan segala tuntutan dan kepemilikannya.

***

bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!