NovelToon NovelToon
TRANSMIGRASI: DIKIRA ISTRI BODOH, TERNYATA RATU BISNIS

TRANSMIGRASI: DIKIRA ISTRI BODOH, TERNYATA RATU BISNIS

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / Fantasi Wanita
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Blurb:

​Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.

​Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.

​Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.

"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."

​Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.

​"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."

​Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Senjata Makan Tuan

​​"Silakan masuk, Bapak-bapak. Harap nonaktifkan ponsel atau ubah ke mode getar."

​Suara staf kementerian yang datar itu terdengar seperti lonceng kematian. Kairo menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara dingin Gedung Kementerian Pekerjaan Umum. Dia membetulkan letak jasnya—kebiasaan gugup yang mulai kambuh—sebelum melangkah melewati pintu ganda kayu jati yang kokoh.

​Di belakangnya, Reza dan tim legal Diwantara Group mengekor dengan wajah tegang. Di tangan mereka ada masa depan perusahaan: tumpukan dokumen tender yang sudah dipersiapkan selama tiga bulan dengan darah dan keringat.

​Ruang rapat itu luas. Di ujung meja berbentuk U, duduk lima orang panitia tender yang dipimpin oleh Pak Darmawan, sosok yang terkenal kaku. Namun, bukan mereka yang membuat darah Kairo mendidih seketika.

​Itu adalah rombongan di sisi kiri meja. PT. Megah Sejahtera.

​Pak Gunawan duduk di kursi paling depan, persis berhadapan dengan kursi kosong milik Kairo. Pria tua bertubuh gempal itu sedang tertawa lebar, wajahnya merah padam seolah baru saja menenggak wine kemenangan sebelum perang dimulai. Begitu melihat Kairo, tawa itu berhenti, digantikan seringai yang membuat Kairo ingin melempar asbak.

​"Wah, wah... lihat siapa yang datang," suara Pak Gunawan menggema sengaja dikeraskan. "Sang Pangeran Diwantara. Saya kira kamu tidak akan datang, Nak. Saya dengar kamu sibuk mengurus istrimu yang... 'sakit'?"

​Staf PT. Megah terkekeh pelan, menutupi mulut mereka dengan sopan santun palsu.

​Kairo mengepalkan tangan di samping tubuh. Dia tahu ini taktik psikologis murahan. Gunawan ingin memancing emosinya di depan panitia. Dengan tenang, Kairo menarik kursi kulitnya dan menatap Gunawan dengan tatapan sedingin es.

​"Istri saya sehat, Pak Gunawan. Terima kasih atas perhatiannya yang tidak perlu," jawab Kairo datar. "Sebaiknya Bapak simpan tenaga Bapak. Nanti Bapak butuh tenaga ekstra untuk menjelaskan pada pemegang saham kenapa Bapak kalah hari ini."

​"Hahahaha! Percaya diri sekali!" Gunawan menepuk meja, matanya berkilat licik. "Kita lihat saja nanti, Kairo. Saya sudah siapkan kejutan manis. Kejutan yang bakal bikin kamu menangis pulang ke pangkuan istrimu."

​"Cukup," suara Pak Darmawan memotong tajam. Dia mengetuk palu kayunya sekali. "Ini forum resmi negara. Jaga etika kalian. Kita di sini untuk mencari mitra pembangunan jalan tol, bukan melihat drama sinetron."

​Kairo dan Gunawan terdiam. Kairo duduk, membuka kancing jasnya agar bisa bernapas lebih lega. Reza meletakkan botol air mineral di depan Kairo dengan tangan gemetar.

​"Tenang, Reza," bisik Kairo tanpa menoleh. "Fokus."

​"Sesuai nomor urut undian," kata Pak Darmawan sambil membuka berkas. "Kesempatan pertama diberikan kepada Diwantara Group. Waktu Anda dua puluh menit."

​Kairo berdiri, mengambil clicker presentasi. Layar proyektor menyala, menampilkan logo Diwantara Group.

​"Terima kasih, Pak Ketua," Kairo memulai dengan suara bariton yang mantap. Aura CEO-nya memancar kuat, menguasai ruangan. "Proyek Jalan Tol Sesi 4 ini bukan sekadar jalan aspal. Ini urat nadi ekonomi. Diwantara Group menawarkan spesifikasi aspal polymer modified grade A yang tahan cuaca ekstrem dan beban logistik berlebih."

​Kairo memaparkan datanya dengan brilian. Tidak ada celah. Kualitas terbaik, teknologi terbaru.

​"Dan untuk semua spesifikasi premium ini," Kairo sampai pada slide krusial. "Kami mengajukan penawaran harga sebesar..."

​Angka muncul di layar.

​Rp 2.100.000.000.000 (Dua Triliun Seratus Miliar Rupiah).

​"Ini adalah harga wajar yang menjamin kualitas dan keselamatan," tutup Kairo.

​Hening sejenak. Pak Darmawan mengangguk pelan. "Dua koma satu triliun. Sedikit di atas HPS, tapi masih masuk akal mengingat spesifikasinya. Terima kasih, Pak Kairo. Silakan duduk."

​Kairo kembali duduk dengan cukup puas. Marginnya tipis, tapi masuk akal.

​"Selanjutnya," panggil Pak Darmawan. "PT. Megah Sejahtera."

​Pak Gunawan berdiri dengan susah payah karena perut buncitnya. Dia menatap Kairo sekilas, lalu mengedipkan satu matanya. Firasat buruk langsung merayapi punggung Kairo.

​"Terima kasih, Pak Ketua," suara Gunawan terdengar serak. "Presentasi Pak Kairo tadi sangat... indah. Puitis. Tapi Bapak-bapak, kita harus realistis. Negara sedang defisit. Rakyat butuh efisiensi."

​Gunawan menekan tombol clicker.

​"PT. Megah menawarkan solusi cerdas. Kami memangkas biaya yang tidak perlu menggunakan metode konstruksi efisien rancangan tim ahli kami. Dan inilah harga yang kami tawarkan."

​Angka besar muncul di layar dengan warna merah menyala.

​Rp 1.785.000.000.000 (Satu Triliun Tujuh Ratus Delapan Puluh Lima Miliar Rupiah).

​Suara tarikan napas kaget terdengar serentak di ruangan itu. Mata Pak Darmawan melebar, langsung menegakkan punggung. Selisih hampir tiga ratus miliar dari penawaran Kairo!

​"Gila..." desis Reza, wajahnya pucat seperti mayat. "Pak... itu harga bunuh diri. Pasir dan semen saja tidak dapat segitu."

​Kairo membeku. Jantungnya seolah berhenti. Dia menatap Gunawan yang tersenyum lebar memamerkan gigi emasnya.

​"Bagaimana? Murah, bukan?" tanya Gunawan bangga.

​"Tunggu sebentar," sela salah satu panitia teknis. "Pak Gunawan, dengan harga serendah itu, bagaimana Anda menjamin kualitasnya? Jangan-jangan pakai material curah?"

​"Tentu tidak!" bantah Gunawan cepat. "Kami tetap memenuhi standar SNI. Rahasianya ada di strategi keuangan kami."

​Gunawan menampilkan tabel rumit berisi skema pembiayaan jangka panjang. "Kami menggunakan metode subsidi silang biaya operasional. Kami menekan biaya konstruksi awal (CAPEX) dan memindahkannya ke biaya operasional di tahun kelima."

​Kairo menatap tabel itu. Otaknya yang cerdas langsung menganalisis angka-angkanya. Kolom depresiasi aset, biaya tak terduga yang dinolkan, pergeseran beban bunga.

​Itu... itu brilian.

​Jahat, manipulatif, tapi brilian secara akuntansi. Di atas kertas, angkanya klop.

​"Sialan," umpat Kairo dalam hati. Dia tahu Gunawan tidak punya otak untuk merancang skema financial engineering serumit ini. Ini strategi buatan "EL".

​Kairo merasa dunianya runtuh. Dia melihat wajah-wajah panitia tender yang tampak terpesona. Bagi birokrat, "Hemat Anggaran" adalah kunci promosi jabatan. Mereka tidak peduli risiko tahun kelima, yang penting laporan tahun ini hijau.

​"Luar biasa," gumam Pak Darmawan lewat mikrofon. "Selisih tiga ratus miliar itu sangat signifikan."

​Gunawan duduk kembali dengan gerakan lambat yang menyebalkan. Dia menoleh ke arah Kairo, lalu membuat gerakan tangan menyembelih leher.

​"Siap-siap gulung tikar, Nak," bisik Gunawan tanpa suara, tapi gerak bibirnya terbaca jelas. "Sampaikan salamku buat istrimu. Bilang padanya, kalau kamu bangkrut, dia boleh kerja di karaokeku."

​Darah Kairo mendidih sampai ke ubun-ubun. Dia ingin menghajar wajah tua itu, tapi kakinya terasa berat seperti dipaku. Dia kalah. Secara matematis, dia kalah telak.

​Bayangan Elena terlintas di benaknya. Jangan pulang kalau kalah. Kalimat itu terngiang seperti kutukan. Kehilangan Elena karena dianggap pecundang jauh lebih menakutkan daripada kehilangan uang dua triliun.

​Kairo menunduk, meremas pulpen hingga patah. Kretek.

​"Baiklah," suara Pak Darmawan memecah keheningan. "Setelah membandingkan dokumen penawaran..."

​Pak Darmawan membetulkan letak kacamatanya. Dia menatap Kairo dengan simpati, lalu beralih ke Gunawan.

​"Secara teknis, Diwantara Group unggul. Namun, dalam tender pemerintah, efisiensi anggaran adalah prioritas. Dengan selisih harga yang sangat signifikan, maka panitia cenderung menetapkan PT. Megah Sejahtera sebagai pemenang tender Tol Trans-Sumatera Sesi 4 ini."

​Pak Gunawan sudah setengah berdiri, siap bersorak. Timnya sudah saling sikut girang. Pak Darmawan mengangkat palu kayunya.

​"Keputusan ini akan saya sahkan seka—"

​BEEP! BEEP! BEEP!

​Suara alarm nyaring tiba-tiba memotong ucapan Pak Darmawan.

​Bukan alarm kebakaran. Suara itu berasal dari laptop operator sistem yang terhubung ke layar proyektor. Semua orang tersentak. Tangan Gunawan berhenti di udara.

​Di layar proyektor, slide PT. Megah tertutup paksa. Digantikan oleh tampilan sistem verifikasi tender nasional yang berkedip-kedip merah.

​Sebuah kotak peringatan besar muncul dengan tulisan kapital:

​SYSTEM ALERT: ABNORMAL PRICING DETECTED.

VIOLATION CODE: PM-45-202X (PREDATORY PRICING & DUMPING).

STATUS: AUTO-REJECT.

​"Apa... apa itu?" tanya Gunawan gagap, matanya melotot.

​Operator sistem, anak muda berkacamata tebal, mengetik dengan panik. Wajahnya pucat pasi.

​"Maaf, Pak Ketua!" seru operator itu gugup. "Sistem otomatis mendeteksi pelanggaran! Saya tidak bisa mencetak surat keputusannya. Tombolnya terkunci!"

​"Pelanggaran apa?" tanya Pak Darmawan bingung, ikut berdiri. "Dokumen mereka lengkap!"

1
Warni
Astaga
Warni
🤭🤣🤣🤣😁
Warni
😱
Warni
🤣
Warni
Langsung,50%:50%
Warni
Oh
Warni
Padahal sering bikin drama.
Warni
Hahahahahhahah
Warni
Tumben kerja sama?
Warni
🤭
Warni
😁
Warni
Auu
Warni
/Kiss/
Warni
Wah habis ini.
Warni
Bella TDK ada artinya.
Warni
🤣🤣🤣🤣
Warni
😂
Warni
Hooooo🤭
Warni
Kayaknya Reza lebih takut sama Bu bos dari pada pak bos.
Savana Liora: iya wkwk
total 1 replies
Warni
Hahahhaha
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!