Niat hati merayakan ulangtahun pernikahan kedua dengan kejutan manis, Cakra justru dihantam kenyataan pahit. Di dalam apartemen mereka, ia menemukan Hana terlelap dalam pelukan sepupunya sendiri. Tanpa tahu bahwa ini adalah jebakan licik sang ibu mertua yang tak pernah merestui mereka, Cakra terbakar api cemburu.
Malam itu juga, tanpa ruang untuk penjelasan, talak dijatuhkan. Hana hancur. Di balik kehancuran itu, ia menyimpan rahasia besar: sebuah kabar kehamilan yang baru saja ingin ia sampaikan sebagai hadiah anniversary mereka.
Tahun-tahun berlalu, Hana bangkit dan berjuang membesarkan putra mereka sendirian. Namun, waktu adalah saksi yang paling jujur. Akankah kebenaran tentang rencana jahat sang ibu mertua akhirnya terungkap? Dan saat penyesalan mulai menghujam Cakra, mampukah Hana memaafkan pria yang lebih memilih percaya pada amarah daripada cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masalalu yang datang kembali
pagi itu, suasana di teras rumah terasa begitu berat. Hana sudah memantapkan hati untuk menghampiri Tama, pria asing yang terus berdiri di depan rumahnya. Namun, baru saja ia hendak membuka suara, langkahnya terhenti seketika saat sebuah suara mungil memecah keheningan.
"Om Tama!" panggil El dengan wajah sumringah. Bocah itu tampak begitu bersemangat melihat sosok pria tersebut.
Hana tersentak dan langsung menoleh ke arah putranya dengan tatapan tajam. "El, cepat pergi ke kamarmu!" perintahnya tegas.
"Tidak mau Bun, ada Om Tama nih!" bantah El tanpa rasa takut.
Mendengar putranya membantah untuk pertama kali, Hana menghela napas panjang, berusaha menahan emosi yang mulai membuncah. Ia tidak mengerti mengapa El bisa begitu akrab dengan orang asing ini, padahal pria ini yang telah menyebabkan dirinya celaka
"Ayo Om, masuk ke dalam!" ajak El. Meskipun jalannya sedikit tertatih, ia tetap mendekat ke arah Tama dan menarik ujung baju pria itu.
Tama merasakan hangat menjalar di hatinya. Ia merasa sangat bersyukur karena El menyambutnya dengan tangan terbuka, sangat kontras dengan tatapan dingin dan penuh selidik yang dilemparkan Hana.
"El... tidak baik memasukkan orang yang tidak kita kenal ke rumah kita!" tegur Hana lagi, suaranya naik satu oktaf.
El menghentikan langkahnya, menatap ibunya dengan polos namun penuh ketegasan. "Bun, tidak baik bersikap seperti itu kepada orang lain. Bukankah Bunda sering mengajarkan El untuk selalu bersikap baik dan sopan terhadap orang yang lebih tua?"
Deg!
Perkataan telak dari El membuat Hana langsung terdiam seribu bahasa. Lidahnya kelu untuk mendebat logika jujur putranya sendiri. Sementara itu, Rahma yang sedari tadi memperhatikan dari ambang pintu tidak bisa menahan diri. Ia tertawa cekikikan melihat El dengan sukses menasihati ibunya sendiri.
Akhirnya, dengan langkah canggung, Tama masuk ke dalam rumah dan duduk di kursi ruang tamu yang sederhana.
"Sebentar ya Om, aku ambil minum dulu!" seru El bersemangat.
"Tidak usah repot-repot, El. Om hanya sebentar datang ke sini," cegah Tama dengan senyum lembut.
Hana segera mengambil posisi duduk di samping putranya, menjaga jarak aman namun tetap memberikan tekanan melalui tatapannya. Tanpa basa-basi, ia langsung menuju inti persoalan.
"Ayo cepat katakan, apa maksudmu berkata seperti tadi? Apa hubunganmu dengan mendiang ibuku?"
Tama tertegun. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Ia menatap Hana dengan tatapan tidak percaya. "Jadi... kau adalah putri dari Bu Lestari? Maaf, barusan kamu bilang 'mendiang' ibumu, itu artinya...!"
"Ya, ibuku sudah meninggal setahun yang lalu," potong Hana ketus, matanya mulai berkaca-kaca namun ia tetap mengeraskan suaranya. "Dan sekarang, apa hubunganmu dengan mendiang ibuku? Aku rasa ibuku tidak memiliki saudara ataupun kerabat sepertimu."
Suasana seketika menjadi kaku. El yang duduk di antara mereka hanya bisa menghela napas pelan melihat sikap ibunya yang sangat jutek. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Hana, seolah berusaha menenangkan badai yang sedang berlangsung di dalam rumah itu.
Suasana di ruang tamu yang sempit itu mendadak mendingin. Tama menatap Hana dalam-dalam, mencari keberanian untuk melepaskan beban rahasia yang ia bawa jauh-jauh.
"Apakah kau mengenal Pak Sutoyo?" tanya Tama dengan suara rendah.
Hana terdiam sejenak. Dahinya berkerut, mencoba menggali memori lama di kepalanya. Nama itu terasa akrab, bergetar di ujung ingatannya, namun ia tidak bisa menariknya keluar.
"Tidak, aku sama sekali tidak tahu!" jawab Hana cepat, lebih karena ia merasa terdesak oleh tatapan Tama.
Mendengar jawaban itu, Tama menghela napas panjang, sebuah embusan napas yang sarat akan beban masa lalu. "Baiklah, akan aku ceritakan siapa itu Pak Sutoyo."
Sementara itu, Rahma yang sedang berada di ruang tengah ikut tertegun. Ia memasang telinga lebar-lebar sambil mencoba memutar otak. "Kok, rasanya aku pernah mendengar nama itu dari Ibuku, tapi kapan ya?" gumam Rahma pelan, hampir berupa bisikan.
Tama kemudian memperbaiki posisi duduknya, menatap Hana dengan tatapan penuh rasa bersalah sekaligus haru. "Pak Sutoyo... beliau adalah suami dari Ibu Lestari, ibumu, Hana."
Deg!
Dunia seolah berhenti berputar bagi Hana. Ia tertegun tak percaya. Selama ini, sang ibu memang tidak pernah menceritakan siapa ayah kandungnya. Ibunya hanya selalu memberi satu pesan yang membekas kuat di ingatannya." Jauhilah orang kaya, karena hidup bersama mereka hanya akan membuatmu tersiksa dan kebahagiaan yang mereka tawarkan hanyalah semu."
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Hana. Dadanya terasa sesak. "Jangan kau bilang... kalau Pak Sutoyo yang kau maksud itu adalah ayah kandungku!"
"Benar, Hana. Pak Sutoyo adalah ayah kandungmu. Beliau adalah ayahku juga... Kau adalah adikku, Hana!"
Hana spontan menutup mulutnya, tak sanggup menahan jeritan batin. El yang sejak tadi menyimak dengan wajah serius pun ikut terperangah.
"Jadi... El masih punya Kakek? Dan Om Tama adalah Pakde nya El?" tanya bocah itu dengan mata membulat.
Tama mengangguk mantap, sebuah senyum tulus mengembang di wajahnya. "Iya El, kamu masih memiliki seorang kakek yang sangat merindukan kalian berdua."
"Ini tidak mungkin! Pasti kau telah berbohong kan?!" Hana berseru, mencoba menyangkal kenyataan yang terlalu tiba-tiba ini.
"Tidak Hana, aku berbicara yang sebenarnya. Papah sudah lama sekali mencari keberadaan mu. Nanti Papah sendiri yang akan menjelaskan semuanya padamu!" tegas Tama.
Mendengar percakapan yang semakin serius dan mengejutkan itu, Rahma tidak tahan lagi. Ia segera bergegas lari keluar menuju rumahnya untuk memanggil ibunya. Ia yakin ibunya tahu sesuatu tentang masa lalu keluarga Hana.
Hana terkulai lemas di kursinya. Persendiannya seolah melolos, tak sanggup menopang berat kenyataan yang baru saja ia terima. Melihat adiknya terguncang, Tama memberanikan diri mendekat dan duduk di samping Hana, mencoba memberikan ketenangan.
"Hana, ini sudah menjadi suratan takdir. Aku berhutang budi banyak pada Papah, dan inilah caraku membalas semua kebaikannya. Bisa menemukanmu di sini adalah keberuntungan besar bagiku," ucap Tama lembut.
Hana menoleh, menatap wajah Tama dengan sisa-sisa kemarahan dan kesedihan yang campur aduk. "Tapi kenapa ibuku pergi meninggalkan Ayah? Kau tahu betapa ibuku menderita membesarkan aku seorang diri? Kalau tidak ada mendiang kakekku, mungkin hidupku dan Ibu sudah terlantar di jalanan!"
Tama memberanikan diri menggenggam tangan Hana yang gemetar hebat. Ia tidak ingin menyembunyikan apapun lagi.
"Nanti biarkan Papah yang menjelaskan semuanya padamu secara langsung. Aku sudah menghubungi Papah Sutoyo... Beliau sedang dalam perjalanan menuju ke sini, ke rumahmu!"
"Apa?!" Hana tersentak, wajahnya pucat pasi. Ia belum siap menghadapi sosok yang selama ini hilang dari hidupnya, apalagi saat luka lama itu baru saja dikoyak kembali.
Bersambung...