Xavier Rey Lergan hidup dalam sangkar steril akibat dirinya yang mengidap Myshopobia, hingga orang tuanya nekat menjodohkannya dengan Nara, seorang single mom. Pernikahan ini menjadi medan tempur antara si perfeksionis dan wanita tangguh yang tak mau diatur.
"Nara, sudah kubilang jangan diletakkan di sini!" bentak Xavier saat melihat barang berserakan.
"Diam Tuan Bakteri! Ini kamarku, keluar! Kamu kan belok!" balas Nara sengit.
"Aku hanya anti bakteri, bukan anti wanita!" seru Xavier tak terima.
Di tengah pertikaian, hadir Raya seorang putri kecil Nara yang polos. "Papa Laya balu cekalang! Halusnya dali dulu mama cali Papa balu, kenapa balu cekalang? Papa lama, buang aja ke celokan!" ucapnya menggemaskan.
Akankah kesterilan Xavier runtuh oleh kehangatan keluarga kecil ini, ataukah perbedaan prinsip tentang kebersihan akan memisahkan mereka selamanya?
"Bagaimana bisa aku menikahimu, sementara aku tak suka bekas orang lain?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mysophobia
Angkasa duduk mematung di sisi tempat tidur, menatap sendu ke arah Jingga yang baru saja terlelap setelah dipaksa meminum obat demam. Wajah Jingga tampak pucat, namun napasnya sudah mulai teratur. Angkasa menghela napas panjang, ia selalu merasa kewalahan setiap kali Jingga jatuh sakit. Entah trauma apa yang menghinggapinya, wanita itu paling anti dengan segala hal yang berbau rumah sakit. Baginya, rumah sakit adalah tempat yang menyesakkan, dan minum obat pun harus melalui proses bujukan seharian penuh layaknya membujuk balita. Angkasa seringkali bingung, mengapa di balik ketegaran istrinya, tersimpan penolakan yang begitu besar terhadap bantuan medis.
Setelah memastikan Jingga tertidur lelap, Angkasa melangkah keluar kamar dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Namun, saat baru saja menutup pintu, ia hampir bertabrakan dengan Liora yang tampak baru saja masuk ke dalam rumah dengan langkah terburu-buru.
"Liora? Habis dari mana kamu? Jam segini kok baru pulang?" tanya Angkasa dengan nada menyelidik, matanya menatap tajam ke arah putrinya.
Liora seketika membeku. Ia tampak gugup, matanya bergerak liar mencari jawaban untuk menghindari kecurigaan sang ayah. "Ah, itu ... aku tadi ... aaah! Kak Nara! Tadi Kak Nara pulang bersama calon suaminya, Yah! Ternyata calon Kakak iparku tampan sekali ya? Badannya tegap, gagah, pokoknya gapura kabupaten banget! Tidak seperti si mantan cap keong itu, sudah jahat, cuuungkring lagi!" seru Liora dengan suara yang sengaja dikeraskan, berusaha mengalihkan perhatian Angkasa dari urusan jam pulangnya.
"Iya kah? Kamu melihat mereka?" tanya Angkasa, sedikit teralih oleh topik calon menantu barunya.
"Iya, serius! Kalau Ayah tidak percaya, tanya saja langsung sama Kak Nara di kamarnya," balas Liora dengan senyum mengembang, merasa lega karena taktiknya berhasil.
Angkasa yang dirundung rasa penasaran akhirnya melangkah menuju kamar Nara, meninggalkan Liora yang langsung mengembuskan napas lega. "Untung saja selamat. Aku tidak tahu bagaimana reaksi Ayah kalau sampai tahu aku sedang dekat dengan berondong. Habis aku digantung di pohon mangga," gumam Liora pelan sambil mengelus d4danya.
Angkasa mendorong pintu kamar Nara yang sedikit terbuka. Di dalam, ia melihat Nara sedang merebahkan tubuhnya di atas ranjang tanpa mengganti pakaian terlebih dahulu. Itu memang kebiasaan bvruk putrinya jika sudah kelelahan, terlalu malas untuk sekadar mengganti baju. Berbeda jauh dengan Raya, cucunya yang menggemaskan itu justru sudah mandiri melepaskan seragam sekolahnya dan sedang sibuk memilih pakaian bermainnya sendiri di depan lemari kecil.
"Kamu ini, Nara ... kebiasaan. Malah kalah rajin sama anakmu sendiri," tegur Angkasa sambil duduk di tepi ranjang.
"Nanti sajalah, Yah. Aku benar-benar capek. Pegal semua badanku, rasanya tenagaku habis terkuras menghadapi Tuan Steril itu," lirih Nara tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.
Raya yang mendengar suara kakeknya langsung menoleh. "Oma macak nda Opaaa? Laya mau makan, lapaaaal! Bikin Laya emoci tadi olaaaang! Kecal kali dili iniii!" seru anak itu dengan mata membulat sempurna, mengadu tentang rasa lapar dan kekesalannya yang memuncak.
Angkasa terkekeh melihat ekspresi cucunya. "Oh ya? Memangnya siapa yang bikin Raya emosi, hm?" tanya Angkasa lembut. Ia menarik Raya ke pangkuannya, membantu anak itu memakai kaos oblongnya dengan sabar.
Raya mendongak, menatap Angkasa dengan tatapan serius seolah sedang membicarakan masalah kenegaraan. "Macaa di bilang Laya bau matahali! Laya nda mau punya Papa Om Bakteli itu, Opa. Ganti aja, letul cekalang! Nda cecuai pecanan itu olaaaang, maca nda bica di letul!" seru Raya dengan tangan yang bergerak-gerak heboh, menuntut agar calon ayahnya segera dikembalikan seperti paket belanjaan yang salah.
"Kenapa begitu? Bukannya Om Xavier baik sudah menjemput dan mengantar Raya pulang? Kenapa dibilang tidak baik?" tanya Angkasa bingung.
Raya semakin membulatkan matanya, emosinya seolah sudah berada di ubun-ubun. Namun, saat ia hendak membalas ucapan kakeknya, hidung kecilnya tiba-tiba mengendus aroma gurih yang sangat familiar. Fokusnya langsung terpecah. Ia melompat dari pangkuan Angkasa, berlari keluar kamar saat melihat Biru melintas di lorong membawa kantong plastik bening berisi gorengan.
"CILEEEEENG, CILEEEENG! BAGI LAYA CEDIKIIIT BLOOOO!" teriak Raya heboh, mengejar Biru yang sengaja berlari menjauhinya.
Angkasa hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah cucunya yang sangat aktif itu. Namun, tawa kecilnya mereda saat ia melihat Nara yang kini duduk tegak dengan raut wajah yang tampak sangat terganggu.
"Ada apa sebenarnya? Kenapa kamu dan Raya tampak sangat kesal?" tanya Angkasa serius.
Nara menghela napas panjang, mencoba menata emosinya. "Ayah ... Xavier itu sangat aneh. Benar-benar aneh yang membuatku tidak habis pikir."
"Aneh bagaimana?"
Nara menegakkan punggungnya, menatap sang ayah dengan intens. "Bayangkan, Yah. Tadi sebelum masuk mobil, dia memaksaku memakai hand sanitizer sampai tanganku basah. Bukan cuma itu, dia menyemprotkan cairan disinfektan ke seluruh tubuhku dan tubuh Raya seolah-olah kami ini adalah sumber wabah kuman! Dia bahkan mengomeliku, katanya aku tidak kasihan pada Raya karena membiarkan kuman bersarang di tubuhnya. Dia memperlakukan kami seperti kuman berjalan, Yah! Pria itu sangat aneh!" seru Nara dengan mata membulat sempurna, meluapkan segala kekesalannya.
Mendengar itu, Angkasa terdiam sejenak. Ia tidak tampak terkejut, justru ekspresinya berubah menjadi lebih serius dan sedikit penuh penyesalan. Ia berdehem pelan, lalu menatap putrinya dengan tatapan dalam.
"Nara ... ada hal penting yang Ayah memang belum sempat beritahukan padamu tentang Xavier," ucap Angkasa pelan.
"Apa itu? Jangan bilang dia punya kepribadian ganda," tanya Nara dengan dahi berkerut penasaran.
Angkasa menarik napas dalam-dalam. Ia meraih kedua tangan putrinya, menggenggamnya dengan kuat seolah ingin memberikan kekuatan. "Tidak ada manusia yang sempurna di muka bumi ini, Nara. Begitu juga dengan Xavier. Dia memang mapan, dia sangat setia, dia anti bermain wanita, dia penurut pada orang tuanya, dan dia pria yang baik. Dengan menikah dengannya, kamu mendapatkan jaminan masa depan dan mertua yang sangat menyayangimu."
Angkasa menjeda kalimatnya, menatap Nara lekat-lekat. "Tapi, setiap orang punya kekurangan masing-masing. Kekurangan Xavier hanya satu, dan itulah yang menyebabkan perilakunya tadi. Dia ... mengidap Mysophobia."
Nara tertegun. Matanya mengerjap beberapa kali, mencoba mencerna istilah medis yang baru saja didengarnya. "Apa? Mysophobia?!"
"Iya. Ketakutan yang berlebihan dan patologis terhadap kuman, kotoran, dan kontaminasi. Baginya, dunia luar adalah medan perang penuh bakteri yang mengancam nyawanya. Itulah alasan di balik botol-botol disinfektan yang dia bawa," jelas Angkasa.
Nara terdiam membisu. Ia membayangkan bagaimana hidupnya nanti jika harus bersanding dengan pria yang akan menganggap setiap sentuhannya sebagai ancaman kuman. "Jadi ... aku akan menikah dengan pria yang takut menyentuhku?" gumam Nara tak percaya.
______________
Yakin kamu akan bertahan hanya 3 bulan Vier??
mksh kak ditunggu lagi up nya, udah nungguin dr tadi😍