Berisi kumpulan cerita KookV dari berbagai semesta. Romantis, komedi, gelap, hangat, sampai kisah yang tak pernah berjalan sesuai rencana.
Karena di antara Kook dan V,
selalu ada cerita yang layak diceritakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Axeira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 ANAK DARI MASA DEPAN
Pagi datang tanpa benar-benar membawa terang.
Taehyung berdiri di balkon kamarnya, menatap langit yang pucat.
Semalaman ia tidak tidur.
Bukan karena marah—
tapi karena takut.
Takut kehilangan Jungkook.
Takut kehilangan Keonho.
Takut kehilangan kemungkinan hidup yang belum sempat ia pilih.
Ponselnya bergetar.
Jungkook:
“Gue di depan. Turun.”
Taehyung tidak menjawab.
Ia langsung mengambil jaket dan keluar.
Jungkook berdiri di bawah, rambutnya berantakan, mata lelah, tapi langkahnya tegap.
Seperti orang yang sudah mengambil keputusan—dan siap menanggung akibatnya.
“Kalau lo mau pergi lagi,” Jungkook berkata pelan,
“lakuin sekarang.”
Taehyung menggeleng.
“Gue capek lari.”
Hening.
“Gue mau kejelasan”
Jungkook menelan napas.
“Gue juga.”
Taehyung mendekat satu langkah.
“Gue pilih lo.”
Jungkook menatapnya—lama.
Lalu tersenyum kecil, getir tapi tulus.
“Berarti resikonya gede,” katanya.
“Gue posesif. Gue keras kepala. Hidup gue gak rapi.”
Taehyung mengangguk.
“Gue juga gak mudah.”
Jungkook mengulurkan tangan.
“Pacaran.”
Satu kata.
Sederhana.
Resmi.
Taehyung menggenggam tangan itu.
“Iya.”
Dan untuk pertama kalinya—
dunia terasa berisik tapi benar.
Malam itu, cahaya muncul lagi.
Lebih redup dari sebelumnya.
Keonho berdiri di ruang tengah, hampir transparan.
“Kalian akhirnya bilang ya,” katanya sambil tersenyum kecil.
Taehyung berlutut di depannya.
“Kami udah bareng.”
Jungkook ikut berlutut.
“Dan kami gak mau kehilangan kamu.”
Keonho menatap tangan mereka yang saling menggenggam.
“Itu yang bikin aku ada,” katanya.
“Bukan karena kalian sempurna. Tapi karena kalian memilih.”
Cahaya di tubuh Keonho bergetar—
lalu stabil.
Sedikit.
“Belum aman,” katanya jujur.
“Tapi cukup buat aku bertahan.”
Taehyung menahan tangis.
“Apa yang harus kami lakukan?”
Keonho tersenyum—lebih dewasa dari seharusnya.
“Hidup. Bareng. Jangan lari.”
Cahaya itu perlahan naik, menyatu dengan langit-langit, lalu menghilang.
___
Beberapa minggu kemudian—
Taehyung dan Jungkook duduk berdampingan di kafe.
Tidak berpelukan.
Tidak pamer.
Tapi tangan mereka saling menyentuh di bawah meja.
“Gue masih takut,” Jungkook mengaku.
Taehyung tersenyum kecil.
“Gue juga.”
“Kalau suatu hari kita ribut besar?”
“Gapapa, kita berantem,” jawab Taehyung.
“Tapi kita harus pulang ke tempat yang sama.”
Jungkook tertawa pelan.
____
Beberapa bulan kemudian..
Mereka gak pernah bahas nikah secara dramatis.
Sampai suatu malam, Taehyung pulang kerja dan melihat Jungkook duduk di lantai ruang tengah, surrounded by berkas, laptop, dan…
brosur KUA.
“…Lo kenapa?” Taehyung berdiri kaku.
Jungkook mendongak.
“Capek.”
“Kerja?”
“Hidup.”
Taehyung duduk di sebelahnya.
“Terus?”
Jungkook menghela napas panjang.
“Gue gak mau lagi manggil lo ‘pasangan gue’ doang.”
Taehyung diam.
“Gue gak janji jadi suami yang lembut,” lanjut Jungkook jujur.
“Gue bisa nyebelin. Gue keras. Gue ribet.”
Taehyung menoleh.
“Gue juga.”
Jungkook mengeluarkan cincin kecil.
Bukan kotak mewah.
Cuma cincin polos.
“Kalau kita nikah,” katanya pelan,
“itu bukan karena semuanya beres. Tapi karena kita mau beresin bareng.”
Taehyung menelan napas.
Matanya panas, tapi dia senyum.
“Lo tau gak,” katanya,
“gue dulu benci kata ‘selamanya’.”
“Sekarang?”
“Sekarang gue gak butuh selamanya,” jawab Taehyung sambil meraih tangan Jungkook.
“Gue butuh lo. Hari ini. Besok. Ulang.”
Jungkook tertawa kecil, gemetar.
“Berarti… iya?”
Taehyung mengangguk.
“Iya.”
.
.
Pernikahan mereka sederhana.
Tidak semua orang hadir.
Tidak semua setuju.
Tapi saat Jungkook menggenggam tangan Taehyung di altar kecil itu—
dia berbisik:
“Gue masih takut.”
Taehyung membalas pelan:
“Gue juga.”
Dan mereka tersenyum.
Karena cinta mereka bukan tentang yakin.
Tapi tentang tetap tinggal.