Rania Felisya, seorang istri yang selama ini mempercayai pernikahannya sebagai rumah paling aman, dikejutkan oleh kenyataan pahit ketika tidak sengaja mengetahui perselingkuhan suaminya dengan sahabatnya sendiri.
Pengkhianatan ganda itu menghancurkan keyakinannya tentang cinta, persahabatan, dan kesetiaan.
Di tengah luka dan amarah, Rania memutuskan untuk segera berpisah dengan suaminya—Rangga. Namun, Rangga tidak menginginkan perpisahan itu dan malah menjadikan anak mereka sebagai alat sandera.
"Kau benar-benar iblis, Rangga!" ucap Rania.
"Aku bisa menjadi iblis hanya untukmu, Rania," balas Rangga.
Akankah Rania berhasil melepaskan diri dari Rangga dan membalas semuanya, atau malah semakin terpuruk dan hancur tak bersisa?
Yuk ikuti kisah mereka selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Terimalah Semuanya.
"Pemilik mobil itu adalah Damian Alexander, dia asisten pribadi Kenzo Malendra, putra kedua Arsenio Malendra.
"Apa?" Rangga memekik kaget. "Asisten pribadi Kenzo Malendra?" ulangnya dengan tidak percaya saat mendengar ucapan Julian.
"Benar, aku rasa saat ini Rania sedang bersama dengan mereka."
Deg.
Tubuh Rangga menegang, rahangnya mengeras dengan napas tersengal, kedua tangannya mengepal penuh kemarahan.
"Cari mereka sekarang juga!" perintahnya dengan suara tertahan.
"Maaf, Rangga. Aku tidak bisa," tolak Julian.
Rangga tersentak. "Apa maksudmu?!" suaranya meninggi membuat Beni dan Vidi mengerutkan kening.
"Aku tidak ingin berurusan dengan mereka, aku akan mencoba untuk menjangkau jaringan koneksi mereka dan meminta maaf atas apa yang telah-"
"Tutup mulutmu!" bentak Rangga membuat Julian terlonjak kaget dan seketika menghentikan ucapannya. "Beraninya kau melawan perintahku!" bentaknya kembali dengan geram.
"Sadarlah, Rangga. Kita berdua akan benar-benar hancur kalau berurusan dengan mereka. Lebih baik kita segera minta maaf sebelum-"
"Diam!" teriak Rangga kembali, suaranya menggema memenuhi seisi rumah sampai membuat Beni dan Vidi terlonjak kaget. "Kalau kau tidak mau menuruti perintahku, maka kau dulu yang akan aku hancurkan!" ancamnya dengan tidak main-main.
Julian berdecak, dia mengusap wajahnya dengan frustasi—merasa serba salah dan tak tahu harus melakukan apa. Maju hancur, mundur juga hancur.
"Dengar baik-baik ucapanku, Julian. Kau hanya perlu mencari Rania, setelahnya biar aku yang mengurus," sambung Rangga dengan penuh penekanan.
Julian diam sejenak, mencoba untuk memikirkan semuanya, sampai akhirnya dia terpaksa mengiyakan keinginan Rangga. "Tapi sekali lagi kuingatkan, Rangga. Mereka benar-benar orang yang berbahaya, kau tidak boleh salah langkah." katanya cemas, memikirkan nasib temannya dan nasibnya sendiri.
Rangga mendessah. "Kau kerjakan saja tugasmu, tidak perlu mengkhawatirkan apapun." Dia lalu segera mematikan panggilan itu disertai umpatan penuh kekesalan.
"Aku akan menemui pengacara, aku juga akan mengajukan gugatan hukum pada Rania karena telah kabur bersama dengan pria lain. Dia mengabaikan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu, juga mengkhianati suaminya sendiri," ucap Rangga pada sang ayah.
Beni menghela napas berat, merasa benar-benar frustasi mendengar ucapan Rangga. "Tapi kau dulu yang telah mengkhianati dia, Rangga." ucapnya mengingatkan, kalimatnya menggantung. "Dan kau jangan main-main dengan keluarga Malendra."
"Ah, persetan dengan keluarga itu. Memangnya kenapa dengan mereka, hah?" teriak Rangga dengan tatapan berkilat marah. "Kenzo Malendra? Cih, aku bahkan tidak pernah mendengar nama atau apapun tentang laki-laki itu selama ini. Kalau pun dia memang putra Arsenio, memangnya dia tidak akan marah saat mengetahui jika putranya membawa lari istri orang lain?" sambungnya dengan penuh penekanan.
Beni terdiam, mencoba untuk memikirkan apa yang putranya katakan. "Tapi kita tetap tidak bisa melawannya, Rangga." Dia mendessah cemas.
"Aku yang akan melawan mereka, tapi aku butuh bantuan papa untuk menghubungi Arsenio. Aku dengar dia adalah pembisnis luar biasa yang tidak pernah memaafkan siapapun yang mencoba untuk menghancurkan usaha dan nama baiknya, termasuk keluarganya sendiri. Aku yakin dia akan mendengarkan papa, setelah itu dia akan mengurus putranya sendiri." Rangga berucap dengan panjang lebar.
Beni kembali diam, lalu mengangguk dan mencoba untuk mempercayai ucapan Rangga. Dia kemudian meminta bantuan Vidi untuk bisa menghubungi Arsenio, memberitahukan apa yang putra laki-laki itu telah lakukan.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Rania sudah selesai mengobati dan membalut luka dipinggang Kenzo. Laki-laki itu juga sudah kembali memakai pakaian, lalu duduk dengan nyaman di hadapan Rania.
"Kapan kira-kira aku bisa bertemu dengan Dafa?" tanya Rania dengan pelan, kedua matanya terasa panas karena ingin menangis.
"Andre akan memberitahumu," jawab Kenzo.
Rania mendessah kecewa. Dia benar-benar sangat merindukan Dafa, lalu entah kenapa perasaannya menjadi sangat tidak tenang dan juga cemas.
"Tapi, Kenzo. Apa, apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?" Rania menatap Kenzo dengan ragu, kedua tangannya tampak saling bertautan dengan dada berdebar kuat.
Kenzo mengangguk, mempersilahkan Rania untuk menanyakan apapun padanya. Dia menyandarkan tubuh dengan nyaman, matanya terus memperhatikan wanita itu yang tampak gelisah.
"Sebenarnya kenapa kau membantuku, Kenzo?" tanya Rania. "Aku benar-benar merasa sangat berterima kasih padamu, tapi aku juga penasaran dan tidak mengerti kenapa kau sampai melakukan hal seperti ini untukku. Padahal aku hanyalah orang asing yang baru saja kau kenal, tidak lebih dari itu." sambungnya lirih.
Kenzo terdiam, matanya terus menatap Rania lekat-lekat dan di balas dengan tatapan tajam juga oleh wanita itu.
"Apa harus ada alasan untuk membantu seseorang?" tanya Kenzo, suaranya terdengar sangat dingin.
Rania menggelengkan kepala. "Tidak, tentu saja kita tidak perlu alasan khusus untuk membantu seseorang. Tapi... " Dia menggantung ucapannya, merasa ragu untuk melontarkan kata-kata yang sudah berada di ujung lidah.
"Tapi apa?" tanya Kenzo kembali dengan tidak sabar.
Rania menatap Kenzo, tatapan serius yang belum pernah dia lakukan sebelumnya. "Apa... apa kau menyukaiku?" tanyanya pelan, hampir berbisik. Dia merasa jika Kenzo menaruh perasaan padanya, itu sebabnya dia harus bertanya secara langsung, walau bisa saja laki-laki itu memang tulus membantunya tanpa perasaan apapun.
Kenzo terdiam, tapi sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah seringai. "Menurutmu?" tanyanya sembari menegakkan punggung, lalu mencondongkan tubuhnya dengan tangan berpangku pada meja.
"A-aku tidak bermaksud apa-apa," jawab Rania dengan panik. "Aku hanya tidak mengerti kenapa kau mau membantuku, aku hanya seorang yatim piatu yang tidak punya apa-apa, aku juga-"
"Kau benar," potong Kenzo membuat ucapan Rania terhenti.
Rania terdiam, dia menatap Kenzo sambil mengernyitkan kening. "Apa... apa maksudnya?" tanyanya ragu.
Kenzo tersenyum, senyum yang baru pertama kali Rania lihat hingga membuatnya terpana dan tidak bisa mengedipkan kedua mata.
"Aku memang menyukaimu."
Deg.
Tubuh Rania seketika menegang, jantungnya seolah berhenti berdetak karena terkejut dan tidak menyangka akan mendengar jawaban seperti itu dari Kenzo.
"Ka-kau, kau bilang apa?" tanyanya dengan suara bergetar.
Kenzo kembali memundurkan tubuhnya lalu duduk dengan santai. "Aku menyukaimu." ulangnya tanpa beban.
Rania terdiam, dia menelan salivenya dengan kasar, merasa tidak percaya jika Kenzo benar-benar menyukainya.
"Tapi kenapa?" tanya Rania kembali. "Kenapa kau menyukaiku?" Kedua matanya berkaca-kaca, dia jadi ingin menangis.
"Kau tidak perlu memikirkannya, kau juga tidak perlu membalasnya. Kau hanya perlu menerima semua rasa sukaku dan perlakukanku padamu."
*
*
*
Bersambung.
dah nurut aja kenapa sama tuan muda