NovelToon NovelToon
Sistem Reward 2× Lipat

Sistem Reward 2× Lipat

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjadi Pengusaha / Sistem / Mengubah Takdir / Mafia / Romansa
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Loorney

Gerard adalah seorang pria yang hidupnya jatuh hingga ke titik terendah. Saat ia nyaris mati kelaparan dan menjadi korban serangan tak dikenal, sebuah Sistem misterius tiba-tiba muncul, menyelamatkan nyawanya dan memulihkan tubuhnya sepenuhnya.

Dibawa ke dalam hutan yang asing, Gerard kini diberi tantangan oleh Sistem: bertahan hidup semalam untuk mendapatkan hadiah luar biasa—uang seratus juta dan sebuah rumah. Namun, di balik janji masa depan cerah itu, ancaman dari masa lalu dan identitas penyerangnya yang gelap masih mengintai, membuat setiap detik menjadi pertaruhan nyata.

Siapakah itu? Dan seberapa rumit masa lalunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Loorney, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 - Sisi Baru

Kenaikan level Sistem memang patut dirayakan, tapi kini fokus Gerard langsung teralihkan pada hal yang lebih nyata—dan lebih menggoda.

Aroma segar menyeruak, menyengat hidungnya. Hangat, kaya, dan begitu familiar. Ini adalah aroma yang sudah lama tidak ia cium, aroma yang membangkitkan selera.

Langkah kaki terdengar mendekat. Mawar muncul dari balik pintu dapur, membawa semangkuk besar dengan kedua tangannya. Asap tipis masih mengepul dari permukaannya. Tapi Gerard tak sempat melihat mangkuk itu lebih dulu—matanya justru tertambat pada senyuman di wajah Mawar. Senyum tipis yang menyimpan kebahagiaan sekaligus harapan.

Sosoknya semakin dekat. Saat mangkuk itu diletakkan perlahan di hadapannya, mata Gerard membulat.

Ramen.

Kuah merah mengilap, topping telur dengan kuning yang masih mengkilap sempurna, beberapa narutomaki di pinggiran, dan suwiran ayam yang tersusun rapi. Semua berpadu indah, menghasilkan aroma yang membuat air liur hampir menetes.

Gerard menoleh, menatap Mawar yang kini duduk di sampingnya dengan dagu bertopang di atas meja.

"Seriusan... buat aku?" tanyanya, suara hampir tak percaya.

Mawar mengangguk kecil. "Tentu, Kak!" semangatnya merekah. "Aku pakai bahan seadanya aja. Bawang sama jahe ditumis pakai minyak wijen, terus ditambahin miso merah dan kaldu ayam. Jadi aman, nggak pedes kok!"

Ketulusan itu terpancar tanpa perlu disembunyikan lagi—sangat berbeda dari sikap Mawar yang biasanya penuh semangat berapi-api. Namun dari sana, sesuatu yang aneh berdesir di dada Gerard. Ia tersenyum tipis, lalu tatapannya kembali jatuh pada mangkuk yang menanti untuk disantap.

Dia masih ingat?

Ramen. Makanan kesukaannya. Bukan cuma karena rasanya, tapi karena kehangatan yang selalu menyertainya. Saat makan bersama Mawar dulu, ia sempat bercerita—ramen pedas, kuah merah, hangat di badan. Mungkin itu sebabnya Mawar membuatkannya sekarang.

Gerard kembali menatap Mawar. Lama. Berbeda. "Makasih, ya." ucapnya lembut, tulus.

Mawar membeku sesaat, lalu mengangguk dengan perasaan yang lebih ringan. Dadanya menghangat.

"Sama-sama, Kak. Semoga suka, ya!"

Kali ini, Mawar tak terlalu khawatir soal rasa. Ucapan terima kasih Gerard tadi seolah menenangkan semua kecemasan yang sempat mengendap. Apalagi saat Gerard mulai menyiapkan sumpit, matanya langsung fokus—setiap gerakan, setiap perubahan ekspresi di wajah Gerard, tak luput dari perhatiannya. Ini adalah momen paling penting.

Sumpit itu mengangkat mi. Suapan pertama masuk.

Ekspresi Gerard yang tadinya bersemangat tiba-tiba membeku. Mawar hampir panik—tapi kemudian, senyuman hangat mengembang, melebar, dan membuat seluruh wajahnya bersinar.

"Enak!" puji Gerard singkat, hanya menoleh sebentar pada Mawar. "Rasanya jauh lebih nikmat dari yang pernah aku coba. Makasih!" tambahnya, lalu kembali menyantap dengan gerakan lebih luwes, lebih menikmati.

Mawar kehilangan napas sejenak. Tapi reaksi itu... membuat hatinya melompat. Ia menghela napas panjang, mengusap dadanya pelan, berusaha menyembunyikan senyuman yang tak bisa ia tahan—bersamaan dengan semburat merah di pipinya.

"Ingat, buatlah dengan tulus dan penuh cinta. Makanan apa pun akan terasa spesial, terutama untuk orang yang kamu cintai."

Kata-kata ibunya di dapur tiba-tiba melintas. Saat itu Mawar hanya menepis malu-malu, sementara Linda mengangkat bahu santai. Tapi sekarang, ia baru benar-benar memahami.

Memasak dengan perasaan seperti ini... memang memberikan dampak yang tak terduga. Lebih dari sekadar rasa. Apalagi jika yang menerima adalah orang yang spesial—seperti Gerard. Orang yang tiba-tiba saja betah bersemayam di hatinya.

Kakak kelihatan senang... Syukurlah.

Di sana, Gerard menikmati setiap suapan. Sesekali ia menyeruput kuah dengan semangat yang tak pernah pudar, matanya menyipit bahagia, bibirnya mengembang tipis. Tak ada pujian berlebihan. Tak ada analisis rasa. Hanya keheningan yang diisi oleh suara kecil sendok dan sumpit, serta hangatnya uap yang masih mengepul.

Ini adalah momen yang membuat dua insan itu larut dalam pikirannya masing-masing—dengan perasaan yang berbeda, tapi sama: nyaman.

...*•*•*...

Setelah menyantap ramen buatan Mawar dengan penuh perhatian—hingga kuahnya tandas tanpa sisa—Gerard juga sempat berbincang dengan Linda. Topiknya ringan, tapi hangat: tentang interior rumah yang hendak ia beli, tentang rencana-rencana kecil yang ingin ia wujudkan. Semua tercatat rapi, dibicarakan dengan matang, dan berujung pada kesepakatan untuk bertemu lagi di hari kosong beberapa hari mendatang.

Lebih dari sekadar rencana belanja, Gerard merasakan sesuatu yang lebih dalam: bagaimana mereka—terutama Mawar—mulai menerimanya sepenuhnya. Sikap hangat itu terasa tulus, tanpa jarak. Padahal mereka baru bertemu beberapa hari, tapi kedekatan yang terjalin terasa seperti sudah lama.

Pulang ke rumah, Gerard duduk di kursi kayu yang masih sama. Matanya menatap layar Sistem yang melayang di hadapannya. Sudah lama ia berbincang dengan entitas itu—tentang fitur baru, tentang misi, tentang masa depan yang tiba-tiba terbuka lebar.

Sekarang, setelah level naik, beberapa hal berubah:

· Komunikasi dengan Sistem menjadi lebih cair, seperti bicara dengan teman.

· Toko diperluas, menawarkan lebih banyak hal.

· Dan yang paling penting: Gerard bisa menolak misi.

Misi akan lebih sering muncul, bahkan bisa menumpuk. Semua memiliki durasi. Ia tak bisa lagi menunda-nunda. Harus lebih selektif.

Namun satu hal yang paling mengganggu pikirannya saat ini: uang.

Tiga milyar lebih. Angka yang tak pernah ia bayangkan saat masih menjadi gelandangan. Terlalu banyak untuk dibiarkan diam.

Uang segini bisa aku pakai buat bangun bisnis kecil-kecilan, renungnya. Sebagian lagi... buat amal.

Ia tersenyum kecil. Bukan karena ingin terlihat baik, tapi karena ia benar-benar ingin keberuntungan yang ia dapat—juga dirasakan orang lain. Sistem masih bisa memberinya lebih di masa depan. Maka tak ada salahnya berbagi mulai sekarang.

Di luar, malam mulai turun. Tapi di dalam rumah sederhana itu, sebuah rencana besar mulai tumbuh. Ini adalah langkah pertama yang mantap untuk kehidupannya, dan Gerard sudah bertekad.

1
Loorney
Nulis buru-buru emang bikin kacau, update dulu baru revisi 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!