Felicia datang ke kantor itu hanya untuk bekerja.
Bukan untuk jatuh cinta pada manajer yang usianya lima belas tahun lebih tua—dan seharusnya terlalu jauh untuk didekati.
James Han tahu batas. Jabatan, usia, etika—semuanya berdiri di antara mereka.
Tapi semakin ia menjaga jarak, semakin ia menyadari satu hal: ada perasaan yang tumbuh justru karena tidak pernah disentuh.
Ketika sistem memisahkan mereka, dan Felicia hampir memilih hidup yang lain, James Han memilih menunggu—tanpa janji, tanpa paksaan.
Karena ada cinta yang tidak datang untuk dimiliki, melainkan untuk dipilih di waktu yang benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seribu Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian Dua Puluh Satu
Suasana di dalam mobil SUV mewah Pak Han terasa jauh lebih hangat dibanding biasanya. Harum kopi dari cup holder bercampur dengan aroma parfum Pak Han yang maskulin.
Meski Felicia sudah mencoba menolak jemputan itu dengan seribu alasan, Pak Han tetaplah Pak Han. Dia paling tidak suka dengan penolakan.
Pak Han sesekali melirik Felicia dari sudut matanya, sebelum kembali menatap jalanan di depannya dengan saksama. Tangannya mencengkeram kemudi dengan gerakan yang sedikit lebih kaku dari biasanya, pertanda ada sesuatu yang sedang ia timbang di kepalanya.
"Jadi, kapan saya bisa bertemu orang tua kamu?" tanya Pak Han tiba-tiba. Suaranya terdengar tenang, namun ada nada urgensi di sana.
Felicia yang sedang merapikan tasnya langsung terdiam. Ia menoleh perlahan, mendapati rahang tegas Pak Han yang tampak sedikit tegang. "Ehm, kasih saya waktu buat bicara sama mereka pelan-pelan ya, Pak. Saya harus cari momen yang pas."
"Baiklah. Tapi menurutmu, apa mereka akan memberikan restu?" Pak Han menjeda sejenak, ibu jarinya mengetuk-ngetuk kemudi. "Maksud saya, kamu masih sangat muda, Fel. Sedangkan saya..."
"Kenapa? Bapak mau bilang karena Bapak sudah tua?" potong Felicia sambil menahan senyum.
Pak Han berdeham canggung, sedikit membetulkan posisi duduknya. "Saya cuman realistis. Perbedaan usia kita cukup jauh. Saya takut mereka berpikir saya hanya main-main."
Felicia tertawa kecil, ia menyandarkan punggungnya ke jok kulit yang empuk. "Bukan itu masalahnya, Pak. Sebenarnya, Ibu sama Bapak di rumah sudah beberapa kali nanya soal calon. Tapi, saya kan nggak pernah kepikiran kalau bakal bawa atasan saya sendiri ke rumah. Saya harus bicara duluan supaya mereka nggak kena serangan jantung mendadak pas lihat Bapak turun dari mobil."
"Kenapa mereka harus kaget?" tanya Pak Han heran.
"Ya karena Bapak itu Manajer, sedangkan saya karyawan biasa," Felicia menghela napas, menatap gedung-gedung yang mereka lewati. "Keluarga saya itu sederhana, Pak. Ekspektasi mereka soal calon menantu ya... paling nggak yang selevel sama saya saja. Yang dunianya nggak terlalu jauh beda."
Mendengar itu, Pak Han meminggirkan mobilnya sejenak saat lampu merah menyala. Ia memutar tubuhnya menghadap Felicia, menatap asistennya itu dengan dahi berkerut dalam.
"Kenapa mereka harus berpikir begitu? Kamu itu cantik, pintar, dan punya value yang sangat tinggi, Fel. Kenapa harus cari yang selevel kalau kamu bisa mendapatkan yang jauh lebih menghargai kamu?"
Felicia meringis pelan, ia memainkan ujung jarinya di atas pangkuan. "Karena kami terbiasa hidup apa adanya, Pak. Kami diajarkan untuk tidak berekspektasi yang muluk-muluk supaya nggak kecewa kalau jatuh."
Pak Han terdiam, tatapannya melembut. Ia meraih tangan Felicia, menggenggamnya singkat seolah ingin memberikan kepastian.
"Saya bukan sesuatu yang 'muluk-muluk', Fel. Saya cuma pria yang kebetulan punya jabatan, tapi sedang berusaha minta izin buat masuk ke kehidupan kamu."
Lampu berubah hijau. Pak Han kembali menjalankan mobilnya, namun pikirannya masih tertinggal pada obrolan tadi.
"Tapi, mereka kira-kira bakal suka saya tidak ya? Orang tua kamu biasanya suka tipe menantu yang seperti apa, Fel?" tanya Pak Han lagi, kali ini nada suaranya terdengar benar-benar khawatir—seperti seorang pelamar kerja yang sedang menghadapi interview yang akan menentukan masa depannya.
Felicia tertawa melihat sisi "manusiawi" bosnya ini. "Jujur, saya juga nggak tahu, Pak. Saya anak pertama, belum ada contoh menantu yang pernah datang ke rumah. Jadi Bapak bakal jadi proyek pertama yang mereka uji."
Pak Han mengangguk-angguk serius, seolah sedang menyusun strategi perang. "Proyek pertama ya? Baiklah. Kalau begitu, saya harus pastikan laporan performa saya sebagai calon menantu, lulus seratus persen."
...********...
Mobil hitam milik Pak Han perlahan memasuki area parkir kantor. Suasana di dalam mobil tadi sebenarnya sedang manis-manisnya, tapi begitu mesin mati, Felicia langsung mendadak waspada. Ia melirik ke luar jendela, memastikan tidak ada rekan kantor yang melihatnya turun dari mobil sang manajer.
Bukannya apa, Felicia hanya belum siap menjelaskan apapun pagi ini. Kalaupun nantinya ia akan menikah dengan Pak Han, biarlah itu jadi urusan nanti. Yang jelas, pagi ini ia ingin tenang karena pekerjaannya sudah menumpuk didalam.
Namun, keberuntungan sepertinya sedang tidak berpihak pada mereka pagi ini.
Baru saja Felicia membuka pintu mobil, sesosok pria yang sangat ia kenal sedang berdiri tak jauh dari sana, baru saja melepaskan helm dari motor sport-nya. Itu Rey.
Rey membeku di tempatnya saat melihat Felicia turun dari pintu penumpang depan mobil Pak Han. Matanya menyipit, lalu beralih menatap Pak Han yang juga baru saja turun dengan wajah datarnya yang khas.
"Lho, Fel?" Rey melangkah mendekat, wajahnya menunjukkan kebingungan sekaligus rasa penasaran yang besar. "Kok... bisa bareng Pak Han? Dari mana?"
Felicia tersentak, jantungnya serasa mau copot. "Eh, itu... tadi..."
Sebelum Felicia sempat merangkai alasan soal kebetulan ketemu di jalan, Pak Han sudah melangkah memutari mobil. Ia berdiri tepat di samping Felicia, bahkan sedikit lebih maju seolah sedang memasang pagar pelindung.
Tangannya dengan santai merapikan lengan kemejanya, tapi matanya menatap Rey dengan tatapan yang sangat tajam—tipe tatapan yang biasanya ia berikan pada vendor yang telat kirim barang.
"Dari kost Felicia," jawab Pak Han singkat, padat, dan sangat berani.
Rey terdiam, alisnya bertaut. "Dari rumah? Pagi-pagi begini, Pak?"
Pak Han mengangguk tanpa ragu. Ia melirik Felicia sekilas, lalu kembali menatap Rey. "Saya jemput Felicia. Ada masalah?"
"Nggak ada sih, Pak. Cuma... tumben saja asisten dijemput sampai ke rumah sama Manajernya," sindir Rey, mencoba tetap terlihat santai meski suaranya terdengar agak kaku.
Ia beralih menatap Felicia. "Fel, kamu nggak apa-apa kan? Tadinya aku mau sekalian jemput kamu, tapi HP kamu nggak aktif."
Felicia makin salah tingkah. "I..itu, Rey... HP aku mati tadi malam, terus Pak Han sudah nunggu di depan rumah, jadi..."
Pak Han tiba-tiba meletakkan tangannya di bahu Felicia—sebuah gerakan yang sangat tidak profesional untuk ukuran kantor, tapi sangat jelas pesannya untuk Rey.
"Dia nggak apa-apa, Rey. Malah jauh lebih aman karena saya yang antar," ucap Pak Han dengan nada bicara yang rendah namun penuh penekanan. "Mulai sekarang dan seterusnya, kamu tidak perlu repot-repot menjemput dia lagi."
Pak Han kemudian menunduk sedikit ke arah Felicia. "Ayo masuk, Fel. Jam sembilan kita ada rapat kan?"
Rey hanya bisa berdiri terpaku di parkiran, menatap punggung Pak Han yang menggiring Felicia masuk ke dalam lobi. Ia baru sadar, rivalnya kali ini bukan cuma sekadar rekan kerja, tapi pimpinannya sendiri yang sedang menggunakan otoritas untuk memenangkan hati sang asisten.
Pintu lift tertutup dengan denting halus, menyisakan keheningan yang terasa pekat di antara mereka. Pak Han berdiri tegak, matanya menatap angka lantai yang terus berganti di layar digital, namun rahangnya yang mengeras menunjukkan bahwa pikirannya masih tertinggal pada interaksi di parkiran tadi.
"Kamu sering dijemput-jemput sama dia?" tanya Pak Han tanpa menoleh, suaranya terdengar dingin dan penuh selidik.
Felicia menoleh, mengamati profil samping wajah bosnya yang tampak begitu kaku. "Enggak, Pak. Cuma sesekali aja kalau Rey kebetulan sarapan di tukang uduk deket kost saya."
"Mulai hari ini kamu jangan mau dijemput sama dia lagi," tegas Pak Han. Kali ini ia memutar tubuhnya, menatap Felicia sepenuhnya dengan tatapan yang tidak bisa dibantah.
"Lho, memangnya kenapa, Pak? Kita kan cuma searah," Felicia mengerutkan kening, merasa larangan itu sedikit berlebihan untuk hubungan yang bahkan belum resmi.
Pak Han mendengus sebal. Ia sedikit melonggarkan simpul dasinya, seolah oksigen di dalam lift yang sempit itu mendadak menipis karena rasa cemburu yang membakar.
"Kamu ini calon istri saya, Felicia. Kamu harus bisa menjaga pergaulan kamu dengan laki-laki lain. Saya tidak suka melihat pria lain punya akses semudah itu untuk menjemput dan mengantar kamu sesuka hati," ucap Pak Han dengan nada posesif yang sangat kentara.
"Dia cuma rekan kerja biasa, Pak. Kita sudah sering kerja bareng bahkan sebelum Bapak narik saya jadi asisten," bela Felicia pelan, mencoba membawa kembali logika Pak Han ke tempatnya.
Pak Han mendelik tajam. Ia melangkah satu tindak mendekati Felicia, membuat gadis itu refleks mundur hingga punggungnya menyentuh dinding lift. Pak Han meletakkan satu tangannya di dinding, mengunci pergerakan Felicia.
"Tapi dia tidak terlihat hanya ingin jadi rekan kerja, Fel," bisik Pak Han dengan suara rendah yang mengintimidasi. "Saya tahu cara laki-laki lain menatap orang yang disukainya. Dan Rey... dia menatap kamu seolah saya ini hanya penghalang yang tidak terlihat."
Pak Han menatap dalam ke mata Felicia, suaranya melunak namun tetap tegas. "Saya mungkin terlihat berlebihan, tapi saya tidak akan membiarkan siapa pun merasa punya celah untuk mengambil kamu dari saya. Jadi, tolong... hargai permintaan saya kali ini."
Tepat saat itu, pintu lift berdenting dan terbuka di lantai tiga. Pak Han kembali menegakkan tubuhnya, merapikan jasnya seolah tidak terjadi apa-apa, lalu berjalan keluar lebih dulu dengan langkah yang penuh wibawa.
Felicia terpaku di dalam lift selama beberapa detik, memegangi dadanya yang berdegup kencang. "Pak Han kalau lagi cemburu... ternyata seram tapi bikin baper juga," gumamnya pelan sebelum akhirnya berlari kecil menyusul sang bos.
Gimana-gimana, coba tinggalkan satu kata buat Pak Han ✨✨
Jangan lupa like dan bantu support supaya author makin semangat update!