Aaron Alexander Demian Dirgantara, seorang pria sukses yang memiliki perusahaan di Amerika yang bergerak di bidang infrastruktur dengan kekayaan yang tidak terhitung, memiliki paras tampan dengan tinggi badan ideal dan bentuk tubuh yang cukup bagus.
Ia merupakan seorang pria yang sangat di puja puja dan menjadi impian para wanita, namun ia hanya menganggap wanita sebagai tisu basah dan mainannya.
Setelah 10 tahun ia tak pulang ke negaranya, ia malah terpincut pada seorang wanita muda yang sering ia temui di sebuah club, wanita yang membuatnya penasaran dan ingin memiliki nya seutuhnya.
Namun takdir berkata lain, selain saingannya yang lumayan banyak ia tertampar dengan kenyataan jika wanita kecil incarannya adalah adik angkatnya sendiri yang sering ia temui di rumah dengan pakaian syar'i nya.
Bagaimanapun kelanjutannya, yuk ikuti kisahnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bundaAma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps-33
Tinggg...
Sebuah pesan masuk menampilkan foto sesosok pria yang tengah bergaya seolah tengah siap memakan makanan yang dikirimkan nya, dengan tangan kanan yang memegang sendok berisi tumpukan nasi goreng dan mulut yang terbuka lebar.
Hajeera tersenyum melihat foto konyol yang dikirimkan Demian padanya, pandangan nya terhadap Demian semakin hari semakin berubah dari yang dulunya memandang Demian dengan jijik karena sering Gonta ganti pasangan ranjang kini memandang nya lucu seolah Demian adalah pria humoris.
"Terimakasih atas sarapan nya,.."
Ucapnya pada foto yang dikirimkan nya.
Namun Hajeera tak membalas pesan Demian ia hanya sekedar melihat dan membacanya saja, lalu kembali mendengarkan penjelasan guru yang tengah berbicara di depan.
Sedangkan di kantor nya Demian tengah memakan nasi goreng pemberian Hadriana dengan lahap, ia bahkan tidak menawari Haris yang sedari tadi masih berada di dalam ruangannya, berdiri disamping dengan map coklat di tangannya menunggu dipersilahkan untuk bicara.
Hingga satu bekal penuh habis, Demian kelimpungan saat merasakan perutnya yang terasa kencang akibat terlalu banyak makan.
"Sial Haris! Perutku sakit..." ucapnya mengeluh di tambah dirinya sebentar lagi akan mengadakan rapat bersama beberapa para eksekutif perusahaan.
Ia mencoba menarik nafasnya perlahan lalu membuang nya agar perutnya tidak terlalu kewalahan.
Saat Demian tengah sibuk dengan perutnya yang kekenyangan, Simon tengah sibuk membolak balik berkas didepannya, pendapatan bulan ini tidak sama dengan bulan kemarin, bukan hanya tidak sama, pendapatan nya saat ini malah 2% lebih kecil dari hari kemarin.
"Mengapa hanya dapat segini? Jika hanya dapat segini, mana bagian untuk kitanya?" tanya pada sekretaris pribadinya yakni kim seorang pria keturunan Indonesia Korea.
"Maaf pak, setelah kejadian beberapa bulan lalu di klub malam, kita masih dipantau oleh beberapa polisi nakal yang tidak sejalan dengan kita..."
"Dan karena kejadian itu pula, kita kehilangan hampir 10% pelanggan tetap kita, jika di jumlah kan kita rugi sekitar 1 juta dolar bulan ini..." jawab kim
"Lalu, maksudmu, ini salahku! Karena aku yang menjadikan club malam sialan itu sebagai laboratorium percobaan?" tanyanya tak terima, tubuhnya tiba tiba saja beranjak dari tempatnya duduk membuat Kim mundur beberapa langkah kebelakang.
"Maaf tuan,..." ujar Kim meminta maaf dengan tunduk.
"Shittttt...." Simon mendesis mengacak rambut belakang nya dengan keras menampakkan dirinya yang kini tengah frustasi.
Bagaimana tidak frustasi, ibunya pewaris Caroline corp, mengancamnya, jika dirinya masih tidak bisa membuat kota elite yang sudah ia tunjukkan rencana nya maka posisi nya sebagai pewaris corp bisa terancam dan tergantikan oleh adik sepupu nya.
Sedangkan ayahnya pak Bambang Hartono sudah tidak ingin membantunya menutupi kelakuannya karena bisa bisa karirnya sebagai politikus terancam, karena kejadian gila di club saat itu membuatnya mendapatkan beberapa tekanan hingga cambukan dari keluarga nya.
Padahal Simon sendiri masih belum tahu, siapa yang dengan gila mengganti obat yang biasanya diedarkan pada obat yang baru saja akan dikembangkan. Meskipun di luar sana rumornya adalah Simon yang sengaja membuat percobaan liat namun nyatanya ia diam bukan karena tidak peduli melainkan karena ia benar benar tidak tahu siapa yang menjebak nya, untuk itu dia hanya diam saja tanpa mengklarifikasi pada atasannya jika itu bukan perbuatan nya, karena ia ingin tahu siapa gerangan yang memperalat nya.
Sedangkan di sana di sebuah gedung bangunan yang sangat mewah, namun cukup jauh dari pusat perkotaan.
Letaknya di sebuah pegunungan terdapat sebuah mansion besar yang terlihat indah namun isinya tidak seindah kelihatan nya. Suara jeritan dan raungan ampun terdengar begitu kaki mulai melangkah ke arah basement mansion.
Di lantai atas namun masih di sebuah basement yang tidak terlihat dari arah luar, terdapat sebuah pabrik narkoba yang sangat besar dan aktif dalam beroperasi, saat memasukinya semua pegawai mengenakan masker N95, sarung tangan lateks, kacamata pelindung, baju pelindung dan sepatu yang tertutup untuk menjaga tubuh kita tetap aman dari zat zat kimia yang tengah di olahnya.
"Sayang...." ucap seorang wanita melangkah masuk ke dalam ruangan berkaca yang pemandangan nya langsung ke arah pabrik pembuatan narkoba yang terletak di bawahnya.
"Hai baby, come on sayang!!" ujar seorang pria paruh baya sekitar umur 60 tahunan namun perawakan nya masih sehat dan bugar.
Mwahhhh
Indri mengecup pipi kekasihnya dengan mesra lalu duduk diatas pangkuannya sesuai arahan sang kekasihnya.
Pedro, kriminal kelas kakap yang menjadi buronan interpol, ia berasal dari Colombia lalu kabur ke berbagai negara hingga akhirnya memilih Indonesia sebagai tempat berlabuhnya.
"Apa kamu tidak sibuk baby?!" tanya Pedro memijat panggul Indri hingga menimbulkan sensasi menggelenyar.
"No, i'm bussy!" jawabnya dengan wajah yang di imut kan, dan nampak menggemaskan di mata pria tua tersebut.
"Lalu, apa yang membawamu kemari? Apakah ada sesuatu yang kamu inginkan?" tanyanya.
"No, hanya saja aku ingin berdiskusi dengan mu!" ucap Indri dengan nada serius.
"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Pedro menyuruh Indri bangun dari pangkuannya, lalu mulai membuka berkas di mejanya.
"Simon mungkin akan menyadari sesuatu tentang siapa aku sebenarnya..." adu Indri hatinya sangat cemas namun ia mencoba kuat untuk berbicara pada Pedro.
"Lalu apakah kamu memiliki solusinya?" tanya Pedro.
"Kita ganti Simon dengan pejabat lain yang jauh lebih berkuasa dar----
Brakkkkk
Pedro menggebrak meja saat ucapan Indri belum saja selesai, ia menatap Indri dengan tatapan yang tajam dan meremehkan.
"Kamu pikir semudah itu? Jika kita hanya melihat Simon, Simon memang tidak memiliki kekuasaan apapun, ayah nya hanya gubernur bukan menteri tapi coba kamu lihat ibu nya?"
"Di balik perusahaan Caroline ada siapa hah?!!!!" bentaknya dengan suara yang sangat keras dan nyaring hingga suasana di dalam sana menjadi dingin dan mencekam.
"Gunakan otak udang mu sedikit saja jalang!!! Jika bukan karena kamu pewaris keluarga Manopo, untuk apa aku memelihara wanita bodoh yang hanya bermodalkan selangkangan di sampingku?" hinanya mengetuk ngetuk kepala Indri seraya menoyor nya agar Indri sedikit berpikir pada kenyataan.
"Kamu memang cantik, tapi jika hanya cantik yang cantik dan lebih muda darimu masih banyak dibelakang sana!" lanjutnya lalu berlalu pergi meninggalkan Indri yang hanya terdiam tanpa membalas sepatah katapun.
Ia hanya bisa memendam amarahnya yang selalu diremehkan dimanapun dirinya berada, entah Hajeera, Simon, maupun Pedro semuanya meremehkan dirinya yang hanya putri seorang supir.
Namun tanpa Indri sadari, semua orang awalnya tidak meremehkan nya hanya karena putri sopir, namun otaknya yang licik, angkuh, dan manipulatif membuatnya terlihat kampungan dan sangat norak hingga membuatnya selalu diremehkan oleh orang orang disekelilingnya.