"Kau pikir kau mencuri masa depanku malam itu, Nick? Tidak. Kau hanya memberi saya alasan untuk menikmati Rasa sakit di masa depan." — Nedine.
Di balik gemerlap statusnya sebagai putri dari seorang ibu tunggal yang sukses, Nadine Saville menyimpan rahasia yang menghancurkan dirinya secara perlahan. Sejak bangku SMA hingga memasuki dunia kampus yang liar di Amerika, ia terikat dalam hubungan gelap dengan Nickholes Teldford.
Bagi dunia, mereka adalah orang asing. Namun di balik pintu tertutup, Nadine adalah pelampiasan nafsu Nickholes yang tak pernah puas. Terjebak dalam kenaifan dan cinta yang buta, Nadine rela dijadikan alat pemuas demi mempertahankan pria yang ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Nickholes kehilangan akal sehatnya. Teriakan Nadine dan kebencian yang terpancar dari mata gadis itu membuatnya bertindak impulsif. Ia tidak peduli lagi pada ratusan mahasiswa yang sedang merekam kejadian itu dengan ponsel mereka.
Nick merangsek maju, menangkap tubuh Nadine, dan menariknya ke dalam pelukan yang sangat erat—hampir mencekik.
Di depan pintu kantin yang masih ramai, Nick membungkam bibir Nadine dengan ciuman yang kasar dan penuh keputusasaan. Itu adalah ciuman yang meledak dari rasa takut akan kehilangan, sebuah upaya paksa untuk menunjukkan pada dunia bahwa Nadine adalah miliknya.
Namun, tidak ada perlawanan dari Nadine. Tidak ada juga balasan.
Nadine hanya berdiri mematung. Tubuhnya dingin dan kaku di dalam dekapan Nick. Ia membiarkan pria itu menciumnya seolah ia hanyalah sebuah boneka tanpa nyawa.
Keheningan yang menyakitkan menyelimuti mereka setelah Nick perlahan melepaskan tautan bibirnya, menyadari bahwa ia baru saja melakukan kesalahan besar lainnya.
Nadine menyeka bibirnya dengan punggung tangan, gerakannya lambat dan penuh rasa muak. Ia menatap Nick lurus ke mata, suaranya kini pelan namun tajam, memotong keheningan kantin.
"Bibirmu bahkan pernah mencium Clarissa di depan semua orang kemarin," ucap Nadine dengan nada datar yang mengerikan.
"Dan sekarang kau melakukan hal yang sama padaku di tempat yang sama, seolah aku hanya cadangan yang bisa kau pamerkan kapan saja kau mau."
Air mata Nadine kembali luruh, tapi tatapannya tidak goyah.
"Lagi-lagi kau merendahkan diriku, Nick. Kau memperlakukanku seperti tontonan. Kau menang... kau benar-benar menang, dan aku mengaku kalah."
Nick menggelengkan kepalanya, wajahnya hancur.
"Nadine, bukan itu maksudku—"
"Aku akan pergi jauh dari kehidupanmu, Nick," potong Nadine. Ia mundur selangkah, menjauh dari jangkauan tangan Nick.
"Aku tidak akan mengganggu hubunganmu dengan Clarissa lagi. Nikmati panggungmu, nikmati bidadarimu. Tapi jangan pernah cari aku lagi. Bagiku, kau hanyalah sebuah kesalahan yang sangat ingin kulupakan."
Nadine berbalik dan berjalan pergi dengan langkah yang jauh lebih tegak dari sebelumnya. Ia tidak menoleh lagi, meski ia tahu Nickholes sedang berlutut di lantai kantin, menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis di depan semua orang yang biasanya memujanya.
Hari itu, mitos tentang Nickholes Teldford sang Raja Kampus berakhir. Dan bagi Nadine, itu adalah hari pertama ia belajar untuk benar-benar berhenti mencintai pria yang hanya tahu cara mencintai dirinya sendiri.
Sepulang dari kampus, Nadine memutuskan untuk Pindah ke Swiss. Saat Ia hendak ke kamarnya tiba-tiba dunia gelap, dan dia pingsan.
Berita itu menghantam Victoria Saville seperti guntur di siang bolong. Di ruang VIP rumah sakit yang sunyi, hanya terdengar suara detak jantung dari monitor medis. Nadine terbaring pucat, selang infus menancap di tangannya, sementara Victoria menggenggam hasil laboratorium dengan tangan gemetar.
Positif. 12 Minggu.
Victoria menatap putrinya dengan campuran rasa amarah, kecewa, dan kesedihan yang mendalam. Tiga bulan. Itu berarti selama ini, di balik punggungnya, Nadine telah menjalin hubungan yang sangat jauh dengan Nickholes Teldford.
Rahasia yang Nadine simpan bukan sekadar ciuman di koridor kampus, melainkan sebuah ikatan nyawa.
Saat Nadine perlahan membuka matanya, hal pertama yang ia lihat adalah wajah ibunya yang keras.
"Tiga bulan, Nadine?" suara Victoria rendah namun bergetar hebat. "Kau membiarkan putra Marcus Teldford menghancurkan masa depanmu sedalam ini?"
Nadine menyentuh perutnya yang masih rata dengan tangan gemetar. Isak tangisnya pecah seketika. "Ibu... aku ingin pergi. Aku ingin ke Swiss. Aku tidak ingin dia tahu. Aku tidak ingin anak ini menjadi alat permainannya lagi."
Victoria berdiri tegak, kembali ke mode penguasa. "Kau akan tetap ke Swiss. Besok. Ibu akan mengurus semuanya. Tidak akan ada yang tahu tentang kehamilan ini, termasuk keluarga Teldford. Biarkan Nickholes membusuk dengan penyesalannya."
Namun, takdir berkata lain. Di luar kamar rawat, Nickholes berdiri mematung.
Dia telah mengikuti ambulans itu seperti orang gila. Dia mendengar semuanya dari balik pintu yang sedikit terbuka. Dunianya yang tadinya hancur, kini terasa meledak. Dia bukan hanya kehilangan wanita yang dicintainya, tapi dia hampir kehilangan darah dagingnya sendiri.
Nickholes menerobos masuk sebelum pengawal Victoria sempat mencegahnya. Wajahnya kacau, matanya merah karena tangis yang belum berhenti.
"Kau tidak akan membawanya ke mana pun," desis Nickholes, menatap Victoria dengan keberanian yang lahir dari keputusasaan. "Itu anakku. Nadine adalah milikku."
Victoria menampar Nick dengan sangat keras. "Kau sudah cukup merusaknya, Nickholes! Kau mencium wanita lain di depan umum sementara putriku mengandung anakmu! Kau tidak punya hak atas dia!"
Nick tidak membalas tamparan itu. Ia justru berlutut di samping tempat tidur Nadine, mencoba meraih tangan Nadine yang dingin. "Nadine... demi Tuhan, aku tidak tahu. Maafkan aku... Aku akan melakukan apa pun. Aku akan meninggalkan semuanya. Aku akan menikahimu sekarang juga jika itu yang kau mau. Jangan pergi ke Swiss... jangan bawa anak kita pergi."
Nadine menatap Nick dengan mata yang kosong. Pengakuan Nick datang terlalu lambat. Rasa sakit akibat kejadian di kantin dan stadion masih terlalu segar untuk dihapus oleh sebuah kabar kehamilan.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰🥰