Hujan deras mengguyur atap seng pos keamanan belakang RSU Cakra Buana, menyamarkan suara seretan langkah kaki yang berat di lorong beton. Seorang petugas keamanan muda, dengan napas memburu dan seragam basah oleh keringat dingin, berusaha memutar kunci pintu besi berkarat dengan tangan gemetar.
Dia tidak berani menoleh ke belakang, ke arah kegelapan pekat di mana suara lonceng kaki pengantin terdengar gemerincing, semakin lama semakin mendekat, diiringi aroma melati yang begitu menyengat hingga membuat mual.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Laci No 13
Udara di dalam ruang jenazah itu terasa jauh lebih dingin daripada lorong yang baru saja mereka lewati, seolah-olah hukum fisika berhenti berlaku di ambang pintu. Bau formalin yang tajam bercampur dengan aroma anyir darah kering menusuk indra penciuman Elara, membuatnya harus menahan mual yang tiba-tiba mendesak naik ke kerongkongan. Suara dering telepon tua itu masih menggema, nadanya yang melengking dan ganjil memantul di antara dinding-dinding keramik putih yang kusam, sumber suaranya jelas berasal dari salah satu laci pendingin di ujung ruangan.
Pak Darto mengangkat senter besarnya, menyorotkan berkas cahaya kekuningan yang bergetar membelah kegelapan pekat di hadapan mereka. Pria tua itu melangkah perlahan dengan sepatu bot karet yang berdecit pelan di atas lantai basah, sementara tangan kirinya memberi isyarat agar Elara tetap berada di belakang punggungnya. Elara bisa melihat bahu satpam senior itu menegang, otot-otot di lehernya timbul seakan ia sedang bersiap menghadapi serangan fisik dari sesuatu yang tak kasat mata.
"Itu Laci Tiga Belas, Neng," bisik Pak Darto dengan suara serak yang nyaris tertelan oleh dering telepon yang semakin nyaring dan menyayat telinga. "Sudah lima tahun laci itu rusak dan dikunci permanen oleh manajemen rumah sakit karena engselnya macet, jadi tidak mungkin ada orang iseng yang menaruh ponsel di dalamnya."
Elara merasakan bulu kuduk di tengkuknya meremang hebat, sebuah respons insting purba yang memperingatkan adanya bahaya besar yang sedang mengintai. Ia ingin berbalik dan lari sekencang-kencangnya menuju tangga darurat, namun kakinya seolah terpaku oleh rasa ingin tahu yang mematikan dan tanggung jawab bodoh untuk mengambil berkas logistik yang tertinggal. Ia mengeratkan jaketnya, matanya terpaku pada pelat besi berkarat dengan angka '13' yang cat hitamnya sudah mengelupas di sana-sini.
"Lalu siapa yang menelepon, Pak?" tanya Elara dengan suara bergetar, mencoba mencari logika di tengah situasi yang sama sekali tidak masuk akal ini. "Mungkin ada teknisi yang tidak sengaja meninggalkan alat komunikasi mereka saat perbaikan terakhir, atau mungkin suara itu gema dari pipa saluran air."
Pak Darto tidak menjawab spekulasi Elara, ia justru merogoh saku celananya dan mengeluarkan segenggam garam kasar yang dicampur dengan butiran kemenyan. Tanpa peringatan, dering telepon itu berhenti mendadak tepat ketika Pak Darto berada dua langkah di depan laci tersebut, menyisakan keheningan yang jauh lebih mencekam daripada kebisingan sebelumnya. Sunyi itu begitu absolut hingga Elara bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang memukul-mukul rongga dada.
Perlahan, tanpa ada yang menyentuh, gagang besi Laci Tiga Belas itu berputar sendiri dengan suara logam berkarat yang beradu menyakitkan. Laci pendingin itu meluncur keluar perlahan-lahan, memperlihatkan uap dingin yang mengepul tebal seperti kabut pegunungan yang turun ke lembah kematian. Elara menahan napas, matanya terbelalak menanti apa yang akan muncul dari balik kabut putih yang membekukan itu.
Tidak ada mayat di sana, hanya sebuah buku catatan tua bersampul kulit hitam yang tergeletak di tengah nampan besi yang kosong melompong. Namun, yang membuat darah Elara berdesir bukan buku itu, melainkan jejak tangan basah berukuran besar yang tercetak jelas di sisi dalam laci, seolah ada sesuatu yang baru saja merangkak keluar darinya. Cairan yang membentuk jejak tangan itu kental dan berwarna hitam pekat, menetes perlahan ke lantai ubin.
"Ambil bukunya, Neng! Cepat!" teriak Pak Darto tiba-tiba, nadanya penuh kepanikan saat ia menaburkan garam ke arah sudut ruangan yang gelap. "Dia tidak suka kita melihat tempat tidurnya kosong, dia sedang berdiri di belakang pintu sekarang!"
Elara tersentak kaget, adrenalin membanjiri sistem sarafnya dan memaksanya bergerak secepat kilat menyambar buku catatan itu dari dalam laci pendingin. Saat jemarinya menyentuh sampul kulit buku itu, sensasi sengatan listrik statis yang menyakitkan menjalar hingga ke bahunya, disertai bisikan lirih tepat di telinga kirinya yang berbunyi, *"Kembalikan..."*
Lampu neon panjang di langit-langit ruangan mulai berkedip-kedip gila, menciptakan efek stroboskopik yang membuat bayangan-bayangan di sekitar mereka tampak bergerak hidup dan memanjang. Suara geraman rendah terdengar dari arah pintu masuk, satu-satunya jalan keluar mereka, seolah ada binatang buas raksasa yang sedang menjaga teritorialnya. Pak Darto menarik lengan Elara kasar, menyeretnya menjauh dari pintu utama menuju pintu kecil di sisi lain yang tersembunyi di balik lemari penyimpanan alat bedah.
"Lewat sini! Jalur pembuangan limbah medis!" seru Pak Darto sambil menendang pintu kayu lapuk itu hingga terbuka paksa. "Jangan menoleh ke belakang, apapun yang Neng dengar, jangan pernah menoleh!"
Mereka berlari menyusuri lorong sempit yang dindingnya dipenuhi pipa-pipa berkarat dan berlumut, bau busuk limbah kimia membuat mata Elara berair. Di belakang mereka, terdengar suara pintu besi kamar jenazah yang dibanting keras berkali-kali, diikuti suara langkah kaki berat yang menyeret sesuatu di lantai. Elara memeluk buku catatan itu erat-erat di dadanya, seolah benda itu adalah satu-satunya perisai yang bisa melindunginya dari entitas yang mengejar.
Napas mereka tersengal-sengal saat akhirnya berhasil mendobrak pintu keluar yang tembus ke area parkir basement level 2, tempat lampu penerangan masih berfungsi normal meski redup. Elara jatuh terduduk di aspal beton, paru-parunya terasa terbakar karena memaksakan diri memacu oksigen di udara yang lembap. Pak Darto bersandar pada pilar beton, wajah tuanya pucat pasi dengan keringat dingin sebesar biji jagung membasahi keningnya.
Belum sempat mereka mengatur napas dengan benar, sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti tepat di depan mereka dengan sorot lampu yang menyilaukan. Pintu mobil terbuka, dan Dr. Arisandi keluar dengan jas putih yang masih terlihat rapi sempurna, kontras dengan penampilan Elara dan Pak Darto yang berantakan. Wajah dokter muda itu datar, namun matanya menatap tajam ke arah buku catatan yang didekap Elara.
"Saya sudah menduga kalian akan nekat turun ke sana," ujar Dr. Arisandi dingin, suaranya menggema di area parkir yang sunyi. "Kalian baru saja membangunkan sesuatu yang sudah susah payah kami tidurkan selama puluhan tahun."
Elara bangkit berdiri dengan kaki gemetar, menatap dokter itu dengan tatapan penuh curiga dan ketakutan. "Ada apa sebenarnya di bawah sana, Dok? Dan kenapa buku ini ada di dalam laci kosong itu?" tanyanya menuntut jawaban.
Dr. Arisandi melangkah mendekat, mengulurkan tangannya yang terbalut sarung tangan lateks bedah, seolah ia enggan bersentuhan langsung dengan kulit mereka. "Serahkan buku itu, Elara. Itu bukan konsumsi publik, itu adalah daftar pasien yang tidak pernah tercatat di administrasi resmi RSU Cakra Buana."
Elara mundur selangkah, insting jurnalisme dan rasa ingin tahunya mendadak mengalahkan rasa takutnya. Ia melihat ada noda tanah merah di ujung sepatu pantofel mahal milik Dr. Arisandi, jenis tanah liat yang hanya bisa ditemukan di area galian basement paling bawah. Kecurigaan merayap di benak Elara; dokter ini tidak baru saja datang dari rumah sakit, dia sudah ada di sekitar sini sejak tadi.
"Bapak tahu laci itu akan terbuka," kata Pak Darto tiba-tiba, suaranya berat dan menuduh. "Bapak yang meletakkan buku itu di sana sebagai umpan, kan? Untuk memberi makan *Penunggu* itu?"
Dr. Arisandi tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya yang dingin bagai es. "Kadang, pengorbanan kecil diperlukan untuk menjaga bangunan tua ini tetap berdiri kokoh, Pak Darto. Sekarang, berikan bukunya sebelum *dia* menyadari bahwa mainannya telah kalian curi."