Elea dan Ghazi harus menikah karena perjodohan kilat yang di buat oleh kedua orang tua mereka yang random.
Gadis bar-bar yang tomboy harus menikah dan hidup bersama dengan pria yang tengil dan menyebalkan. Apalagi di sekitar Ghafi ada banyak wanita yang selalu menganggu rumah tangganya. Sanggupkah Elea menghadapi mereka di tengah rumah tangga yang gonjang-ganjing tanpa adanya cinta di antara mereka.
Bagaimana kehidupan rumah tangga mereka? Pastinya hanya akan di penuhi dengan pertengkaran dan keributan. Mereka tak pernah akur dan selalu adu mulut setiap bertemu seperti Tom and Jerry. Apakah pada akhirnya mereka akan saling mencintai ataukah akan memilih jalannya sendiri-sendiri?
Yuk, ikuti terus kisah cinta mereka! Cekidot!
Jangan lupa baca juga buku othor yang lain ya kak. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elea-Ghazi 19
Cup
Cup
Ghazi menciumi kepala Elea kemudian bangun lebih dahulu. Sedangkan Elea masih tertidur, dia mengira jika yang memasak adalah mbak. Tapi saat keluar kamar di kagetkan dengan suara kekehan dari kedua ibu mereka yang sedang asik di dalam dapur.
"Loh, mami ... Mama? Kapan kalian datang?" tanya Ghazi kaget.
"Saat kalian tidur nyenyak sambil pelukan," celetuk Mami Shella membuat wajah Ghazi memerah dan menggaruk tengkuknya.
"Elea apa selalu seperti itu kalau sedang kedatangan tamu bulanan Ma? Aku Samapi khawatir saat melihat dia pucat dan kesakitan seperti itu. Apalagi tadi kami sedang meeting," tanya Ghazi sambil mengambil air minum di dalam kulkas.
"Iya biasanya hanya dua hari saja kok. Paling sampai besok, setelahnya Elea tak akan terlalu kesakitan. Paling kamu harus tahan saja dengan mood swing dia," kekeh Mama Nara.
"Kalau mood swing sepertinya nggak harus nunggu dia pms dulu Ma, tiap hari juga kerjaannya ngomel Mulu!" jawab Ghazi jujur kepada ibu mertuanya.
"Berhenti menghubungi para wanita nggak jelas itu, Nak! Jika tidak mami yang akan menghampiri mereka satu-persatu dan mendampratnya? Atau perlu mami turun tangan saja agar mereka bisa paham?" tegur Mami Shella saat mendengar ponsel anaknya tak berhenti bergetar. dia tahu itu ada nitip pesan dan juga beberapa kali panggilan masuk.
"Jangan begitu Mi, lagian aku sama mereka nggak ketemuan atau apapun kok! Cuma bertukar kabar dan pesan saja!" jawab Ghazi membela dirinya.
"Sama saja dengan kamu selingkuh dari istrimu! Mama tak pernah mengajarkan kamu menjadi pria baji-ngan Ghazi!" tegur ibunya kembali.
"Elea juga pernah telponan sama pria bernama. Irham kok!" jawab Ghazi tak mau hanya di salahkan sendiri.
"Irham? Oh Irham adalah salah satu orang kepercayaan papanya Elea. Dia sekarang mengurus kantor cabang kami. Irham dan Elea memang sudah dekat seperti kakak dan adik. Dia memang orang yang paling perhatian kepada Elea, selalu menjadi orang pertama yang melindungi Elea saat kami sedang tak ada bersama dia. Jadi mereka memang sudah dekat, tapi tak lebih dari itu. Kamu jangan khawatir!" jelas Mama Nara.
"Tapi aku tak percaya begitu saja Ma! Elea sering sekali teleponan dengan pria itu! Si Irham itu modelan wajahnya seperti apa sih! Penasaran aku!" kesal Ghazi.
"Bang Irham sangat tampan dan lembut! Juga sangat menghargai wanita! Tidak seperti kamu yang pencinta wanita! Umbar rayuan gembel kamu ke semua wanita!" jawab Elea melengking. Ternyata Elea sudah bangun dan mendengar saya pembicaraan mereka mengenai Irham.
"Kan ... tuh mama dan mami lihat sendiri! Dia bahkan lebih membela pria lain di bandung dengan suaminya sendiri!" Ghazi mengadu kepada kedua orang tuanya.
"Lebay kau!" kesal Elea.
Alhasil seperti biasa, mereka kembali menjadi tim and Jerry. Padahal di sana ada kedua ibu mereka, tapi sepertinya tak berpengaruh. Ghazi dan Elea bukan seperti suami istri. Mereka malah lebih tepatnya seperti musuh bebuyutan yang kadang akur kadang juga kembali berseteru. Entahlah bagaimana cara membuat dua toodler itu akur dan bisa belajar untuk saling menerima. Rasanya kepala kedua orang tuanya sudah mumet mendengar mereka bertengkar terus menerus.
"Serius amat! Lagi ngapain?" tanya Ghazi baru masuk ke dalam kamar setelah mengantar kedua orang tua mereka sampai teras.
"Kepo!" jawab Elea.
"Tuh dari tadi ponsel kamu bunyi terus berisik sekali! Pacar-pacar kamu sepertinya rindu! Kalau mau telponan sama mereka di luar! Aku sedang tak ingin bertengkar!" jawab Elea tanpa melepaskan matanya pada tablet yang dia pegang sambil menekuk perutnya.
Elea sedang merasakan kembali rasa sakit dan mulas di perutnya. Hanya saja dia tak mau lagi terlihat lemah dan menjadi bahan ejekan Ghazi lagi seperti tadi di depan kedua orang tuanya. Kesal sekali rasanya Ghazi malah meledek dia karena rasa sakit seperti ini.
"ck! Ambekan!" jawab Ghazi mengambil ponselnya dan melihat memang sedari tadi banyak sekali pesan dan panggilan masuk. Ghazi akhirnya memilih untuk ke luar kamar apalagi melihat mood Elea yang sepertinya tak mau di ganggu.
Elea masih bisa mendengar Ghazi menghubungi seorang wanita dan terdengar mereka mengobrol. Sepetinya Ghazi juga sengaja meninggikan suaranya agar Elea mendengar. Entah mungkin dia berbicara di depan pintu kamar mereka. Nama Celine terus di sebutan oleh Ghazi.
Elea yang mulai merasa badannya kembali tak nyaman segera berjalan dengan pelan menuju tempat tidur. Dia lebih memilih berebahkan badannya sambil meringkuk menekuk perut yang terasa sangat sakit. Keringat dingin mulai membasahi pelipis Elea. Rasanya lebih sakit dari sebelumnya, padahal dia sudah meminum obat yang biasa dia konsumsi. Tapi kali ini rasa sakitnya berlipat.
"Ya ampun kenapa malah rasanya sakit sekali! Aku rasanya nggak kuat banget!" ucap Elea pelan menekan perutnya.
Wajahnya juga sudah semakin pucat menahan sakit. Sedangkan suaminya malah semakin terbahak di luar kamar bertelepon dengan para wanitanya. Sengaja sekali sepertinya Ghazi memanasi dia. Keringat dingin mulai membasahi seluruh wajah dan badan Elea. Rasanya dia sudah tak kuat dengan rasa sakitnya. Mencoba untuk tidur tapi tak bisa. Badannya juga mulai menggigil. Suhu badannya mulai naik, sepertinya kali ini Elea juga mulai demam.
Menjelang tengah malam, Ghazi baru selesai bertelepon dengan para wanitanya. Entah berapa wanita yang dia hubungi malam ini. Katanya dia akan membatasi diri karena sekarang miskin. Tapi, rupanya ada beberapa wanita yang tak mempermasalahkan jika tak bertemu yang penting masih bisa bertukar pesan dan telepon dengan Ghazi. Entah mungkin untun selamanya atau hanya sementara. Gahzi masuk ke dalam kamar dengan senyum sumringah di bibirnya. Merasa senang karena tak semua wanita yang dekat dengannya hanya mengincar hartanya seperti yang di takutkan kedua orang tuanya.
"Jangan sentuh aku!" tegur Elea saat Ghazi mendekat ke arahnya.
"ck! Ambekan Mulu kerjaan kamu!" kesal Ghazi yang tak melihat dengan jelas wajah pucat dan penuh keringat dari Elea karena di kamar sudha menggunakan lampu tidur. Ghazi membaringkan badannya di sebelah Elea dengan perasaan bahagia.
"Apa kamu tahu? ternyata tak semua wanita yang mendekati aku itu hanya butuh hartaku saja! Buktinya ada dua orang wanita yang masih mau menghubungiku saat aku bilang tak bisa mengajak atau memberikan mereka semua barang-barang mewah seperti kepada yang lain. Sepertinya mereka tulus padaku, bagaimana pendapat kamu Elea?" ujar Ghazi malah bercerita kepada Elea.
"Terserah! Lakukan saja apapun maumu! Aku tak akan mencampuri apapun urusan pribadimu Ghazi. Jika memang di antara mereka sudah membuat kamu yakin untuk kamu jadikan istri. Katakan saja padaku! Agar kita bisa segera mengurus perpisahan kita. Dan kamu bisa bahagia bersama wanita pilihan kamu!" ucap Elea pelan dengan suara sedikit bergetar. Ghazi tak curiga dan mengira jika Elea hanya sudah mengantuk.
"Lalu kamu? Apa kamu akan mengejar Bang Irham kamu itu?" tanya Ghazi.
"Belum kepikiran! Aku ngantuk! Jika kamu mau curhat sama pacar kamu saja!" jawab Elea mengakhiri pembicaraan mereka.
Elea benar-benar sudah tak tahan dengan rasa sakit luar biasa di perutnya. Sedangkan sikap Ghazi kali ini berbeda di bandung tadi. Tadi bahkan dia terlihat sangat khawatir kepada Elea. Tapi sekarang, setelah bertelepon dengan wanita bernama Celine, Ghazi berubah dan kembali ke stelan awal. Menjadi pria cuek dan bodo amat kepada Elea.
semoga ghazi dpt hukuman dr papi reno D asingkan k planet Pluto sebulan mh
jadinya pada mikir dih gampang Banggt yah gitu doang terhuraaaaaahhh El El kembali ke setelan aja lah lovely doply nanti kalau dia udah bucin
Thor yg Kirana ga lanjut lagi kah?
istri cuma ngikut apa yg di lakukan suaminya ga salah Dong,,
elea pingin curut itu kasihan