NovelToon NovelToon
Ling Feng : Menyulam Tanya Dalam Bahasa Sunyi Dunia.

Ling Feng : Menyulam Tanya Dalam Bahasa Sunyi Dunia.

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Epik Petualangan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: MagnumKapalApi

Karya Orisinal.

Genre: Fantasi Timur, Kultivasi, Xianxia.
Sub-Genre: Filosofi, Romance, Adventure, Action.

Desa kecil yang dipenuhi buai kenangan, Jinglan namanya. Di sebalik kabus fajar di ladang, hiduplah Aku—Ling Feng—berdiri ragu, mencoba merabit kata Pak Tua Chen, menyulamnya dengan tanya yang berbalut sunyi. Dalam pengembaraan, Aku menenun apa yang kubawa.

“Untuk Apa Kehidupan Dijalani?”

Jawab mungkin tak pernah kudapatkan. Namun, akankah Jawab sudi menyapaku kelak dan menanti?

Kupastikan langkahku setia pada arah, walau kelak degup jiwa tak lagi tegak menopang raga, kan kusulam tanya dalam bahasa sunyi dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 4 : Ketika Cerita Ayah Menjadi Nyata, dan Dunia Menjawab dengan Kasar.

Langkahku menuruni lereng bukit bagai menembus membran yang tak terlihat.

Di Jinglan, udara adalah selimut yang akrab, setiap napas adalah percakapan dengan tanah kelahiran.

Di sini, di Persimpangan Sungai Kelindang, udara adalah pisau dingin yang menusuk paru-paru dan menciumnya terasa seperti menghirup asap pembakaran sesuatu yang seharusnya tidak dibakar.

Aku berhenti di balik pohon tusam yang tumbuh miring, telapak tangan menempel pada kulit kayunya yang retak. Pohon ini ... bisu.

Di Jinglan, setiap pohon berbisik dengan getaran kehidupan. Di sini, mereka seperti patung batu, energinya telah dikeruk habis, hanya menyisakan cangkang kosong.

Aku memejamkan mata, mencoba mengingat semua yang pernah ayah ceritakan tentang sepuluh tahapan kultivasi.

Bukan sebagai warisan khusus keluarga kami, tapi sebagai cerita pengantar tidur. Kisah-kisah yang kupikir hanya dongeng.

Qiqing, Nak, suaranya bergema dalam ingatan, lembut seperti angin sore. Awal Menyerap Energi. Bukan tentang menjadi kuat, tapi tentang belajar mendengar. Seperti petani yang pertama kali belajar merasakan kelembapan tanah sebelum menanam.

Napasku dalam. Perlahan. Seperti yang diajarkannya dulu, saat kami duduk di tepi sawah. Dan dunia ... berubah.

Bukan perubahan dramatis. Tapi pergeseran halus. Seperti tirai tipis tersingkap sejenak.

Garis-garis cahaya samar, lebih seperti bayangan cahaya daripada cahaya itu sendiri yang membentang di udara.

Jaring kehidupan yang menghubungkan pohon ke tanah, tanah ke air, air ke udara.

Jaring itu indah dalam kesederhanaannya, seperti pola anyaman ibu yang selalu sempurna.

Tapi di tempat perkemahan berdiri ... jaring itu sakit.

Garis-garis cahaya putus-putus.

Ada yang berakhir tiba-tiba, seperti benang yang diputus.

Dan dari kereta besar ber-bendera mata tertutup, merembes sesuatu yang membuat perutku mual, kegelapan yang menyebar seperti tinta di air jernih, mencemari segala yang disentuhnya.

Ini yang kurasakan sebagai tekanan.

Pelanggaran.

"Siapa kau?"

Suara itu mendadak, memecah konsentrasiku.

Dua lelaki, muda, mungkin tak lebih dari lima tahun di atasku, berdiri beberapa langkah jauhnya.

Pakaian mereka compang-camping, wajah kecokelatan oleh matahari dan debu perjalanan, yang lebih tinggi memegang tongkat kayu biasa.

"A—Aku hanya ... petani tersesat," kataku, berusaha terdengar tak berbahaya. "Dari Jinglan."

"Jinglan?" yang lebih pendek mengerutkan kening. Matanya coklat biasa, seperti warna tanah, memindai tubuhku. "Kau sendirian?"

Aku mengangguk, tangan tanpa sadar meraih manik batu biru di leher. Saat jemariku menyentuhnya, dingin yang familiar merambat. Peninggalan ibu—satu-satunya yang tersisa.

Lelaki bertongkat melangkah mendekat. "Kau bawa apa?"

"Hanya perbekalan."

Aku menunjukkan tas kain sederhana berisi roti dan air. Tapi matanya tidak pada tas. Pada leherku. Pada manik batu.

"Batu itu," katanya, suara datar. "Berikan."

Aku mundur selangkah.

"Ini peninggalan ibuku."

"Beri, atau kau akan menyesal."

Tangannya menjulur.

Saat jemarinya hampir menyentuh batu, tubuhku bereaksi tanpa pikir. Tangan kanan mengangkat, menepis lengannya. Kontak.

Dan sesuatu mengalir.

Bukan dari batu. Dari dalam diriku.

Sensasi aneh, seperti aliran air hangat yang tiba-tiba menemukan jalannya, mengalir dari titik di bawah pusarku, naik melalui lengan, keluar melalui telapak tangan.

Lelaki itu terhuyung mundur, memegang lengannya dengan ekspresi bingung. "Apa ... kau ..."

"Sakit?" tanyaku, sama bingungnya.

"Dingin," bisiknya. "Lalu ... hangat."

Kawannya mendekat.

"Wei Zhang, apa yang terjadi?"

Wei Zhang menatap lengannya, lalu menatapku. "Kau ... kau Kultivator?"

Aku menggeleng.

"Aku hanya petani dari Jinglan."

"Tapi ..." Dia menggelengkan kepala. "Sentuhanmu ... mengingatkanku pada sesuatu. Pada ... sebelum bergabung dengan mereka."

Ingatan ayah muncul. Rongti, tahap kedua. Penguatan tubuh. Tapi sebelum tubuh bisa menjadi wadah, ia harus membersihkan jalan. Menyingkirkan sumbatan.

Aku tidak memahami sepenuhnya. Tapi kata-kata itu terasa benar.

"Kau bergabung dengan mereka," kataku, menunjuk ke arah perkemahan. "Dan sejak itu, merasa berbeda?"

Wei Zhang mengangguk, lambat.

"Lemah. Selalu lapar. Mimpi buruk."

"Karena mereka mengambil sesuatu darimu," kataku, tiba-tiba yakin. "Bukan harta. Bukan makanan. Tapi ... energi kehidupan."

Dari arah perkemahan, teriakan.

"WEI ZHANG! Kembali! Ada pekerjaan!"

Wei bergidik. Matanya berpindah antara aku dan suara itu. Dilema.

"Aku harus pergi," kataku. "Tapi ... terima kasih."

"Untuk apa?" tanyanya, pahit.

"Karena kau tidak langsung menyerang."

Aku berbalik.

"Ada jalan lain ke perkemahan?"

Wei Zhang diam sejenak. Lalu, dengan suara rendah.

"Lewat semak-semak di sepanjang sungai. Tapi hati-hati, mereka memasang jerat di mana-mana."

"Jerat untuk apa?"

"Untuk menangkap ... sesuatu yang mereka butuhkan. Untuk kultivasi mereka."

Jantungku berdebar. Serigala itu.

Aku mengangguk, lalu mulai merayap ke arah yang dia tunjukkan.

Saat aku hampir hilang dari pandangan, suaranya berbisik lagi.

"Mereka menyebut tahap ketiga, Ningjing. Pembentukan inti. Pemimpin mereka ... dia hampir mencapainya."

Jalur sepanjang sungai licin oleh lumpur dan lumut. Tapi tubuhku, tubuh petani yang terbiasa bekerja di sawah dan bukit, tahu cara bergerak di medan sulit.

Saat aku mendekati perkemahan dari sisi ini, bau pertama yang menusuk bukanlah bau manusia atau masakan. Tapi bau ... keputusasaan spiritual. Seperti tanah yang telah disemprot racun, kehilangan kemampuan untuk menumbuhkan kehidupan.

Aku berlutut di tepi sungai, mencelupkan jari ke air. Airnya dingin, tapi ... kosong. Di Jinglan, air mata air terasa hidup, bergetar dengan energi. Di sini, air ini seperti mayat, mengalir, tapi mati.

Aku menutup mata, mencoba apa yang ayah ajarkan tanpa pernah menyebutnya sebagai kultivasi. Hanya sebagai cara mendengarkan bumi.

Dan sesuatu merespons.

Bukan aliran deras. Tapi tetesan. Seperti hujan pertama setelah kemarau panjang. Sesuatu mengalir dari tanah melalui jemariku, halus, sejuk, murni. Mengalir ke lengan, menuju ... titik di bawah pusarku.

Tempat yang ayah sebut pusat keseimbangan. Dantian.

Untuk pertama kalinya, aku benar-benar merasakannya. Bukan sebagai konsep dari cerita, tapi sebagai sensasi fisik. Ruang di dalam diriku yang sebelumnya tidak kusadari, sekarang terasa ... terbuka. Menunggu.

Tetesan energi bumi itu murni, jernih, mengisi ruang itu. Hanya setetes. Tapi setetes itu ... hidup.

Aku membuka mata. Dunia terlihat sama, tapi ... terasa berbeda. Seperti setelah hujan, segala sesuatu lebih jelas, lebih tajam.

Dan aku melihat jerat-jerat itu.

Bukan hanya jerat besi fisik yang kulihat tadi. Tapi jerat energi. Jaring-jaring halus berwarna abu-abu kusam membentang di antara pohon-pohon, seperti sarang laba-laba raksasa yang tak terlihat. Dan mereka semua mengarah ke satu tempat, perkemahan.

Sistem perampasan.

Aku merayap lebih dekat. Dari balik rumpun bambu air, aku bisa melihat sangkar kayu. Serigala itu di dalamnya. Diam.

Tapi sekarang ... aku bisa merasakannya.

Bukan hanya makhluk fisik yang terluka. Tapi sesuatu yang lebih dalam. Di dalamnya, ada titik cahaya, redup, seperti lampu minyak yang hampir kehabisan minyak. Dan dari titik itu, mengalir keluar cahaya perak tipis, diserap oleh ... benang abu-abu yang sama seperti yang kulihat di mana-mana.

1
anggita
like👍, bunga🌹
Life is Just an Illusion
semangat kak jadilah dewa fantim /Curse//Curse/
Gudang Garam Filter: dewa fantim mah Ucok kak /Curse//Curse/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!