NovelToon NovelToon
Ternyata Aku Istri Kedua

Ternyata Aku Istri Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Cerai / Selingkuh
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Tya

Aku menikah dengannya karena cinta.
Kupikir itu cukup.
Nyatanya, setelah akad terucap, aku baru tahu—
cinta itu bukan hanya milikku.
Saat hati dipaksa berbagi dan kebenaran menyakitkan terungkap, aku harus memilih:
mempertahankan pernikahan yang dibangun atas cinta,
atau pergi demi harga diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Setibanya di rumah sakit, akupun ikut turun dari mobil.

Dadaku dipenuhi tanda tanya. Untuk apa mereka ke sini? Jangan-jangan… perempuan tadi, mamahnya benar-benar dirawat di rumah sakit? Atau—ada sesuatu yang jauh lebih besar yang sengaja Mas Bram sembunyikan dariku?

Dengan langkah pelan, aku membuntuti mereka dari kejauhan. Jarakku cukup aman, pikirku. Fokusku hanya pada punggung Mas Bram yang berjalan berdampingan dengan perempuan itu—terlalu dekat untuk sekadar orang asing.

Namun, nasib seolah sengaja mengkhianatiku.

Sebuah troli servis yang didorong petugas kebersihan tiba-tiba berbelok cepat, membawa ember dan alat pel lantai. Tubuhku tak sempat menghindar.

Brukk!

“Auu!” pekikku, tubuhku oleng dan nyaris terjatuh.

Suara itu menggema cukup keras di lorong rumah sakit yang lengang.

Mas Bram dan perempuan itu seketika berhenti melangkah. Keduanya menoleh ke belakang.

Mataku membelalak.

Pandangan Mas Bram bertemu denganku.

Wajahnya langsung berubah—terkejut, panik… dan jelas tidak siap.

“Rania?” suaranya terdengar lirih, namun menusuk jantungku.

Aku menegakkan tubuh, meski jantungku berdegup tak karuan. Tidak ada lagi tempat bersembunyi.

Perempuan di sampingnya menatapku bingung.

“Mas, dia siapa?” tanyanya pelan, nada suaranya terdengar waspada.

Tanganku mengepal.

Aku menatap Mas Bram tanpa berkedip, menunggu satu jawaban yang entah akan menyelamatkan atau menghancurkan perasaanku sepenuhnya.

“Di-dia rekan bisnisku.”

Jawaban itu keluar begitu saja dari bibir Mas Bram—ringan, tanpa ragu, seolah aku hanyalah orang asing yang kebetulan lewat.

Dunia rasanya berhenti berputar.

Ingin rasanya aku berteriak, memakinya di depan umum, lalu menampar wajahnya sekuat tenaga. Tanganku sampai bergetar menahan amarah yang mendidih di dada. Tapi aku memaksa diri untuk tetap berdiri tegak, menelan semuanya dalam-dalam.

Harga diriku menjerit, namun bibirku terkunci.

Belum sempat aku membuka suara, perempuan itu justru merangkul lengan Mas Bram. Sangat mesra. Sangat berani. Jarinya mencengkeram seolah Mas Bram adalah miliknya—bukan suamiku.

Dadaku terasa sesak.

Aku menatap pemandangan itu dengan mata panas.

Aku istrinya.

Yang sah.

Yang pernah berjanji di hadapan Tuhan.

Namun di hadapanku sekarang, aku justru terasa seperti pihak ketiga.

Senyum tipis terlukis di bibir perempuan itu, seolah ia menang. Seolah aku tak lebih dari gangguan kecil dalam hidup mereka.

Cemburu itu bukan lagi sekadar rasa.

“Oo… rekan bisnis kamu,” seru perempuan itu, alisnya terangkat samar.

“I-iya,” jawab Mas Bram. Suaranya terdengar gugup, jauh dari nada percaya diri yang biasanya ia miliki.

Aku melangkah mendekat. Setiap langkah terasa berat, seolah kakiku ditarik ribuan beban. Lorong rumah sakit mendadak terasa sempit, pengap, dan menyesakkan.

Perempuan itu menoleh padaku. Senyumnya terbit—ramah, manis… dan tanpa rasa bersalah sedikit pun.

“Kenalkan,” kata Mas Bram lagi, suaranya terdengar dipaksakan,

“Dia Rania, rekan bisnisku.”

Rekan bisnis.

Aku menatap Mas Bram dingin. Pandanganku lurus, tajam, dan penuh luka yang ia ciptakan sendiri. Tenggorokanku terasa perih, mataku memanas, rasanya aku ingin menangis

sekencang-kencangnya. Tapi air mata itu

tertahan—aku menolak terlihat lemah.

Belum sempat aku membuka suara, perempuan itu justru lebih dulu mengulurkan tangannya padaku.

“Hai, Rania.”

Ia tersenyum lebar, lalu berkata dengan nada ringan yang menghancurkan duniaku,

“Aku Monika, istrinya Bram.”

Boom.

Dadaku seperti diremas kuat.

Nafasku tercekat.

Dunia seakan runtuh tepat di kakiku berdiri.

Istrinya… Bram?

Aku menatap Monika, lalu beralih ke Mas Bram yang kini membeku. Wajahnya pucat, matanya gelisah, bibirnya mengatup rapat—tak sanggup berkata apa-apa.

Aku tersenyum tipis. Senyum yang bahkan tak sampai ke mata.

Oh, jadi begini caranya aku diperkenalkan.

Sebagai rekan bisnis.

Sementara aku—yang istrinya—bahkan tak diakui keberadaannya.

Kalau ini permainan, maka aku baru saja masuk ke babak paling kejam.

I-istrinya Mas Bram?” tanyaku ulang. Suaraku nyaris tak terdengar, seperti berbisik pada diriku sendiri. Otakku menolak menerima kenyataan itu—terlalu absurd, terlalu sakit untuk nyata.

“Iya,” jawab Mas Bram pelan, namun jelas.

“Kami sudah menikah tujuh tahun.”

Tujuh tahun.

Angka itu berputar-putar di kepalaku, menghantam berulang kali.

“Cie… kamu ingat pernikahan kita, Mas,” seru Monika genit sambil memukuli dada bidangnya, tertawa kecil seolah semuanya adalah kenangan manis yang pantas dirayakan.

Aku seketika membulatkan kedua mataku. Tubuhku kaku. Kakiku terasa mati rasa. Suara di sekitarku mendadak menjauh, seolah aku tenggelam di dasar laut yang sunyi.

“Maaf ya, Rania. Kami pergi dulu,” kata Mas Bram singkat.

Pergi.

Begitu saja

Aku tau apa maksud mas bram bilang barusan, takut aku jujur pada Monika kalo aku juga istrinya.

Aku tidak menjawab apa pun. Bibirku membisu, mataku kosong menatap punggung mereka yang semakin menjauh. Tidak ada air mata yang jatuh. Tidak ada teriakan. Yang ada hanya kehampaan—lubang besar yang menganga di dadaku.

Tujuh tahun.

Sedangkan aku… menikah dengan Mas Bram baru berjalan dua tahun.

Lalu aku ini apa?

Istri tanpa status?

Perempuan bodoh yang hidup dalam kebohongan?

Atau… istri kedua yang bahkan tidak tahu dirinya dimadu?

Dadaku terasa nyeri, bukan seperti ditusuk—tapi seperti diremukkan perlahan.

Aku tersenyum kecil. Senyum paling menyedihkan yang pernah tercipta di wajahku.

Jadi selama ini…

yang palsu bukan pernikahan itu.

Yang palsu adalah hidupku sendiri.

Kakiku tak lagi sanggup menopang tubuhku. Entahlah… semua terasa hampa, kosong, seolah jiwaku tercabut begitu saja dari raga.

Aku melorot turun, lalu duduk lemas di lantai rumah sakit yang dingin.

Pandanganku kabur, dadaku naik turun tak beraturan. Suara langkah kaki orang-orang terdengar samar, menjauh, lalu mendekat lagi.

Seorang dokter yang kebetulan berjalan di depanku berhenti.

“Mba, kamu nggak apa-apa, Mba?” serunya panik.

Aku mendengar suaranya. Aku ingin menjawab. Ingin bilang kalau aku baik-baik saja—padahal jelas aku tidak baik-baik saja. Bibirku bergerak, tapi tak ada suara yang keluar.

Pandangan di mataku mulai menghitam dari sudut-sudutnya.

Suara dokter itu semakin jauh…

Semakin pelan…

Seolah tenggelam dalam air yang dalam.

Tubuhku terasa ringan… lalu kosong.

Dan setelah itu—gelap.

Aku tak tahu apa yang terjadi padaku.

Yang kutahu hanya satu hal sebelum semuanya benar-benar menghilang dari kesadaranku—

Hatiku telah lebih dulu hancur sebelum tubuhku menyusul jatuh.

Aku tersadar dalam keadaan sendirian.

Lampu putih di atas kepalaku terasa menyilaukan. Aroma khas rumah sakit langsung menyergap inderaku.

Kepalaku masih terasa berat, seolah baru saja ditimpa beban besar yang tak sanggup kutahan.

Aku menggerakkan jari-jari tanganku pelan. Nyata.

Aku masih hidup.

Tak lama kemudian, sosok dokter yang tadi menolongku masuk ke dalam ruangan. Wajahnya terlihat lega saat menyadari aku sudah membuka mata.

“Mba… sudah sadar ya,” ucapnya lembut sambil mendekat.

“Kamu tadi pingsan di lorong. Tekanan darahmu turun drastis.”

Aku menoleh ke sekeliling. Sepi. Tak ada Mas Bram. Tak ada siapa-siapa.

“Suami atau keluarga kamu ada?” tanya dokter itu hati-hati.

Pertanyaan itu menusuk tepat ke dada.

Aku terdiam. Menarik napas panjang, lalu menggeleng pelan.

“Tidak ada,” jawabku lirih. Suaraku terasa

asing di telingaku sendiri.

Dokter itu menatapku sejenak, seolah memahami ada sesuatu yang jauh lebih sakit dari sekadar pingsan.

“Kamu jangan terlalu banyak pikiran dulu ya,” katanya, kali ini lebih pelan.

“Kondisimu bukan cuma kelelahan fisik, tapi juga shock emosional.”

Aku tersenyum tipis.

Shock… ya. Kata yang terlalu sederhana untuk menggambarkan hidupku yang baru saja runtuh.

Mataku menatap langit-langit ruangan itu kosong.

****

1
Nur Janah
Bagus Rania rezeki mu udah di atur oleh author 😄😄
Tya: wkwkwk 🤭
total 1 replies
Nur Janah
bukannya kaca depan mobil Rania udah pecah karena preman ya Thor kok suaminya masih nggak percaya
Mamah Kaila
dasar lu nya aja yg lemah tololnya mendarah daging, udah tau dr awal dibohongi bukan nya pergi malah bertahan ya nikmati aja penderitaan lu, udahlah males baca cerita kayak gini
Agung Santosa
y iya,,lu aja yng tol**l,,mau aja dngrin omngn tmn lu,,udh tau posisi lu g mnguntungkn,,klo dasrnya lemah ya lemah aja,,g ush² pura² kuat,,
Mamah Kaila
perempuan bodoh
Nur Janah
semoga Leon datang tepat waktu
Nur Janah
aku juga baca satu milyar 30 hari
Tya: wih 😍, pokoke love sakkenon deh
total 1 replies
Nur Janah
pergi Rania yg jauh,yg ada nanti keluarga Bram menyalahkan kamu lebih tragisnya nanti anakmu di ambil dan kamu di ceraikan
Nur Janah
kan kamu di bohongi LG ran,pergi lh yg jauh.jangan biarkan suatu saat anakmu di ambil mereka
Nur Janah
kadang hidup setelah terluka hanya melanjutkan hidup saja tanpa makna,jadi curhat Thor🤭🤭
Tya: gak papa kak 🤭
total 1 replies
Nur Janah
siapa yg akhirnya di plih oleh bram
Nur Janah
Rania hamil ya thor
Nur Janah
pergi aja deh ran,sebelum kamu d cap pelakor
Nur Janah
baru baca Thor,semoga ceritanya seru aku kasih bunga biar semangat up nya
Tya: trimakasih kak 😍 semoga betah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!