Pernikahan Zoya Ravendra dan Kalandra Dirgantara adalah perjodohan mutlak tanpa tanggal kadaluarsa. Bagi Kalandra, Kepala Unit Reskrim yang ditakuti, Zoya hanyalah istri pendiam yang membebani karena selalu mengurung diri di kamar.
Namun, pandangan itu hancur saat kasus pembunuhan berantai "The Puppeteer" menemui jalan buntu. Zoya tiba-tiba muncul di TKP, menerobos garis polisi dengan tatapan datar dan berkata:
"Singkirkan tangan kotormu dari leher korban, Komandan. Dia tidak dicekik. Ada residu sianida di kuku jari manisnya dan lebam mayat ini dimanipulasi."
Hanya dalam lima menit, Zoya memecahkan teka-teki itu. Kalandra terlambat menyadari bahwa istri yang ia abaikan ternyata adalah "The Scalpel," legenda forensik dunia. Kini, Kalandra tidak hanya harus memburu pembunuh, tapi juga mengejar cinta istrinya yang hatinya lebih sulit diotopsi daripada mayat manapun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Diplomasi Cheesecake
"Ehm. Zoya."
Suara Kalandra memecah keheningan di ruang tengah penthouse. Dia berdiri kaku di dekat sofa, tangannya masih memegang kunci mobil, tubuhnya masih berbalut kemeja kerja yang kusut. Rasanya lebih mudah menginterogasi pembunuh bayaran daripada menyapa istri sendiri yang sedang duduk santai di sana.
Zoya tidak menoleh. Dia bersandar nyaman di sofa, kaki disilangkan, memangku sebuah buku tebal berbahasa Inggris dengan judul Advanced Forensic Pathology. Tangannya memegang spidol kuning, sesekali menggarisbawahi kalimat di halaman itu dengan gerakan tenang.
"Aku panggil kamu, Zoya," ulang Kalandra, nadanya sedikit naik tapi tertahan.
Zoya akhirnya menutup bukunya perlahan, menyelipkan pembatas buku, lalu mendongak. Tatapannya datar, tanpa minat.
"Aku punya telinga, Mas. Nggak perlu diulang," jawab Zoya santai. "Ada apa? Tumben pulang jam segini. Biasanya Mas lebih betah di kantor polisi yang bau rokok itu daripada di rumah."
Kalandra mengatupkan rahangnya. Dia ingin sekali membalas sindiran itu, tapi dia ingat tujuannya pulang. Dia butuh otak istrinya. Dia butuh Zoya. Ego Kalandra rasanya seperti sedang diparut, tapi dia tidak punya pilihan.
Dia berdehem, mencoba melunakkan suaranya. "Soal... kejadian tadi malam di pelabuhan. Dan soal telepon aku tadi yang nggak kamu angkat."
"Oh, itu," potong Zoya, kembali membuka bukunya seolah pembicaraan ini membosankan. "Ponselku di-silent. Aku lagi baca jurnal terbaru soal dekomposisi jaringan otot. Penting."
"Lebih penting daripada telepon suami?"
"Jelas. Mayat di jurnal ini lebih jujur daripada Mas," balas Zoya telak tanpa mengalihkan pandangan dari kertas.
Kalandra mengusap wajahnya kasar. Sabar. Sabar, Kalan.
"Dengar, aku nggak mau berdebat," kata Kalandra, akhirnya duduk di ujung sofa, menjaga jarak aman. "Tim forensik... si Rudi dan yang lain, mereka bilang analisismu akurat. Soal sianida, soal suntikan di kaki, semuanya benar."
Hening sejenak. Zoya tidak bereaksi berlebihan. Dia hanya mengangguk kecil. "Aku tahu aku benar. Terus?"
Kalandra menarik napas panjang. Mengucapkan kalimat berikutnya terasa seperti menelan paku. "Kami buntu. Profil pelaku masih kabur. Kami butuh... pandangan kedua. Pandangan kamu."
Akhirnya keluar juga. Kalandra membuang muka, enggan melihat ekspresi kemenangan di wajah istrinya.
Tapi Zoya tidak tersenyum mengejek. Dia justru menutup bukunya dengan bunyi bluk yang mantap, lalu menatap Kalandra tajam. Aura ibu rumah tangga pemalas itu lenyap, digantikan oleh sorot mata The Scalpel.
"Mas mau aku bantu bikin profil psikologis pelaku?" tanya Zoya to the point.
Kalandra mengangguk kaku. "Ya. Cuma kamu yang paham cara kerjanya. Raka dan tim butuh arahan."
"Oke," jawab Zoya singkat.
Kalandra menoleh cepat, kaget karena semudah itu. "Oke? Kamu mau bantuin?"
"Siapa bilang gratis?" Zoya menaikkan satu alisnya. "Aku bukan konsultan kepolisian yang digaji negara, Mas. Waktuku berharga. Kalau Mas mau otakku bekerja, Mas harus bayar jasanya."
Kalandra langsung merogoh saku celananya, mengeluarkan dompet. "Berapa? Kamu mau tas baru? Limited edition? Atau perhiasan? Sebut saja, nanti aku transfer."
Zoya tertawa kecil. Tawa yang terdengar meremehkan isi dompet Kalandra. "Simpan uang Mas. Aku nggak butuh tas. Lemariku sudah penuh."
"Terus kamu mau apa?"
Zoya mengambil ponselnya, mengetik sesuatu sebentar, lalu menunjukkan layarnya ke depan wajah Kalandra.
"Lihat toko ini? Berry Bliss Bakery di jalan utama," tunjuk Zoya pada foto sebuah kue yang terlihat sangat manis dan lumer. "Aku mau Strawberry Cheesecake ukuran whole cake. Harus beli di sana, sekarang juga."
Kalandra melongo. "Kue? Kamu meras aku cuma demi kue?"
"Itu bukan sembarang kue, Mas. Itu cheesecake paling enak se-kota ini," jelas Zoya dengan mata berbinar, satu-satunya momen dia terlihat antusias hari ini. "Antriannya selalu panjang, bisa dua jam. Aku malas panas-panasan dan desak-desakan sama orang. Jadi, syaratnya gampang: Mas pergi ke sana, belikan aku kue itu, bawa pulang dalam keadaan utuh. Baru aku kasih profil pelakunya."
"Kamu gila ya?" Kalandra berdiri, emosinya naik lagi. "Aku ini Komandan Reskrim! Masa aku disuruh antri kue kayak go-boy? Suruh pembantu atau sopir kan bisa!"
"Nggak bisa," tolak Zoya mentah-mentah. "Harus Mas sendiri. Anggap saja itu harga yang harus dibayar karena sudah ngatain aku 'beban' dan 'pengangguran' kemarin. Gimana? Take it or leave it."
Zoya kembali membuka bukunya, bersikap masa bodoh. "Kalau nggak mau ya sudah. Silakan pusing sendiri cari pembunuhnya. Pintu keluar di sebelah sana."
Kalandra mengepalkan tangan. Wajah menyebalkan istrinya benar-benar minta dicubit. Tapi bayangan mayat korban keempat yang mungkin jatuh kalau dia gagal menangkap pelaku, membuatnya tidak berkutik.
"Sialan," umpat Kalandra pelan. Dia menyambar kunci mobilnya lagi. "Awas kalau kuenya nggak enak."
Zoya tersenyum tipis, tanpa menoleh. "Jangan lupa minta lilin kecilnya, Mas."
Satu jam kemudian.
Di depan ruko bernuansa pink pastel dengan dekorasi pita-pita lucu, antrian manusia mengular sampai ke trotoar. Aroma manis vanila dan stroberi menguar kuat dari dalam toko, membuat perut siapapun keroncongan.
Dan di tengah-tengah kerumunan itu, berdiri sesosok pria yang sangat tidak cocok dengan pemandangan sekitar.
Kalandra berdiri kaku dengan wajah garang, kemeja lengannya digulung sebatas siku, memperlihatkan otot lengan yang tegang. Di pinggang kanannya, di balik kemeja, terselip pistol dinas yang untungnya tertutup kain.
Dia satu-satunya pria dewasa di sana.
Di depannya, tiga siswi SMA sedang cekikikan sambil selfie. Di belakangnya, segerombolan mahasiswi sibuk ngerumpi soal cowok idola kampus.
"Permisi, Om... bisa geser dikit? Mau foto background pintunya," pinta salah satu anak SMA dengan nada manja.
Urat di pelipis Kalandra berkedut. Om? Dia baru tiga puluh tahun!
"Foto saja sepuasmu, Dek. Jangan ajak saya ngobrol," desis Kalandra dingin, membuat nyali anak SMA itu ciut seketika.
Kalandra melirik jam tangannya untuk kesepuluh kalinya dalam lima menit. Ini penyiksaan. Ini penghinaan terhadap institusi kepolisian.
Seorang Komandan yang ditakuti preman pasar, yang pernah menembak mati gembong narkoba, sekarang terjebak di antrian toko kue demi memuaskan ngidam istrinya yang tidak hamil, jenius tapi menyebalkan itu.
"Sabar, Pak. Masih lima belas nomor lagi," sapa satpam toko kue itu ramah, melihat wajah Kalandra yang seperti ingin membakar toko.
"Diam atau saya borgol kamu," gumam Kalandra frustrasi, matanya menatap nanar ke arah etalase kue.
Demi profil pelaku. Demi kasus. Demi harga diri. Dia akan mendapatkan kue terkutuk itu, lalu memaksa Zoya bicara sampai tuntas.
Awas saja kalau nanti analisisnya salah. Kalandra bersumpah akan menyuapkan semua kue itu paksa ke mulut istrinya.