NovelToon NovelToon
Bercerai? Siapa Takut! Aku Punya 7 Kakak Sultan

Bercerai? Siapa Takut! Aku Punya 7 Kakak Sultan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Selingkuh / Balas Dendam / Pelakor / Hari Kiamat / Ruang Ajaib
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Tandatangani surat cerai ini dan pergi dari rumahku! Kau hanyalah wanita yatim piatu yang tidak berguna bagi karierku!"

Tiga tahun pengabdian Alana sebagai istri yang penurut berakhir dengan selembar kertas dan hinaan pedas dari suaminya, Raka. Tidak hanya diceraikan, Alana juga diusir di tengah hujan badai demi seorang wanita yang diklaim Raka sebagai "pembawa keberuntungan".

Raka tidak tahu, bahwa Alana bukan yatim piatu biasa. Dia adalah putri tunggal Keluarga Adiwangsa yang hilang sepuluh tahun lalu—keluarga penguasa ekonomi negara yang memiliki tujuh putra mahkota.

Saat Alana berjalan gontai di jalanan, sebuah konvoi helikopter dan puluhan mobil mewah mengepungnya. Tujuh pria paling berpengaruh di negeri ini turun dan berlutut di hadapannya.

"Tuan Putri kecil kami sudah ditemukan. Siapa yang berani membuatmu menangis, Dek? Katakan pada Kakak, besok perusahaannya akan rata dengan tanah."

Kini, Alana tidak lagi menunduk. Bersama tujuh kakak "Sultan"-nya yang protektif dan gila

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: ISTANA EMAS SANG TUAN PUTRI

BAB 2: ISTANA EMAS SANG TUAN PUTRI

Aroma lavender yang menenangkan perlahan merayap masuk ke indra penciuman Alana. Hal pertama yang dia rasakan saat kesadarannya kembali adalah kelembutan yang luar biasa di bawah punggungnya. Ini bukan kasur keras di rumah Raka yang sprain-nya sudah mulai menonjol. Ini terasa seperti tidur di atas awan.

Alana membuka matanya perlahan. Langit-langit ruangan itu tinggi, dihiasi lampu kristal raksasa yang berkilauan terkena cahaya matahari pagi yang masuk melalui jendela-jendela besar setinggi empat meter.

"Aku di mana?" gumamnya lirih. Suaranya masih serak.

"Kau di rumah, Sayang. Di rumahmu yang sebenarnya."

Alana menoleh ke samping. Di sana, duduk seorang pria dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. Elvan. Kakak tertuanya. Pria itu tampak tidak tidur semalaman; ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya, tapi tatapannya saat melihat Alana sangat lembut.

"Kak... Elvan?" Alana mencoba duduk, dan dengan sigap Elvan membantunya, menyusun bantal-bantal sutra di belakang punggung sang adik.

"Jangan dipaksakan. Dokter bilang kau mengalami syok berat dan hipotermia ringan semalam," ujar Elvan sambil mengelus rambut Alana. "Tapi sekarang kau aman. Tidak akan ada lagi yang berani menyentuhmu, apalagi menyuruhmu keluar di tengah hujan."

Tiba-tiba, pintu kamar yang terbuat dari kayu jati berukir emas itu terbuka dengan kasar.

"Dia sudah bangun?! Minggir, Kak! Aku mau lihat adikku!"

Seorang pria muda dengan jaket varsity mahal merangsek masuk. Itu Gio, si bungsu dari tujuh bersaudara, kakak ketujuh Alana. Di belakangnya, mengekor lima pria lainnya yang semuanya memiliki aura dominan. Dalam sekejap, kamar luas itu terasa sempit karena keberadaan tujuh pria setinggi 180-an cm yang mengelilingi tempat tidur Alana.

"Alana, kau ingat aku, kan? Aku Arka, kakak kelimamu," ujar seorang pria dengan wajah dingin namun memegang nampan berisi bubur abalon. "Aku sudah memecat koki utama karena dia telat menyiapkan sarapanmu lima menit."

Alana mengerjapkan mata, bingung. "Memecatnya? Hanya karena lima menit?"

"Waktu adalah nyawa bagi keluarga Adiwangsa, Dek. Terutama jika itu menyangkut perutmu," sahut seorang pria lain yang tampak flamboyan dengan jam tangan seharga miliaran rupiah. Dia adalah Kakak ketiga, Julian, seorang pemilik agensi model internasional. "Oh, lihat wajah pucat ini. Kakak sudah memanggil tim MUA dan stylist paling terkenal di Asia. Mereka sudah menunggu di luar. Kita harus membuang aura 'istri tersiksa' ini dari wajahmu sekarang juga."

"Tunggu, tunggu..." Alana memijat pelipisnya. Semuanya terasa terlalu cepat. "Mas Raka... rumah itu..."

Seketika, suhu di ruangan itu seolah turun beberapa derajat. Keenam kakak lainnya menoleh ke arah Kakak kedua, panggil saja dia Bastian, yang berdiri di pojok ruangan dengan setelan seragam militer lengkap dengan lencana bintang di pundaknya.

"Raka Ardiansyah?" Bastian tersenyum, tapi senyum itu lebih mirip seringai pemangsa. "Rumahnya sudah rata dengan tanah subuh tadi, Alana. Aku mengirim satu unit buldoser atas nama 'pembersihan lahan'. Sekarang dia dan selingkuhannya itu sedang menangis di pinggir jalan, bingung kenapa semua aset banknya dibekukan dalam satu jam."

Alana menutup mulutnya dengan tangan. "Kalian... menghancurkan rumahnya?"

"Itu baru pemanasan, Dek," sambung Kakak keenam, Satya, yang dikenal sebagai jenius teknologi. Dia memutar tablet di tangannya ke hadapan Alana. "Aku sudah menghapus seluruh jejak digital kesuksesan Raka. Saat ini, jika dia melamar kerja bahkan sebagai tukang sapu pun, sistem HRD di seluruh dunia akan memberikan tanda merah: 'Penjahat Domestik'. Dia tidak akan punya masa depan."

Alana merasakan perasaan yang aneh. Seharusnya dia merasa kasihan, tapi bayangan saat Raka menyeretnya ke tengah hujan dan tawa sinis Siska menghapus rasa iba itu.

"Terima kasih, Kak," bisik Alana. Air mata kembali menggenang, tapi kali ini bukan karena sedih, melainkan karena merasa dilindungi.

"Jangan menangis," Elvan menghapus air mata Alana dengan ibu jarinya. "Mulai hari ini, kau tidak perlu memikirkan harga diskon di supermarket, tidak perlu memasak untuk pria yang tidak tahu terima kasih, dan tidak perlu menahan diri. Apa yang kau inginkan? Katakan saja. Kakak keempatmu, Hanif, sedang berada di Paris. Dia bertanya apakah kau mau menara Eiffel atau cukup butik di Champs-Élysées untuk hiburan?"

Alana tertawa kecil di tengah isaknya. "Aku hanya ingin mereka tahu... kalau mereka salah telah membuangku."

"Oh, mereka akan tahu," ujar Elvan dingin. "Malam ini ada gala premier untuk merayakan kembalinya ahli waris keluarga Adiwangsa. Seluruh elite Jakarta akan hadir. Dan Kakak sudah mengirimkan undangan khusus untuk mantan suamimu dan kekasihnya."

"Undangan? Tapi mereka kan sudah miskin?" tanya Alana.

"Mereka akan datang dengan harapan mendapatkan investor untuk menyelamatkan perusahaan mereka yang hampir bangkrut," Satya menjelaskan sambil menyeringai. "Mereka tidak tahu kalau orang yang akan mereka sembah untuk meminta bantuan adalah istri yang baru saja mereka tendang semalam."

Tiba-tiba, Julian—sang kakak ketiga—bertepuk tangan. "Sudah! Cukup bahas sampah itu. Sekarang, sesi transformasi! Alana, kau adalah berlian. Selama ini kau hanya tertutup debu karena pria miskin itu. Biar Kakak tunjukkan pada dunia siapa sebenarnya Alana Adiwangsa."

Pintu kamar dibuka lebar-lebar. Belasan pelayan masuk membawa deretan gaun haute couture yang harganya bisa membeli satu komplek perumahan Raka. Sepatu-sepatu dengan kristal swarovski, perhiasan berlian yang berkilau menyilaukan mata, hingga aroma parfum yang dibuat khusus hanya untuk anggota keluarga inti.

Alana dituntun menuju walk-in closet yang luasnya lebih besar dari seluruh rumah lamanya. Di sana, para ahli kecantikan mulai bekerja. Rambut Alana yang kusam karena stres mulai dirawat, kulitnya yang pucat dipoles hingga bercahaya, dan kuku-kukunya dipercantik.

Sepanjang proses itu, ketujuh kakaknya tidak pergi jauh. Mereka duduk di ruang tunggu luar, berdebat soal mana kalung berlian yang paling cocok untuk Alana.

"Berlian biru itu terlalu kecil untuk Alana! Pakai yang merah merpati dari lelang London kemarin!" protes Gio.

"Merah itu terlalu mencolok. Alana itu elegan. Berlian putih 20 karat ini lebih pas," timpal Bastian.

Alana yang mendengar perdebatan itu dari dalam hanya bisa tersenyum. Selama tiga tahun, dia harus mengemis untuk membeli baju baru saat lebaran, dan Raka selalu mengeluh kalau dia boros. Sekarang? Dia memiliki tujuh pria yang siap memberikan dunia di bawah kakinya.

Dua jam kemudian, pintu walk-in closet terbuka.

Kesunyian mendadak melanda ruangan itu. Ketujuh pria perkasa itu berdiri serempak, mata mereka tidak berkedip menatap sosok di depan mereka.

Alana berdiri mengenakan gaun sutra berwarna midnight blue yang memeluk tubuhnya dengan sempurna. Rambutnya disanggul modern dengan beberapa helai jatuh membingkai wajahnya yang cantik jelita. Tidak ada lagi Alana yang kuyu dan bermata sembab. Yang ada hanyalah seorang dewi yang memancarkan aura kemewahan dan harga diri yang tinggi.

"Sempurna," bisik Elvan. Dia maju dan mengulurkan lengannya. "Siap untuk membuat mereka menyesal telah lahir di dunia ini, Putri Kecil?"

Alana menyambut lengan Elvan dengan mantap. Senyumnya kini tidak lagi mengandung keraguan. "Sangat siap, Kak."

Di dalam hatinya, Alana berbisik: Raka, Siska... siapkan diri kalian. Karena Alana yang kalian injak-injak sudah mati. Yang berdiri di sini adalah mimpi buruk yang tidak akan pernah bisa kalian hindari.

Malam itu, konvoi mobil mewah kembali membelah jalanan Jakarta. Tapi kali ini, tujuannya bukan untuk menyelamatkan, melainkan untuk memulai sebuah kehancuran yang elegan.

1
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
keren banget ceritanya, aku suka🤗🤗😘😘😍
falea sezi
ngapain ngemis ma kenzo kayak janda gk laku aja masih banyak. laki laki Alana hadeh g usa merendahkan harga diri klo lu di buang ma kenzo ywda
merry
cinta mrkk sdg di uji sm dengan masa lalu dua klurga,, ternyta raka dam klurga semua nya penjahat pengen raka tu menyesel Dan bucin sm Alana tp gk bs milikin lgg,, sebgai pria gk pyn hati us bpk y pembunuh mm culik alna skrg raka selingkh Dan mau Alana hncur
Sari Supriyanti
Up..up...uuuup.thooor....😍👍💪💪💪
Ariany Sudjana
wah seru ini novelnya 🙏
Marsya
waduh siapa lagi nhe,bnyak x identitasnya🤔🤔🤔
Cindy
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!