Damian adalah psikopat yang jatuh cinta, mencintai dengan cara menyiksa, menghancurkan, dan merusak.
Dia mengubah Alexa dari gadis polos menjadi Ratu Mafia paling kejam. Setiap malam dipenuhi darah, penyiksaan, pembunuhan.
Tapi yang paling mengerikan, Alexa mulai menikmatinya. Di dunia ini, cinta adalah peluru paling mematikan. Dan mereka berdua sudah ditembak tepat di bagian jantung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta atau Obsesi
Hari-hari setelah operasi penyelundupan senjata berlalu dengan tenang. Terlalu tenang. Aku mulai merasa nyaman dengan rutinitas baru ini. Dengan kekuasaan baru ini.
Dan mungkin itu kesalahanku.
Pagi itu aku sedang berjalan di taman belakang. Menikmati udara segar. Salah satu pengawal baru, namanya Adrian, berjalan beberapa meter di belakangku. Menjaga seperti yang diperintahkan Damian.
"Donna," panggilnya tiba-tiba. "Maaf, tapi ada yang ingin saya sampaikan."
Aku berhenti. Berbalik menatapnya. Pria muda berusia sekitar dua puluh delapan tahun dengan wajah yang ramah.
"Ada apa?" tanyaku.
"Tentang operasi kemarin," katanya sambil melangkah sedikit lebih dekat. "Saya pikir ada celah di sistem keamanan yang perlu Donna perhatikan."
Aku mendengarkan penjelasannya. Tentang rute. Tentang timing. Hal-hal teknis yang sebenarnya berguna.
Kami bicara sekitar sepuluh menit. Aku bahkan tertawa sedikit ketika dia membuat lelucon tentang pejabat yang kami suap.
Tawa yang tidak bersalah. Profesional. Tapi ternyata tidak ada yang tidak bersalah di dunia ini.
***
Malam itu Damian tidak pulang untuk makan malam. Aku makan sendirian di kamar. Sudah biasa. Dia sering punya urusan sampai larut.
Tapi ketika aku akan tidur, pintu kamar terbuka dengan keras. Damian masuk. Wajahnya gelap. Mata berkilat amarah.
"Damian, ada apa?"
Dia berjalan cepat ke arahku. Meraih lenganku. Kasar.
"Siapa Adrian?" tanyanya. Suaranya rendah. Berbahaya.
"Adrian? Pengawal baru, memangnya kenapa?"
"Kenapa kau bicara dengannya?" potongnya. Cengkeramannya menguat. Menyakiti.
"Dia bicara tentang operasi. Tentang celah keamanan yang..."
"AKU TIDAK PEDULI TENTANG APA!" teriaknya. Wajahnya sangat dekat dengan wajahku. "Kenapa kau berbicara dengannya? Kenapa kau tertawa dengannya?"
"Apa? Aku hanya... dia membuat lelucon dan aku..."
"Kau tertawa." Matanya menyipit. "Kau tertawa pada pria lain."
Dadaku sesak. Napas tercekat. "Damian, ini tidak seperti yang kau pikirkan. Kami hanya bicara tentang pekerjaan."
Tapi dia tidak mendengar. Dia menyeretku ke sudut kamar. Mendorongku ke dinding.
"Kau milikku," katanya. Wajahnya beberapa inci dari wajahku. "MILIKKU. Tidak ada pria lain yang boleh membuatmu tertawa. Tidak ada yang boleh bicara denganmu lebih dari yang diperlukan."
"Kau gila! Dia hanya..."
PLAK!
Tamparan keras di pipiku. Kepala terhentak ke samping. Rasa sakit menyengat.
Ini pertama kalinya Damian memukulku. Aku menatapnya dengan mata membelalak. Memegang pipi yang panas.
Dia menatapku dengan napas terengah. Mata liar. Seperti binatang yang kehilangan kendali. Lalu dia berbalik dan pergi. Membanting pintu di belakangnya.
Bunyi kunci berputar dari luar, aku dikunci di kamarku sendiri.
***
Hari pertama, aku mengira dia hanya butuh waktu untuk tenang. Aku menunggu. Mengetuk pintu beberapa kali. Memanggil namanya.
Tidak ada jawaban.
Pelayan tidak datang dengan makanan. Tidak ada yang datang sama sekali.
Malam datang. Perut mulai keroncongan. Tapi masih ada air di kamar mandi. Aku minum air keran. Mencoba mengabaikan rasa lapar.
Damian akan kembali. Dia pasti akan kembali dan kita akan bicara. Ini hanya salah paham.
Tapi dia tidak datang.
Hari kedua, rasa lapar sudah menyiksa. Kepala pusing. Tubuh lemas. Aku berbaring di tempat tidur, memeluk bantal, mencoba tidur supaya tidak merasakan lapar.
Tapi aku tidak bisa tidur. Hanya berbaring menatap langit-langit sambil pikiran berputar-putar.
Kenapa dia melakukan ini?
Aku hanya bicara dengan pengawal. Hanya bicara tentang pekerjaan.
Kenapa dia seolah aku selingkuh?
Malam hari kedua, pintu akhirnya terbuka.
Damian masuk. Wajahnya tenang sekarang. Tapi matanya masih gelap.
"Damian." suaraku serak. "Kumohon, aku lapar. Tolong!"
Dia tidak menjawab. Hanya berjalan ke arahku. Menarikku dari tempat tidur. Menciumku dengan kasar. Tangan menyobek gaunnya.
"Damian tunggu, aku lapar, Kumohon kita bicara dulu."
Tapi dia tidak peduli. Dia mengambil apa yang dia mau. Kasar. Posesif. Seperti mencoba membuktikan sesuatu.
Dan aku terlalu lemah untuk melawan. Hanya berbaring di sana, membiarkannya. Ketika selesai, dia berdiri.
Merapikan pakaiannya. Lalu pergi lagi tanpa sepatah kata. Meninggalkanku menangis di tempat tidur.
Hari ketiga adalah yang terburuk. Rasa lapar sudah berubah jadi mual. Kepala sangat pusing sampai aku tidak bisa berdiri tanpa berpegang sesuatu. Bibir pecah-pecah. Mulut kering.
Aku merangkak ke kamar mandi. Minum air keran lagi. Muntah. Lalu minum lagi.
Malam hari ketiga, Damian datang lagi. Kali ini dia membawa nampan. Makanan. Akhirnya. Tapi ketika aku hendak meraihnya, dia menariknya menjauh.
"Tidak," katanya dingin. "Belum."
"Kumohon," suaraku hampir tidak terdengar. "Kumohon Damian! Aku minta maaf, apapun yang kulakukan, tolong maafkan aku."
"Kau tahu apa kesalahanmu?" tanyanya.
Aku menggeleng. Air mata mengalir.
"Kesalahanmu," katanya sambil berjongkok di depanku, "adalah melupakan bahwa kau milikku. Sepenuhnya. Tubuhmu. Pikiranmu. Tawamu. Semuanya milikku."
Tangannya menyentuh pipiku yang masih bengkak dari tamparan tiga hari lalu.
"Tidak ada pria lain yang boleh melihatmu tersenyum," bisiknya. "Tidak ada yang boleh membuatmu tertawa. Hanya aku."
"Ya," bisikku putus asa. "Ya, hanya kau. Aku janji. Kumohon, kumohon beri aku makan."
Damian menatapku lama. Lalu dia akhirnya menyodorkan nampan itu.
Aku meraih roti dengan tangan gemetar. Memasukkannya ke mulut. Hampir tersedak karena terlalu cepat.
"Pelan," kata Damian sambil menuangkan air ke gelas. "Pelan atau kau akan muntah lagi."
Aku mencoba makan pelan. Tapi sangat sulit. Terlalu lapar.
Damian menonton dengan tatapan yang aneh. Campuran antara kepuasan dan... penyesalan?
Setelah aku selesai makan setengah dari yang ada di nampan, dia mengambil nampan itu.
"Cukup untuk sekarang," katanya. "Terlalu banyak akan membuatmu sakit."
Lalu dia duduk di tepi tempat tidur. Menatapku yang masih duduk di lantai.
"Aku tidak bisa kehilanganmu," katanya tiba-tiba. Suaranya bergetar. "Aku tidak bisa membayangkan kau dengan pria lain. Bahkan hanya bicara. Bahkan hanya tersenyum."
Air mata mulai menggenang di matanya.
"Kau satu-satunya yang kumiliki," lanjutnya. "Satu-satunya yang membuat hidup ini berarti. Kalau aku kehilanganmu, aku tidak tahu apa yang akan kulakukan."
Dia jatuh berlutut di depanku. Memelukku dengan erat.
"Maafkan aku," bisiknya. "Maafkan aku karena menyiksamu. Tapi aku tidak bisa mengendalikan diri ketika melihatmu dengan pria lain."
Aku ingin marah. Ingin berteriak bahwa apa yang dia lakukan gila. Bahwa ini bukan cinta.
Tapi tubuhku terlalu lemah. Dan hatiku sudah terlalu rusak, untuk membedakan cinta dari obsesi.
Jadi aku hanya memeluknya balik. Menangis di bahunya.
"Jangan lakukan itu lagi," bisikku. "Kumohon jangan kurung aku lagi. Jangan tinggalkan aku lapar lagi."
"Aku janji," katanya sambil mencium kepalaku. "Aku janji. Asal kau janji tidak akan bicara dengan pria lain. Tidak akan tersenyum pada pria lain. Hanya padaku."
"Aku janji," jawabku. Walau bagian kecil di hatiku berteriak bahwa ini salah. Bahwa aku tidak seharusnya berjanji hal seperti itu.
Tapi aku berjanji. Karena aku terlalu lelah untuk melawan. Terlalu takut untuk dikurung lagi. Damian mengangkatku. Membawaku ke tempat tidur. Membaringkanku dengan lembut.
"Istirahatlah," bisiknya sambil menyelimutiku. "Besok akan kubawakan makanan favoritmu. Apapun yang kau mau."
Dia menciumku. Lembut kali ini. Sangat berbeda dengan tiga hari terakhir.
"Aku mencintaimu," bisiknya. "Lebih dari apapun di dunia ini. Dan cintaku yang membuatku gila seperti ini."
Lalu dia pergi. Tapi kali ini tidak mengunci pintu. Aku berbaring di sana, menatap langit-langit, dengan tubuh yang masih lemah dan hati yang semakin rusak.
Ini cinta atau obsesi?
Aku sudah tidak tahu lagi.
Yang kutahu hanya, aku bergantung padanya sekarang. Sepenuhnya.
Untuk makanan. Untuk kebebasan. Untuk segalanya. Dan ketergantungan itu yang paling menakutkan.
Karena sekarang aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa dia. Bahkan setelah dia menyiksaku selama tiga hari.
Bahkan setelah semua yang dia lakukan, aku masih mencintainya, atau aku pikir ini cinta. Mungkin aku sudah terlalu rusak untuk tahu bedanya.
Dan ketika aku akhirnya tertidur, dengan perut yang masih lapar, walaupun sudah makan sedikit. Satu pertanyaan menghantui mimpi-mimpiku: apakah ini yang akan terjadi setiap kali dia cemburu? Apakah aku akan terus disiksa, dikurung, kelaparan, setiap kali dia merasa terancam?
Dan yang paling menakutkan, kenapa sebagian diriku sudah menerima ini sebagai normal? Kenapa aku tidak lagi terkejut? Kenapa aku hanya merasa lega ketika dia akhirnya kembali?