NovelToon NovelToon
Menikahi Mantan Istri Sahabatku

Menikahi Mantan Istri Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Romansa / Dokter Genius
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

​Demi melunasi hutang budi, Dokter Yoga terpaksa menikahi Dinda, wanita pengkhianat yang tak pernah ia sentuh selama setahun pernikahan. Di tengah sandiwara itu, ia harus menjaga Anindya, istri mendiang sahabatnya yang lumpuh akibat kecelakaan tragis.
​Saat Yoga berhasil bebas dan menceraikan Dinda demi menikahi Anindya, sebuah rahasia besar meledak: Anindya ternyata adalah Nayla Rahardjo, putri sulung yang hilang dari keluarga mantan mertuanya sendiri.
​Bagaimana Yoga mencintai wanita yang ternyata adalah kakak dari mantan istrinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Takdir Dibalik Cinta dan Darah

Setelah kotak bekal kosong, suasana di dalam ruangan itu mendadak berubah menjadi sangat intens. Tatapan mata Yoga yang semula lembut kini menggelap oleh gairah yang kembali tersulut melihat kecantikan istrinya yang baru saja pulang dari salon. Yoga menarik pinggang Anindya dengan kuat hingga tubuh mereka menempel rapat, tidak menyisakan jarak sedikit pun.

"Mas... ini di kantor," bisik Anindya dengan napas yang mulai tidak beraturan.

Yoga tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menggendong Anindya secara tiba-tiba, membawa istrinya masuk ke dalam toilet pribadi yang berada di dalam ruang kerjanya. Begitu pintu tertutup dan terkunci, Yoga langsung menyandarkan tubuh Anindya ke dinding porselen yang dingin, namun suhu tubuh mereka justru terasa membara.

Yoga kembali melumat bibir Anindya dengan penuh tuntutan, sebuah ciuman yang jauh lebih panas dan liar dibandingkan sebelumnya. Anindya melingkarkan kakinya di pinggang kokoh Yoga, mencari pegangan saat suaminya mulai menjelajahi area lehernya dengan kecupan-kecupan yang memabukkan.

Dalam posisi berdiri yang menantang adrenalin tersebut, Yoga dengan cekatan membuka ritsleting celananya dan menyingkap pakaian Anindya. Tidak ada lagi rasa malu di antara mereka, yang ada hanyalah kebutuhan untuk saling memiliki satu sama lain.

Saat penyatuan itu terjadi dalam posisi berdiri, Anindya memeluk leher Yoga dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suaminya sambil mendesah lirih. Yoga bergerak dengan ritme yang kuat dan bertenaga, memberikan sensasi yang berbeda dari malam sebelumnya. Adrenalin karena melakukannya di lingkungan rumah sakit membuat gairah mereka berdua meledak jauh lebih cepat.

Di bawah guyuran cahaya lampu toilet yang terang, mereka berdua berbagi peluh dan kenikmatan hingga mencapai puncak gairah bersama-sama. Yoga mengerang rendah, mendekap Anindya seolah tidak ingin melepaskannya selamanya.

Beberapa saat kemudian, mereka masih terengah-engah dalam posisi yang sama. Yoga mengecup dahi istrinya yang berkeringat. "Maafkan aku, Sayang. Aku benar-benar tidak bisa menahan diri kalau dekat denganmu," bisik Yoga sambil merapikan rambut Anindya yang sedikit berantakan.

Anindya tersenyum malu, ia menyandarkan kepalanya di bahu Yoga. "Mas Yoga benar-benar dokter yang agresif ya kalau sudah di luar jam operasi."

Setelah membersihkan diri dan merapikan pakaian masing-masing, mereka keluar dari toilet dengan wajah yang jauh lebih segar, meski binar di mata mereka tidak bisa berbohong tentang apa yang baru saja terjadi.

Saat mereka kembali ke area utama ruang kerja, ponsel Yoga yang tergeletak di meja bergetar hebat. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari nomor Jakarta dan satu pesan singkat dari Dokter Firdaus.

Yoga mengernyitkan dahi dan membacanya:

> "Yoga, maaf mengganggu. Kondisi Dokter Reza kembali drop. Dia terus memanggil namamu dalam igauannya. Bisakah kamu bicara dengannya sebentar?"

Anindya yang melihat perubahan ekspresi wajah Yoga langsung mendekat. "Ada apa, Mas? Dari Jakarta ya?"

Yoga menatap layar ponselnya dengan bimbang. Di satu sisi, ia baru saja memulai hidup barunya yang indah di Surabaya dan tidak ingin bayang-bayang masa lalu di Jakarta merusak momen bahagianya. Namun di sisi lain, Dokter Reza adalah sosok ayah kedua yang telah membimbingnya menjadi dokter sehebat sekarang.

Anindya, yang bisa membaca kegelisahan di wajah suaminya, menggenggam tangan Yoga dengan lembut. "Mas, hubungi Papa Reza. Biar bagaimanapun, dia orang baik. Jangan biarkan dendammu pada Dinda atau Ibu Kanaya menutup pintu maafmu untuk beliau."

Yoga menghela napas panjang, menatap istrinya dengan penuh kekaguman. "Kamu benar-benar wanita berhati malaikat, Anin. Padahal mereka pernah menyakitimu lewat aku."

Yoga akhirnya menekan tombol video call ke ponsel Dokter Firdaus. Tak butuh waktu lama, layar menampilkan suasana kamar rumah sakit di Jakarta. Terlihat Dokter Reza terbaring lemah dengan selang oksigen di hidungnya. Wajahnya yang dulu perkasa kini tampak sangat tua dan rapuh.

"Yoga... itu kamu, Nak?" suara Dokter Reza terdengar sangat lirih dan serak.

"Iya, Pa. Ini Yoga," jawab Yoga dengan suara bergetar. Ia kemudian mengarahkan kamera agar Anindya terlihat di sampingnya. "Lihat, Pa. Ini Anindya, istri Yoga. Dia sudah sembuh, dia sudah bisa berjalan lagi sekarang."

Anindya tersenyum tulus ke arah kamera.

"Halo, Papa Reza. Semoga Papa cepat sembuh ya."

Melihat pemandangan itu, air mata mengalir di pipi Dokter Reza. Sebuah senyum tipis muncul di wajahnya yang pucat. "Syukurlah... syukurlah kalian bahagia. Yoga, maafkan keluarga Papa... Maafkan Dinda..."

"Sudah Yoga maafkan, Pa. Fokuslah pada kesehatan Papa sekarang," jawab Yoga, mencoba menahan tangisnya sendiri.

Setelah panggilan berakhir, Yoga terduduk di kursinya, termenung lama. Rasa bimbang kembali menyergapnya. Ia sangat ingin menikmati bulan madunya di Surabaya, namun kondisi Dokter Reza terus mengusik pikirannya.

"Mas," Anindya mendekat dan memeluk bahu Yoga dari belakang. "Aku rasa kita harus ke Jakarta."

Yoga menoleh cepat. "Tapi Anin, kita baru saja menikah. Aku ingin membawamu jalan-jalan, bukan kembali ke tempat yang penuh kenangan pahit itu."

Anindya menggeleng perlahan. "Jalan-jalan bisa kapan saja, Mas. Tapi waktu untuk meminta maaf dan melihat orang tua yang sedang sekarat tidak akan datang dua kali. Aku tidak mau Mas Yoga menyesal seumur hidup karena tidak sempat menjenguknya secara langsung. Aku akan menemanimu. Kita pergi sebagai pasangan yang sudah menang atas masa lalu."

Yoga terdiam, meresapi setiap kata istrinya. Ketulusan Anindya benar-benar meruntuhkan egonya. "Baiklah, kita berangkat besok pagi. Tapi kita hanya akan ke rumah sakit, tidak ke rumah keluarga Raharjo."

Keesokan harinya, Yoga dan Anindya terbang menuju Jakarta. Yoga sengaja menyewa pengawal pribadi untuk memastikan Anindya tetap aman dan tidak diganggu oleh Dinda maupun Kanaya.

Begitu sampai di rumah sakit di Jakarta, kehadiran Yoga dan Anindya membuat gempar para staf medis. Mereka tidak menyangka mantan direktur mereka akan kembali dengan membawa istri yang begitu cantik dan berjalan tegak di sampingnya.

Saat mereka tiba di depan ruang perawatan Dokter Reza, terlihat Ibu Kanaya sedang duduk menangis. Begitu melihat Yoga, wajahnya berubah antara malu, takut, dan penuh sesal. Namun, saat matanya beralih ke Anindya—wanita yang dulu pernah ia hina kelumpuhannya—Kanaya benar-benar terpaku. Anindya berdiri di sana dengan anggun, memegang tangan Yoga, menunjukkan bahwa dia telah memenangkan segalanya.

Suasana di ruang perawatan Dokter Reza seketika berubah menjadi emosional dan penuh ketegangan yang mengharu biru. Kebenaran yang selama ini terkubur puluhan tahun mulai terkuak hanya dari sebuah tatapan mata.

Dokter Reza menatap Anindya dengan saksama. "Wajahmu... sangat mirip dengan Kanaya saat masih muda," bisiknya dengan suara gemetar.

Kanaya Dewi pun tak kuasa menahan diri. Ia merasa ada ikatan batin yang sangat kuat saat melihat Anindya berjalan masuk. Ketika Anindya menyebut nama Reno dan Nenek Lastri, Kanaya hampir jatuh terduduk. Reno adalah mantan supir pribadi keluarga mereka yang menaruh dendam dan menghilang membawa lari bayi mereka 25 tahun lalu.

Satu minggu masa penantian di Jakarta terasa begitu panjang bagi Yoga dan Anindya. Mereka memilih menginap di hotel agar tetap bisa memantau kondisi Dokter Reza yang kian membaik. Harapan untuk sembuh seolah memberi kekuatan ekstra bagi Dokter Reza agar bisa melihat hasil tes itu sendiri.

Hari itu, di ruang kerja Dokter Reza yang mewah, suasana begitu hening. Dokter Reza yang sudah duduk di kursi rodanya memegang amplop cokelat besar dari laboratorium. Di sampingnya, Kanaya Dewi menggenggam tangan Anindya dengan sangat erat, seolah takut kehilangan lagi.

Dokter Reza membuka amplop itu dengan tangan gemetar. Ia membaca baris demi baris hasil analisis genetika tersebut.

"99,9%..." Dokter Reza terisak. "Anindya... kamu adalah Nayla Dewi. Kamu adalah putri kami yang hilang."

Kanaya Dewi langsung memeluk Anindya dengan tangis histeris. "Maafkan Mama, Sayang... Maafkan Mama karena tidak bisa menjagamu dulu. Reno menculikmu untuk membalas dendam karena dia dipecat, dan kami mencarimu ke seluruh penjuru negeri tapi tidak pernah ketemu."

Anindya terdiam membeku. Ia tidak pernah menyangka bahwa pria yang selama ini ia benci keluarganya—pria yang menjadi ayah dari mantan istri suaminya—ternyata adalah ayah kandungnya sendiri.

Yoga merangkul Anindya, mencoba menenangkan istrinya yang masih shock. "Ini takdir yang luar biasa, Anin. Ternyata Mas tidak pernah benar-benar jauh dari keluarga ini, karena kamulah pemilik sebenarnya dari darah keluarga Dewi."

Namun, sebuah kenyataan pahit menyeruak di pikiran semua orang: Jika Anindya adalah anak kandung Dokter Reza, maka Dinda Dewi adalah adik tirinya.

Kemarahan dan Kecemburuan Dinda

Pintu ruangan tiba-tiba terbuka kasar. Dinda Dewi berdiri di sana dengan wajah pucat dan mata merah. Ia telah mendengar semuanya dari balik pintu.

"Jadi... dia adalah kakakku? Wanita yang merebut Yoga dariku adalah anak yang selalu Papa tangisi setiap malam?" teriak Dinda histeris. "Ini tidak adil! Dia sudah mengambil Yoga, dan sekarang dia mengambil posisiku sebagai putri sulung di keluarga ini?"

Kanaya berdiri dan menatap Dinda dengan tegas. "Dinda, hentikan! Anindya adalah kakakmu. Selama ini kita hidup dalam kemewahan sementara dia menderita di tangan Reno dan bahkan sempat lumpuh! Kamu seharusnya malu pada dirimu sendiri!"

Dinda tertawa sinis, ia merasa dunianya runtuh sepenuhnya. Ia yang selama ini merasa paling berkuasa karena statusnya sebagai putri Dokter Reza, kini harus menerima kenyataan bahwa Anindya—wanita yang selalu ia hina—memiliki hak yang lebih besar atas segalanya.

Dokter Reza memegang tangan Yoga dan Anindya. "Yoga... Papa titipkan Nayla kepadamu. Sekarang Papa mengerti kenapa Papa selalu merasa kamu adalah anak laki-laki Papa. Karena takdir ingin kamu menjaga putri kandung Papa."

Yoga mengangguk mantap. "Saya akan menjaga Anindya—atau Nayla—dengan seluruh hidup saya, Pa."

Anindya pun perlahan mulai menerima kenyataan ini. Ia memeluk Dokter Reza dan Kanaya, meski hatinya masih terasa canggung. Namun, satu hal yang pasti: dendam masa lalu telah lunas dengan cara yang tidak pernah dibayangkan oleh siapa pun.

1
Lisna Wati
mana lanjutan nya
Siti Amyati
kok di bikin muter terus ceritanya baru bahagia udah di kasih konflik
yuningsih titin: makasih komentar nya kak
total 1 replies
yuningsih titin
bastian memang serigala berbulu domba....
Siti Amyati
ceritanya sekarang kok di bikin muter" jadi ngga sesuai alurnya
yuningsih titin: makasih komentar nya kak, biar seru dikit kak, muter muter dikit ya
total 1 replies
yuningsih titin
makasih komentar nya👍
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
❀ ⃟⃟ˢᵏAcha Loveria Valerie♡
Semangat Yogaa
❀ ⃟⃟ˢᵏAcha Loveria Valerie♡
SAHHH KATA INI PAS UDAH DIUCAPIN KITA UDAH BUKAN PUNYA ORANG TUA TETAPI PUNYA SUAMI KITA DAN PASTINYA BAKAL SIAO NANGGUNG SEMUA KEWAJIBAN DAN TUGAS YANG HARUS KITA LAKUIN.
yuningsih titin: makasih komentar nya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!