Ryn Moa memilih kampusnya demi satu alasan: Kim Taehyung, pria yang telah lama ia sukai. Namun upayanya mendekati Taehyung justru membawanya pada ketertarikan lain-J-Hope, sahabat Taehyung yang ceria.
Di tengah perasaan yang berubah-ubah itu, hadir Kim Namjoon, teman mereka yang tidak setampan dua pria sebelumnya, tetapi memiliki ketenangan, kecerdasan, dan senyum manis yang perlahan merebut hati Ryn Moa.
Tanpa disadari, pencariannya akan cinta membawanya menemukan sosok yang paling tepat, justru dari arah yang tak pernah ia duga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.30
Keesokan paginya, Taehyung melihat Ryn Moa masuk kelas dengan kemeja warna pastel yang terlihat begitu sangat cocok dengannya. Tanpa sadar, kali ini ia memperhatikannya lebih lama. Bahkan sebelum gadis itu benar-benar melangkah masuk, mata Taehyung sudah terangkat dari meja. Seolah ada radar khusus yang otomatis aktif setiap kali gadis itu berada di ruangan yang sama. Ia tidak berniat menatap. Ia tidak berniat memperhatikan. Tapi tubuhnya mengkhianatinya dengan mudah. Warna pastel itu lembut dan tidak mencolok, tapi justru membuat Ryn Moa terlihat segar. Rambutnya dibiarkan terurai sebagian, wajahnya cerah meski matanya sedikit terlihat lelah. Ia berjalan sambil berbincang dengan teman-temannya, senyumnya muncul sesekali. Taehyung menelan ludah. Ada sesuatu yang menusuk dadanya, bukan sakit, tapi perasaan tertarik yang tidak mau pergi. Ryn Moa terlihat berbeda hari ini. Atau mungkin ia yang melihatnya dengan cara yang berbeda sekarang. Taehyung duduk di bangku tengah, buku terbuka di hadapannya, tapi matanya sama sekali tidak membaca. Huruf-huruf di halaman hanya menjadi bentuk tanpa makna. Fokusnya sepenuhnya tertuju pada gerak kecil Ryn Moa, cara gadis itu menyelipkan rambut ke belakang telinga, cara bahunya bergerak ketika tertawa pelan bersama teman-temannya.
“Hyung,” panggil Jungkook. “Kau mau aku ambilkan kursi? Atau ambulans sekalian?”
Taehyung menoleh, alisnya berkerut.
“Kenapa ambulans? Apa hubungannya?”
“Biar mereka bisa menolong jantungmu yang lagi kusut.”
Nada Jungkook santai, tapi sorot matanya terlalu peka untuk dianggap bercanda sepenuhnya. Ia menyeringai kecil, seperti dokter gadungan yang baru saja mendiagnosis penyakit kronis. Taehyung mendesah, Ia tahu Jungkook benar. Dan itu membuatnya semakin tidak nyaman.
Sejak kapan perasaannya menjadi seterlihat ini? Sejak kapan ia jadi orang yang mudah terbaca?
Taehyung membenci kenyataan bahwa orang lain bisa melihat kekacauan yang bahkan belum ia akui sepenuhnya pada dirinya sendiri. Taehyung menutup bukunya pelan. Ada dorongan aneh di dadanya, campuran keberanian mendadak dan rasa takut kehilangan. Sebelum pikirannya berubah lagi, ia berdiri. Ia tidak mau lagi hanya berdiri di pinggir. Tidak mau hanya menonton dari jauh. Jika ia terlambat satu langkah, maka setidaknya langkah berikutnya harus ia ambil sendiri. Ia memutuskan mendekati Ryn Moa. Langkahnya mantap, meski jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Beberapa teman Ryn Moa menyadari kehadirannya dan mulai saling sikut diam-diam. Ida langsung memasang wajah seolah berkata ini akan menarik. Melly menggeser posisi duduknya setengah centimeter, siap merekam kalau perlu, meski hanya di ingatan.
“Ryn,” panggilnya.
Suara Taehyung tidak keras, tapi cukup jelas. Ada getar kecil yang bahkan ia sendiri sadari. Ryn Moa menoleh.
“Oh! Taehyung. Ada apa?”
Senyumnya Ryn Moa terlihat sopan menurut Taehyung. Senyum itu bukan senyum yang sama seperti kemarin. Bukan senyum lepas saat bersama J-hope ataupun senyum nyaman saat bersama Namjoon. Tetapi ituu senyum jarak aman.
“Sudah Sarapan?” tanyanya,
hal yang langsung membuat Ida dan Melly yang duduk dekat situ menoleh dengan mata melebar seperti lampu neon. Wajah Ida berubah penuh kejutan. Melly hampir menjatuhkan ponselnya. Dalam sepersekian detik, seluruh baris bangku itu berubah menjadi penonton setia. Bahkan mahasiswa yang awalnya sibuk membuka laptop kini pura-pura mengikat tali sepatu.
“A… sudah,” jawab Ryn Moa gugup.
Ia tidak tahu kenapa ia gugup. Pertanyaan itu sederhana. Tapi nada Taehyung, dan perhatian seisi kelas, membuatnya salah tingkah.Tangannya refleks meremas tali tas. Otaknya bekerja cepat, terlalu cepat. Kenapa rasanya seperti sedang diuji di depan umum?
“Ada kelas bareng nanti. Mau jalan sama-sama?”
Kalimat itu jatuh seperti bom kecil. Tidak ada teriakan. Tidak ada ledakan. Tapi efeknya terasa ke seluruh ruangan. Ryn Moa terkejut. Ida tersedak minum. Windi mencubit Ody. Celine menjatuhkan pulpen. Arella ternganga. Satu kelas berubah menjadi panggung teater dadakan. Bahkan dosen yang belum datang seolah bisa merasakan aura kekacauan kecil itu dari kejauhan. Suasana kelas berubah seketika. Beberapa mahasiswa menahan tawa. Beberapa lainnya pura-pura tidak mendengar tapi jelas memasang telinga. Dan di seberang ruangan, Namjoon yang sedang mengatur tas menoleh perlahan. Ia tidak berniat menguping. Tapi suara Taehyung cukup jelas. Dan nama Ryn Moa terlalu familiar untuk diabaikan. Senyumnya hilang sedikit. Tidak sepenuhnya, tapi cukup jelas. Ada kilatan sesuatu di matanya, sesuatu yang jarang muncul. Bukan marah. Lebih seperti… kecewa kecil yang tidak ia akui. Tangannya berhenti sejenak di resleting tas. Hanya sepersekian detik. Tapi cukup untuk membuat dadanya terasa aneh.
“A, aku… ada urusan sama J-hope habis ini,” jawab Ryn Moa buru-buru.
Kata-kata itu keluar lebih cepat dari yang ia rencanakan. Ia tidak berbohong. Tapi juga tidak sepenuhnya jujur pada perasaannya sendiri. Ia bahkan tidak menoleh ke arah Namjoon saat mengucapkannya, dan itu justru membuat dadanya semakin tidak tenang. Taehyung mengangguk pelan. Ia tersenyum tipis, tapi tidak sampai ke matanya.
“Baik. Lain kali mungkin.”
Nada suaranya ringan. Terlalu ringan seperti orang yang sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan ditolak, dan tetap melangkah meski lututnya goyah. Ia melangkah mundur, kembali ke tempat duduknya. Jungkook menatapnya dengan ekspresi campur aduk antara simpati dan ingin menertawakan.
“Hyung,” bisik Jungkook pelan. “Kau barusan sangat berani.”
“Dan sangat gagal,” balas Taehyung lirih.
Jungkook terkekeh.
“Setidaknya kau tidak pingsan.”
Di sisi lain kelas, Namjoon kembali menunduk, mengatur tasnya, wajahnya kembali netral. Tapi dadanya terasa sedikit lebih berat dari biasanya. Ia tidak menyalahkan siapa pun. Tidak juga merasa berhak. Tapi kenyataan bahwa Taehyung berani bertanya, dan Ryn Moa menjawab dengan ragu, menyisakan ruang kosong yang mengganggu. Ryn Moa duduk kembali di bangkunya, menatap buku kosong di hadapannya. Pikirannya kacau. Ada Namjoon dengan ketenangannya. Ada Taehyung dengan ketulusan yang terlambat. Ada J-hope yang entah kenapa selalu ada di sela-sela semuanya. Ida mencondongkan badan, berbisik cepat,
“Kau barusan ditanya jalan bareng di depan umum.”
Ryn menutup wajahnya sebentar.
“Aku tahu.”
“Dan kau bilang urusan sama Jhope,” sambung Melly, setengah tertawa.
“Aku panik!”
“Panikmu membuat dua cowok tampan krisis emosional,” kata Ida dramatis.
Ryn Moa mendesah panjang. Tiga hati. Tiga arah. Tidak satu pun benar-benar sinkron. Dan di antara tawa kecil, tatapan curi-curi, dan perasaan yang berubah-ubah, satu hal menjadi jelas, cerita ini baru saja mulai menjadi rumit dan jauh lebih menarik.
...⭐⭐⭐...
Bersambung....