Thomas Watson—Presiden Amerika Serikat termuda yang pernah menjabat, dengan approval rating 91% dan dijuluki "The People's President" ia meninggal dalam serangan jantung mendadak di usia 52 tahun. Namun kematiannya bukanlah akhir.
Ia terbangun dalam tubuh Arthurian Vancroft, satu-satunya Archduke di Kekaisaran Valcrest—seorang legenda hidup yang dijuluki "The Crimson Aegis" karena kehebatannya yang mampu memusnahkan pasukan iblis sendirian. Tapi ada masalah besar: tubuh ini sekarat.
Dua bulan lalu, Arthur bertarung melawan Demon god Zarathos dan menang—tetapi dengan harga mengerikan. Dia kehilangan 92% kekuatannya.
Lebih buruk lagi? Apapun yang terjadi tidak ada yang boleh tahu.
Jika musuh-musuh politiknya—para Duke serakah, bangsawan korup, dan faksi-faksi yang iri dengan kekuasaannya yang hampir setara Kaisar—mengetahui kelemahannya, mereka pasti tidak akan tinggal diam.
bagaimana kisah selanjutnya? Ayo kita lihat bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BlueFlame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6. Pujian
"Kau... sejak kapan kau paham strategi bisnis?"
Arthur hanya tersenyum, tanpa memberikan jawaban.
Valerine menarik napas jengkel karena tidak mendapat respons.
“Baiklah. Kita lanjut ke permasalahan kedua,” katanya. “Dan ini, bisa dibilang, cukup parah.”
Ia membuka peta wilayah Vancroft.
“Hasil panen musim gugur turun empat puluh persen karena tidak ada koordinasi distribusi bibit. Tiga jalur perdagangan darat utama dialihkan oleh Duke Willy dan Marquis Berto—mereka meyakinkan para pedagang bahwa wilayah kita tidak aman.”
Ia berhenti sejenak. “Selain itu, ada dua belas kasus bandit yang tidak tertangani karena pasukan kita—yang biasanya kau pimpin langsung—tidak tahu harus mengikuti perintah siapa.”
Jari ramping Valerine menunjuk berbagai titik di peta, satu per satu.
“Aku sudah melakukan semua yang kubisa,” lanjutnya. “Menggunakan nama Vancroft untuk menstabilkan situasi, mengirim surat-surat resmi, menghadiri pertemuan-pertemuan yang kau lewatkan.”
Nada suaranya menurun sedikit. “Tapi aku bukan Archduke.”
Valerine menatap Arthur lurus.
“Rakyat menghormati namaku. Tapi mereka takut pada namamu. Dan rasa takut yang sehat itu… itulah yang menahan musuh-musuh politik kita agar tidak menyerang secara terang-terangan.”
Arthur mengamati peta itu dengan saksama.
“Kau sudah punya rencana,” kata Arthur—bukan sebagai pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan. Ia bisa melihatnya dari cara Valerine membentangkan peta, dari tanda-tanda berwarna yang ditempatkan dengan terlalu rapi untuk sekadar improvisasi.
Valerine tersenyum tipis.
“Tentu saja aku punya rencana,” balasnya.
“Kukira kau akan pingsan lagi sebelum sempat menyadarinya.”
Ia lalu menarik selembar kertas lain—penuh dengan tulisan rapi dan diagram yang tersusun dengan rapi.
“Pertama,” Valerine mulai, “kita tidak bisa merebut kembali jalur perdagangan dengan kekuatan. Kau bahkan tidak bisa mengangkat pedang tanpa batuk darah.”
Nada suaranya datar, faktual. “Jadi kita lakukan dengan cara lain—insentif. Kita tawarkan pembebasan pajak impor selama enam bulan bagi pedagang yang menggunakan jalur kita. Kita bangun gudang gratis di pelabuhan selatan. Dan kita berikan jaminan keamanan dengan pasukan—meski kau tidak memimpin mereka langsung, mereka masih cukup terlatih untuk mengawal pedagang.”
Sebenarnya, Pasukan Crimson Guard sangat kuat. Masalahnya bukan kemampuan, melainkan loyalitas. Mereka terlalu fanatik—tidak akan menerima perintah dari siapa pun selain Arthur, entah itu perintah langsung atau sekadar titah.
Dan Valerine tidak berminat membuang waktu untuk berdebat dengan pasukan yang setia secara membuta seperti itu.
Arthur mengangguk perlahan.
Cerdas
“Kedua: pertanian,” lanjut Valerine. “Kita tidak bisa mengembalikan hasil panen yang sudah hilang, tapi kita bisa mempersiapkan musim semi. Aku sudah menghubungi Guild Pertanian—mereka bersedia mengirim ahli agronomi jika kita membayar dengan harga yang wajar. Kita juga bisa membeli bibit dari Duchy Silvaine—keluargaku—dengan harga diskon.”
Ia berhenti sejenak. “Yah, aku masih punya sedikit kekuasaan di sana.”
“Kemudian yang ketiga: keamanan.”
Nada Valerine mengeras. “Bandit-bandit itu bukan bandit biasa. Mereka terlalu terorganisir. Aku mencurigai ada dukungan dari musuh politik—kemungkinan besar Duke Willy atau Marquis Berto. Kita tidak bisa menyerang secara langsung tanpa bukti, tapi kita bisa memasang perangkap.”
Ia menatap Arthur lurus.
“Aku punya… sedikit hubungan dengan dunia bawah. Mereka bisa membantu melacak sumber pendanaan para bandit itu.”
Valerine berhenti berbicara, lalu menatap Arthur— menunggu komentarnya.
“Ada komentar?”
Arthur terdiam sejenak, memproses semua yang baru saja ia dengar. Ia menarik napas dalam-dalam.“Aku punya satu pertanyaan.”
Perlahan, ia mengangkat pandangan dan menatap mata Valerine.
“Kenapa kau melakukan semua ini?” tanyanya lembut.
Valerine tersentak kecil—jelas tidak menyangka pertanyaan itu.
“Apa?”
“Kau membenciku,” lanjut Arthur tenang. “Kau sendiri yang mengatakan pernikahan kita hanyalah formalitas politik. Kau bisa saja membiarkan semuanya runtuh. Membiarkanku mati.”
Ia berhenti sejenak. “Lalu kembali ke kediaman Silvaine dengan alasan bahwa kau sudah berusaha, tapi suamimu terlalu lemah untuk diselamatkan.”
Arthur sedikit bersandar ke depan.
“Tapi kau tidak melakukan itu,” katanya pelan. “Kau menjalankan wilayah ini. Menstabilkan ekonomi. Menghadapi bangsawan-bangsawan itu sendirian.”
Sudut bibirnya terangkat tipis. “Kau bahkan… mengurusku. Walaupun telingaku harus menderita mendengar dumelanmu setiap hari.”
Valerine menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Lalu ia menghela napas dan meletakkan cangkir tehnya, menghasilkan bunyi kecil yang memecah keheningan.
“Karena aku bukan kau,” katanya dingin. “Aku tidak memandang rakyat sebagai alat. Dua puluh tiga juta orang hidup di wilayah ini. Mereka tidak peduli apakah kita saling membenci atau tidak.”
Ia berhenti sejenak. “Mereka hanya ingin hidup dengan aman, makan dengan cukup, dan memberi masa depan bagi anak-anak mereka.”
Valerine menatap Arthur tepat di mata.
“Jadi ya, aku melakukan semua ini. Bukan untukmu.”
Nada suaranya tak goyah. “Tapi untuk mereka.”
Arthur merasakan sesuatu yang hangat di dadanya—bukan karena Mana Heartnya yang rusak, tapi karena Ia merasa… senang.
Dia sama sepertiku, pikirnya. Menempatkan rakyat di atas ambisi pribadi. Dia akan menjadi pemimpin yang hebat, jika diberi kesempatan.
“Kau luar biasa,” kata Arthur akhirnya, dengan tulus—
Valerine membeku.
Lalu wajahnya… sedikit memerah. Sangat tipis, nyaris tak terlihat—hanya semburat di pipi yang biasanya seputih salju.
"A—apa?" Ia terlihat benar-benar terkejut.
“Aku serius,” lanjut Arthur. “Semua yang kau lakukan—rencana ekonomi, menstabilkan wilayah seorang diri—itu…”
Ia berhenti sejenak, memilih kata. “Aku tidak yakin bisa melakukannya lebih baik, bahkan dalam kondisi terbaikku. Kau… benar-benar berbakat.”
Valerine menatapnya dengan mata melebar, seolah Arthur baru saja mengatakan sesuatu dalam bahasa alien.
Lalu ia berdiri tiba-tiba, berbalik memunggungi Arthur, berjalan ke jendela dengan langkah yang sedikit... terburu-buru.
"Kau demam," Valerine bergumam dengan suara yang sedikit lebih tinggi dari biasanya. "Mana Heart-mu pasti mempengaruhi otakmu. Kau bicara omong kosong."
Namun Arthur bisa melihatnya—dari pantulan kaca jendela—wajah Valerine benar-benar memerah sekarang.
Ia tidak terbiasa dipuji. Arthur menyadari itu, dan entah kenapa, hal tersebut justru membuat dadanya terasa sedikit sesak. Dari ingatan Arthur yang asli, ia bisa memahami betapa keras kehidupan yang dijalani Valerine.
Padahal ia memujinya karena ia memang luar biasa—namun Valerine justru menganggapnya sebagai omong kosong.
Arthur berdiri perlahan. Ia melangkah mendekat, tapi tidak terlalu dekat—menjaga jarak yang sopan, cukup untuk tidak membuatnya merasa terpojok.
“Valerine,” katanya lembut.
“Apa?”
Valerine tidak berbalik. Suaranya masih terdengar defensif.
“Aku ingin bekerja sama denganmu,” lanjut Arthur. “Ayo… jadilah satu tim. Kita bangun wilayah ini bersama.”
Valerine terdiam cukup lama.
Lalu ia berbalik perlahan, menatap Arthur dengan ekspresi yang kompleks—campuran antara skeptis, kebingungan, dan sesuatu yang bahkan Arthur sendiri tidak bisa sepenuhnya ia pahami.
“Kau benar-benar akan mati, ya?” katanya akhirnya, suaranya lebih pelan. “Perubahan sikapmu itu… seperti mitos zaman dulu. Tentang orang yang berubah ketika ajalnya sudah dekat.”
Arthur tersenyum tipis—
“Mungkin,” jawabnya.
Pada akhirnya, mereka kembali duduk dan melanjutkan diskusi.
Arthur mengemukakan satu ide demi ide, sementara Valerine menambahkan detail dan pertimbangan praktis. Keamanan perbatasan—reorganisasi patroli dengan sistem rotasi yang lebih efisien. Magic Academy—merekrut para alumni sebagai mentor, menawarkan beasiswa bagi siswa berbakat dari keluarga kurang mampu untuk meningkatkan reputasi sekaligus kualitas akademi.
Waktu berlalu tanpa terasa.
Dua jam kemudian, cahaya sore meredup menjadi senja. Api biru di perapian menyala lebih terang, memantulkan bayangan lembut di dinding ruangan.
Akhirnya, Valerine meletakkan penanya dan bersandar di kursi. Ia menatap tumpukan catatan di hadapan mereka—hasil kerja bersama yang belum pernah terjadi sebelumnya.
“Ini…” katanya pelan, “…adalah percakapan paling produktif yang pernah kita miliki.”
Arthur tersenyum lelah. Tubuhnya mulai memberontak, nyeri pelan yang tak bisa lagi ia abaikan.
“Senang rasanya bisa berguna.”
Valerine menatapnya—mata perak itu masih waspada.
“Aku tidak tahu apakah aku harus merasa lega,” katanya, “atau justru curiga dengan perubahanmu yang tiba-tiba ini.”
“Kau boleh merasakan keduanya,” jawab Arthur. “Aku tidak mengharapkan kepercayaan instan. Tapi aku berharap…”
Ia berhenti sejenak. “Ini bisa menjadi awal yang baik.”
Valerine terdiam cukup lama.
Lalu ia berdiri dan meraih tumpukan catatan di meja. “Aku akan mulai mengimplementasikan semua ini besok,” katanya. Nada suaranya kembali profesional—namun tidak sedingin sebelumnya.
Ia menoleh sedikit. “Tapi jika kau tiba-tiba kembali menjadi idiot arogan seperti dulu, aku akan membekukanmu dan menaruhmu di halaman sebagai patung es.”
Arthur ikut berdiri, menahan seringai ketika tubuhnya protes.
“Tentu,” katanya ringan. “Dengan senang hati.”
Mereka berdiri berhadapan—dua orang yang terikat oleh kontrak politik, namun mungkin, untuk pertama kalinya, saling memandang sebagai partner.
“Arthur,” panggil Valerine saat ia berbalik hendak pergi.
“Ya?”
Ia melirik dari balik bahu, ekspresinya sulit dibaca.
“Terima kasih. Untuk… hari ini.”
Sebelum Arthur sempat menjawab, Valerine sudah melangkah pergi, menghilang di antara rak-rak buku perpustakaan.
Arthur tertinggal sendirian—dengan senyum kecil yang tak ia sadari masih bertahan di wajahnya.
DING.
╔══════════════════════════════════╗ ║ 【QUEST COMPLETE】 ║ ╚══════════════════════════════════╝
Quest: First True Conversation
Status: SUCCESS
Rewards:
◈ +8% Relationship dengan Valerine (-15%–> -7%)
🤭🤭