NovelToon NovelToon
Cintaku Nyangkut Di Utang Kopi

Cintaku Nyangkut Di Utang Kopi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita / Romansa / Komedi / Slice of Life / Urban
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Gia mengira hidupnya sudah berakhir saat karier cemerlangnya di Jakarta hancur dalam semalam akibat fitnah dari mantan tunangannya, Niko. Pulang ke kampung halaman untuk menjaga kedai kopi tua milik ayahnya adalah pilihan terakhir untuk menyembuhkan luka.
Namun, kedai itu ternyata sarang para pengutang! Yang paling parah adalah Rian, tukang bangunan serabutan yang wajahnya selalu belepotan debu semen, tapi punya rasa percaya diri setinggi langit. Rian tidak punya uang untuk bayar kopi, tapi dia punya sejuta cara untuk membuat hari-hari Gia yang suram jadi penuh warna—sekaligus penuh amarah.
Saat Gia mulai merasa nyaman dengan kesederhanaan desa dan aroma kopi yang jujur, masa lalu yang pahit kembali datang. Niko muncul dengan kemewahannya, mencoba menyeret Gia kembali ke dunia yang dulu membuangnya.
Di antara aroma espresso yang pahit dan senyum jail pria tukang utang, ke mana hati Gia akan berlabuh? Apakah kebahagiaan itu ada pada kesuksesan yang megah, atau justru nyangkut di dalam d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Strategi di Atas Martabak Dingin

Sisa martabak semalam masih ada di atas meja bar, tapi selera makan Gia sudah hilang entah ke mana. Ia duduk melamun menatap pintu kayu yang tadi malam hampir saja jebak oleh anak buah Niko. Kejadian semalam bukan sekadar gertakan; Niko benar-benar ingin menghancurkan satu-satunya tempat persembunyian yang Gia miliki.

"Kalau aku terus-terusan takut, dia menang," gumam Gia. Ia mengepalkan tangannya.

Niko selalu berpikir uang bisa membeli segalanya, termasuk martabat orang lain. Gia tahu, cara terbaik untuk membalas pria seperti Niko bukan dengan makian, melainkan dengan membuktikan bahwa ia bisa sukses tanpa bantuan (atau gangguan) dari pria itu.

Tak-tek-tak-tek.

Suara itu datang lebih awal pagi ini. Rian muncul dengan kaus oblong warna biru langit yang sudah tipis di bagian kerah. Wajahnya tampak segar, seolah kejadian baku hantam semalam hanya dianggapnya sebagai olahraga malam biasa.

"Pagi, Neng Bos! Mana kopi janji semalam? Saya sudah siap tempur nih, meskipun perut baru diisi angin," seru Rian sambil langsung duduk di kursi favoritnya.

Gia menatap Rian dalam-dalam. "Rian, kenapa kamu bantuin aku semalam? Kamu bisa saja kena masalah besar gara-gara aku."

Rian terdiam sejenak saat sedang merogoh saku celananya untuk mencari pemantik api—yang kemudian ia simpan lagi saat melihat tanda 'Dilarang Merokok' yang baru dipasang Gia. "Masalah? Neng, di dunia ini nggak ada yang nggak punya masalah. Bedanya, ada masalah yang layak dihadapi, ada yang nggak. Jagain kamu dari orang sombong itu... menurut saya layak-layak saja."

Gia merasakan sesuatu yang hangat menjalar di dadanya. "Niko nggak akan berhenti. Dia bakal terus teror kedai ini. Kalau aku nggak buat kedai ini sukses dan punya pengaruh, dia bakal dengan mudah meratakan tempat ini."

Rian menyesap kopi yang baru saja diletakkan Gia di depannya. "Nah, itu dia. Masalahnya, kedai kamu ini... gimana ya ngomongnya... terlalu 'jakarta'."

"Maksud kamu?" Gia mengernyitkan dahi.

"Kamu pakai mesin mahal, biji kopi mahal, tapi suasananya kaku. Orang desa itu nggak butuh latte art bentuk hati, Neng. Mereka butuh tempat yang bikin mereka ngerasa kayak di rumah sendiri, tapi punya rasa yang bikin mereka ngerasa kayak orang kaya," Rian menjelaskan sambil menggerakkan tangannya secara ekspresif.

Gia mulai tertarik. "Terus, ide kamu apa? Aku nggak punya modal lagi buat renovasi."

Rian mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya berkilat cerdas. "Kita nggak butuh modal uang banyak. Kita butuh modal 'cerita'. Orang kota itu haus sama yang namanya authenticity—keaslian. Gimana kalau kita ubah konsepnya? Jangan cuma kedai kopi. Jadiin tempat ini 'Rumah Cerita'. Setiap orang yang beli kopi, boleh nulis satu kalimat di dinding kayu itu tentang apa saja. Kesedihan, harapan, atau sekadar utang yang belum lunas."

Gia terdiam, otaknya yang terbiasa dengan strategi pemasaran mulai berputar cepat. "Dan kita pakai media sosial? Aku bisa ambil foto yang bagus. Konten yang aesthetic tapi punya jiwa..."

"Tepat!" Rian menjentikkan jarinya. "Dan satu lagi. Menu andalannya jangan cuma espresso. Bikin sesuatu yang cuma ada di sini. Apa ya... kopi dicampur rempah dari kebun belakang Bapakmu, misalnya?"

Gia tersenyum lebar. Ini dia. Ini sisi kemanusiaan yang ia cari. Bukan sekadar bisnis kaku, tapi sesuatu yang menyentuh hati. "Kopi Jahe Gula Aren dengan foam susu yang tebal. Kita sebut saja 'Kopi Semangat Rian'?"

Rian tertawa terbahak-bahak. "Aduh, jangan pakai nama saya, nanti banyak cewek desa yang antre, saya nggak kuat ngeladeninnya."

Sepanjang pagi itu, mereka berdua tenggelam dalam rencana. Gia mencatat segala ide di buku utang—yang kini fungsinya berubah menjadi buku strategi. Untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki kembali di desa, Gia merasa punya tujuan yang nyata.

Namun, di tengah keriuhan rencana itu, Gia tidak sengaja melihat tangan Rian yang sedang menggambar sketsa tata letak meja di atas tisu. Sketsanya sangat rapi, menggunakan perspektif arsitektur yang sangat akurat.

"Rian," panggil Gia pelan.

"Hmm?"

"Tukang bangunan nggak biasanya bisa bikin sketsa arsitektur se-detail itu, lengkap dengan perhitungan bebannya."

Rian mendadak menghentikan goresan penanya. Ia menatap sketsa itu, lalu dengan cepat meremas tisu tersebut dan membuangnya ke tempat sampah. Wajahnya kembali santai, namun ada kilat kepedihan yang melintas sangat cepat di matanya.

"Ah, itu... dulu saya sering liatin mandor saya gambar. Jadi cuma asal tiru saja. Sudah ya, saya harus ke proyek. Semennya sudah nunggu," ujar Rian sambil berdiri terburu-buru.

Gia menatap punggung Rian yang menjauh. Satu rahasia lagi terungkap, atau setidaknya, satu petunjuk lagi muncul. Rian bukan sekadar prajurit yang jago berkelahi; dia memiliki otak seorang perancang.

Siapa kamu sebenarnya, Rian? Kenapa pria dengan bakat sehebat itu memilih menjadi tukang bangunan yang bersembunyi di balik kaus oblong pudar?

Gia berjalan menuju tempat sampah, mengambil remasan tisu itu, dan menyimpannya baik-baik. Ia tahu, di balik misi membangun kedai ini, ia juga punya misi lain: mengungkap siapa sebenarnya pria yang telah menyelamatkan hidup dan hatinya semalam.

1
Satri Eka Yandri
penasaran pov gia wktu di kota,di fitnah apa yah?
Sefna Wati: ayo baca bab selanjutnya kak
biar GK penasaran waktu gia di kota kenapa difitnah🥰🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!