Di dunia yang penuh dengan keajaiban, di mana yang Abadi mampu membelah lautan dan menghancurkan gunung, di mana Akar Roh menjadi penentu antara yang fana dan yang Abadi, jiwa lain bangkit di tubuh manusia fana.
Dengan kitab harta karun yang ia peroleh, jiwa itu membawa tekad untuk bertahan di dunia yang kejam. Ia melangkah ke dunia kultivasi, menciptakan klan kultivasinya sendiri. Setiap langkah adalah perlawanan, setiap kemajuan dipenuhi berbagai rintangan dan cobaan.
Namun ia ditakdirkan untuk tidak menjadi biasa-biasa saja.
Ia ditakdirkan untuk mencapai sesuatu yang besar.
Saksikan bagaimana seorang manusia fana memulai jalan kebangkitan untuk klannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hdibibu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch.11 - Berburu dan Klan
Yan Lei menatap tumpukan daging yang berserakan, dan setelah diskusi singkat, mereka memutuskan untuk menyimpan setengah dari Macan Tutul Biru yang kecil, dan memberikan setengahnya lagi pada beberapa kenalan dan tetangga.
Sedangkan untuk daging Macan Tutul Biru sebesar kerbau, mereka akan membawanya ke kota dan menjualnya bersama dengan kulit, cakar dan taring-taringnya.
Adapun jeroan dan tendon, itu memiliki khasiat menyehatkan tubuh. Yan Lei berencana membawanya ke apoteker Lu Xen untuk diracik dan dibagikan pada setiap anak di desa.
Setiap generasi perlu dibina. Yan Lei sudah punya rencana garis besar di pikirannya, dan mereka adalah bagian penting dari rencana tersebut.
Setelah para tetangga tidak lagi mengganggu dan kembali ke rumah mereka masing-masing, Yan Sue mulai menyiapkan makan malam.
Ada kepala desa yang datang bersama beberapa pria dan beberapa tetua, sehingga hidangan yang dia siapkan lumayan banyak. Dia bahkan menyeret Yan Xie untuk membantunya di dapur.
Sementara Yan Lei dan kedua saudaranya sedang duduk menjamu tamu di ruang tamu. Mereka duduk beralaskan tikar, menikmati minuman keras simpanan Yan Wei, saling berceloteh dan tertawa di antara mereka.
Saat itu salju jatuh dari langit, dan udara semakin dingin menusuk tulang. Tungku api yang menyala-nyala membawa kehangatan di tengah percakapan hangat itu.
Setelah Yan Sue menyajikan hidangan dan setelah ikut makan bersama mereka, dia segera membersihkan tumpukan piring kotor sebelum ikut bergabung bercerita. Yan Xie sudah tidur. Anak itu terlalu bersemangat hari ini.
“Lei’er.. “ akhirnya, sang kepala desa segera memasuki masalah utama, “kami baru saja berbicara dan berpikir sudah saatnya mengajukan petisi sebagai pengikut Klan Sue. Hanya saja kami butuh persetujuanmu..” ia lalu menceritakan berbagai seluk beluk dan alasan di balik keputusan tersebut.
Yan Lei terdiam. Dia menatap wajah mereka yang penuh harap, dan kepalanya menggeleng pelan. Ucapnya, “bukannya saya tidak ingin, hanya saja saya tidak bisa.”
Keputusannya menggantung di udara, dan sebelum kepala desa bertanya lebih jauh, dia melambaikan tangannya dan lanjut menjelaskan, “tetua.. daripada menjadi pengikut klan lain, mengapa kita tidak menciptakan klan kita sendiri?”
Ruangan itu langsung hening. Para tetua menatap Yan Lei dengan bingung, dan bahkan Yan Song tidak memahami maksud perkataannya.
Yan Wei di sisi lain menghela napas pelan. Mereka bersaudara sudah membicarakan ini sebelumnya sehingga dia menatap setiap tamu dan berbicara, “para tetua, kepala desa, Yan Lei bukanlah seorang ahli bela diri tingkat Master,” ucapnya dengan perlahan, “dia sendiri adalah Dewa Abadi.”
Ruangan itu semakin hening, napas setiap orang tercekat di udara, dan hanya suara siulan udara di luar yang terdengar. Mereka menatap takjub ke arah Yan Wei, lalu ke Yan Lei, dan setelah melihat ekspresi tenang di wajah setiap saudara-saudari itu, pikiran mereka untuk sesaat menjadi kosong.
“Ini…” kata Yan Song tercekat di tenggorokannya. Dia dengan hati-hati memandang Yan Lei yang saat itu tengah duduk dengan begitu tenang. Pantas saja, pantas saja dia mampu memburu dua Macan Tutul Biru tanpa terluka. Jadi begitu!
“Bagus sekali!” salah seorang Tetua yang berusia seperti Yan Song menampar lantai dengan bersemangat, ekspresinya berseri-seri penuh kegembiraan.
“Langit tidak meninggalkan kami!” tawanya menggelegar di ruangan itu, menginfeksi setiap orang yang datang bersamanya untuk ikut tertawa terbahak-bahak.
Beberapa bahkan meneteskan air mata. Hidup tidaklah mudah. Setiap tahun desa mereka kehilangan beberapa nyawa, entah kematian para pemburu karena binatang mutasi, atau karena musim panen yang gagal karena cuaca yang ekstrim.
Dan mereka akhir-akhir ini hidup di bawah tekanan dengan semakin seringnya terdengar kabar mengenai para kultivator Iblis yang semakin merajalela, yang dengan kejam membantai dan mengorbankan beberapa desa dan kota untuk memperoleh kekuatan.
Tanpa perlindungan dari Dewa Abadi, bayangan kematian akan selalu menggantung di kepala mereka.
“Seperti yang saya katakan, daripada bergantung pada belas kasihan orang lain, lebih baik jika kita mengandalkan diri sendiri,” ucap Yan Lei perlahan, ekspresinya berangsur serius.
“Katakan, Lei’er, apa yang kami, tulang-tulang tua ini dapat lakukan?” Salah seorang tetua, dengan marga Chen, menatapnya sungguh-sungguh.
Yan Lei terdiam, menoleh ke arah Yan Jun yang segera mengangguk mengerti ketika bertemu matanya. Yan Jun berdehem dan menatap setiap orang.
“Yang pertama yang harus kita lakukan adalah menyerap setiap penduduk di desa yang ingin bergabung dan mendorong mereka untuk menikah atau memperbanyak anak,” ucapnya pelan.
"Populasi adalah fondasi setiap klan kultivasi. Hanya dengan populasi yang besar, semakin banyak akar roh yang dapat kita temukan dan bina.”
Yan Jun lalu terdiam beberapa saat, membiarkan mereka mencerna apa yang ia katakan sebelum lanjut berkata, “dan untuk mereka yang tidak ingin meninggalkan marga keluarganya, kita akan tetap menghormati pilihannya. Namun tentu saja, mereka tidak akan memperoleh keuntungan apa pun dari klan.”
Salah seorang tetua bertanya, “lalu apa marga klan baru ini?”
Seketika beberapa pasang mata para tamu tertuju pada Yan Jun dengan serius.
Yan Jun tidak bergeming dan berbicara, “tentu saja, untuk menghormati kedua orang tua kami, kami akan menggunakan nama Yan.”
Beberapa tetua, dan bahkan dua ahli bela diri Bawaan yang berasal dari marga Chen mengernyitkan dahi, tapi setelah beberapa saat, kerutan di dahi mereka menghilang.
Marga memang penting, tapi jika perbandingannya adalah bergabung dengan klan kultivasi, hal itu menjadi tidak terlalu penting.
Lagipula sejak dari leluhur mereka sudah menetap bersama di desa ini, tumbuh dan berkembang hampir seperti keluarga; kecuali untuk beberapa pendatang baru. Marga bagi mereka hanyalah sebuah nama.
Dan sebagai pencetus, Yan Lei memang punya hak untuk menentukan nama klan.
Beberapa tetua yang berasal dari marga lain saling melirik sesaat sebelum mengangguk satu sama lain. Tetua itu, Chen Lui, yang baru saja bertanya, lalu mengangguk dengan pelan. “Baik, tidak ada masalah dengan itu. Kita sudah seperti keluarga.”
Melihat keputusan itu diterima dengan mudah, Yan Lei tersenyum tipis. Ia awalnya sempat berpikir untuk tidak menggabungkan setiap marga yang ada dan sebaliknya menggunakan sistem klan pengikut, dimana setiap marga menciptakan klan mereka masing-masing, dan menjadi pengikut klan utama.
Namun dia lambat laun menyadari ada potensi konflik jika dia mengambil keputusan tersebut.
Bagaimana jika klan pengikut berkembang semakin makmur dan melahirkan berbagai jenius di masa depan? Bagaimana jika kekuatan klan pengikut lambat laun semakin kuat dari klan utama? Ada kemungkinan terjadi perang saudara untuk perebutan hak saat itu. Yan Lei tidak ingin berjudi. Lebih baik jika masalah ini diselesaikan saat ini juga.
Dengan menggabungkan semua orang ke dalam Klan Yan, maka keturunan-keturunan berikutnya yang terlahir di klan perlahan akan mengidentifikasi diri sebagai bagian dari keluarga Yan, menghilangkan potensi bahaya yang ada untuk selamanya.
Rencana saya update 2 chapter/hari.
Bagi kawan2 yang menyukai cerita ini, bantu like dan komen skuyy.
Dukungan kalian jadi motivasi buat Author.
Salam membaca, Salam dari dunia kultivasi. Gua tunggu lu pada di sana.