NovelToon NovelToon
ABU DARI SIKLUS ABADI

ABU DARI SIKLUS ABADI

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Romansa Fantasi / Action / Fantasi Isekai / Komedi
Popularitas:747
Nilai: 5
Nama Author: Varss V

Ash adalah pria dari dunia lain yang datang tanpa misi heroik. Ia bercanda, bertarung, dan bertahan hidup dengan cara yang terasa terlalu santai untuk dunia yang penuh perang dan kebohongan. Namun di balik tawanya, ada sesuatu yang tersegel di dalam dirinya kekuatan purba yang mulai bangkit setiap kali ia kehilangan. Saat konflik antar kerajaan, malaikat, Naga, dan iblis memanas, Ash terjebak di pusat siklus kehancuran yang jauh lebih tua dari peradaban mana pun. Semakin kuat ia menjadi, semakin tipis batas antara manusia dan monster. Pada akhirnya, dunia tidak hanya bertanya apakah Ash bisa menyelamatkan mereka, tetapi apakah ia masih Ash yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 22 - PENGKHIANATAN YANG TERUNGKAP

Pagi hari kelima di Lunaria, Ash terbangun dengan tubuh yang masih terasa remuk meski regenerasinya sudah bekerja sepanjang malam. Empat hari latihan dengan Morgana yang brutal ditambah latihan pagi dengan Violet membuat tubuhnya seperti diperas habis-habisan setiap hari.

Tapi hasilnya nyata.

Sekarang dia bisa memanggil mana alami dengan lebih cepat. Bisa membentuk elemen dasar, api, air, angin, tanah, meski masih belum stabil dan sering gagal. Violet bilang kemajuannya luar biasa cepat untuk pemula.

Morgana bilang dia masih terlalu lambat dan perlu lebih banyak "motivasi", yang berarti lebih banyak monster yang dilepaskan.

Ash tidak tahu harus senang atau takut dengan kemajuannya.

Hari ini berbeda.

Lyra mengetuk pintu lebih awal dari biasanya, bahkan sebelum matahari terbit penuh.

"Bangun," ucapnya begitu Ash membuka pintu dengan wajah masih ngantuk. "Yang Mulia memanggil. Darurat. Berkumpul di ruang rapat dalam sepuluh menit."

Rasa kantuk Ash langsung hilang. "Ada apa?"

"Aku tidak tahu detailnya. Tapi ini serius. Cepat bersiap."

Lyra pergi mengetuk pintu kamar Razen dan Eveline.

Ash bergegas ganti baju dan turun ke lantai bawah. Di koridor menuju ruang rapat, dia bertemu dengan Razen dan Eveline yang juga terlihat baru bangun.

"Kalian tahu ada apa?" tanya Ash.

"Tidak," jawab Razen sambil merapikan bajunya. "Tapi kalau Ratu Violet panggil meeting darurat, pasti ada masalah besar."

Mereka tiba di depan pintu ruang rapat besar. Dua penjaga membukakan pintu untuk mereka.

Di dalam, suasananya tegang.

Violet duduk di ujung meja panjang dengan wajah yang jauh lebih dingin dari biasanya. Di sekelilingnya duduk sepuluh orang dengan jubah Lunar, beberapa yang Ash kenali sebagai anggota council, dan Lyra yang berdiri di samping Violet.

Di tengah ruangan, ada seorang pria paruh baya dengan jubah Lunar yang lusuh, tangan dan kakinya dirantai, wajahnya penuh memar dan luka. Dia berlutut dengan dua penjaga di sisinya.

"Masuklah," ucap Violet tanpa mengalihkan pandangan dari pria itu. "Tutup pintu."

Ash, Eveline, dan Razen masuk dan berdiri di sisi ruangan, tidak berani duduk tanpa dipersilakan.

Violet akhirnya menatap mereka. "Maaf membangunkan kalian pagi-pagi. Tapi kalian perlu melihat ini." Dia mengangguk ke arah Lyra.

Lyra melangkah maju dan meletakkan beberapa perkamen di atas meja. "Tiga hari yang lalu, kami menemukan kejanggalan dalam laporan patroli perbatasan. Informasi yang seharusnya rahasia bocor ke Varnhold. Kami melakukan investigasi internal."

Dia menunjuk pria yang berlutut. "Dan kami menemukan pengkhianat pertama."

Suasana ruangan semakin berat.

Pria itu mengangkat kepalanya, wajahnya pucat dan penuh ketakutan. "Yang Mulia, aku mohon... aku terpaksa... mereka mengancam keluargaku..."

"Diam," ucap Violet dengan suara yang dingin seperti es. Tidak keras, tapi membuat pria itu langsung menutup mulut.

Violet berdiri dan berjalan mengelilingi meja, mendekati pria itu. "Aldric. Anggota Lunar selama dua belas tahun. Spesialisasi dalam sihir komunikasi jarak jauh. Kau dipercaya menangani komunikasi rahasia antara patroli perbatasan dengan istana."

Aldric mengangguk gemetar.

"Dan kau menjual informasi itu ke Varnhold." Violet berhenti di depannya. "Berapa?"

"A... aku tidak—"

Violet mengangkat tangannya. Aura ungu mulai menari di sekitar jarinya. "Jangan bohong padaku. Aku bisa tahu."

Aldric menelan ludah. "Lima ratus gold. Dan... dan mereka berjanji akan bebaskan keluargaku yang ditawan."

"Keluargamu ditawan kapan?"

"Dua bulan lalu. Mereka pergi ke Varnhold untuk berdagang dan... dan tidak pernah kembali. Lalu seseorang datang padaku dengan surat dari istriku. Dia bilang... kalau aku tidak bantu mereka, istriku dan anak-anakku akan..."

Suaranya pecah.

Violet menatapnya lama. Lalu dia menoleh ke Lyra. "Konfirmasi?"

Lyra membuka perkamen lain. "Kami sudah kirim agen ke Varnhold untuk investigasi. Keluarga Aldric memang ditawan. Di penjara bawah tanah gereja utama Varnhold. Dijadikan sandera untuk memaksa Aldric bekerja sama."

Violet menutup matanya sebentar, lalu membukanya kembali. "Berapa informasi yang sudah kau berikan?"

"Ti... tiga laporan. Tentang posisi patroli kita di perbatasan timur. Tentang jadwal pergantian shift. Dan... dan tentang jumlah pasukan di pos perbatasan utara."

Salah satu anggota council, seorang wanita tua dengan rambut putih, berdiri dengan wajah marah. "Dengan informasi itu, Varnhold bisa menyerang pos perbatasan kita dengan mudah! Kau mengorbankan ratusan nyawa untuk keluargamu sendiri?!"

"Aku tidak punya pilihan!" teriak Aldric putus asa. "Mereka anak-anakku! Istriku! Apa yang seharusnya aku lakukan?!"

"Kau seharusnya melapor padaku," ucap Violet dengan suara datar. "Aku bisa kirim agen untuk menyelamatkan mereka. Tapi sekarang, dengan informasi yang kau bocorkan, Varnhold sudah tahu kita tahu tentang pengkhianatan ini. Menyelamatkan keluargamu jadi jauh lebih sulit."

Aldric menunduk dalam, tubuhnya gemetar.

Violet berbalik ke council. "Ini bukan kasus pertama. Dalam dua minggu terakhir, ada tiga insiden serupa. Informasi bocor. Patroli kita diserang di tempat yang seharusnya tidak diketahui musuh. Dan kemarin malam..."

Dia mengangguk ke Lyra lagi.

Lyra meletakkan perkamen terakhir di meja. "Kemarin malam, pos perbatasan utara diserang. Dua puluh tiga penjaga tewas. Sepuluh terluka parah. Varnhold membawa obsidian curian dari gudang kita sebelum kami bisa kirim bantuan."

Ruangan jadi hening.

Ash merasakan dadanya sesak. Dua puluh tiga orang mati. Karena informasi yang bocor.

Violet menatap Aldric lagi. "Aku mengerti posisimu. Aku tahu kau terpaksa. Tapi itu tidak mengubah fakta bahwa dua puluh tiga orang mati karena keputusanmu."

"Yang Mulia..." Aldric mulai menangis. "Kumohon... selamatkan mereka... aku akan terima hukuman apapun... tapi tolong selamatkan keluargaku..."

Violet terdiam lama. Wajahnya tidak menunjukkan emosi apapun.

Lalu dia berbalik ke council. "Keputusanku: Aldric akan dipenjara sampai perang ini selesai. Bukan karena pengkhianatan, tapi karena membahayakan nyawa pasukan. Setelah perang selesai, dia akan diadili secara selayaknya dengan mempertimbangkan kondisi keluarganya."

Wanita tua council itu protes. "Tapi Yang Mulia, pengkhianat harus dihukum mati—"

"Aku yang memutuskan hukuman di kerajaan ini," potong Violet dengan nada yang membuat semua orang diam. "Dan aku bilang Aldric dipenjara, bukan dieksekusi. Dia terpaksa melakukannya karena keluarganya disandera. Itu berbeda dengan pengkhianat yang melakukannya karena keserakahan atau kebencian."

Dia menatap Aldric. "Tapi dengarkan ini. Kalau ada informasi lain yang kau sembunyikan, kalau ada pengkhianat lain yang kau tahu tapi tidak kau laporkan, aku tidak akan segan untuk mengubah keputusanku. Mengerti?"

Aldric mengangguk cepat. "Aku... aku mengerti. Terima kasih, Yang Mulia. Terima kasih..."

Dua penjaga mengangkatnya dan membawanya keluar.

Setelah pintu tertutup, Violet duduk kembali di kursinya. Dia terlihat sangat lelah.

"Lyra, lanjutkan."

Lyra mengangguk. "Dengan investigasi lebih lanjut, kami menemukan setidaknya lima orang lagi dalam Lunar yang kemungkinan besar juga dikompromikan oleh Varnhold dengan cara serupa. Mereka sedang dalam pengawasan. Kami akan tangkap mereka dalam dua hari."

"Dan bagaimana dengan serangan di perbatasan?" tanya salah satu anggota council, pria muda dengan kacamata.

"Kami sudah kirim reinforcement. Tapi..." Lyra ragu. "Intelijen melaporkan bahwa Varnhold sedang mempersiapkan serangan besar-besaran. Bukan hanya kemelut kecil. Tapi invasi."

"Berapa jumlahnya?"

"Estimasi awal: lima ratus infantri, seratus ksatria LightOrder," Lyra menatap peta besar yang tergantung di dinding. "Target mereka kemungkinan besar adalah Fort Silvergate, benteng perbatasan terbesar kita. Kalau benteng itu jatuh, jalur ke ibu kota akan terbuka."

Council mulai berbisik satu sama lain dengan nada panik.

Violet mengangkat tangannya, membuat semua orang diam. "Berapa lama kita punya waktu?"

"Satu minggu. Mungkin kurang."

"Kirim pesan ke semua guild besar. Kita butuh adventurer rank A ke atas untuk reinforcement. Bayar mereka dengan harga tinggi." Violet berdiri. "Dan aktifkan Lunar Wing Empat sampai Tujuh. Kirim mereka ke Fort Silvergate sekarang."

"Tapi Yang Mulia, itu akan mengosongkan pertahanan istana—"

"Istana bisa dijaga oleh barrier dan Wing Satu sampai Tiga. Benteng perbatasan lebih penting sekarang." Violet menatap semua orang di ruangan. "Ini bukan lagi konflik kecil. Ini adalah awal dari perang yang sudah kita hindari bertahun-tahun. Darius sudah buat keputusannya. Sekarang kita harus siap."

Dia menoleh ke Ash, Eveline, dan Razen. "Kalian bertiga. Ikut aku."

Mereka mengikuti Violet keluar dari ruang rapat, melewati koridor, dan masuk ke ruang kerjanya.

Begitu pintu tertutup, Violet langsung ambruk duduk di kursinya, memegang kepalanya.

"Yang Mulia?" panggil Razen khawatir.

"Aku baik baik saja," ucap Violet sambil menarik napas dalam. "Cuma... lelah. Sangat lelah."

Dia mengangkat kepalanya dan menatap mereka. "Aku panggil kalian karena ada sesuatu yang perlu kukatakan."

"Apa?" tanya Ash.

"Fort Silvergate akan diserang dalam seminggu atau kurang. Itu sudah pasti. Dan aku akan kirim kalian ke sana."

"Kami?" Eveline terdengar terkejut.

"Ya. Bukan sebagai pasukan garis depan. Tapi sebagai... mata dan telingaku." Violet berdiri dan berjalan ke jendela. "Aku tidak percaya sepenuhnya pada laporan resmi lagi. Setelah pengkhianatan ini, aku tidak tahu siapa lagi yang ada di pihakku. Tapi aku percaya pada kalian."

Razen mengangguk. "Kami akan pergi. Kapan?"

"Tiga hari lagi. Aku butuh waktu untuk mempersiapkan kalian. Ash, latihanmu denganku dan Morgana akan dipercepat. Eveline, kau akan dapat upgrade senjata dan armor dari armory terbaik kami. Razen, kau akan dapat akses penuh ke strategi pertahanan Fort Silvergate."

Violet menoleh ke mereka. "Ini akan berbahaya. Jauh lebih berbahaya dari apapun yang pernah kalian hadapi sebelumnya. Kalau kalian ingin mundur, aku tidak akan menyalahkan."

Ash melirik Eveline dan Razen. Mereka berdua sudah menatapnya balik.

Tidak ada kata yang diucapkan. Tapi mereka semua mengerti.

Ash menoleh ke Violet. "Kami tidak akan mundur. Kami akan pergi."

Violet tersenyum tipis. "Aku tahu kalian akan bilang begitu." Dia kembali ke mejanya dan mengambil tiga perkamen yang sudah digulung. "Ini adalah surat penugasan resmi. Dengan ini, kalian punya akses ke Fort Silvergate dan wewenang untuk bertindak atas namaku dalam kondisi darurat."

Dia menyerahkan satu perkamen ke masing-masing dari mereka.

"Hati-hati," ucapnya. "Dan pulang dengan selamat. Kalian bertiga."

"Kami janji," jawab Razen.

Mereka keluar dari ruangan dengan perasaan berat.

Di koridor, Eveline menatap perkamen di tangannya. "Perang sungguhan."

"Ya," jawab Razen. "Bukan lagi skirmish atau pertempuran kecil. Perang dengan ratusan nyawa jadi taruhan."

Ash menggenggam perkamennya. Tiga hari lagi, dia akan ke medan perang.

Tiga hari lagi, dia akan menghadapi LightOrder dalam jumlah besar.

Tiga hari lagi, semuanya akan berubah.

Di dalam dadanya, dia merasakan kedua titik energi itu berdenyut. Mana alami yang sudah mulai dia kuasai. Dan energi Uroboros yang masih tertidur, menunggu saat yang tepat untuk bangun.

Dia berharap saat itu tidak akan datang.

Tapi jauh di lubuk hatinya, dia tahu.

Di medan perang nanti, dia akan butuh kedua kekuatan itu.

Dan dia harus siap untuk konsekuensinya.

1
anak panda
lantorrr thorrrr
anak panda
🔥🔥🔥
Varss V
Di usahakan secepat, dan sebanyaknya ka, kalo suka tolong kasih rating dan like nya ya🙏
anak panda
upp torre
Varss V
oke, makasih
anggita
ikut ng👍like aja, iklan👆.
anak panda
semangat torr
Varss V: Makasih ka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!