Setelah enam tahun tak bertemu, Senja kembali bertemu mantan kekasihnya Arsean.
Pertemuan kembali mereka, mengingatkan luka dan rasa sakit pada dirinya Senja.
Karena di saat itu dia tengah hamil anaknya Sean, namun Sean tak tau. Kedua orang tua Sean pun seolah bungkam dan menginginkan anak dalam kandungannya Senja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kado Ulang Tahun untuk Angkasa
"Bu.. Tadi angkasa pergi ke acara ulang tahun teman Angkasa."
"Oh ya, kamu senang gak?" tanya Senja yang sibuk mencuci piring bekas para pembeli di warung makannya buk Asni.
"Senang buk.." jawab Angkasa menatap bungkusan plastik yang ada beberapa Snack yang dibawanya dari sana.
"Kenapa makanannya gak dimakan?"
"Ini buat ibuk saja. Angkasa sedih lihat ibuk kerja terus tapi gak pernah jajan buat diri sendiri."
Senja tersenyum menatap akan laki-lakinya itu. Dia tak menyangka anaknya sebegitu memikirkan dirinya.
"Ibu gak suka jajan. Jadi buat kamu saja."
"Buk.." Ucap Angkasa sendiri ragu.
" Ada apa nak? "
" Nanti kalau ibuk ada uang, Angkasa mau kue ulangtahun yang ada gambar karakter bolanya. "
"Iya, nak.. Doain ibuk.. Insyaallah nanti pasti ibuk belikan."
Selesai mencuci piring,Senja menatap angkasa yang sudah tertidur bersandar di dinding sambil duduk.
Senja segera menggendong Angkasa dan membawanya pulang ke tempat tinggal mereka. Begitulah hari-hari Senja dan Angkasa selama ini. Sering kali Angkasa tertidur menunggu Senja selesai bekerja di rumah makan.
**
keesokan paginya, seperti biasanya, pagi-pagi begini Senja sudah pergi menyapu taman. Dia tak pernah merasa rendah diri bekerja seperti ini. Baginya, apapun itu akan dia kerjakan asal halal.
Siapa sangka setelah melihat Senja kemaren, Sean sengaja pura-pura pergi jogging pagi ini hanya karena penasaran dengan Senja dan anaknya.
Sean melihat Senja sibuk menyapu dan mengumpulkan sampah. Sean berlari kecil ke arah Senja yang sedang menyapu.
Melihat sosok Sean yang berlari di depan, Senja langsung membuang muka. Dia cukup terkejut melihat Sean. Apalagi dia tak mau Sean melihat dirinya bekerja seperti ini.
"Senja!" Panggil Sean berhenti.
Senja memilih abai dan tetap menyapu.
"Senja.. Kamu.."
"Ada apa?" Senja menatap tajam Sean?
"Kamu mau kasihan melihat aku kerja kayak gini? Atau kamu mau membantu aku lagi seperti dulu saat kamu membantu memberi aku uang saku?"
"Maaf." Lirih Sean tak menyangka dengan sikap dingin Senja.
"Bagaimana dengan kondisi kamu? Reuni kemaren, kamu kan sempat pingsan."
"Aku baik-baik saja. Bahkan terlalu sangat baik." Jawab Senja tegas.
"Senja, aku hanya ingin tau apa yang terjadi saat aku ke London."
"Tak ada yang terjadi. Aku pergi dari rumah kamu dan ingin menjalani hidup sendirian agar mandiri. Aku juga tak enak jika terus menumpang di rumah kamu!" jawab Senja.
"Tentang anak itu.."
" Dia anakku, jangan bahas apapun. " ucap Senja cepat.
" Apa kabar anak itu? " tanya Sean, tatapan matanya memohon.
" Untuk apa kamu menanyakan kabarnya? Aku sudah beritahukan kalau ayahnya sudah meninggal. Jadi tak ada yang perlu kita bahas lagi. Apalagi tentang masa lalu, yang sudah tak aku ingat sedikit pun! "
"Kamu benar-benar melupakan kenangan kita?"
" Hmm.. "Angguk Senja.
" Wajar kan? Kita sudah punya kehidupan masing-masing saat ini. Apalagi hubungan kita itu hanya cinta monyet!" Ujar Senja membuat dada Sean merasa sesak mendengarnya.
"Lalu bagi kamu, setiap yang kita lakukan di atas ranjang di kamarku juga sebagai cinta monyet?" Sean tak pernah menganggap hubungannya dengan Senja hanya sebuah hubungan cinta monyet.
Senja terdiam. Hal yang paling dia benci dan tak ingin dia ingat adalah apa yang ia lakukan dengan Sean semasa hubungan mereka.
" Aku benci dengan itu semua. Apalagi mengingatnya!" Mata Senja berkaca-kaca dan pergi begitu saja.
Hal yang paling membuat Sean tak tega adalah melihat Senja menangis. Bahkan ketika dia merenggut kesucian Senja hari itu. Dimana Senja menangis hingga demam saat itu. Sean sangat merasa bersalah dan berulang kali meminta maaf kepada Senja waktu itu.
" Maaf Senja, aku tak tau jika kamu masih terluka dengan itu semua."Lirih Sean dalam hati dan membiarkan Senja pergi tanpa mengejarnya.
***
Sebelum pulang ke rumah,Senja memutuskan singgah ke sebuah toko kue. Dia masuk ke dalam dan melihat-lihat beberapa jenis kue ulang tahun.
" Mbak kalau kue ulangtahun yang kayak gini,boleh di ganti karakternya gak?" tanya Senja ke penjaga toko.
"Bisa mbak..Nanti mbak bilang saja mau karakter apa,pasti dibuatkan nantinya."
"Misalnya kalau kita pesan kue dengan karakter bola dan logo club gitu berapa harganya?"
"Kalau yang kayak itu biasanya sekitar Tiga ratu lima puluh,mbak."
" Owh begitu, terimakasih infonya mbak." Senja tersenyum dan memutuskan untuk keluar dulu dari toko kue.
Ternyata Senja hanya ada uang seratus lima puluh ribu saat ini,dan uang itu juga dibaginya untuk ongkos melamar kerja dan pergi interview nanti.Sementara hari ulang tahun Angkasa tinggal tiga hari lagi.
" Semoga saja nanti ada rezeki buat beli kue ulang tahun Angkasa."lirih Senja dalam hati.
***
" Beb..kita jadi pergi fitting bajunya?" Rea duduk di samping Sean yang sibuk melihat beberapa laporan dari perusahaan papanya. Rencananya setelah pertunangan nya dengan Rea,dia akan kan langsung bekerja di perusahaan papanya. Apalagi papanya langsung menyuruh dia menjadi wakil direktur perusahaan.
"Jadi sayang..Tunggu sebentar ya!" Sean tersenyum menatap Rea sambil mengusap lembut kepalanya Rea.
"Beb .."
Sean kembali menoleh ke Rea.
"Ada apa sayang?"
"Perempuan bernama Senja itu.."
"Kamu kayaknya begitu penasaran dengan dia?" Sean menaikkan satu alisnya menatap Senja.
"Bukan begitu..Cuma aku bisa merasakan ada sesuatu antara kamu dan dia dulu." Jawab Rea. Beberapa hari terakhir Rea memikirkan ini semua,dan sekarang dia benar-benar berani menanyakan itu semua dengan Sean.
"Dia bukan siapa-siapa. Kita satu sekolahan,dan wajar saja sedikit terkejut melihatnya. Apalagi mendengar kabar kalau suaminya sudah meninggal." jawab Sean.
"Dia punya anak?"
"Hmmm," Sean mengangguk.
"Berarti dia ibu tunggal dong? Kasihan juga."lirih Rea merasa bersalah karena curiga sama Senja dan Sean.
" Sayang..bukankah kita saling janji untuk tidak bahas perempuan manapun atau laki-laki manapun ketika kita lagi sedang berduaan?"
" Maaf Beb.."Rea bergelanjut manja di lengan Sean,membuat Tamara yang turun dari tangga tersenyum bahagia.
"Ehmm.." Tamara berdehem membuat Rea menjadi malu dan melepaskan tangannya di lengan Sean.
" Mama senang lihat hubungan kalian,dan semoga saja tidak ada yang mengganggu hubungan kalian berdua." Ucap Tamara.
Namun di dalam hatinya ada rasa syukur,karena hari itu dia mengusir Senja. Kalau tidak,dia tak bisa membayangkan Sean akan menjadi susah karena harus bertanggung jawab atas kehamilannya Senja. Dan jujur saja,dari awal dia memang tak suka Sean dan Senja. Perbedaan mereka terlalu jauh. Mereka dari orang yang berada dan cukup terpandang,sementara Senja anak miskin dari kampung yang tak punya orangtua lagi.