NovelToon NovelToon
Gadis Pembawa Kemalangan

Gadis Pembawa Kemalangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Kerajaan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: VanGenZ

Siapa bilang setiap manusia diberi kesempatan merasakan kebahagiaan? Tidak semua orang seberuntung itu—dan gadis ini adalah buktinya. Dia dikenal banyak orang, bukan karena status, kecerdasan, atau keahliannya, melainkan karena kemalangannya yang seakan tak berujung. Hidupnya penuh caci maki, dan di setiap langkahnya, dia terus mengutuk dunia serta takdir yang menjeratnya.

Hingga suatu hari, seseorang muncul mengaku berasal dari dunia lain dan menawarkan bantuan untuk menghapus takdir terkutuknya. Namun, benarkah kebahagiaan masih mungkin untuknya? Ataukah ini hanya awal dari penderitaan baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyelamatan

***

Di sisi Elenna

Ruangan itu sunyi, lampu minyak di sudut dinding bergetar pelan tertiup angin yang masuk dari celah papan kayu. Bayangan Count memanjang di lantai, bergerak seiring langkahnya yang perlahan mengitari kursi tempat Elenna terikat.

Elenna duduk tegak. Tangannya masih terikat di belakang. Pergelangan tangannya mulai terasa perih karena gesekan tali, tetapi ia tidak menunjukkan rasa sakitnya.

/Plakk

Count menamparnya dengan keras, pipi Elenna terasa perih karena tamparan itu

“Kau tahu,” katanya pelan, “aku hampir mati malam itu.”

Elenna menatapnya lurus. “Aku hanya mendorongmu karena kau menyerangku.”

Count tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke matanya.

“Begitu mudahnya kau mengatakannya.” Ia berjalan mendekat. “Di mata orang lain, aku terlihat seperti pria mabuk yang mencoba menyentuh gadis tak bersalah.”

“Karena memang begitu yang terjadi.”

Tamparan itu hampir terjadi.

Tangan Count terangkat, tetapi berhenti beberapa inci dari wajah Elenna. Ia menahan diri, napasnya memburu.

“Kau masih berani menjawabku."

Elenna tidak memalingkan wajahnya.

“Jika aku diam saja malam itu,” katanya pelan, “mungkin aku tidak akan berada di sini sekarang.”

Count tertawa pendek.

“Ah, jadi kau merasa sebagai korban?” Ia membungkuk sedikit, wajahnya mendekat. “Kau tidak tahu apa artinya kehilangan kehormatan di depan seluruh bangsawan.”

“Dan kau tidak tahu apa artinya tidak dipercaya oleh siapa pun.”

Kalimat itu keluar tanpa ia rencanakan.

Count terdiam sesaat.

Lampu minyak mulai meredup.

“Aku tidak berniat membunuhmu,” lanjut Count lebih tenang. “Itu akan terlalu mudah. Terlalu singkat.”

Ia berjalan menjauh beberapa langkah, lalu berbalik.

“Yang ingin kulakukan adalah memastikan ketika kau kembali… tidak ada yang akan melihatmu dengan cara yang sama lagi.”

Elenna merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya.

“Kau ingin mencemarkan namaku lagi?”

Count mengangkat bahu.

“Bukankah itu sudah dimulai?” Ia tersenyum.

“Seorang gadis yang ditemukan sendirian di gudang pelabuhan bersama para pria asing… apa menurutmu keluarga Marquess akan membelamu kali ini?”

Elenna mengepalkan tangannya di balik tali.

Ia tahu.

Ia tahu betul bagaimana dunia bekerja.

“Jadi itu tujuanmu?” tanyanya. “Bukan balas dendam… tapi memastikan aku tidak punya tempat untuk kembali?”

“Sekarang kau mulai mengerti.”

Langkah kaki Count kembali mendekat.

“Kau membuatku jatuh di depan semua orang,” katanya lirih. “Sekarang aku akan membuatmu jatuh di depan dunia.”

Kesunyian jatuh di antara mereka.

Bukan sunyi yang tenang, melainkan sunyi yang menekan, seperti udara sebelum badai pecah.

Count menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan. Sorot matanya turun dari wajah Elenna ke pergelangan tangannya yang terikat, lalu kembali naik. Tawa pendek keluar dari bibirnya, kering dan tak bersuara penuh.

“Berani sekali kau.”

Langkahnya bergema di lantai kayu gudang yang lembap. Satu. Dua. Ia berhenti terlalu dekat. Elenna bisa mencium aroma anggur yang belum sepenuhnya hilang dari napasnya, bercampur dengan wangi kulit dan kain mahal yang kontras dengan tempat kumuh itu.

“Keberanianmu inilah yang membuatmu menyebalkan.”

Tangannya terulur. Kali ini bukan untuk menampar. Jemarinya mencengkeram dagu Elenna dengan tekanan yang cukup untuk menyakitkan, memaksanya untuk mendongak.

“Lihat aku.”

Sentuhan itu kasar, ibu jarinya menekan tulang rahangnya. Namun, Elenna tidak menarik wajahnya. Ia tidak menunduk. Matanya tetap bertahan, kosong, dan menolak tunduk.

“Jika kau merasa ini akan membuatmu merasa lebih besar,” katanya lirih, napasnya tetap teratur, “kau salah orang.”

Hening sepersekian detik, kalimat itu seperti percikan api di atas minyak. Wajah Count berubah. Rahangnya mengeras. Cengkeramannya menguat sesaat sebelum ia melepaskan dagu Elenna dengan kasar hingga kepalanya terdorong ke samping.

“Kau pikir aku butuh merasa besar di depanmu?”Bentaknya.

Suaranya memantul di dinding kayu. Ia berjalan menjauh dua langkah, mengusap wajahnya dengan tangan gemetar oleh amarah yang ditahan. Lalu ia berbalik tiba-tiba, matanya menyala.

“Aku akan mematahkan sikap itu darimu.”

Ia melangkah cepat ke arahnya. Kali ini tidak ada permainan kata. Tidak ada ejekan panjang. Hanya niat yang makin jelas.

Count berhenti tepat di depan kursi tempat Elenna terikat. Bayangannya menutupi wajah gadis itu. Tangannya terkepal, buku-buku jarinya memutih.

“Barangkali sedikit rasa sakit akan membuatmu lebih mengerti tempatmu.”

Elenna menutup matanya sepersekian detik.

Bukan karena takut.

Hanya untuk menenangkan napasnya. Menghitung. Satu. Dua.

Jika ia dipukul sekarang, tidak ada yang akan mendengar. Gudang itu terlalu jauh dari jalan utama. Orang-orangnya telah disuap atau diusir.

Tidak ada yang tahu.

Tidak ada yang pedu-

/BRAK.

Suara keras mengguncang pintu gudang. Kayu bergetar. Debu jatuh dari langit-langit.

Count menoleh tajam.

“Apa—”

/BRAK.

Benturan kedua lebih kuat. Retakan terdengar jelas, disusul bunyi kayu patah.

Pintu terbuka dengan dorongan terakhir.

Alberto berdiri di ambang pintu, napasnya berat, rambutnya sedikit berantakan seolah ia berlari tanpa henti. Wajahnya tegang, rahangnya terkunci.

Di belakangnya, Kael. Berbeda dari biasanya. Tidak ada ekspresi netral. Tidak ada jarak dingin yang menjaga dirinya tetap tak tersentuh. Tatapannya tajam seperti belati yang baru diasah.

Count mundur satu langkah tanpa sadar.

“Kenapa kalian-”

Alberto tidak memberinya waktu. Ia melangkah masuk dan dalam dua langkah sudah berada di hadapan Count. Tangannya mendorong pria itu menjauh dari Elenna dengan kekuatan yang membuat Count terhuyung.

“Jauhkan tanganmu darinya!” Suaranya bergetar, antara marah dan lega.

Count hampir kehilangan keseimbangan. “Kalian tidak tahu apa yang terjadi!”

Namun, Kael sudah bergerak. Dalam hitungan detik ia berada di sisi Elenna. Ia berlutut sedikit, jemarinya memeriksa simpul tali di pergelangan tangan gadis itu. Kulitnya memerah. Ada bekas gesekan.

Tatapan Kael mengeras, meski suaranya tetap rendah. “Diam sebentar.”

Pisau kecil sudah berada di tangannya, entah sejak kapan ia menariknya. Dengan gerakan cepat dan presisi, ia memotong tali itu. Serat kasar terbelah, lalu jatuh ke lantai.

Tangan Elenna terlepas. Darah kembali mengalir, membuat jemarinya sedikit gemetar. Tubuhnya goyah ketika ia mencoba berdiri, tetapi Kael sudah lebih dulu menangkapnya, satu tangan menahan punggungnya dengan kokoh.

“Bisa berdiri?” tanyanya pelan.

Suaranya stabil. Terlalu stabil untuk seseorang yang tatapannya membeku seperti itu.

Elenna mengangguk. “Aku tidak apa-apa.”

Bohong besar. Pergelangan tangannya sakit, pipinya terasa perih, dan kepalanya sedikit pusing.

Kael membantunya berdiri sepenuhnya, lalu secara halus bergeser setengah langkah ke depan, posisi yang jelas melindungi tanpa terlihat berlebihan.

Di sisi lain ruangan, Alberto sudah mencengkeram kerah baju Count. Kain mahal itu terlipat di genggamannya.

“Kau berani menyentuhnya lagi,” desisnya, “dan aku tidak akan peduli gelar apa pun yang kau miliki.”

Count berusaha melepaskan diri, wajahnya memerah karena marah dan malu. “Kalian akan menyesal. Ini bukan urusan kalian!”

“Aku tidak perlu tahu detailnya,” jawab Alberto tajam. “Aku melihat cukup.”

Kael mengangkat pandangannya dari Elenna dan menatap Count.

Tatapan dingin, mengintimidasi, seolah akan membunuh Count tanpa menyentuhnya.

“Ini tidak akan berhenti di sini,” katanya pelan.

Tidak ada ancaman berlebihan. Tidak ada kata-kata makian. Justru karena itu, kata-katanya terasa lebih berat.

Count menatap mereka bergantian, Alberto yang gemetar oleh amarah, Kael yang diam tetapi berbahaya, dan Elenna yang kini berdiri di antara mereka, dan tidak lagi terikat.

Untuk pertama kalinya malam itu, kepercayaan dirinya goyah.

Dan untuk pertama kalinya sejak pintu gudang itu tertutup di belakangnya

Elenna tidak merasa sendirian.

Di balik rasa sakit dan sisa ketakutan yang masih tertinggal di dadanya, ada sesuatu yang lebih kuat.

Seseorang datang.

Untuk menyelamatkannya.

Dan badai yang hampir pecah, kini berbalik arah.

1
Ran
up thorr
Ran
cie elena mulai suka 🤭
Ran
Lilith ini keknya punya gangguan jiwa atau kelainan berpikir ya/Speechless/, stress banget jadi orang
Ran
ayo berlayar kapal elena dan tuan pengawal
Anonymous
semangat thor
VanGenZ: Terima kasih atas dukungannya🙏
total 1 replies
Ran
Lilith play victim jir
Ran
up thorr
Ran
itu mah akal akalan Lilith aja
Ran
sakit banget jadi elena
Ran
Lilith sok gatel lagi sama Kael
Ran
yahh, ayang beb udah mau pergi
Ran
mampus dimarahin ga tuh
Ran
kill aja tuh count
Ran
curiga sama lilith
Ran
buat apa dikasih tau kalau sejak awal udh ditentuin perannya, dasar marquess ga punya hati
Ran
semua gada yang bisa dipercaya kecuali elenna sendiri jir
Ran
Lilith sok baik/Panic//Pooh-pooh/
Ran
lumayan sih. walaupun minim dialog, tetap berkarya thor
Ran: sama-sama thor
total 2 replies
Ran
pengen deh bejek2 Lilith manusia ular itu/Panic/
Ran
kasian banget jadi Elenna/Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!