NovelToon NovelToon
Kyara, Bangkitnya Istri Yang Tersakiti

Kyara, Bangkitnya Istri Yang Tersakiti

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / CEO
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Punya rumah tangga bahagia adalah dambaan setiap orang. Apalagi bagi seorang wanita. Suami dan mertua yang baik adalah anugerah yang tak ternilai harganya.

Seperti itulah harapan Kyara Nawasena. Menikah dengan lelaki yang ia cintai dan mencintainya ternyata tidak menjamin rumah tangganya berjalan mulus.

"Mas, tidakkah kau punya sedikit pun rasa iba kepadaku? Aku ini istrimu, bukan seorang babu!"

"Kalau kau sudah tak mau menuruti semua perintahku, lebih baik kau keluar dari rumah ini! Aku capek dan muak setiap pulang kerja harus mendengar ocehanmu! Kau itu adalah istri yang menyusahkan dan pembangkang!" Doni menghardik Kyara seraya melemparkan bantal ke wajah istrinya.

Kyara tersenyum getir, "Jika aku istri pembangkang, berarti kau adalah suami yang tidak bertanggung jawab!"

"Kyaraaa!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Kyara menatap layar ponselnya cukup lama. Setelah membaca beberapa cerita di aplikasi My Story, ia akhirnya menarik napas pelan. "Kalau orang lain bisa menulis ... aku juga pasti bisa," gumamnya memberi semangat pada diri sendiri.

Jemarinya lalu menekan tombol Buat Cerita Baru.

Halaman kosong terbuka di layar. Di bagian atas terdapat kolom untuk menuliskan judul cerita.

Kyara berpikir sejenak. Matanya perlahan meredup, seperti mengingat sesuatu yang lama terpendam di hatinya. Tanpa sadar, kisah hidupnya sendiri muncul di pikirannya ... tentang pernikahan yang dulu terasa hangat, namun perlahan berubah dingin.

Tentang luka-luka kecil yang ia pendam sendirian. Tentang makian dari mertuanya dan perlakuan tak manusiawi.

Kyara menelan ludah pelan. "Kalau aku tulis ceritaku sendiri ... mungkin rasa sakit di hatiku akan sedikit terasa lega," bisiknya.

Akhirnya ia mulai mengetik.

Judul: Bangkitnya Istri yang Tersakiti.

Ia membaca kembali judul itu beberapa detik. Ada rasa aneh di dadanya, seperti campuran antara sedih dan keberanian. "Ya ... ini cocok," gumamnya pelan.

Setelah itu ia mulai menulis sinopsis. Jemarinya bergerak lebih lancar dari yang ia kira.

Ia menuliskan kisah tentang seorang perempuan yang menikah dengan pria yang sangat ia cintai. Namun seiring berjalannya waktu, cinta itu berubah menjadi dingin. Sang suami mulai menjauh, sementara sang istri tetap bertahan meski hatinya perlahan terluka.

Tetapi suatu hari, perempuan itu memutuskan untuk bangkit dan menemukan kembali harga dirinya.

Kyara membaca ulang sinopsis yang ia tulis. Senyum kecil muncul di wajahnya. "Lumayan juga," gumamnya pelan. "Sekarang tinggal menulis bab pertama." Ia memposisikan tubuhnya lebih nyaman di ranjang, lalu mulai mengetik kalimat pertama. Namun belum sempat ia menulis lebih jauh ... pintu kamar tiba-tiba terbuka.

Kyara langsung terkejut. Refleks ia keluar dari aplikasi My Story dan kembali ke layar utama ponselnya.

Doni berdiri di ambang pintu. "Kya," katanya.

Kyara menoleh cepat. "Iya?"

"Seperti yang kuberitahukan tadi, aku mau ke rumah temanku."

Kyara hanya mengangguk. "Mas mau berangkat sekarang?"

Doni mengangguk singkat. "Iya. Tapi aku mau ganti baju dulu."

"Iya," jawab Kyara lembut. "Mau pakai baju yang mana? Biar aku siapkan."

Doni berpikir sebentar, lalu berkata, "Kaos hitam, celana jeans, sama jaket hitam yang merek Chanel."

"Oke." Kyara segera berdiri dan berjalan menuju lemari. Ia membuka pintunya lalu mencari pakaian yang diminta suaminya. Tak lama kemudian ia sudah memegang kaos hitam, celana jeans, dan jaket hitam yang dimaksud. Ia menyerahkannya kepada Doni. "Nih."

Doni menerimanya tanpa banyak bicara lalu langsung masuk ke kamar mandi.

Beberapa menit berlalu. Suara air berhenti, dan pintu kamar mandi kembali terbuka.

Doni keluar dengan pakaian yang tadi diminta sudah melekat di tubuhnya. Ia berdiri di depan cermin, menyisir rambutnya dengan rapi. Setelah itu ia mengambil botol parfum di meja rias dan menyemprotkannya beberapa kali ke leher dan pergelangan tangannya.

Aroma wangi langsung memenuhi kamar. "Aku berangkat sekarang ya," katanya sambil mengambil ponselnya.

Kyara hanya mengangguk. "Iya."

Doni melangkah menuju pintu kamar. Tanpa banyak bicara lagi, ia keluar dan menutup pintu di belakangnya.

Kyara memandang pintu itu beberapa detik. Tubuh suaminya sudah menghilang di balik pintu. Ia menghela napas pelan. Matanya sempat menerawang. "Doni ... kamu memang tampan," gumamnya lirih.

Dulu, hanya dengan melihat suaminya saja sudah cukup membuat hatinya hangat. Namun sekarang ... tidak lagi. "Sikapmu sudah tidak sehangat dulu, Don. Kamu bukan seperti Doni Wiratama yang kukenal," lanjutnya pelan. "Kamu sudah berubah."

Kyara menunduk menatap ponselnya lagi. Layar masih menampilkan halaman utama. Ia membuka kembali aplikasi My Story, masuk ke akun dengan nama pena KyNaw, lalu membuka cerita yang baru saja ia buat.

Halaman kosong bab pertama kembali muncul di layar. Kyara menarik napas dalam-dalam. Jemarinya kembali bergerak di atas layar ponsel.

Kali ini, ia benar-benar mulai menulis.

Ide di kepalanya mengalir deras. Kyara bisa menyelesaikan bab pertama dengan gampang, mungkin karena yang ia tulis adalah kisahnya sendiri.

Ia membaca kembali tulisannya, ada getar halus yang terasa di hatinya. "Bismillah ... semoga banyak yang baca. Semoga ceritaku ini bisa menghasilkan uang seperti yang diceritakan Erna. Biar aku punya penghasilan sendiri dan tidak bergantung lagi pada Doni," ucapnya sebelum akhirnya ia menekan tombol kirim.

Bab satu Bangkitnya Istri Yang Tersakiti sudah terkirim. Kyara memandangnya dengan mata berkaca-kaca. Lalu ia kembali menggerakkan jarinya, menulis bab selanjutnya.

_______

Doni berdiri bersandar di dinding koridor apartemen yang lengang. Tangannya sesekali melirik jam di pergelangan tangan. Sudah hampir sepuluh menit ia menunggu di depan pintu apartemen Nayla.

Koridor lantai itu sepi, hanya terdengar suara samar lift yang sesekali naik turun. Doni menghela napas pelan, lalu menyisir rambutnya ke belakang. Rasa rindu yang sejak siang ia tahan membuatnya tak sabar ingin segera bertemu wanita itu. "Lama banget," gumamnya pelan.

Beberapa detik kemudian terdengar bunyi ding dari arah lift. Pintu logam itu terbuka perlahan. Seorang wanita dengan rok kerja dan blazer abu-abu keluar sambil menenteng tas tangan.

Nayla akhirnya pulang. Begitu melihat sosok yang berdiri di depan pintu apartemennya, wajah Nayla langsung berubah cerah. "Mas Doni!" serunya.

Doni mengangkat tangan dan melambaikannya sambil tersenyum.

Nayla berlari kecil menghampirinya. Begitu sampai di depan Doni, tanpa ragu ia langsung memeluk pria itu erat dan mengecup bibirnya singkat. "Aku kangen banget sama kamu, Mas," rengeknya manja sambil masih memeluk. "Nggak ada kamu ... kantor rasanya sepi banget."

"Gombal?" Doni terkekeh sambil menarik ujung hidung Nayla pelan.

"Beneran," balas Nayla cepat dengan nada manja. "Aku kangen banget, banget, banget!"

Doni menatap wajah wanita itu beberapa detik. Ada lelah di matanya setelah seharian bekerja, tapi senyumnya tetap hangat seperti biasa. "Kalau gitu, yuk masuk," kata Doni dengan suara rendah. "Aku juga kangen pisan sama kamu, Neng cantik," godanya.

Nayla tertawa kecil. Ia mengeluarkan kartu akses dari tasnya, lalu membuka pintu apartemen.

Pintu terbuka. Nayla lebih dulu melangkah masuk, kemudian menoleh sambil menarik tangan Doni. "Ayo," katanya pelan.

Begitu Doni masuk, Nayla langsung menutup pintu di belakang mereka. Tas kerjanya ia letakkan sembarangan di meja dekat pintu, seolah tak peduli lagi. "Akhirnya kita bisa bersama lagi," katanya sambil kembali mendekat.

Doni menatapnya sambil tersenyum tipis. "Iya, aku udah nggak tahan dari tadi pengen melihat wajahmu."

"Aku juga," jawab Nayla tanpa ragu.

Ia kembali merangkul leher Doni dan menyandarkan kepalanya sebentar di dada pria itu. Apartemen itu terasa sunyi, hanya suara napas mereka yang terdengar.

Doni mengusap lembut rambut Nayla. "Kamu pasti capek?" tanyanya.

"Lumayan. Tadi sih capek ..." jawab Nayla. Lalu ia mengangkat wajahnya dan tersenyum nakal. "Tapi sekarang sudah nggak capek lagi."

"Kenapa?"

"Karena kamu di sini."

Doni terkekeh pelan. "Rayuan lagi."

Nayla hanya tertawa. Ia kemudian menggenggam tangan Doni dan menariknya ke arah ruang tengah apartemen. "Duduk dulu. Aku mau ngambil minum dulu," katanya sambil berjalan.

Namun sebelum gadis itu melangkah lebih jauh, Doni menarik Nayla kembali mendekat. "Sebentar."

Nayla mengangkat alis. "Kenapa?"

Doni hanya tersenyum tipis, lalu mendekatkan wajahnya. "Aku pengen hisap melon kamu, sekarang."

Nayla tertawa pelan, lalu menggenggam tangan Doni. Tanpa banyak bicara lagi, ia menarik pria itu menuju kamar. "Ayo kita ke kamar," bisiknya. Pintu kamar dibuka, lalu Nayla menarik Doni masuk dan menutup pintunya perlahan. Ruangan itu remang dengan lampu tidur yang menyala lembut di sudut meja.

Begitu pintu tertutup, Nayla langsung berbalik menghadap Doni. Tatapan mereka saling bertemu, penuh kerinduan yang sejak tadi mereka tahan. "Kalau gitu, ayo hisap sesukamu." Nayla melepas blazer, lalu membuka satu per satu kancing kemejanya. Sehingga terpampang lah bra merah menyala membungkus melonnya. Lalu dengan centilnya, ia menggoyang-goyangkan dadanya.

Doni menyeringai, air liurnya nyaris menetes. Matanya tak lepas dari dada kekasih gelapnya.

Nayla mendekat makin merapat. Kedua tangannya melingkar di leher Doni, lalu ia mencium bibir pria itu dengan rakus dan penuh nafsu.

Doni membalasnya, memeluk pinggang Nayla erat hingga tubuh mereka saling merapat.

Suasana kamar terasa hangat. Hanya suara napas mereka yang terdengar di antara keheningan diiringi cecap lidah yang saling bertemu.

Beberapa saat kemudian, Nayla tertawa kecil di sela-sela pagutannya. "Buruan remas, Baby," titahnya setengah berbisik.

"Dengan senang hati, Sayang," sahut Doni dengan suara parau dan senyum nakal. Ia menarik tubuh Nayla ke atas ranjang, lalu merebahkan dan menindihnya. Tanpa banyak bicara, ia langsung melahap melon yang sejak tadi menggoda kewarasannya.

"Ahh ... Mas ..." Nayla meremas rambut Doni sembari menekan kepala lelaki itu agar lebih dalam menyapa dua gundukan kenyalnya.

Doni menyeringai di balik kegiatannya. Tangan kanannya mulai turun ke antara selangkangan Nayla. Jemarinya menelusup masuk ke balik kain segitiga bermuda. Menyapa dengan penuh hasrat menggila.

"Oughh ... Mas, jilatin ... buruan," desah Nayla blingsatan.

"Iya, Sayang." Doni tak membuang waktu, ia melakukan apa yang diminta Nayla.

Sore itu, hasrat yang mereka pendam akhirnya terlepaskan. Mereka saling mendekap, saling mencari kehangatan, menyatu dalam ranjang yang berderit panas.

Di balik pintu kamar yang tertutup rapat, mereka tenggelam dalam kebersamaan yang penuh gairah dan rasa memiliki, seolah dunia di luar apartemen itu tidak ada lagi.

Waktu berlalu tanpa terasa. Ketika semuanya akhirnya mereda, Nayla berbaring di samping Doni sambil menyandarkan kepalanya di dada pria itu. Napasnya masih sedikit terengah, tapi senyum tipis menghiasi wajahnya.

"Sekarang rasa kangenku sedikit terbayar," gumamnya pelan.

Doni tertawa kecil sambil mengusap rambutnya. "Sedikit?"

Nayla mengangkat wajahnya, lalu mencubit ringan lengan Doni. "Iya, sedikit. Soalnya aku mau lagi."

"Haha ... siap, Sayang. Aku juga belum puas. Tubuhmu selalu membuat hasratku membuncah."

Nayla tersenyum bangga, lalu ia kembali berkata dengan nada cukup serius. "Mas, kapan kamu mau mengenalkan aku ke mama dan adikmu? Aku udah nggak bisa nunggu lagi. Aku ingin segera menjadi istrimu."

Doni mencium kening Nayla. "Besok malam," jawabnya mantap. "Aku akan mengenalkan kamu ke mereka. Kita makan malam sama-sama di restoran favorit kamu."

Nayla menjerit ceria. "Aaa ... makasih, Mas." Ia bangkit, naik ke atas tubuh Doni, lalu menciumnya. "Aku sayang kamu," ucapnya setelah ciuman itu terlepas.

"Aku juga." Doni mengusap pinggang Nayla. "Sayang, kita lanjut lagi yuk. Kamu di atas ya?"

Nayla mengangguk cepat. "Siap, Mas."

1
falea sezi
bkin cerai lah lama amat g sat set kya menye menye agak. oon
falea sezi
harusnya semua isi ATM di kuras
falea sezi
muter. doank. sih. Thor hadehh. g sat sett. kelamaan. drama. doank
falea sezi
menye menye oon
stela aza
menjijikan
stela aza
males bgt kebanyakan drama
stela aza
Nora bgt biyunge Doni Karo Doni ,, melayat kaya mau kondangan
Ama Apr: haha orkay sombong adigung kk
total 1 replies
stela aza
Thor emang si Kya g punya kelebihan selain beres2 rumah ,,, kasian amat mau minggat dari rumah itu nunggu ngumpulin duit di kasi Doni 🤦
stela aza: kalau bisa karakter cewenya jgn cuma cantik doank Thor harus punya kelebihan yg bisa di banggakan 🤭
total 2 replies
I Love you,
🤣🤣🤣🤣🤣 kaget ya...🙏🙏
Ama Apr: hehe iya
total 1 replies
I Love you,
nnk karma tunai bayar nya g nyicil loh🤣🤣
Ama Apr: hehehe
total 1 replies
I Love you,
😤😤😤😤selingkuh dia😡😡
Ama Apr: iya kk
total 1 replies
falea sezi
bertele tele tolol males
Ama Apr: skip aja kk
total 1 replies
falea sezi
ngadu ngadu percuma ambil tindakan. lah. goblok. je males. like. lahh g jelas
falea sezi
oon menye menye
Amy
jgn mau kyaa
Ama Apr: semoga kya nggak luluh
total 1 replies
CB-1
lanjut kaak💪
Ama Apr: siap kk, makasih🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!