Bagi Liana, mencintai Justin dimulai dari sebuah sore di lobi kampus. Hanya karena melihat Justin bermain basket di bawah hujan, Liana nekat mengejar pria dingin itu hingga mereka bersatu di tengah lapangan basket yang basah.
Namun, janji itu hancur saat Justin memutusnya secara sepihak di hari kelulusan Justin dan menghilang tanpa jejak.
Tiga tahun kemudian.
Liana terkejut saat harus berhadapan dengan CEO baru di kantor tempatnya melamar kerja. Justin kembali, namun ia kini asing, dingin, dan terjebak dalam pusaran perjodohan.
Meski waktu berlalu, Liana menyadari: "There was something about you that I can't forget." Hidupnya tetap terjebak pada melodi yang sama Lagu kesukaannya "About You" milik The 1975. Karena baginya, ini masih tentang Justin di setiap detiknya.
Apakah takdir memberi mereka kesempatan kedua, ataukah hujan kali ini benar-benar menghapus jejak mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Pertemuan Tak Terduga
Beberapa minggu telah berlalu sejak gema sorak-sorai di GOR Patriot mereda. Luka di kaki Liana kini sudah pulih sepenuhnya, menyisakan garis tipis samar yang menjadi pengingat akan perjuangannya—dan pembelaan heroik Justin. Alena sendiri sudah resmi dikeluarkan dari universitas setelah bukti sabotase tersebut diproses secara hukum, memberikan ketenangan yang selama ini dinantikan oleh seluruh anggota UKM Basket.
Hari ini adalah hari Sabtu. Untuk pertama kalinya sejak mereka resmi berpacaran di depan publik, Justin mengajak Liana berkencan secara "normal". Tidak ada bola basket, tidak ada keringat latihan, dan tidak ada sembunyi-sembunyi di gudang peralatan.
Justin menjemput Liana dengan mobilnya. Ia tampil sangat berbeda hari ini; mengenakan kemeja flanel biru navy yang lengannya digulung rapi dan celana chino krem. Rambutnya yang biasanya berantakan karena latihan kini tertata rapi.
"Cantik," bisik Justin saat Liana masuk ke dalam mobil dengan mengenakan gaun bunga-bunga sederhana dan sepatu kets putih.
Liana tersipu malu. "Kakak juga... rapi banget. Mau kemana kita?"
"Makan siang, jalan-jalan sebentar, dan ada sesuatu yang mau aku omongin," jawab Justin sambil mulai menjalankan mobilnya.
Mereka sampai di sebuah kafe semi-terbuka yang tenang di pinggiran kota. Suasananya sangat asri dengan banyak tanaman hijau dan alunan musik jazz instrumen yang lembut. Setelah memesan makanan, Justin menatap Liana dengan tatapan yang lebih serius dari biasanya.
"Li," panggil Justin pelan.
Liana mendongak dari minumannya. "Iya, Kak?"
"Ada hal penting yang harus aku kasih tahu. aku... aku bakal mulai absen dari kegiatan UKM Basket untuk sementara waktu," ucap Justin.
Liana tertegun. Gelas di tangannya hampir saja terlepas. "Absen? Tapi Kak, Kakak kan Kapten. Tanpa Kakak, tim putra gimana? Apalagi bentar lagi ada liga persahabatan."
Justin menghela napas panjang, ia menggenggam tangan Liana di atas meja. "Aku sudah semester akhir, Li. Skripsiku sudah mulai menumpuk, dan dosen pembimbing aku sudah kasih peringatan. aku mau fokus lulus tepat waktu supaya bisa langsung pegang tanggung jawab di perusahaan keluarga."
Liana terdiam sejenak. Ia sadar bahwa Justin memang sudah berada di penghujung masa kuliahnya. Sebagai pacar, ia harusnya mendukung, tapi ada rasa sedih membayangkan tidak akan melihat Justin lagi di lapangan setiap sore.
"Terus... siapa yang gantiin Kakak?" tanya Liana lirih.
"Pembina UKM sudah milih pelatih baru dari luar. Dia mantan pemain profesional yang juga alumni kampus kita. Raka bakal tetep jadi asisten untuk urusan internal tim putra, jadi kamu nggak perlu khawatir. Tim bakal tetep kuat," jelas Justin. Ia mengusap punggung tangan Liana lembut. "Aku nggak bener-bener pergi, Li. aku cuma pindah dari lapangan ke perpustakaan. aku tetep bakal jemput kamu tiap sore kalau aku nggak ada jadwal bimbingan."
Liana tersenyum, mencoba memahami posisi Justin. "Iya, Kak. Aku ngerti. Kakak harus fokus sama masa depan Kakak juga. Aku bakal dukung apapun keputusan Kakak."
"Makasih ya, Pendek," goda Justin sambil mencubit pipi Liana pelan.
Setelah makan siang, Justin mengajak Liana ke sebuah pusat perbelanjaan kelas atas untuk sekadar jalan-jalan dan membeli beberapa buku referensi skripsinya. Mereka berjalan beriringan, tangan Justin tidak pernah lepas merangkul bahu Liana, menunjukkan pada dunia bahwa gadis di sampingnya adalah miliknya.
Namun, saat mereka baru saja keluar dari sebuah toko buku, langkah Justin mendadak membeku. Matanya menatap lurus ke arah sebuah restoran mewah yang berada tepat di depan mereka.
Di sana, di depan pintu restoran, berdiri sepasang suami istri paruh baya yang tampak sangat elegan. Sang pria mengenakan jas formal yang sangat mahal, sementara sang wanita mengenakan dress sutra dengan perhiasan berlian yang berkilau. Di belakang mereka, beberapa asisten tampak membawa banyak tas belanjaan dari merek ternama.
"Papa? Mama?" gumam Justin dengan suara yang hampir tak terdengar.
Liana ikut menoleh. Ia bisa merasakan perubahan drastis pada aura Justin. Tubuh laki-laki itu mendadak kaku, dan genggamannya pada bahu Liana mengerat secara refleks.
Pasangan suami istri itu menoleh ke arah suara. Sang wanita, yang memiliki wajah sangat mirip dengan Justin namun dengan ekspresi yang lebih angkuh, langsung melebarkan matanya.
"Justin? Kamu di sini?" tanya sang Mama dengan suara yang nyaring namun dingin.
Mereka berdua berjalan mendekati Justin dan Liana. Tatapan sang Papa langsung jatuh pada tangan Justin yang masih merangkul Liana. Alisnya bertaut tajam, menciptakan suasana yang seketika menjadi sangat mencekam di tengah mal yang ramai itu.
"Katanya kamu sibuk kuliah dan latihan basket sampai tidak bisa menjemput Papa dan Mama di bandara tadi pagi?" tanya sang Papa dengan nada menginterogasi. "Tapi ternyata... kamu malah sibuk jalan-jalan dengan... siapa ini?"
Justin menarik napas dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu. "Maaf, Pa. Justin nggak tahu kalian pulang hari ini. Di jadwal asisten Papa, kalian baru pulang minggu depan."
Justin kemudian menarik Liana sedikit lebih maju, memperkenalkannya dengan suara yang tegas meski ada sedikit kegugupan yang ia sembunyikan.
"Papa, Mama... kenalin, ini Liana. Pacar Justin."
Keheningan yang menyakitkan menyelimuti mereka selama beberapa detik. Sang Mama menatap Liana dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan menilai, persis seperti cara Alena menatap Liana dulu, namun dengan otoritas yang jauh lebih besar.
"Pacar?" sang Mama mengulangi kata itu dengan nada meremehkan. "Justin, kita baru pulang dari Singapura untuk mengurus kerja sama bisnis, dan ini kejutan yang kamu kasih? Membawa gadis kecil yang bahkan belum lulus kuliah ke depan kami?"
Liana merasa tubuhnya mendingin. Ia menunduk sopan, memberikan salam. "Selamat siang, Om, Tante. Nama saya Liana..."
Sang Papa tidak membalas sapaan Liana. Ia hanya menatap Justin dengan sorot mata yang menuntut penjelasan. "Kita bicara di rumah malam ini, Justin. Lepaskan genggamanmu, dan segera pulang. Kita punya banyak hal yang harus dibahas tentang skripsimu dan posisi kamu di perusahaan, bukan tentang main-main seperti ini."
"Justin nggak main-main, Pa," balas Justin dengan nada yang mulai meninggi.
"Pulang, Justin Adhinata!" perintah sang Papa mutlak, lalu ia berbalik pergi diikuti oleh sang Mama yang memberikan tatapan dingin terakhir pada Liana.
Setelah orang tuanya menjauh, Justin menghembuskan napas kasar. Ia menoleh ke arah Liana yang tampak sangat tertekan. "Li... maaf banget. aku nggak nyangka mereka bakal pulang lebih awal."
Liana mencoba tersenyum meski hatinya terasa sesak. "Nggak apa-apa, Kak. Kakak pulang aja sekarang. Papa Kakak kelihatan marah banget."
Justin memegang kedua bahu Liana. "Dengerin aku. Apapun yang mereka bilang nanti malam, itu nggak bakal ngerubah perasaan aku ke kamu. aku bakal urus ini, oke?"
Liana mengangguk pelan, namun dalam hatinya, ia merasa sebuah tantangan baru yang jauh lebih besar dari Alena baru saja dimulai. Jika dulu ia hanya berhadapan dengan rasa cemburu teman kampus, kini ia berhadapan dengan dinding beton bernama keluarga besar Adhinata.