Sepuluh tahun bersahabat, satu menit untuk jatuh cinta, dan dua belas menit untuk mempertaruhkan segalanya.
Tepat pukul 23:48 di malam pergantian tahun, Arka memiliki satu misi gila: Menyatakan cinta pada Lala, sahabat masa kecilnya, sebelum kembang api pertama meledak. Namun, semesta seolah sedang bercanda. Mulai dari sinyal yang timbul tenggelam, serangan video call grup keluarga yang heboh, hingga baterai ponsel yang tersisa 1%.
Di tengah riuhnya Jakarta, setiap detik adalah pertaruhan. Apakah pesan "Aku suka kamu" akan sampai sebelum jam berubah menjadi 00:00? Ataukah Arka harus menahan rindu dan penyesalan satu tahun lagi?
"Ikuti perjalanan chat paling mendebarkan dalam 12 menit terakhir tahun ini!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#6 Interupsi Suara Terompet
Bab 6: Interupsi Suara Terompet
Waktu masih merantai langkahku di angka 23:48, namun kestabilan mental yang susah payah aku bangun sejak detik pertama kini berada di ambang kolaps total. Setelah membedah siluet Lala secara mikroskopis dan hampir menetapkan diksi untuk pesan kematian—atau kehidupan—itu, sebuah variabel eksternal yang tidak terprediksi meledak begitu saja.
TETTTTTTTTTTTTTTT!!!
Suara itu tidak sekadar terdengar; ia menyerang. Sebuah terompet plastik murahan berwarna hijau neon, yang hanya berjarak lima sentimeter dari daun telinga kananku, memuntahkan polusi akustik dengan desibel yang melampaui ambang batas toleransi saraf.
Secara fisik, gelombang suara itu merambat melalui udara pengap Bundaran HI, menabrak daun telingaku, dan menggetarkan gendang telinga (membran timpani) dengan frekuensi yang begitu kasar dan tidak harmonis. Getaran itu merambat melalui tulang-tulang pendengaran, mengirimkan sinyal elektrik darurat langsung ke lobus temporal otakku. Efeknya instan: respon kejut (startle reflex) meledak di seluruh sistem saraf pusatku.
Seluruh otot di tubuhku menegang secara involunter. Bahuku terangkat drastis, dan saraf motorik di lenganku mengalami kontraksi mendadak yang fatal. Ponsel yang tadi kupegang dengan penuh kehati-hatian—seperti memegang jantung yang masih berdetak—kini terlepas dari cengkeraman telapak tanganku yang lembap.
Dunia seolah melambat secara artifisial. Aku melihat ponsel itu melayang di udara, berputar pelan searah jarum jam. Cahaya layarnya yang masih menyala terang menciptakan garis putih vertikal yang membelah kegelapan malam. Dalam fraksi detik itu, aku melakukan analisis bencana: Jika ponsel ini jatuh dengan sudut 45 derajat ke aspal, tempered glass-nya akan hancur. Jika ia jatuh rata ke genangan air tipis di sela ubin, sirkuit di dalamnya bisa mengalami korsleting. Jika ia menghilang di sela kaki ribuan orang ini, aku kehilangan Lala selamanya.
Adrenalin menyembur ke aliran darahku seperti ledakan nuklir. Dengan gerakan refleks yang lebih cepat dari logika manapun, tangan kiriku menyambar udara, mencoba menghentikan hukum gravitasi. Ujung jari-jariku menyentuh permukaan silikon casing ponsel yang panas. Aku merasakan gesekan kasar, sebuah energi kinetik yang hampir saja gagal kuredam.
Hap.
Aku berhasil menangkapnya kembali, tepat sepuluh sentimeter sebelum ia mencium aspal yang kotor. Napas yang tadi tertahan kini keluar dalam satu embusan kasar yang panas. Dadaku bergemuruh; detak jantungku yang tadi sudah tidak sinkron, kini benar-benar berantakan, menyerupai ketukan drum dalam musik death metal.
"Woi! Pelan-pelan dong kalau tiup!" gerutuku, meski suaraku tenggelam dalam kebisingan massal.
Aku menoleh dengan kilat amarah di mataku. Pelakunya adalah seorang pemuda dengan wajah penuh tawa, mengenakan topi kertas kerucut, yang bahkan tidak menyadari bahwa dia baru saja hampir menghancurkan masa depanku. Baginya, itu hanyalah kebisingan perayaan. Bagiku, itu adalah sabotase terhadap takdir.
Aku kembali menghadap ke depan, berusaha menenangkan tremor yang kini menjalar dari pergelangan tangan hingga ke ujung kuku. Terompet itu tidak hanya mengganggu fisikku, tapi juga membubarkan draf kalimat yang sudah susah payah kususun di prefrontal cortex otakku. Semua struktur kata, pertimbangan semantik antara "Sayang" dan "Cinta", hingga keberanian yang kukumpulkan miligram demi miligram, hancur berkeping-keping akibat satu tiupan terompet plastik seharga sepuluh ribu rupiah.
Aku menatap layar ponsel yang untungnya masih menyala. Kursor vertikal itu masih berkedip, namun kini ia tampak seperti sedang menertawakanku. Kedipannya seolah mengikuti irama denging di telinga kananku yang belum hilang. Tinnitus. Suara berdenging bernada tinggi yang kini menjadi backsound baru dalam kepalaku, menutupi suara kerumunan dan—yang paling parah—menutupi keberanian batinku.
Secara mikroskopis, aku merasakan keringat di telapak tanganku kini berubah menjadi dingin. Reaksi post-shock. Pori-pori kulitku menutup rapat, menciptakan sensasi merinding di sepanjang lengan. Aku memperhatikan layar WhatsApp itu lagi. Kosong. Putih bersih. Menghina.
Gangguan akustik ini adalah pengingat yang kejam bahwa aku tidak berada di ruang hampa. Aku berdiri di tengah Jakarta, di titik paling kacau di malam tahun baru, mencoba melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan di tempat yang sunyi dan sakral. Aku sedang mencoba membangun katedral emosional di tengah pasar malam yang sedang terbakar.
Aku melirik Lala. Dia juga sedikit terkejut, namun dia hanya tertawa kecil sambil menutup telinganya dengan telapak tangan yang anggun. Dia tampak begitu ringan, begitu mudah beradaptasi dengan kekacauan ini. Kontras dengan aku yang merasa setiap kebisingan adalah serangan personal terhadap misiku.
Analisis objektifku mulai bekerja kembali, meski dengan pincang. Aku menyimpulkan bahwa lingkungan ini secara aktif menolak pengakuanku. Setiap detik yang terbuang karena interupsi seperti ini adalah kerugian yang tidak bisa dipulihkan. 23:48:30. Aku telah kehilangan tiga puluh detik berharga hanya karena sebuah refleks jatuh.
Aku mencoba mengatur ulang posisi berdiriku. Jari-jariku kini mencengkeram ponsel dengan kekuatan yang berlebihan—sebuah mekanisme kompensasi karena ketakutan akan menjatuhkannya lagi. Aku meraba tekstur layar yang kini terasa lebih kasar, mungkin karena partikel debu halus yang menempel saat ponsel itu melayang tadi.
Suara terompet lain menyusul di kejauhan, diikuti oleh bunyi petasan korek yang meledak di aspal. Setiap bunyi ledakan itu memicu kontraksi mikro di otot kelopak mataku, membuatku berkedip lebih sering dari biasanya. Aku merasa fokus visiku mulai menyempit (tunnel vision). Aku hanya bisa melihat layar ponsel, sementara dunia di sekitarku berubah menjadi bokeh yang kabur dan penuh warna-warni lampu neon yang berpendar tidak beraturan.
Denginging di telingaku perlahan memudar, digantikan oleh suara batin yang penuh makian. Aku memaki diriku sendiri karena begitu mudah terdistraksi. Aku memaki pedagang terompet. Aku memaki hukum fisika. Namun, di atas segalanya, aku menyadari bahwa interupsi ini telah meninggalkan residu kecemasan yang lebih dalam.
Pikiranku yang tadi sudah hampir mencapai konklusi diksi di Bab 4, kini kembali ke titik nol. Apakah aku harus mulai dari awal? Apakah "Aku sayang kamu" masih valid setelah serangan terompet ini? Rasanya seolah-olah suasana romantis yang kucoba bangun di dalam kepalaku telah terkontaminasi oleh kebisingan plastik yang murah.
Aku merasakan dorongan dari belakang lagi. Kerumunan semakin padat, semakin tidak sabar. Atmosfer yang tadi menyesakkan di Bab 2, kini terasa semakin mengancam. Suara-suara orang yang mulai melakukan hitung mundur prematur—"Sepuluh menit lagi! Sepuluh menit lagi!"—terdengar seperti ejekan bagi aku yang bahkan belum mengetik satu karakter pun.
Aku menarik napas panjang, mencoba melakukan reboot pada sistem kognitifku. Aku harus mengabaikan tinnitus ini. Aku harus mengabaikan pemuda bertopi kertas itu. Aku menatap ujung jempolku yang kini berjarak hanya beberapa milimeter dari huruf 'L'.
Dalam analisis mikroskopis terakhir di bab ini, aku menyadari satu hal: Kebisingan dunia tidak akan pernah berhenti untuk memberiku waktu yang tepat. Jika aku menunggu kesunyian di tengah Jakarta pada malam tahun baru, maka aku hanya menunggu kegagalan. Interupsi terompet ini adalah ujian sinkronisasi antara niat dan aksi.
Getaran di tanganku mulai mereda, namun digantikan oleh rasa tegang yang menjalar ke leher. Aku memiringkan ponselku sedikit, melindungi layarnya dari kemungkinan interupsi visual atau fisik lainnya. Aku akan mengetiknya sekarang. Sebelum ada terompet lain. Sebelum ada ledakan lain. Sebelum keberanianku benar-benar menguap bersama asap jagung bakar.
Namun, tepat saat jempolku hampir menyentuh permukaan kaca, aku merasakan ponsel itu bergetar. Bukan karena sentuhanku.
Ada panggilan masuk.
Layar WhatsApp yang putih bersih itu mendadak berubah menjadi layar panggilan telepon dengan nama: "Ibu".
Duniaku runtuh untuk kedua kalinya dalam satu menit yang sama.