Tio Wirawan, seorang solo climber arogan, tersesat dan terluka parah di Gunung Slamet.
Terisolasi tanpa bantuan, ia berjuang melawan lapar, infeksi, dan dingin yang perlahan merenggut hidupnya.
Namun saat kematian semakin dekat, ia menemukan sesuatu yang mustahil: sebuah desa misterius yang tidak ada di dunia manusia.
Di sana, Tio dihadapkan pada sebuah kebenaran—ia tidak hanya tersesat di gunung, tetapi di antara dua alam.
Ketika ia akhirnya kembali, secara tak masuk akal muncul di kaki Gunung Ciremai, Arya sadar ia telah diberi kesempatan kedua. Tapi sebagian dari dirinya tertinggal di tempat itu—di Pasham, tempat di mana manusia harus tersesat untuk benar-benar menemukan jalan pulang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Ketujuh : Buruan
Hari itu Tio berjalan dengan semangat yang tidak pernah ia rasakan dalam berhari-hari. Air ajaib dari tempurung kelapa itu masih terasa efeknya—tubuhnya ringan, pikirannya jernih, harapannya membumbung tinggi.
Mungkin hari ini, pikirnya, mungkin hari ini ia akan menemukan desa itu. Desa dalam mimpi. Desa yang ditunjukkan kakek tua.
Ia menyusuri lereng yang semakin landai, meninggalkan area tebing dan air terjun di belakangnya.
Medan mulai bersahabat—masih terjal di beberapa titik, tapi tidak seekstrem sebelumnya. Pepohonan lebih rapat, semak-semak lebih rimbun, dan sesekali ia mendengar suara burung yang merdu.
Kaki kanan masih sakit, tapi tidak seperti kemarin. Mungkin karena air itu. Mungkin karena pisang-pisang yang masih tersisa di ransel. Mungkin karena harapan.
Tio terus berjalan. Satu jam. Dua jam. Ia tidak menghitung waktu, hanya fokus pada langkah demi langkah. Sesekali ia berhenti untuk minum dari botolnya yang mulai menipis, lalu melanjutkan lagi.
Hutan di sekitarnya mulai berubah. Pepohonan tidak setinggi di atas, semak-semak lebih banyak, dan tanaman merambat di mana-mana. Tanda bahwa ia semakin turun, semakin mendekati kaki gunung. Atau setidaknya, itulah harapannya.
Sekitar pukul satu siang, Tio tiba di area yang cukup terbuka—sebuah padang rumput kecil yang dikelilingi pepohonan.
Rumput-rumputnya hijau, setinggi pinggang, bergoyang lembut tertiup angin. Indah. Damai. Tio tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam berhari-hari, ia benar-benar tersenyum. Mungkin ini pertanda baik. Mungkin setelah semua yang ia alami, akhirnya alam memberi jalan.
Ia melangkah masuk ke padang rumput itu. Rumput-rumput menyapu kakinya, meninggalkan sensasi gatal. Tapi ia terus berjalan, menikmati pemandangan, menikmati angin, menikmati rasa damai yang langka ini.
Dan saat itulah, tanpa peringatan, tanah di bawah kakinya menghilang.
Tio tidak tahu persis apa yang terjadi. Satu detik ia berjalan di padang rumput yang indah, detik berikutnya ia jatuh.
Bukan jatuh biasa. Ini jatuh bebas ke dalam jurang yang tersembunyi di balik rerumputan. Tubuhnya membentur dinding jurang sekali, dua kali, tiga kali. Tangannya mencoba meraih apa saja—tanah, akar, batu—tapi semuanya terlepas. Tubuhnya terus jatuh, memantul, jatuh lagi.
Dunia berputar. Langit, tanah, pepohonan, semuanya bercampur menjadi pusaran kacau. Suara napasnya sendiri terdengar seperti dengusan panik di telinga. Rasa sakit menjalar di sekujur tubuh.
Dan kemudian—hentakan keras di kepala.
Dunia menjadi gelap.
Berapa lama ia tidak sadar? Tidak tahu. Mungkin beberapa menit, mungkin beberapa jam. Yang ia tahu, ketika kesadaran perlahan kembali, matahari sudah mulai turun ke barat.
Sore menjelang.
Sakit.
Itu yang pertama ia rasakan. Sakit di seluruh tubuh. Kepalanya berdenyut hebat, seperti ada palu kecil yang memukul dari dalam. Ia menggerakkan tangan, mencoba meraba kepalanya. Di pelipis kanan, ada luka. Sobek.
Darah sudah mengering, membekas di kulit dan rambut. Pendarahannya berhenti selama ia pingsan—mungkin darahnya membeku, karena lukanya tidak terlalu dalam.
Tio mencoba duduk. Tubuhnya menjerit. Kaki kanan—ia lupa sejenak, lalu ingat lagi. Rasa sakit familiar di pergelangan kaki. Infeksi. Bengkak. Sekarang mungkin bertambah parah karena jatuh.
Ia melihat sekeliling. Jurang tidak terlalu dalam—mungkin 5 atau 6 meter. Ia jatuh ke dasar jurang kecil yang ditumbuhi semak-semak dan rumput. Dinding jurang terjal, tapi tidak mustahil untuk dipanjat.
Setidaknya, dalam kondisi normal.
Tapi sekarang, dalam kondisinya yang hancur, ia bahkan tidak bisa berdiri.
Saat ia duduk di sana, mencoba mengumpulkan sisa kekuatan, sesuatu menarik perhatiannya.
Bayangan.
Di tepi dalam sisi jurang, di mana ia jatuh tadi, muncul sesosok bayangan. Hitam. Tidak seperti bayangan-bayangan sebelumnya yang hanya diam menonton. Yang ini berbeda.
Bentuknya lebih jelas—lebih padat, lebih nyata. Seperti manusia, tapi tidak sepenuhnya manusia. Tinggi, kurus, dengan lengan yang terlalu panjang. Dan wajahnya... Tio tidak bisa melihat jelas dari jarak itu, tapi ia bisa melihat matanya.
Merah. Menyala di tengah gelapnya bayangan. Dan mulutnya. Mulut itu terbuka, memperlihatkan deretan gigi runcing. Tajam. Banyak. Seperti mulut ikan predator, tapi lebih mengerikan.
Tio membeku. Jantungnya berhenti sejenak, lalu berdetak kencang, sangat kencang, seperti genderang perang.
Bayangan itu mulai bergerak. Tidak berjalan—merayap. Seperti laba-laba, seperti serangga, dengan gerakan-gerakan patah yang tidak alami. Ia turun ke jurang, mendekat perlahan.
Dan di belakangnya, bayangan-bayangan lain mulai muncul. Satu, dua, tiga, sepuluh. Semuanya sama—hitam, mata merah, gigi runcing. Mereka merayap turun, mengikuti yang pertama, membentuk barisan pemburu.
Tio tidak berpikir. Tubuhnya bergerak otomatis, didorong oleh adrenalin murni.
Ia bangkit, melupakan rasa sakit, melupakan kaki cedera, melupakan kepala sobek. Ia berlari.
Bukan berlari sungguhan—lebih tepatnya melompat-lompat panik dengan satu kaki, sambil merangkak, sambil merayap, apa saja yang bisa membuatnya bergerak menjauh dari makhluk-makhluk itu.
Di belakangnya, suara gesekan. Suara napas. Suara cakaran di tanah. Mereka mengejar.
Tio tidak berani menoleh. Ia hanya fokus ke depan. Mencari tempat bersembunyi. Mencari celah. Mencari apa saja yang bisa menyelamatkannya.
Semak-semak mencambuk wajahnya. Ranting-ranting menggores kulitnya. Ia jatuh, bangkit lagi, jatuh, bangkit lagi. Adrenalin membuatnya tidak merasakan sakit. Yang ada hanya ketakutan murni, primitif, yang memenuhi seluruh pikirannya.
Lari, Tio, lari! Jangan biarkan mereka menangkapmu!
Di belakang, suara semakin dekat. Tio bisa mendengar napas mereka—napas serak, seperti orang sekarat yang dipaksa bernapas. Ia bisa mencium bau mereka—bau busuk, seperti bangkai, seperti tanah kuburan.
Tuhan, tolong! Tuhan, tolong aku!
Tiba-tiba, di depan, Tio melihat sesuatu. Sebuah celah di dinding tebing kecil. Gelap. Sempit. Mungkin cukup untuk satu orang.
Tanpa berpikir, Tio merangkak masuk.
Celah itu sempit, sangat sempit. Ia harus memaksa tubuhnya melewatinya, mengabaikan luka-luka yang tergores batu tajam. Dorong. Tarik. Dorong. Tarik. Sampai akhirnya ia jatuh ke dalam ruang kecil di balik celah itu.
Sebuah gua. Kecil, gelap, berbau lembab. Tapi tersembunyi. Aman.
Tio meringkuk di sudut gua, memegang mulutnya sendiri, berusaha mengatur napas yang memburu. Jantungnya berdebar seperti mau meledak. Tubuhnya gemetar hebat—campuran ketakutan dan kelelahan.
Dari luar, ia mendengar suara mereka. Gesekan. Napas serak. Suara cakaran di batu. Mereka mencari. Mereka mendekat.
Tio menahan napas. Matanya terpejam rapat. Jangan ketemu. Jangan ketemu. Jangan ketemu.
Suara gesekan itu berhenti tepat di luar celah.
Tio bisa merasakan kehadiran mereka. Dingin. Menekan. Seperti ada ribuan jarum menusuk kulitnya. Ia tahu mereka ada di sana, di balik celah itu, mengintip, mencari.
Satu menit. Dua menit. Lima menit.
Tidak ada yang masuk. Mungkin celah itu terlalu kecil untuk mereka. Mungkin mereka tidak bisa melihatnya di dalam gelap.
Akhirnya, suara gesekan mulai menjauh. Perlahan. Satu per satu, mereka pergi.
Tio menunggu lama setelah suara itu benar-benar hilang. Ia tidak berani bergerak. Tidak berani bernapas lega. Hanya duduk di sana, di sudut gua yang gelap, menunggu, berharap, berdoa.
Malam tiba.
Di dalam gua itu, Tio duduk meringkuk, memeluk lutut. Ia tidak punya api. Tidak punya sleeping bag—ranselnya hilang entah di mana saat ia jatuh dan berlari tadi. Hanya pakaian yang melekat di tubuh, robek, kotor, penuh darah.
Tapi ia masih hidup. Masih bernapas. Masih bisa merasakan ketakutan dan rasa sakit.
Ia menyentuh lukanya di kepala. Darah
sudah kering. Ia meraba-raba, memperkirakan ukuran sobekan. Tidak terlalu besar, tapi pasti sakit. Tangannya juga luka—tergores batu saat ia memaksa masuk ke celah tadi. Kaki kanan—ia bahkan tidak berani melihatnya.
Tapi ia masih hidup.
Di luar gua, suara malam mulai terdengar. Monyet menjerit. Tawa melengking. Geraman aneh. Dan mungkin, di antara suara-suara itu, para pemburu itu masih mencari.
Tapi untuk sekarang, di dalam gua gelap ini, Tio aman. Sementara.
Ia memejamkan mata, tidak bisa tidur, hanya beristirahat. Besok, ia harus keluar. Besok, ia harus mencari ranselnya, mencari air, mencari makanan, mencari jalan.
Tapi untuk malam ini, ia hanya ingin bertahan.
Malam ketujuh? Kedelapan? Ia tidak tahu lagi.
Yang ia tahu, ia masih hidup. Masih di sini.
Masih berjuang. Selama itu, masih ada harapan.