Tujuh tahun cinta, dibalas dengan kematian di tengah api. Di hari pernikahanku, aku baru tahu bahwa tunanganku, Aiden, telah memiliki anak dengan kakak tiriku.
Saat aku membuka mata, aku kembali ke masa lalu. Berdiri di depan pria yang paling ditakuti, Jerome Renfred. Dia adalah paman kandung Aiden—pria dingin yang diam-diam menangisi kerangkaku di kehidupan sebelumnya.
"Jadikan aku istrimu, Tuan Renfred. Mari kita hancurkan mereka bersama."
Aku hanya menginginkan pernikahan kontrak demi dendam. Namun, kenapa setiap kali aku terluka, pria dingin ini yang merintih kesakitan?
"Valerie, jangan pernah berpikir untuk pergi. Di mata dunia kita adalah kontrak, tapi di tempat tidurku, kamu adalah selamanya."
Aiden, bersiaplah memanggilku "Bibi". Karena sekarang, aku adalah milik pria yang paling kamu takuti!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Di Balik Tirai Persengkongkolan
Di ruang kerja rahasianya di Mansion Pusat, Silas Renfred menatap monitor yang menunjukkan pergerakan saham yang tidak stabil. Di sampingnya, seorang pria berpakaian hitam—mata-mata yang dikirimnya untuk membuntuti Jerome hingga ke pulau rahasia—memberikan laporan terbaru dengan suara rendah.
"Tuan Besar, Jerome sudah bertemu dengan Arthur. Ikatan mereka semakin kuat. Jerome bahkan mengalami reaksi fisik yang hebat saat Valerie terluka kecil di sana," lapor orang kepercayaan itu, merujuk pada insiden air panas di dapur.
Silas menggebrak meja jati besarnya, membuat gelas wiski di atasnya bergetar. Matanya berkilat penuh kebencian yang murni. "Bodoh! Anak itu benar-benar membiarkan dirinya dirantai oleh wanita itu! Dia tidak sadar bahwa Arthur menggunakan Valerie sebagai umpan untuk menghisap hidupnya dan menghancurkan Renfred!"
"Tapi Tuan, bukankah berbahaya memisahkan mereka sekarang?" ucap asistennya dengan ragu, keringat dingin membasahi pelipisnya. "Jika kondisi Nona Valerie memburuk, nyawa Tuan Jerome taruhannya. Ikatan itu bersifat biologis, Tuan Besar."
Silas menyeringai kejam, sebuah ekspresi yang menunjukkan betapa ia telah kehilangan sisi kemanusiaannya demi kekuasaan. "Jerome hanya butuh kejutan besar untuk bangun dari pengaruh hipnotis Blackwood itu. Jika Valerie mati, Jerome akan menderita, ya. Tapi dia adalah seorang Renfred! Darahku mengalir di nadinya, dia akan bertahan. Aku akan memastikan Elena ada di sana untuk mengisi kekosongan itu dan mengembalikan kewarasannya."
Silas berdiri, menatap pemandangan kota dari jendela besarnya. "Segera jalankan rencana dengan Elena. Berikan dia akses yang dia butuhkan. Aku ingin Valerie Vaughn musnah sebelum pesta penyambutan besok malam dimulai. Jangan biarkan dia menginjakkan kaki di aula itu!.
...****************...
Di saat yang hampir bersamaan, pesawat pribadi Jerome membelah awan malam, membawa mereka kembali ke pusat badai. Di dalam kabin yang mewah, Valerie duduk dengan tenang, menatap dokumen-dokumen audit Renfred Group yang dikumpulkan oleh tim intelijen Jerome. Tidak ada lagi keraguan di matanya. Dia bukan lagi Valerie Vaughn yang gemetar saat dibentak; dia adalah Valerie Blackwood, wanita yang telah melihat kematian dan kembali untuk menagih hutang nyawa.
Jerome memperhatikannya dari kursi seberang. "Kau sangat tenang, Val. Apa cincin itu bekerja padamu juga?"
Valerie menatap suaminya, lalu tersenyum tipis yang terasa dingin. "Tidak, Jerome. Cincin itu melindungimu dari rasa sakit fisikku. Tapi ingatanku melindungiku dari rasa takut. Aku memikirkan Serena, Edward, dan Silas. Mereka pikir mereka predator, padahal mereka hanyalah mangsa yang sedang berpesta sebelum dijagal."
Begitu mendarat, mereka tidak langsung menuju mansion. Jerome mengarahkan mobil menuju Hotel Grand Renfred, tempat Elena—wanita yang dijodohkan Silas—sedang menginap.
"Kita akan menyapa tamu kita lebih awal?" tanya Valerie dengan nada tajam.
"Aku hanya ingin kau menunjukkan pada dunia siapa pemilik tahta yang sesungguhnya sebelum Silas sempat membuka mulutnya besok malam," jawab Jerome sembari membukakan pintu untuk istrinya.
Kemunculan mereka di lobi hotel membuat suasana mendadak sunyi. Jerome menggandeng Valerie dengan sikap posesif yang tidak disembunyikan. Saat mereka menaiki lift menuju Penthouse Suite, Valerie memperbaiki letak cincin obsidian di jari Jerome, memastikan suaminya terlindungi dari resonansi emosinya yang kini meluap.
"Tunggu aku di sini," ucap Valerie saat mereka sampai di depan pintu suite Elena. "Aku ingin bicara dengannya sebagai wanita, bukan sebagai istri CEO Renfred."
Jerome mengangkat alisnya, namun ia menuruti keinginan istrinya. "Ingat, sepuluh menit, Val. Jika lebih, aku akan mendobrak pintu ini karena jantungku pasti mulai gelisah memikirkan apa yang kau lakukan."
Valerie masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk. Elena, yang sedang bersantai dengan gaun sutra tipis dan segelas sampanye, terlonjak kaget melihat sosok wanita yang sangat cantik namun memancarkan aura mengintimidasi berdiri di depannya.
"Siapa kau? Beraninya masuk ke sini!" teriak Elena.
Valerie berjalan mendekat, setiap langkahnya terdengar seperti ketukan palu hakim. "Aku adalah alasan kenapa kau tidak akan pernah memiliki Jerome Renfred," ucap Valerie datar. "Silas sudah memberi tahumu segalanya? Oh, Elena... pria tua itu bahkan tidak memberi tahumu bahwa Jerome telah mengakuisisi saham keluarga pribadimu di Paris pagi ini."
Wajah Elena berubah pucat pasi. "Apa maksudmu?"
"Maksudku," Valerie mendekat, menatap Elena dengan tatapan menghina, "Silas menggunakanku untuk memancing Jerome, dan dia menggunakanmu sebagai tumbal finansial. Kau pikir kau akan menjadi Nyonya Renfred? Kau hanyalah kesepakatan bisnis yang sudah Jerome batalkan bahkan sebelum pesta dimulai."
Valerie mencengkeram rahang Elena dengan lembut namun mengancam. "Kembalilah ke Paris malam ini, atau saksikan bagaimana Silas Renfred membuangmu ke penjara saat rencana pembunuhan yang kalian susun malam ini terbongkar di depan media internasional besok malam. Aku tahu tentang 'kejutan' yang kau siapkan untukku, Elena."
Elena gemetar, menyadari bahwa gadis di depannya bukan lagi Valerie Vaughn yang lemah, melainkan seorang Blackwood yang memiliki mata dan telinga di setiap sudut rencana mereka.
"Pilihanmu hanya satu," bisik Valerie di telinga Elena yang membeku. "Pergi sekarang, atau hancur bersama Silas."
Valerie berbalik pergi, meninggalkan Elena yang terpaku dalam ketakutan. Saat ia keluar, Jerome langsung merangkulnya. Melalui ikatan itu, Jerome merasakan ketegasan Valerie—sebuah kekuatan yang kini menjadi pelindung bagi jantungnya sendiri. Jerome menyeringai bangga melihat istrinya yang telah berubah menjadi belati yang tajam.
"Ayo pulang, Jerome," ucap Valerie tenang. "Biarkan Silas mengirim pembunuhnya. Aku ingin melihat mereka gagal tepat di depan matanya. Besok malam adalah pesta pemakaman untuk kesombongan ayahmu."
...****************...