NovelToon NovelToon
MENOPANG LANGIT Di ATAP YANG ASING

MENOPANG LANGIT Di ATAP YANG ASING

Status: tamat
Genre:Slice of Life / Nikahmuda / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Hamil di luar nikah / Berbaikan / Tamat
Popularitas:13.4k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Bagi orang lain, ia adalah definisi kemandirian yang sempurna. Namun, di balik punggungnya yang tegap, tersimpan luka yang tak pernah dipeluk siapa pun.

Ia tumbuh dalam rumah yang penuh, tetapi merasa seperti yatim piatu di tengah hiruk-pikuknya. Sejak kecil, ia dipaksa menelan rindu pada orang tua yang merantau, hanya untuk kembali dan mendapati dirinya sebagai orang asing yang selalu salah. Tanpa pembelaan, tanpa kasih sayang, ia belajar satu hal: satu-satunya orang yang bisa ia andalkan adalah dirinya sendiri.

Namun, sampai kapan seseorang bisa terus menjadi "langit" yang kokoh tanpa pernah runtuh? Ketika semua keinginan harus dipenuhi sendiri dan setiap air mata harus disembunyikan, ia mulai kehilangan jejak akan perasaannya sendiri.


Di rumah yang seharusnya menjadi pelabuhan, ia justru tenggelam dalam kesepian yang paling sunyi. Mampukah ia menemukan jalan pulang ke dirinya sendiri, ataukah ia akan terus menopang langit itu sampai hancur berkeping-keping?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Debu putih dari semen yang beterbangan dan deru mesin molen menyambut kedatangan Alana di lokasi proyek sisi barat. Ia segera mengenakan helm proyeknya, mengunci rahangnya kuat-kuat, dan menenggelamkan diri dalam tumpukan laporan teknis. Baginya, kebisingan proyek adalah pelarian terbaik dari suara lengkingan ibunya yang masih terngiang di telinga.

"Pagi, Bu Alana. Semua sudah siap. Pengecoran mulai lima menit lagi," lapor Pak Wayan dengan semangat.

Alana mengangguk singkat. "Pastikan vibrator betonnya berfungsi baik, Pak. Jangan sampai ada rongga udara di pondasi bawah. Saya akan awasi dari sini."

Dari kejauhan, Pradipta turun dari mobilnya. Ia mengenakan rompi keselamatan oranye yang kontras dengan kemeja putihnya. Matanya langsung mencari sosok Alana di tengah kerumunan pekerja. Ia melihat wanita itu berdiri tegak di tepi galian, memegang papan jalan dengan tangan yang kini tampak stabil—setidaknya dari luar.

Pradipta ingin menghampirinya, ingin menanyakan kembali apa yang terjadi di hotel tadi, namun asistennya, Rina, sudah menyodorkan tablet.

"Pak, sepuluh menit lagi meeting Zoom dengan investor dari Singapura. Mereka sudah menunggu di ruang rapat lapangan," lapor Rina.

Pradipta menghela napas berat. Ia menatap punggung Alana sekali lagi, seolah sedang mengirimkan kekuatan lewat tatapannya, sebelum akhirnya berbalik menuju kantor sementara yang terbuat dari kontainer modifikasi.

Di dalam ruangan ber-AC yang sejuk, Pradipta duduk di depan layar laptopnya. Wajah para investor muncul satu per satu, membahas angka-angka jutaan dolar dan target penyelesaian resort.

Namun, fokus Pradipta terbagi. Melalui jendela kaca kantor lapangan yang menghadap langsung ke area pondasi, ia bisa melihat Alana yang sedang berdiskusi sengit dengan salah satu teknisi. Alana tampak menunjuk-nunjuk ke arah besi tulangan, wajahnya serius dan tanpa senyum.

"Pak Pradipta? Bagaimana menurut Anda mengenai penyesuaian anggaran untuk fase kedua?" tanya suara di speaker laptop.

Pradipta berdehem, mencoba kembali ke realita bisnis. "Saya setuju dengan penyesuaian itu, selama kualitas material tidak dikurangi. Lanjutkan ke poin berikutnya."

Meskipun mulutnya berbicara tentang bisnis, matanya tetap terpaku pada Alana. Ia melihat Alana sesekali merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel, menatap layarnya sebentar dengan raut wajah yang menggelap, lalu menyimpannya kembali dengan gerakan kasar.

Di lapangan proyek ( Alana )

Ponsel di saku Alana memang terus bergetar. Pesan dari Rian masuk bertubi-tubi:

Rian: Mbak tega ya! Teman-temanku lihat motor ditarik leasing! Aku malu! Kalau Mbak nggak kirim uang tebusan siang ini, aku nggak mau kuliah lagi! Biar aku jadi gembel aja sekalian!

Alana membaca pesan itu dengan mata yang panas. Gembel? Rian tidak tahu bagaimana rasanya benar-benar tidak punya apa-apa. Rian tidak tahu betapa kerasnya Alana bekerja hingga harus menghadapi tekanan dari atasan seperti Pradipta.

"Bu Alana? Ada masalah dengan betonnya?" tegur Pak Wayan saat melihat Alana melamun menatap ponsel.

Alana tersentak, segera memasukkan ponselnya dalam-dalam ke saku. "Tidak, Pak. Teruskan pengecorannya. Saya akan cek di sisi utara sebentar."

Ia berjalan menjauh, berusaha menjauhi pandangan orang-orang. Namun, ia tidak sadar bahwa di dalam ruang rapat, Pradipta baru saja mematikan mikrofon Zoom-nya sejenak hanya untuk mengamati betapa rapuhnya bahu Alana dari kejauhan.

Pradipta tahu, Alana sedang berperang sendirian. Dan ia benci hanya bisa menonton dari balik kaca.

1
falea sezi
resain lah oon
falea sezi
jangan betele tele
falea sezi
prett bgt muter doank. g jelas. ne novel. pantes g ada like wong peran utama. oon bkin mual
Lilack Sunrise: pakai lah bahasa Indonesia yang baik dan benar , kamu kayaknya yang oon semua tulisan di kasih titik.gagap loe
total 1 replies
falea sezi
resain pergi jauh dr. dipta yg. plin plan. pengecut dr ortu toxic
falea sezi
Resain aja alana pradipta aja goblok
falea sezi
bodoh di manfaatnya ortunya diem aja pergi lah bego
Desi Santiani
yaa tamat thor
RM
bagus bgt kenapa sepi pembaca y
byyyycaaaa: Terim ma


terimakasih sudah mampir kak🙏🤗
total 1 replies
RM
bagus banget kenpa sepi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!