Di dunia di mana sihir adalah segalanya, kekuatan bukanlah anugerah—melainkan hasil dari latihan dan pengorbanan.
Ia hanyalah seorang siswi Akademi Sihir Arcanova. Tenang. Cerdas. Tak tersentuh. Hingga sebuah simbol tersembunyi muncul di tubuhnya—tanda kutukan dari iblis yang bahkan hanya hidup dalam legenda.
Tak hanya dirinya.
Dua siswa dari sekolah berbeda—termasuk seorang pewaris Akademi Crimson Crest—ternyata memikul kutukan yang sama… namun berasal dari iblis yang berbeda.
Kekuatan mereka luar biasa. Tak terbatas.
Namun setiap kali digunakan, ada harga yang harus dibayar.
Di tengah persaingan dua akademi, pelatihan mematikan di Hutan Abyss, dan rumor tentang iblis berwujud manusia yang belum pernah terlihat…
Pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling kuat.
Tapi siapa yang akan bertahan ketika kutukan itu mulai mengambil alih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Resonansi yang Terlarang
Angin sepoi-sepoi Hutan Noxara membawa aroma pinus yang menenangkan, namun atmosfer di antara ketiga remaja itu terasa semakin berat. Lucien duduk tegak, jemarinya mencengkeram rumput hijau di bawahnya saat ia membayangkan kembali kilatan petir hitam yang ia lepaskan semalam.
"Kalian tidak mengerti," ucap Lucien, suaranya nyaris berbisik. "Aku hanya melepaskan percikan kecil. Benar-benar hanya seujung jari, bahkan tanpa niat untuk menghancurkan. Tapi saat energi itu menyentuh segel daun hijau, reaksinya... itu bukan sekadar tabrakan sihir."
Vivienne condong ke depan, matanya yang berwarna ungu berkilat penuh rasa ingin tahu sekaligus kecemasan. "Maksudmu, energi kutukan itu bereaksi secara agresif terhadap sihir pertahanan akademi?"
"Lebih dari itu," jawab Lucien. "Rasanya seolah-olah kekuatan iblis ini lapar. Begitu menyentuh mana murni dari segel Master Alaric, petir hitam itu bergetar hebat. Dengungan yang kalian dengar itu adalah suara mana yang sedang 'dikoyak' paksa. Retakan di jendela itu bukan karena hantaman fisik, tapi karena struktur sihirnya mulai hancur dari dalam."
Daefiel menelan ludah, ia melihat telapak tangannya sendiri yang sesekali masih terasa panas sejak insiden Hutan Abyss. "Tunggu dulu... jika hanya dengan 'percikan kecil' kau bisa meretakkan segel yang dibuat oleh Dewan Kedisiplinan sekelas Alaric, itu berarti..."
"Itu berarti kekuatan ini berada di level yang berbeda dari apa yang diajarkan di Arcanova maupun Crimson Crest," Vivienne memotong dengan nada tajam. "Sihir kita selama ini menggunakan mana dari alam atau inti dalam diri kita. Tapi kekuatan kutukan ini... ia seperti parasit yang menghancurkan hukum sihir yang kita kenal."
Lucien mengangguk perlahan. "Itulah yang membuatku takut. Jika aku melepaskan sedikit saja lebih banyak, mungkin asrama itu sudah runtuh. Kekuatan ini tidak memiliki 'rem'. Semakin kita mencoba menahannya, semakin besar tekanan yang ia berikan saat dilepaskan."
Mereka bertiga terdiam, meresapi kenyataan pahit tersebut. Kekuatan yang mereka miliki bukan sekadar senjata baru; itu adalah anomali yang mampu merobek realitas sihir dunia mereka. Di tengah Hutan Noxara yang damai, di mana sihir pun harus tunduk pada hukum alam, mereka menyadari bahwa di dalam tubuh mereka tersimpan sesuatu yang bisa mengakhiri kedamaian itu dalam sekejap jika mereka kehilangan kendali.
Daefiel tiba-tiba berdiri, debu dan rumput kering berjatuhan dari celana seragamnya. Matanya yang biasanya jenaka kini berkilat dengan ambisi yang berbahaya. Penjelasan Lucien tentang petir hitam yang mampu mengoyak segel Master Alaric bukan membuatnya takut, melainkan memicu rasa haus akan kekuatan yang lebih besar.
"Kecil tapi menghancurkan, ya?" gumam Daefiel sembari mengepalkan tinjunya. Ia menoleh ke arah Lucien dan Vivienne dengan senyum menantang yang lebar. "Kalau begitu, kenapa kita tidak mencobanya sekarang? Aku bosan hanya mendengar cerita. Aku ingin merasakan sendiri bagaimana rasanya melepaskan 'iblis' itu tanpa perlu menahannya."
Vivienne mendongak, wajahnya memucat. "Daefiel, kau gila? Kita sedang di Hutan Noxara. Satu percikan petir hitam di sini bisa mematikan seluruh ekosistem ini selamanya!"
"Aku tahu, aku tahu!" Daefiel mengibaskan tangannya meremehkan. "Maka dari itu, ayo kita pergi ke tempat latihan rahasia kita di perbatasan... atau lebih baik lagi," ia menjeda kalimatnya, suaranya merendah menjadi bisikan yang penuh provokasi, "bagaimana kalau kita masuk kembali ke Hutan Abyss? Di sana, tidak ada hukum yang melarang kita untuk meledakkan apa pun. Di sana, kekuatan kita akan terasa seperti di rumah sendiri."
Lucien terdiam, menatap Daefiel dengan pandangan tajam. "Abyss bukan tempat bermain, Daefiel. Terakhir kali kita ke sana, kita hampir kehilangan nyawa dan pulang dengan kutukan ini."
"Tapi justru karena kutukan ini, kita tidak selemah dulu!" balas Daefiel cepat. "Pikirkanlah, Lucien. Jika kau hanya menggunakan seujung kuku saja sudah bisa membuat heboh satu asrama, bayangkan jika kita bertiga menggunakannya bersama-sama di jantung Abyss. Kita bisa menguasai tempat itu. Kita bisa mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi pada kita tanpa perlu takut pada Master Silas atau Alaric."
Vivienne menatap Lucien, mencari dukungan untuk menolak ide gila ini, namun ia melihat ada keraguan di mata biru pemuda Vlad itu. Lucien pun merasakannya—keinginan gelap untuk mengetahui sejauh mana batas kekuatan yang ia miliki. Rasa penasaran itu seperti racun yang manis.
"Tempat latihan rahasia mungkin terlalu sempit untuk kekuatan yang 'lapar' ini," ucap Lucien perlahan, mulai berdiri. "Tapi Abyss... Abyss adalah satu-satunya tempat di mana kegelapan kita tidak akan memancing perhatian dewan."
Daefiel menyeringai penuh kemenangan. "Itu baru temanku. Jadi, bagaimana, Vivienne? Kau ikut dengan kami untuk menjaga agar kami tidak saling membunuh, atau kau ingin tetap di sini mencium bau bunga?"
Vivienne menghela napas panjang, menyadari bahwa ia tidak akan bisa menghentikan dua orang keras kepala ini. "Jika kalian mati, aku tidak akan repot-repot membawa mayat kalian pulang. Tapi baiklah... jika ini satu-satunya cara untuk memahami kutukan ini, aku ikut."
Ketiganya berdiri di tengah kedamaian Noxara, bersiap untuk meninggalkan cahaya matahari menuju kegelapan yang telah menandai jiwa mereka.