melda, seorang wanita muda yang di hantui kematian tragis kakak nya bernama wulan. dan bertekad membalas dendam kepada agung perdana Kusuma putra konglomerat dan pewaris Kusuma grup yang telah menghamili dan menolak bertanggung jawab hingga membuat wulan depresi dan mengakhiri hidupnya. namun ditengah rencana balas dendam yang matang. melda justru terjebak dalam pusaran perasaan yang menguji batas antara cinta dan dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ches$¥, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
hati yang membeku
Agung duduk sendiri di ruang tamu rumah besar orang tuanya, lampu kristal menggantung di atas, memantulkan kilau dingin ke lantai marmer. Segala sesuatu di sekitarnya tampak sempurna, mewah, rapi, dan… kosong. Sejak Wulan pergi, hatinya seperti dibekukan. Senyum yang dulu mudah terukir kini jarang muncul, digantikan rasa pahit dan kebingungan.
Orang tua Agung selalu menekankan bahwa “status dan reputasi keluarga” lebih penting daripada hati sendiri. Ketika ia mencoba memperjuangkan perasaannya kepada Wulan, mereka menolak. Kata-kata mereka menusuk: “Jangan biarkan perasaanmu menghancurkan masa depan keluarga.”
Sejak saat itu, Agung belajar menyembunyikan diri, menutup perasaan, dan menuruti segala yang mereka mau.
Pagi hari di rumah itu sunyi. Pelayan berkeliling menyiapkan sarapan, piano di ruang besar itu tetap tidak disentuh. Agung berjalan ke balkon, menatap kota dari ketinggian, tetapi cahaya matahari tidak lagi hangat. Semuanya terasa seperti pertunjukan. setiap senyum yang ia paksa untuk keluarkan hanyalah topeng yang menutupi luka dalam.
Hari-harinya dipenuhi rapat bisnis, pertemuan keluarga, dan acara sosial yang dirancang agar reputasi mereka tetap bersinar. Namun di balik itu, hati Agung membeku. Ia tidak pernah lagi merasakan kegembiraan sederhana, tidak ada tawa tulus, bahkan rasa rindu pun ia kubur sendiri.
Suatu sore, saat menatap foto Wulan di ponsel yang tersimpan lama, Agung menyadari sesuatu. Dunia mewah yang dulu ia dambakan, dunia yang menurut orang tuanya “sempurna”, tidak bisa menghangatkan hatinya. Bahkan hadiah, pesta, dan pujian dari orang lain tidak mampu menggantikan kehangatan yang pernah ia rasakan di gang sempit bersama Wulan.
Agung mencoba melawan rasa itu. Ia sibuk membeli barang-barang mahal, mengikuti tren terbaru, dan bertemu orang-orang penting. Tapi setiap malam, saat lampu mati dan rumah sunyi, ia merasakan kekosongan yang tidak bisa diisi. Hatinya telah membeku karena sikap orang tua yang menentang cintanya dan karena kehilangan Wulan, satu-satunya orang yang membuat dunia terasa hidup.
Ia mulai menyadari bahwa kemewahan tidak sama dengan kebahagiaan. Dan semakin ia memaksakan diri untuk menjadi “anak yang sempurna” di mata keluarga, semakin ia merasa hampa. Setiap tawa yang ia lihat di luar terasa asing, karena ia sudah kehilangan kemampuan untuk benar-benar merasakannya.
Agung bertanya pada dirinya sendiri: apakah ia akan terus hidup dalam dunia yang dingin, atau berani membuka hati meski harus melawan semua aturan yang selama ini mengekangnya?
Di tempat yang jauh dari gang sempit Wulan, Agung belajar satu pelajaran pahit: kekayaan dan status tidak bisa menggantikan cinta, kepercayaan, dan kebahagiaan sederhana. Dan meski hatinya membeku sekarang, ia tahu, suatu hari, jika ia berani menghadapi rasa takut dan menentang dunia yang membekukannya, mungkin ia bisa menemukan kembali kehangatan yang hilang.
Namun untuk saat ini, ia tetap duduk di kursi empuk, menatap luar jendela, dengan hati yang diam, dingin, dan sunyi. Dunia yang dulu ia impikan ternyata hanyalah cermin kosong dari kebahagiaan yang pernah ia miliki bersama Wulan.Agung menutup laptopnya, jantungnya berdebar meski seharusnya ia merasa lega. Laporan keuangan sudah rapi, rapat bisnis hari itu sukses, dan pujian dari orang tua datang berlapis-lapis. Tapi tak ada yang bisa menutupi rasa hampa yang terus merayap masuk setiap kali ia menatap cermin. Wajahnya tampak tenang, tapi matanya bercerita sebaliknya ada luka yang tak pernah sembuh.
Ia berjalan ke ruang pribadi, menuruni tangga kayu besar yang selalu berderak sedikit, suara yang dulu terdengar menghibur kini terasa asing. Di dinding, ada beberapa foto keluarga dan semuanya tersenyum rapi, seakan dunia mereka sempurna. Agung memandang salah satu foto lama Wulan yang terselip di antara foto-foto itu. Rambut Wulan yang dibiarkan tergerai, mata yang selalu bercahaya, senyumnya yang hangat… semuanya terasa seperti hantu yang membayang di rumah ini.
Sejak hari itu, Agung mulai menghindari kontak dengan orang-orang di luar lingkaran keluarganya. Teman lama yang dulu ia percaya, kini hanya menjadi pengingat bahwa dunia ini tidak pernah memberinya ruang untuk merasakan bebas. Bahkan tertawa pun ia lakukan dengan hati-hati, agar tidak menimbulkan pertanyaan. Setiap perintah orang tua dijalankan tanpa menentang, meski itu berarti menekan sebagian besar jiwanya sendiri.
Malam datang dengan dingin. Lampu-lampu kristal memantulkan bayangan panjang di lantai marmer, membuat ruang tamu terlihat seperti labirin sepi. Agung duduk di sofa empuk, memegang gelas air mineral yang dingin. Tangannya gemetar sedikit, bukan karena airnya, tapi karena pikiran yang terus menghantui. Ia teringat kata-kata Wulan terakhir kali mereka bertemu “Dunia yang orang lain buat dan nilai dari uang bukan untuk kita.”
Hati Agung berontak. Ia tahu Wulan benar. Semua kemewahan ini, semua pujian dan status yang ia kejar selama ini, tidak pernah membuatnya merasa utuh. Ia merindukan kehangatan sederhana: gelak tawa di dapur kecil, aroma gorengan tempe yang menguar di pagi hari, tangan Wulan yang pernah ia genggam dengan percaya. Semua itu kini hanya ada dalam kenangan yang manis tapi menyakitkan.
Beberapa hari kemudian, Agung mulai menulis. Ia membuka buku catatan yang jarang disentuh, menorehkan kata demi kata, menyalurkan rasa yang tak bisa ia ucapkan langsung. Ia menulis tentang kehilangan, tentang dunia yang dingin dan menilai, tentang kebebasan yang dulu ia rasakan bersama Wulan. Tapi setiap kali ia menulis nama Wulan, tangannya berhenti sejenak. Ada rasa takut, takut jika orang tua menemukan tulisan itu, takut jika kenangan itu kembali menyakitkan.
Agung pun mulai berjalan di kota pada malam hari, menyusuri jalan-jalan yang sepi, menatap lampu-lampu kota yang berkelip seperti bintang yang jatuh. Ia merasa dunia luar sepi seperti hatinya sendiri. Beberapa kali, ia melewati warung sederhana di gang kecil, tempat Wulan dan Melda dulu berjualan. Ia tidak pernah masuk. Ada rasa canggung dan rasa ingin kembali sekaligus takut menghadapi kenyataan bahwa Wulan kini memiliki dunianya sendiri, dunia yang hangat, yang tidak memerlukan orang tua Agung atau harta benda yang membeku.
Pada suatu malam, setelah pesta keluarga besar, Agung duduk di balkon rumahnya yang tinggi. Angin dingin menyapu wajahnya, dan untuk pertama kali dalam berbulan-bulan, ia membiarkan air matanya jatuh tanpa menahan. Ia merasakan kesepian yang menempel begitu dalam, bahkan kemewahan yang mengelilinginya tidak mampu menahan dingin itu. Dalam hati, ia bertanya, apakah ia akan selalu begini? Terperangkap dalam dunia yang indah tapi tanpa cinta, tanpa kehangatan, tanpa Wulan?
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Ada pesan masuk dari nomor tak dikenal. Agung membuka pesan itu, dan seketika napasnya tercekat:
"Aku dengar tentang lomba kuliner itu… Wulan dan Melda menang. Mereka bahagia, dan mereka memikirkanmu."
Pesan itu singkat, tapi mengguncang seluruh dunianya. Hatinya terasa panas sekaligus dingin, ada harapan tapi juga rasa sakit yang tak tertahankan. Ia menatap lampu kota, berusaha memahami arti kata-kata itu. Apakah itu tanda Wulan masih mengingatnya? Atau sekadar pesan yang salah alamat?
Agung menatap jendela kamar Wulan—yang hanya bisa ia lihat dari foto dan kenangan—dan merasa seolah ada sesuatu yang belum selesai. Dunia mewah ini, keluarga yang menuntut, dan semua aturan yang membekukan hatinya, tiba-tiba terasa seperti tembok yang tinggi, yang harus ia hadapi sendiri.
Ia menutup ponsel, menoleh ke ruang kosong di sekitarnya, dan untuk pertama kalinya sejak lama, Agung merasakan dorongan untuk bertindak. Bukan untuk melawan orang tua, tapi untuk mencari sesuatu yang bisa menghangatkan hatinya lagi. Sesuatu yang mungkin… hanya Wulan yang bisa memberinya.
Angin malam berhembus, menembus celah balkon, membawa aroma kota yang jauh. Agung menutup matanya, merasakan dingin yang menusuk tulang. Tapi di balik dingin itu, ada satu hal yang jelas: hatinya belum sepenuhnya mati.
Dan untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, ia bertanya pada dirinya sendiri:
Apakah aku akan tetap di dunia yang dingin ini… atau berani mencari kehangatan yang hilang, meski harus menantang semuanya?
Di atas balkon, di antara lampu-lampu kota dan kesunyian rumah mewahnya, Agung tetap duduk. Dunia masih dingin. Hatinya masih membeku. Tapi di ujung pikirannya, satu pertanyaan menggantung, menunggu jawaban yang mungkin… hanya waktu dan keberanian yang bisa memberikannya.
Suka aku sama kaliamat nya kk kaya puisi apalagi kalo bacanya pake Nada.