Tessa hanyalah gadis biasa yang hidupnya digerakkan oleh takdir dan kesalahan orang lain. Pernikahan mendadak dengan Nickolas Adhitama, pria kaya dan dingin, bukanlah pilihannya, tapi kenyataan yang harus dihadapinya.
Nick, yang terbiasa menguasai segalanya, kini berhadapan dengan Tessa, wanita lembut, teguh, tapi menantang yang membuatnya kehilangan kendali.
Sementara Tessa berjuang menjaga harga diri dan kemandirian, Nick harus belajar bahwa hati manusia tak bisa diatur dengan kekuasaan atau uang.
Di dunia di mana satu keputusan bisa menjadi perang psikologis, akankah cinta tumbuh di antara ketegangan dan luka masa lalu, ataukah mereka hanya menjadi tawanan takdir yang kejam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ludiantie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 32
Tessa berdiri di depan meja rias sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Ia sebenarnya sudah selesai sejak beberapa menit lalu.
Namun ia tetap berdiri di sana.
Alasannya sederhana.
Ia tidak berani menoleh.
Nick masih berada di kamar.
Dan setiap kali ia teringat kejadian tadi pagi, wajahnya langsung terasa panas.
Di belakangnya, Nick sedang mengenakan jam tangannya dengan tenang.
Setelah selesai, ia mengambil jas hitamnya dari kursi.
Gerakannya rapi dan teratur.
Seperti seseorang yang terbiasa menjalani rutinitas pagi tanpa gangguan.
Namun ketika ia menoleh ke arah Tessa, alisnya sedikit terangkat.
Sejak tadi wanita itu bahkan tidak menoleh sedikit pun.
Nick berjalan beberapa langkah mendekat.
“Tessa.”
Tessa langsung menegang sedikit.
“Ya?”
Ia masih menatap pantulan dirinya di cermin.
Nick berdiri tidak jauh di belakangnya sekarang.
“Berapa lama kau berencana berdiri di sana?”
Tessa langsung menjawab cepat, “Aku tidak berdiri lama.”
Nick menatapnya beberapa detik. “Kau bahkan tidak berani menatapku.”
Tessa langsung berbalik. “Aku tidak seperti itu!”
Namun begitu mata mereka bertemu, ia langsung mengalihkan pandangannya lagi.
Nick memperhatikannya dengan tenang. “Hm...menarik.”
Tessa mengerutkan kening. “Apanya yang menarik?”
Nick berkata santai, “Kau yang mendekat padaku semalam.”
Wajah Tessa langsung merah. “Aku sudah bilang aku tidak sengaja!”
Nick mengangkat bahu. “Namun pagi ini kau bertingkah seperti aku yang melakukan sesuatu.”
Tessa menatapnya kesal. “Itu karena kau terus menggodaku!”
Nick tidak terlihat merasa bersalah sama sekali.
“Kalau kau tidak bereaksi seperti itu, aku tidak akan tertarik menggodamu.”
Tessa benar-benar ingin melempar sesuatu sekarang.
Namun sebelum ia sempat menjawab, Nick mengambil dasinya dari atas kursi.
“Tessa.”
“Sekarang apa lagi?”
Nick menyerahkan dasi itu padanya. “Pasangkan.”
Tessa berkedip. “Aku?”
Nick menatapnya datar. “Siapa lagi?”
“Tapi kau biasanya...”
“Pasangkan saja.” Nada suaranya tidak keras, namun jelas tidak memberi pilihan.
Tessa menghela napas kecil sebelum akhirnya mendekat.
Ia berdiri tepat di depan Nick sekarang.
Jarak mereka sangat dekat.
Tessa menelan ludah pelan sebelum mulai memasang dasi itu di leher Nick.
Tangannya sedikit gemetar.
Nick memperhatikannya tanpa berkata apa-apa.
Beberapa detik berlalu.
Lalu Nick berkata tenang,
“Kau gemetar.”
Tessa langsung protes, “Aku tidak gemetar.”
Nick menunduk sedikit.
Jarak wajah mereka sekarang bahkan lebih dekat.
“Kalau begitu berhenti menarik dasiku seperti kau ingin mencekikku.”
Tessa langsung panik. “Aku tidak melakukan itu!”
Nick tidak bergerak.
Namun Tessa bisa merasakan tatapannya.
Ia buru-buru merapikan simpul dasi itu.
“Aku hampir selesai.”
“Pelan.”
Tessa mengangkat alis.
“Kenapa?”
Nick menjawab santai,
“Kalau kau terus menariknya seperti itu, aku tidak akan bisa bernapas.”
Tessa mendengus kecil.
“Kau berlebihan.”
Nick menatap wajahnya.
“Wajahmu merah lagi.”
Tessa langsung menutup sebagian wajahnya dengan tangannya.
“Itu karena kau terlalu dekat!”
Nick justru melangkah setengah langkah mendekat lagi.
Sekarang tubuh mereka hampir menempel.
“Sejak kapan jarak ini terlalu dekat untuk suami istri?”
Tessa langsung menatapnya.
Jantungnya berdetak lebih cepat sekarang.
“Nick…”
Namun sebelum ia sempat melanjutkan, tangan Nick tiba-tiba melingkar di pinggangnya.
Tessa terkejut. “Nick!”
Nick hanya berkata tenang, “Dasinya belum rapi.”
Tubuh mereka sekarang benar-benar menempel.
Tessa bahkan bisa merasakan detak jantungnya sendiri.
Dan mungkin juga detak jantung Nick.
Ia tidak yakin.
Nick menatap wajahnya.
Wajah Tessa benar-benar merah sekarang.
“Kau terlihat seperti tomat.”
Tessa langsung menatapnya kesal.
“Jangan menggodaku terus, Nick!”
Nick sedikit menunduk.
Jarak wajah mereka semakin dekat.
Suasana kamar tiba-tiba terasa hening.
Tessa bahkan lupa bernapas.
Tatapan Nick berubah sedikit lebih dalam sekarang.
Perlahan, Nick menurunkan wajahnya.
Tessa tidak bergerak.
Jantungnya berdetak sangat cepat.
Jantung Nick juga mulai berdetak lebih cepat,
Ia tidak berniat sejauh ini awalnya.
Namun Tessa yang berdiri begitu dekat dengan wajah merah seperti itu, membuatnya sulit mengalihkan perhatian.
Nick sedikit menundukkan wajahnya lagi, Tessa langsung menahan napas.
Jarak mereka sekarang hanya beberapa sentimeter, Tessa bahkan bisa merasakan napas Nick.
Tangannya masih berada di dada pria itu.
Sementara tangan Nick tetap di pinggangnya.
Dunia terasa tiba-tiba sunyi.
Nick menatap bibir Tessa beberapa detik.
Tessa juga tidak bergerak.
Jantung mereka berdua berdetak sangat cepat sekarang.
Sedikit lagi...
hanya sedikit lagi...
Namun tiba-tiba
TOK TOK.
Ketukan di pintu kamar terdengar.
Keduanya langsung membeku.
Tessa langsung tersadar.
Nick berhenti.
Dari luar terdengar suara seseorang.
“Tuan Nickolas?”
Nick menutup mata dan menghela napas pelan, jelas merasa terganggu,
Dengan sedikit kesal Nick menjawab, “Masuk.”
Pintu terbuka sedikit.
Asisten pribadi Nick berdiri di sana.
“Tuan, maaf mengganggu. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa Anda sudah melewatkan waktu sarapan. Mobil juga sudah siap.”
Nick mengerutkan kening, Ia melihat jam tangannya.
Beberapa detik ia terdiam.
Biasanya, hal seperti ini tidak pernah terjadi, Ia selalu tepat waktu.
Namun pagi ini…ia bahkan tidak menyadari waktu sudah lewat sejauh ini.
Nick menarik tangannya dari pinggang Tessa.
“Baik. Aku akan turun sebentar lagi.”
Asisten itu mengangguk. “Baik, Tuan.”
Pintu kembali tertutup.
Ruangan kembali sunyi.
Tessa langsung mundur beberapa langkah.
Wajahnya masih merah.
Nick menatapnya sebentar.
Lalu tiba-tiba berjalan ke meja kecil di sudut kamar, Ia membuka salah satu laci.
Nick mengambil sebuah kotak kecil dari dalam laci itu.
Lalu berjalan kembali ke arah Tessa. “Ini.”
Tessa berkedip. “Apa ini?”
“Buka.”
Tessa membuka kotak itu perlahan.
Matanya langsung membesar.
Di dalamnya terdapat sebuah ponsel baru.
“Nick…”
Ia menatapnya. “Aku tidak memintanya.”
Nick memasukkan tangannya ke saku. “Ponsel lamamu rusak.”
“Ya, tapi aku bisa membeli...”
“Tidak perlu.” Nick memotong.
“Semua data di ponsel lamamu sudah dipindahkan ke sana.”
Tessa terdiam. “Semua?”
Nick mengangguk. “Kontak, foto, pesan.”
Tessa menatap ponsel itu beberapa detik. “Ini mahal sekali, Nick…”
Nick menjawab santai, “Itu bukan masalah.”
Namun Nick belum selesai.
Ia kembali membuka laci tadi.
Kali ini ia mengambil kotak lain.
Lebih panjang.
Ia menyerahkannya pada Tessa.
“Ini juga.”
Tessa terlihat semakin bingung.
Ia membuka kotak itu perlahan.
Di dalamnya terdapat dompet wanita panjang berwarna hitam.
Sangat elegan.
Tessa langsung berkata, “Nick… ini terlalu mahal.”
Nick hanya berkata, “Buka saja.”
Tessa membuka dompet itu.
Dan langsung membeku.
Di dalamnya terdapat beberapa kartu kredit dan beberapa kartu debit, dan juga terdapat kartu identitasnya.
Matanya langsung melebar.
“Ini berlebihan, Nick.”
Nick tidak menanggapinya, “Itu dompetmu.”
Tessa menatapnya tidak percaya. “Ada terlalu banyak kartu di sini.”
Nick menjawab tenang, “Semua kartu itu atas namamu.”
Tessa menggeleng. “Aku tidak bisa memakai semua ini.”
“Kenapa tidak?” tanya Nick heran,
“Karena… aku tidak ingin terlihat seperti memanfaatkanmu.”
Nick menatapnya beberapa detik, lalu berkata pelan,
“Kalau kau ingin memanfaatkanku, kau sudah melakukannya sejak awal.”
Tessa langsung menatapnya.
Nick melanjutkan, “Namun kau tidak melakukannya.”
Beberapa detik hening.
“Jadi gunakan saja.”
Tessa masih memegang dompet itu. “Kalau aku membeli sesuatu…”
Nick menatapnya intens, “Beli saja, kau boleh beli apapun yang kau mau.”
“Kau tidak akan marah?”
Nick hampir terlihat tersenyum tipis. “Selama kau tidak membeli seluruh kota.”
Tessa langsung melotot. “Aku tidak seperti itu!”
Nick berjalan menuju pintu.
Namun sebelum keluar, ia berkata lagi, “Oh ya.”
Tessa menoleh.
Nick menunjuk ponsel baru di tangannya.
“Nomorku sudah kusimpan di sana.”
Tessa berkedip. “Sebagai kontak darurat?”
Nick menatapnya beberapa detik, lalu berkata,
“Tentu saja sebagai suamimu.”
Wajah Tessa langsung memerah lagi.
Nick membuka pintu kamar.
“Turunlah kalau kau sudah siap.”
Lalu ia berjalan keluar.
Tessa masih berdiri di sana.
Dengan ponsel baru di satu tangan.
Dan dompet mahal di tangan yang lain.
Ia menatap keduanya beberapa detik.
Lalu bergumam pelan,
“Pria itu benar-benar…”
Namun kalimatnya tidak pernah selesai.
Karena jantungnya masih berdetak lebih cepat dari biasanya.
capek banget keknya jadi tessa
kalo aku jadi tessa keknya gak akan sanggup deh soalnya aku gtogian arangnya😁🤭
sweet banget😍😍😍
padahal baru kenal tessa tapi di bertanggung jawab dengan statusnya sebagai suami dg begitu sempurna