Seorang pemuda yang sejak lahir telah ditakdirkan menderita. Bakatnya dicuri, keluarganya dihancurkan, ia dijual sebagai budak. Namun dari abu kehancuran itu, ia bangkit sebagai api yang membakar segalanya.
Xu Hao bukan pahlawan biasa. Ia adalah pemberontak sejati, seseorang yang menolak takdir, menentang kehendak Langit, dan menempuh jalannya sendiri: Dao Pemberontakan. Dengan kekuatan ini, ia mampu melampaui batas-batas kultivasi konvensional, menghancurkan hukum alam, dan bahkan melukai makhluk yang dianggap dewa.
Namun di balik keganasannya, tersimpan luka yang tak pernah sembuh. Cintanya pada Lianxue, gadis yang setia menanti ribuan tahun, menjadi satu-satunya cahaya dalam kegelapan. Dan saat cahaya itu padam, Xu Hao kehilangan segalanya. Enam ribu tahun ia terpuruk dalam kegilaan, hanya mampu menyebut satu nama: Xue'er.
"Ayah ibuku dibunuh. Cintaku mati di pelukanku. Takdir telah mempermainkanku! Kini giliranku mempermainkan takdir."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kota Feng Yuan
Di udara, Xu Hao melihat hutan ini sangat luas sepanjang mata memandang. Pepohonan raksasa membentang hingga ke cakrawala. Namun semakin Xu Hao melesat menjauh, energi ilahi semakin kuat. Ini berarti dia berada di tempat dengan konsentrasi energi ilahi terendah.
"Ini mungkin tempat paling buruk di Alam Dewa," pikir Xu Hao. "Tapi jika tempat seperti ini ada di dunia fana, maka tempat seperti ini mungkin saja akan dijadikan wilayah suci."
Xu Hao pun terus melesat. Pikirannya mulai menyusun rencana. Pertama, cari informasi tentang Alam Dewa. Kedua, cari jejak Xu Tengshi dan Xu Tianlong yang asli. Ketiga, cari Wang Jia, adik dari Wang Jue. Keempat...
Pikirannya terhenti.
Keempat, cari tahu tentang Lianxue dan Xiou Yuelan. Tentang kemungkinan dia bisa kembali. Xiou Yuelan menyatu dengannya di saat akhir. Mungkin masih ada harapan. Mungkin...
Xu Hao menggelengkan kepala. Dia tidak boleh berharap terlalu banyak. Harapan hanya akan membuat luka semakin dalam saat kenyataan berkata lain.
Di kejauhan, Xu Hao mulai melihat cahaya cahaya aneh. Mungkin itu pertanda adanya peradaban. Xu Hao mempercepat lajunya.
Tiba tiba!
"Hentikan pencuri itu!"
Suara teriakan menggema dari kejauhan. Xu Hao mengerutkan kening. Dia belum lama di Alam Dewa, sudah menemui masalah?
Dari arah berlawanan, sesosok bayangan melesat cepat ke arahnya. Di belakangnya, tiga orang mengejar dengan wajah garang. Bayangan itu terus melesat, tidak peduli dengan Xu Hao yang ada di depannya.
Xu Hao hanya berdiri diam di tempat.
Saat bayangan itu hampir menabraknya, Xu Hao bergerak sedikit. Tubuhnya menghindar dengan gesit. Bayangan itu terkejut, tapi tidak berhenti.
"Hei kau! Hentikan pencuri itu!" teriak salah satu pengejar.
Xu Hao menoleh ke arah mereka. Wajahnya dingin.
"Urus sendiri urusanmu."
"Kau!"
Namun sebelum mereka bisa berbicara lebih banyak, Xu Hao sudah menghilang dari tempatnya. Melesat dengan kecepatan yang membuat mereka ternganga.
"Bocah itu... kultivasinya?"
"Dewa Bumi bintang 3. Tapi kecepatannya..."
"Diamlah! Kejar pencuri itu!"
Xu Hao tidak peduli dengan keributan itu. Dia terus melesat ke arah sumber cahaya yang dia lihat sebelumnya. Semakin dekat, semakin jelas bahwa itu adalah sebuah kota. Kota besar dengan tembok menjulang tinggi.
Xu Hao mendekat perlahan. Dari kejauhan, dia bisa melihat tulisan di gerbang kota.
"Kota Feng Yuan."
Di gerbang, beberapa prajurit berjaga. Mereka semua setidaknya Dewa Bumi bintang 2 sampai 5. Xu Hao mengamati mereka sebentar, lalu berjalan mendekat.
"Berhenti!" salah satu prajurit mengangkat tangannya. "Kau dari mana? Wajahmu asing."
Xu Hao menatap prajurit itu datar. "Dari luar kota."
Prajurit itu memicingkan mata. "Kultivasimu... Dewa Bumi bintang 3? Dan kau bepergian sendirian di hutan tingkat 7? Kau pasti pengikut sekte besar yang sedang dalam perjalanan, atau..."
"Atau?" tanya Xu Hao dingin.
Prajurit itu tersenyum tipis. "Atau kau pembohong. Tunjukkan identitasmu."
Xu Hao terdiam. Identitas? Dia tidak punya apa-apa. Dan leluhur Xiou tidak menjelaskan Hal kecil seperti ini.
Melihat Xu Hao diam, prajurit itu mengangguk. Tiga prajurit lainnya langsung bergerak, mengepung Xu Hao.
"Tidak punya identitas, berani muncul di Kota Feng Yuan? Tangkap dia. Mungkin dia mata-mata dari Wilayah Iblis."
Xu Hao menghela nafas. Baru sampai di Alam Dewa, sudah harus berkelahi.
"Wilayah Iblis?" Xu Hao mengangkat alis. "Kota macam apa ini?"
"Banyak omong!" Prajurit itu langsung menerjang.
Tinjunya melesat dengan energi ilahi yang padat. Xu Hao hanya menggeleng. Tubuhnya bergerak sedikit, menghindari tinju itu dengan mudah. Lalu tangannya bergerak cepat.
PLAK!
Tamparan keras menghantam pipi prajurit itu. Tubuhnya berputar beberapa kali sebelum jatuh ke tanah dengan wajah bengkak.
Tiga prajurit lainnya terkejut. Mereka tidak menyangka Dewa Bumi bintang 3 bisa mengalahkan rekan mereka yang bintang 5 dengan begitu mudah.
"Mundur!" salah satu dari mereka berteriak. "Panggil bantuan!"
Namun sebelum mereka bergerak, suara berat terdengar dari dalam gerbang.
"Berisik! Apa yang kalian ributkan?"
Seorang pria paruh baya keluar dari gerbang. Posturnya tegap, matanya tajam. Di dahinya, lima bintang terlihat jelas.
"Komandan!" prajurit itu langsung berlutut. "Orang ini tidak punya identitas, dan dia menyerang kita!"
Pria paruh baya itu menatap Xu Hao. Matanya menyipit.
"Dewa Bumi bintang 3, tapi bisa mengalahkan anak buahku yang bintang 5? Menarik."
Xu Hao menatapnya balik. "Aku hanya ingin masuk kota. Tidak ada niat bermusuhan."
"Tidak punya identitas, tapi kau bilang tidak bermusuhan?" Pria itu tersenyum tipis. "Di Alam Dewa, identitas adalah segalanya. Tanpa identitas, kau bahkan tidak dianggap manusia."
Xu Hao diam. Dia tidak tahu bahwa Alam Dewa memiliki aturan seperti ini.
Melihat Xu Hao diam, pria itu melanjutkan. "Tapi aku orang yang masuk akal. Ceritakan darimana asalmu. Jika ceritamu masuk akal, mungkin aku bisa membantumu."
Xu Hao memandang pria itu. Ada sesuatu di matanya. Bukan ancaman, tapi rasa ingin tahu.
"Aku berasal dari Dunia Tianxu," kata Xu Hao akhirnya. "Baru tiba di Alam Dewa sebulan lalu."
Pria itu terkejut. "Dunia Tianxu? Dunia fana? Kau naik ke Alam Dewa dari dunia fana?"
Xu Hao mengangguk.
Pria itu terdiam lama. Lalu tiba-tiba dia tertawa keras.
"Hahaha! Menarik! Benar-benar menarik! Sudah ribuan tahun tidak ada yang naik dari dunia fana ke Alam Dewa. Kau benar-benar beruntung bisa bertahan di hutan tingkat 7 sebagai Dewa Bumi bintang 3!"
Xu Hao tidak menjawab. Dia hanya menatap pria itu.
Pria itu berhenti tertawa. "Baiklah, karena kau pendatang baru, aku akan beri keringanan. Aku Zhang Hu, komandan gerbang Kota Feng Yuan. Ikut aku. Aku akan bantu kau buat identitas. Tapi ada syaratnya."
"Apa syaratnya?"
Zhang Hu tersenyum lebar. "Kau harus ikut turnamen pertarungan bawah tanah di kota ini. Jika menang, kau dapat banyak keuntungan. Termasuk identitas resmi."
Xu Hao mengerutkan kening. Turnamen pertarungan? Dia tidak punya waktu untuk hal seperti itu.
"Tapi," sambung Zhang Hu. "Jika kau tidak ikut, maka aku tidak bisa bantu. Kau akan terus diburu sebagai orang tanpa identitas. Percayalah, di Alam Dewa, itu lebih buruk dari mati."
Xu Hao merenung sejenak. Dia memang butuh informasi. Butuh identitas. Butuh titik awal.
"Baik," kata Xu Hao akhirnya. "Aku ikut."
Zhang Hu tersenyum puas. "Ikut aku."
Xu Hao melangkah masuk ke Kota Feng Yuan.
Setelah melewati gerbang besar Kota Feng Yuan, Xu Hao matanya mengamati sekeliling dengan waspada. Namun apa yang dilihatnya membuat hatinya tersentak hebat, meskipun wajahnya tetap tenang seperti danau membeku.
Di sepanjang jalan, para pedagang kaki lima berjejer menjajakan dagangan mereka. Seorang penjual daging berteriak memanggil pembeli, sambil tangannya lincah memotong daging berwarna keemasan. Leluhur Abadi, di alam dewa adalah seorang penjual daging.
Tidak jauh dari sana, seorang wanita tua menjual sayuran hijau yang memancarkan energi ilahi samar. Tubuhnya ringkih, matanya sayu, namun tekanan nya cukup berat. Leluhur Abadi puncak, di alam dewa merupakan seorang penjual sayur.
Xu Hao mengalihkan pandangannya ke arah lain. Seorang anak laki-laki berlarian mengejar temannya, tertawa riang. Saat dia berbalik, Xu Hao bisa merasakan aura yang keluar dari tubuh anak itu. True Immortal tahap awal. Anak itu bahkan belum dewasa, namun kultivasinya sudah mencapai tingkat yang di dunia fana butuh ribuan tahun untuk dicapai.
Hati Xu Hao terasa seperti ditusuk ribuan jarum. Di Dunia Tianxu, dia berjuang mati-matian, melewati berbagai rintangan, kehilangan orang-orang tercinta, hanya untuk mencapai tingkat yang sekarang. Namun di sini, di Alam Dewa, anak kecil yang baru belajar bicara pun memiliki kultivasi yang membuat banyak kultivator dunia fana iri.
"Terkejut?"
Suara Zhang Hu terdengar di sampingnya. Xu Hao menoleh, melihat komandan gerbang itu tersenyum tipis.
"Aku bisa melihat gejolak di matamu meskipun wajahmu tenang," kata Zhang Hu. "Tidak perlu malu. Semua pendatang dari dunia fana mengalami hal yang sama. Kau pikir dirimu istimewa di dunia asalmu? Lalu tiba di sini langsung terkejut, ketik menyadari bahwa kau hanyalah setitik debu di padang pasir."
Xu Hao tidak menjawab. Dia hanya berjalan mengikuti Zhang Hu melewati keramaian.
Zhang Hu melanjutkan, "Di Alam Dewa, anak kecil terlahir dengan kultivasi True Immortal. Itu sudah takdir, sudah garis keturunan. Tubuh mereka sejak dalam kandungan sudah terpapar energi ilahi, jadi wajar jika mereka langsung mencapai tingkat itu saat lahir. Tapi untuk menjadi Dewa, itu lain cerita."
"Dewa?" Xu Hao mengangkat alis.
"Benar. True Immortal di sini dianggap manusia biasa. Leluhur Abadi dianggap manusia kuat biasa. Tapi untuk disebut Dewa, kau harus mencapai minimal Dewa Bumi."
Xu Hao mengangguk menyerap informasi.
Zhang Hu melanjutkan. "Dan yang penting, anak dewa sesungguhnya yang lahir dari dua orang tua tingkat dewa, maka mereka terlahir langsung sebagai Dewa Bumi. Tapi tentu saja mereka tidak bisa menggunakan kekuatan nya, karena untuk menggunakan kekuatan nya, seseorang harus memiliki pemikiran yang matang, dan itu tidak ada pada bocah kecil."
Xu Hao mengangguk pelan. Informasi ini berharga. Meskipun pahit, dia harus menerima kenyataan bahwa perjuangannya selama ini baru awal dari segalanya.
Mereka berjalan melewati pasar, melewati deretan toko yang menjual berbagai artefak aneh, hingga sampai di sebuah bangunan tua di sudut kota. Dari luar, bangunan ini terlihat seperti gudang usang. Namun saat Zhang Hu mendorong pintu, Xu Hao bisa merasakan formasi besar yang menyelimuti tempat ini.
Di dalam, mereka melewati lorong panjang menurun. Semakin ke bawah, suara keramaian semakin terdengar jelas. Sorak sorai, teriakan, dan suara benturan keras bercampur menjadi satu.
dan Tahta tertinggi untuk Cinta adalah Cinta kpd Tuhan
"...sepertinya pertarungan kita setahun yang lalu tidak memberikan efek jera padamu"