Lily Rosamaria bukan siapa-siapa di rumah itu. Anak kandung yang diperlakukan seperti pembantu, sejak ibu tiri dan Nindi datang mengambil alih segalanya.
Tapi Lily punya Dimas Arya, kekasihnya yang membuatnya bahagia. Sampai malam sebelum pernikahan mereka, Lily memergoki Dimas dan Nindi di kamar belakang.
"Kami saling mencintai, Lily. Kamu yang seharusnya pergi."
Bukan Dimas yang bicara, tapi Nindi dengan perut yang mulai membesar.
Lily tidak menangis, dia berlari masuk ke gudang tua belakang rumah ketika ayahnya justru menginginkannya terkurung di sana.
Di balik dinding yang pengap itu, Lily menemukan pintu kecil berkarat. Dan di balik pintu itu, sebuah ruang yang tidak masuk akal. Ruang yang mendengarnya. Ruang yang menjawab amarahnya.
"Kamu mau apa?" bisik sesuatu dari sana.
Lily mengepalkan tangan. Dadanya penuh amarah, malu, trauma dan satu bara kecil yang belum padam.
"Aku mau mereka merasakan apa yang aku rasakan."
Ruang itu bersinar.
Dan Lily Rosamaria mulai bangkit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 - HADIAH PERTAMA
Wajah itu hilang sebelum Lily sempat melihatnya jelas.
Cahaya di ruangan meredup sampai hanya tersisa satu titik hangat di sudut atas. Seperti bintang yang terlalu lelah untuk bersinar penuh. Cermin bundar di depan Lily kembali bening, tidak menampilkan apa-apa kecuali wajahnya sendiri yang kelihatan lebih tua dari dua puluh dua tahun.
Lily tidak bergerak dari kursinya.
Pikirannya masih tergantung di gambar terakhir itu. Perempuan tua dengan punggung tegak dan wajah yang terlalu mirip Mama untuk jadi kebetulan. Dia coba mengingat foto-foto lama yang pernah dia lihat di album yang sudah lama tidak ada di rak karena Tante Sari "membereskan" lemari foto dua tahun setelah masuk ke rumah ini.
Nenek. Ibu dari Mama.
Lily tidak pernah bertemu dengannya, perempuan itu meninggal sebelum Lily lahir, dan yang Lily tahu hanya versi cerita yang tipis. Nenekmu orangnya keras, tidak cocok dengan banyak orang. Itu kalimat ayahnya. Satu kali, tidak diulang, dan Lily waktu itu terlalu kecil untuk bertanya lebih jauh.
Dia pernah di sini juga. Di gudang yang sama.
Lily menatap cermin.
"Apa yang terjadi padanya?"
Cermin tidak menjawab. Cahaya di sudut atas berkedip sekali, seperti kode morse yang Lily tidak bisa baca ... lalu stabil lagi.
"Oke," kata Lily pelan. Bukan menyerah. Lebih ke menerima bahwa tidak semua pertanyaan akan dijawab malam ini. "Oke."
Dia berdiri dari kursi. Kakinya sedikit kaku dari terlalu lama duduk di lantai dingin sebelumnya. Dia jalan ke sisi ruangan, menyentuh dinding batu dengan telapak tangannya... dingin, nyata, tidak ada yang ajaib dari teksturnya.
Tapi ruangan ini sendiri tidak masuk akal. Dari luar, gudang ini tidak cukup lebar untuk menampung ruangan sebesar ini. Lily sudah coba kalkulasi kasar di kepalanya sejak pertama masuk. Dinding sebelah kiri harusnya sudah menembus ke halaman tetangga. Tapi di sini, dindingnya ada. Solid. Tidak pergi ke mana-mana.
"Kamu mau apa?"
Lily berbalik.
Suara itu lagi, tapi kali ini tidak dari dalam cermin. Dari mana-mana sekaligus. Atau mungkin dari dalam kepalanya sendiri, tapi dengan kualitas yang berbeda. Lebih jernih. Seperti sudah disaring dari semua kebisingan yang biasanya memenuhi ruang di antara satu pikiran dan pikiran berikutnya.
"Aku mau berpikir," jawab Lily. "Tanpa rasa sakit."
Hening tiga detik.
Lalu hangat.
Bukan dari mana-mana, tapi dari dalam dadanya sendiri. Menyebar ke atas ke bawah seperti minum teh panas di pagi yang dingin tapi versi yang lebih dalam dari itu. Sesuatu yang selama ini selalu ada di balik lapisan rasa sakit dan amarah dan trauma yang menumpuk terlalu lama. Sesuatu yang jernih dan tajam dan sangat miliknya ... tiba-tiba ada di permukaan.
Lily duduk di lantai. Bukan karena lututnya lemah, tapi karena dia ingin merasakan ini dengan benar.
Ini yang ruang itu berikan padanya malam pertama. Bukan kekuatan. Bukan rencana. Bukan jawaban.
Kejernihan.
Dengan kepala yang tiba-tiba bisa berpikir tanpa harus melawan rasa sesak di dada, Lily mulai menyusun apa yang dia tahu.
Satu, Tante Sari masuk ke kehidupan ayahnya dengan tujuan yang bukan cinta. Ada dokumen, ada amplop, ada sesuatu yang Tante Sari butuhkan dari ayahnya yang lebih dari sekadar status istri.
Dua, Nindi dan Dimas sudah bersama selama tiga tahun... lebih panjang dari hubungan Lily dengan Dimas. Artinya saat Dimas mendekati Lily di pasar itu, dia bukan orang yang bebas. Dia memilih mendekati Lily dengan sadar dalam kondisi tidak bebas.
Kenapa?
Lily menggigit sisi dalam pipinya, berpikir.
Bisa jadi Dimas genuinely punya perasaan ke Lily tapi tidak cukup punya nyali untuk memilih. Tapi bisa juga ada alasan lain ... alasan yang lebih pragmatis, yang berhubungan dengan posisi Dimas sebagai staf di perusahaan keluarga Hartono, perusahaan tempat ayahnya punya jabatan.
Kalau Dimas menikah dengan Lily, anak kandung pemilik saham minoritas perusahaan itu ... posisi Dimas jadi berbeda.
Lily menghela napas.
Tiga, ada warisan Mama yang selama ini tidak pernah dibicarakan. Lily tidak tahu bentuknya apa, besarnya berapa, atau ke mana perginya. Tapi berdasarkan apa yang cermin tunjukkan tadi dan berdasarkan intuisi yang sekarang terasa jauh lebih tajam dari biasanya. Ada hubungan antara warisan itu dan mengapa Tante Sari punya kepentingan di rumah ini.
Empat, neneknya pernah berada di gudang yang sama. Dikurung juga, atau datang sendiri ... Lily belum tahu. Tapi perempuan itu menemukan ruang ini juga. Dan ruang ini menunggunya. Atau mungkin ruang ini menunggu perempuan dari garis yang sama.
Lily mendongak ke cermin yang sekarang sudah gelap.
"Aku butuh keluar dari sini dulu," katanya. "Dari gudang ini. Dan aku butuh waktu."
Tidak ada jawaban. Tapi pintu kecil di belakangnya, yang tadi menutup sendiri terdengar berbunyi kecil. Seperti gerendel yang digeser dari dalam.
Lily berdiri, menarik napas sekali, dan berjalan ke pintu. Sebelum tangannya menyentuh gagangnya, di permukaan kayu tua itu muncul sesuatu yang tidak ada sebelumnya. Ukiran kecil, dangkal, seperti dibuat dengan ujung benda tajam oleh tangan yang sabar.
Sebuah kalimat pendek.
Lily mendekatkan wajahnya untuk membaca.
Jangan bilang ke siapa-siapa dulu.
Lily mengangguk meski tidak ada yang minta konfirmasi. Dia buka pintu, keluar ke gudang yang gelap dan apek, dan pintu ruang itu menutup di belakangnya dengan bunyi yang sangat final.
Subuh masuk dari celah atap gudang yang tidak rapat. Bukan cahaya penuh, baru semacam perubahan warna di langit yang bisa dirasakan lebih dari dilihat.
Lily duduk di lantai gudang dengan punggung bersandar di tumpukan kardus, dan untuk pertama kali sejak malam tadi, dia bisa duduk tanpa dadanya terasa seperti diinjak.
Masih sakit. Tapi sakitnya sekarang punya jarak. Bisa dilihat dari luar, bukan cuma dirasakan dari dalam.
Dia mulai mikir dengan cara yang berbeda dari semalam.
Semalam, satu-satunya yang ada di kepalanya adalah gambar Dimas dan Nindi dan wajah ayahnya yang sudah tahu. Sekarang gambar itu masih ada, tidak kemana-mana tapi di sekitarnya ada ruang kosong yang bisa Lily isi dengan pertanyaan yang lebih berguna.
Apa yang mereka tidak mau Lily ketahui?
Apa yang membuat Lily perlu dijaga tetap kecil, tetap diam, tetap jadi pembantu di rumahnya sendiri?
Warisan Mama.
Lily tidak tahu bentuknya. Tapi dia akan cari tahu.
Suara gerendel gudang dibuka dari luar membuat Lily menegakkan punggungnya.
Pintu gudang terbuka. Ayahnya berdiri di sana, bukan dengan senter seperti Bibi Rah tadi malam, tapi dengan cahaya pagi yang tipis di belakangnya. Wajahnya tidak bisa dibaca. Kemeja yang dia pakai kusut di bagian lengan, rambutnya tidak disisir. Mungkin juga tidak tidur semalaman.
Lily menatapnya. Ayahnya menatap balik.
Dua detik yang panjang.
"Kamu keluar," kata ayahnya akhirnya. Bukan permintaan maaf. Bukan penjelasan. Cuma perintah. "Cuci muka. Sarapan harus sudah siap jam tujuh."
Dia berbalik dan berjalan masuk ke rumah tanpa menunggu jawaban.
Lily masih duduk di tempat yang sama selama beberapa detik.
Lalu dia berdiri.
Tangannya menepuk debu dari celananya. Kepalanya tegak. Dan waktu dia berjalan keluar dari gudang itu dan menapak di tanah halaman belakang yang masih basah sisa semalam, ada sesuatu yang berbeda dari cara kakinya menginjak tanah.
Lebih berat. Lebih yakin.
Seperti orang yang baru memutuskan sesuatu yang tidak akan dia batalkan.
Di belakangnya, dari dalam gudang, terdengar bunyi sangat pelan. Hampir tidak ada ... seperti pintu kecil yang terkunci dari dalam.
Lily tidak menoleh.
Dia tahu ruang itu masih di sana.
Dan ruang itu tahu dia akan kembali.
Tapi sebelum Lily sampai di pintu belakang rumah, ponsel lamanya yang sudah hampir mati bergetar sekali di kantong celananya.
Satu pesan masuk. Dari nomor yang tidak tersimpan.
Lily membuka pesannya.
[Nama kamu Lily Rosamaria? Anak dari Wulan Dewi Paramita? Kalau iya, kita perlu bicara. Ada sesuatu yang kamu berhak tahu soal ibumu.]
Lily berdiri di ambang pintu belakang rumah, layar ponsel menyala di tangannya, jantungnya memukul dengan ritme yang baru.
Nama Mama.
Ada orang yang tahu nama Mama.