Zavian Hersa mengira jalannya menuju keseriusan cinta dengan Grace akan semulus adiknya. Namun, realitas menghantam keras. Perbedaan status yang mencolok antara putra mahkota Hersa Group dan wakil ketua Gangster Blackrats menciptakan jurang yang lebar. Zavian, yang dihantui ketakutan kehilangan Grace seperti saat ia hampir kehilangan Nalea, berubah menjadi pria yang sangat posesif. Ia mencoba "menjinakkan" Grace dengan kemewahan dan perlindungan ketat, namun bagi Grace, perlindungan itu adalah penjara.
Kekosongan kepemimpinan sementara di Blackrats setelah Nalea fokus pada pendidikannya memicu gejolak di dunia bawah. Musuh-musuh lama dan baru mulai mengincar kekuasaan Blackrats. Teror silih berganti menghantui, mulai dari sabetan senjata tajam, pertumpahan darah, hingga pengorbanan nyawa.
Akankah cinta mereka bertahan di tengah pertumpahan darah dan tuntutan status sosial, ataukah mereka memilih jalan masing-masing dan merelakan cinta sejatinya?
NB: JANGAN SALFOK COVERNYA YAA😂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hilang Akal
The Velvet Underground Club – 23.30 WIB
Dentuman musik techno yang memekakkan telinga seolah tidak mampu menelan amarah yang berkecamuk di dada Andreas. Di sebuah sofa VVIP yang tersembunyi, Andreas duduk dengan dasi yang sudah melonggar dan kemeja yang terbuka dua kancing teratas. Di hadapannya, tiga botol wine Chateau Petrus, yang harganya setara dengan satu buah mobil kota, sudah kosong melompong.
Tiga wanita dengan pakaian minim bergelayutan di lengannya. Andreas tertawa keras, tawa yang terdengar kosong dan penuh kepahitan.
"Ayo sayang, pria ganteng... minum lagi. Jangan pikirkan wanita bodoh yang sudah menyakitimu," bisik salah satu wanita sambil mendaratkan ciuman di pipi Andreas.
Andreas menoleh dengan mata merah karena pengaruh alkohol. Ia merogoh dompetnya, mengeluarkan seikat uang pecahan seratus ribu dan menyelipkannya dengan kasar di belahan dada wanita itu. "Kau... kau wanita jahat juga, bukan? Katakan padaku, jika kau jahat, aku akan mencincangmu untuk dijadikan makanan babi!"
Wanita itu tertawa manja, tidak merasa tersinggung karena jumlah uang yang ia terima jauh lebih besar dari hinaan itu. "Wanita mana yang tega pada pria tampan sepertimu? Sangat bodoh wanita itu, Sayang... muach."
Di pojok ruangan, Miller berdiri dengan gelisah. Ia sudah berkali-kali membujuk Andreas untuk pulang, namun hanya makian yang ia dapatkan. Miller tahu, jika berita Andreas mabuk-mabukan di klub sampai ke telinga Tuan Besar Hadi atau Miranti, posisinya sebagai asisten pribadi akan terancam. Terlebih lagi, Andreas mulai tidak terkendali; ia mencium dan meraba wanita-wanita itu dengan brutal, perilaku bebas yang ia bawa dari masa-masa liarnya di luar negeri.
"Melani... kau bajingan binal..." racu Andreas sambil kembali menenggak minuman langsung dari botol keempatnya.
Miller sudah kehabisan ide. Di benaknya hanya terlintas satu nama: Grace. Hanya Grace yang memiliki ketegasan untuk menghadapi Andreas dalam kondisi seperti ini. Miller segera menekan nomor Grace.
Grace baru saja hendak memejamkan mata. Tubuhnya terasa berat karena demam yang mulai naik akibat luka baru semalam yang meradang. Namun, dering telepon dari Miller membuatnya terjaga.
"Grace, tolong ke lokasi yang aku share. Sekarang. Tuan Muda dalam kondisi gawat. Aku butuh bantuanmu untuk membawanya pulang sebelum fatur fajar menyingsing," suara Miller terdengar panik.
Tanpa banyak tanya, Grace segera bangkit. Ia mengabaikan rasa pening di kepalanya, mengenakan jaket kulit untuk menutupi kaus tipisnya, dan memacu mobil menuju lokasi.
Pintu ruang VVIP terbuka. Grace masuk diikuti Miller. Pemandangan di dalamnya membuat perut Grace mual. Andreas tengah dikerubungi wanita, wajahnya nampak sangat berantakan.
"Usir mereka," perintah Grace dingin pada Miller.
Miller segera memberi kode pada petugas keamanan klub untuk membawa ketiga wanita itu keluar setelah membayar kompensasi. Andreas yang merasa kesenangannya diganggu, mencoba berdiri.
"Siapa... siapa yang berani mengusikku?" terangnya limbung.
"Waktunya pulang, Tuan Muda," ucap Grace tegas. Ia mendekat, mencoba memapah lengan Andreas yang besar.
Namun, karena kondisi Andreas yang sangat mabuk dan berat badannya yang jauh di atas Grace, keseimbangan mereka goyah. Tubuh Andreas limbung ke depan, menarik Grace jatuh bersamanya ke atas sofa panjang.
BRUK!
Posisi mereka sangat berbahaya. Andreas menindih tubuh Grace sepenuhnya. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti; napas Andreas yang beraroma alkohol kuat menerpa wajah Grace. Grace tersentak, napasnya seolah tertahan di tenggorokan.
"Tuan... lepaskan. Kita pulang," Grace mencoba mendorong dada Andreas.
Namun, sesuatu di dalam otak Andreas yang sudah tercemar alkohol pecah. Bayangan Grace yang cantik saat di mal tadi siang bercampur dengan bayangan Melani, wanita yang mengkhianatinya. Andreas tiba-tiba memberontak. Dengan gerakan kasar, ia mencengkeram kedua pergelangan tangan Grace dan menguncinya di atas kepala Grace, menekan mereka ke sandaran sofa.
"Tuan Muda, sadar! Ini Grace!" teriak Grace panik.
"Diam, jalang!" bentak Andreas, suaranya parau dan penuh kebencian. "Bukannya kamu suka hal seperti ini? Bagian tubuh mana yang gigolo itu sentuh... ini? Ini? Atau ini?"
Tangan Andreas mulai menggerayangi tubuh Grace dengan liar. Grace berusaha meronta, namun Andreas mengunci setiap pergerakannya dengan berat tubuhnya. Andreas benar-benar kehilangan kewarasannya. Ia menenggelamkan kepalanya di leher jenjang Grace, mengusap kulitnya dengan kasar seperti vampir yang haus darah.
"Lepaskan! Dasar brengsek! Akan aku bunuh kau!" umpat Grace murka. Air matanya mulai meleleh, bukan karena takut mati, tapi karena merasa sangat terhina.
Andreas tertawa puas, suara tawa yang menyeramkan. Ia baru saja meninggalkan tanda kemerahan yang mencolok di leher Grace. "Kenapa kamu menangis, Bitch! Bukannya kamu sangat suka saat pria itu melakukannya padamu? Sampai-sampai kamu mendesah, begitu kan?"
"LEPAS! AKU BUKAN DIA! BAJINGAN!"
"Sstttt... jangan teriak. Berisik!"
Emmppphhh!
Andreas membungkam mulut Grace dengan ciuman yang brutal dan menjijikkan. Rasa asin air mata Grace bercampur dengan pahitnya alkohol. Belum pernah dalam hidupnya Grace merasa direndahkan seperti ini. Meski ia seorang pimpinan gangster, ia selalu menjaga harga dirinya di depan pria.
Dengan sisa tenaga dari amarahnya, Grace berhasil mendorong tubuh Andreas hingga terjatuh dari sofa. Grace segera bangkit, hendak lari keluar dari ruangan terkutuk itu. Namun, Andreas yang sedang dalam fase amarah gelap berhasil menangkap pergelangan kaki Grace.
BRAKK!
Tubuh Grace terbanting keras ke lantai marmer yang dingin. "Mau ke mana, Bitch! Urusan kita belum selesai!"
Andreas merangkak ke atas tubuh Grace yang sudah tidak berdaya karena hantaman di lantai. Ia dengan beringas merobek kaus yang dipakai Grace hingga menampakkan bahunya yang terbalut perban, lalu berusaha melepas kancing celana Grace.
"BRENGSEK! LEPASKAN!" Grace berteriak parau, tenaganya terkuras habis.
Tepat saat itu, Miller kembali masuk setelah mengurus administrasi di luar. Matanya membelalak melihat kekacauan di depannya.
"OH MY GOD! STOP! ANDREAS!" Miller berteriak, ia segera berlari dan menarik tubuh Andreas dengan bantuan dua pengawal lainnya.
Andreas yang sudah benar-benar limbung akhirnya bisa dilepaskan dari tubuh Grace. Grace segera meringkuk di lantai, gemetar hebat. Miller buru-buru melepas jas mahalnya dan menyampirkannya ke tubuh Grace yang terbuka di bagian atas.
"I'm sorry, Grace... so sorry. Aku tidak menyangka akan seburuk ini," Miller berbisik dengan rasa bersalah yang teramat dalam.
"Lepas! Jangan sentuh aku!" Grace menepis tangan Miller yang hendak membantunya berdiri. Ia bangkit dengan sisa martabatnya yang hancur. Matanya merah, tatapannya kosong namun penuh dendam.
Namun, baru melangkah dua langkah, pandangan Grace mengabur. Tubuhnya yang sedang dihantam demam tinggi dan trauma fisik tak lagi mampu menopang kesadarannya.
"Grace!" Miller berhasil menangkap tubuh Grace sebelum menghantam lantai lagi.
Saat kulit mereka bersentuhan, Miller tersentak. "Oh God... panas sekali. Dia sakit? Grace! Bangun!"
Miller panik. Di satu sisi, ia memiliki Andreas yang pingsan karena mabuk berat, dan di sisi lain, ia memiliki Grace yang pingsan dengan luka fisik dan mental yang mengerikan. Malam itu menjadi titik balik paling kelam dalam hubungan mereka semua.