SEASON 1 ; BAB ; 41 TAMAT
SINOPSIS SEASON 2
Tujuh tahun telah berlalu sejak perayaan ulang tahun ke-5 Yayasan Aulia & Hidayat. Kedamaian dan kesuksesan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Putri dan Rizky. PT Adinata Berkah Lestari kini menjadi raksasa bisnis yang dihormati secara global, dan yayasan mereka telah menumbuhkan ribuan anak menjadi generasi yang tangguh. Rara kini berusia 19 tahun dan sedang menempuh pendidikan tinggi di bidang kedokteran, sementara Arka (11 tahun) dan Bara (9 tahun) tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan penuh kasih.
Namun, kedamaian yang rapuh itu mulai retak ketika serangkaian insiden misterius terjadi. Mulai dari sabotase kecil di operasi perusahaan, ancaman anonim terhadap yayasan, hingga hilangnya beberapa dokumen penting hukum. Putri, dengan naluri hukum dan kehati-hatiannya, mulai menyadari bahwa ada kekuatan yang tidak terlihat sedang bergerak di balik layar—kekuatan yang tidak ingin melihat keluarga Adinata terus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hairil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab ; 14
Namun, rencana itu harus menunggu. Malam ini, ada acara makan malam keluarga yang diadakan di rumah, dan tamu istimewanya adalah Pak Darmawan. Putri tahu, ini akan menjadi ujian sesungguhnya.
Malam itu, ruang makan dihiasi dengan mewah. Makanan lezat tersaji di meja, tapi suasana di sekitar meja makan terasa kaku dan dingin. Pak Hidayat duduk di kepala meja, Rizky di sebelahnya, Putri di sebelah Rizky, dan di seberang Putri duduk Pak Darmawan dengan senyum yang selalu terlihat licik.
"Mari kita makan," ucap Pak Hidayat memecah keheningan. "Meskipun ada masalah sedikit, kita tidak boleh membiarkannya mengganggu kesehatan kita."
Mereka mulai makan. Hening menyelimuti beberapa menit pertama, hanya terdengar suara dentingan peralatan makan.
"Ngomong-ngomong," tiba-tiba Pak Darmawan membuka suara, menatap Putri. "Aku dengar Putri dulu kuliah hukum, ya? Sebelum harus berhenti karena musibah orang tuamu?"
Putri menahan napas sejenak. Dia tidak menyangka Pak Darmawan akan menyinggung hal ini. Dia menoleh dan menatap pria itu tenang. "Benar, Pak Darmawan. Saya kuliah semester akhir jurusan Hukum sebelum harus berhenti."
"Wah, hebat sekali," ucap Pak Darmawan dengan nada yang tidak bisa dibaca apakah pujian atau sindiran. "Jurusan hukum itu butuh otak yang encer dan kemampuan analisis yang tajam. Pasti kamu pandai melihat bukti-bukti dan menyusun strategi, kan?"
Rizky yang melihat ketegangan di wajah istrinya segera menyela. "Memang Putri sangat cerdas, Pak Darmawan. Itu salah satu alasan aku mencintainya. Tapi sayangnya, dia tidak sempat menyelesaikan kuliahnya. Mungkin nanti dia bisa melanjutkannya lagi."
"Ah, sayang sekali," ucap Pak Darmawan, masih menatap Putri tajam. "Bakat seperti itu sayang jika disia-siakan. Mungkin dengan latar belakangmu itu, kamu bisa membantu Rizky memeriksa dokumen-dokumen perusahaan? Kadang-kadang, orang dengan pandangan baru bisa melihat celah yang kita lewatkan, bukan?"
Putri tersenyum tipis, meski di dalam hatinya dia tahu ini adalah jebakan. "Terima kasih atas pujiannya, Pak Darmawan. Tapi ilmu saya hanya teori, belum tentu cocok dengan praktik bisnis yang rumit seperti di keluarga ini. Saya lebih baik mendukung Rizky dari belakang sebagai istri yang baik saja."
"Modis sekali jawabannya," puji Pak Darmawan, tapi matanya tetap dingin. "Tapi ingat, Putri, dalam hukum dan dalam bisnis, kebenaran itu seringkali tersembunyi di balik detail kecil. Dan orang yang terlalu pintar kadang-kadang terjebak dalam kecerdikannya sendiri."
Kalimat itu jelas sebuah peringatan. Putri merasakan tangan Rizky di bawah meja menggenggam tangannya erat-erat, memberinya kekuatan.
"Saya akan ingat nasihat Bapak," jawab Putri tenang.
Makan malam berlanjut dengan ketegangan yang masih terasa. Putri tahu, perang ini baru saja dimulai. Pak Darmawan sudah menantangnya. Dan dia harus siap.
Saat malam semakin larut dan tamu sudah pulang, Putri dan Rizky bersiap untuk tidur. Rizky terlihat sangat lelah dan segera terlelap setelah memeluk Putri. Namun, Putri masih terjaga.
Dia menatap wajah Rizky yang damai dalam tidurnya. "Rizky..." bisiknya pelan. "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Aku tidak tahu apakah nanti kita akan saling membenci atau tidak. Tapi tolong... percayalah bahwa apa yang aku lakukan, aku lakukan demi kebenaran. Dan demi kita, jika memang ada masa depan untuk kita."
Putri bangun dari kasur pelan-pelan, mengambil ponselnya yang terkunci di laci. Dia membuka pesan dari Bang Rio lagi. Dia menatapnya lama, lalu dengan hati-hati, dia mengambil kertas danpena, lalu mulai menulis pesan balasan singkat di atas kertas, bukan di ponsel. Dia tahu setiap ketukan di layar bisa dilacak, tapi tulisan tangan di kertas, jika dikirim dengan cara yang tepat, akan menjadi teka-teki yang sulit dipecahkan.
Putri menulis dengan huruf yang tegak namun hati-hati: [Jika serigala tua tidak berbahaya, mungkin kita bisa bicara. Tapi jangan berharap domba akan masuk ke mulut singa dengan sukarela. - PA]
PA. Putri Aulia. Inisial yang singkat, cukup untuk memberi tahu Bang Rio bahwa dia tahu siapa lawan bicaranya, namun tidak memberikan bukti tertulis yang bisa dipergunakan melawannya secara langsung.
Putri menatap tulisannya itu. Pesan ini adalah gambaran dari posisinya saat ini: dia waspada, dia tahu risikonya, tapi dia membuka pintu sedikit saja. Jika Bang Rio benar-benar ingin berkomunikasi, dia akan tahu cara menjemput pesan ini. Jika ini jebakan, maka Putri sudah mempersiapkan dirinya untuk tidak terlihat terlalu agresif.
Dia melipat kertas itu menjadi ukuran kecil, lalu menyimpannya di dalam saku gaun tidurnya. Dia tidak akan mengirimnya sekarang. Dia akan menunggu waktu dan cara yang tepat. Mungkin melalui Nina, atau mungkin menunggu kesempatan lain yang lebih aman.
Setelah merasa puas dengan rencananya, Putri kembali berbaring di samping Rizky. Suaminya masih terlelap dengan damai, napasnya teratur dan hangat. Putri memejamkan matanya, mencoba membiarkan rasa lelah mentalnya mengambil alih, tapi pikirannya masih terus berputar.
Besok adalah hari yang baru, dan dia tahu tantangan akan semakin berat. Pak Darmawan yang curiga, Bang Rio yang misterius, dan Rizky yang semakin mencintainya—semua ini menjadi jaring yang semakin rumit. Tapi Putri Aulia bukan wanita yang mudah menyerah. Dia punya kebenaran yang harus diungkap, dan dia punya orang-orang yang harus dia lindungi, terutama Rara.
Keesokan paginya, matahari bersinar terang, tapi suasana di kediaman Adinata tetap terasa mendung. Putri bangun lebih awal, merapikan diri, dan turun untuk sarapan. Rizky sudah ada di sana, terlihat lebih segar tapi masih menyisakan jejak kelelahan di matanya.
"Selamat pagi, Sayang," sapa Rizky lembut saat Putri duduk di sebelahnya. Dia meraih tangan Putri dan mengecupnya. "Tidurmu nyenyak?"
"Nyenyak, terima kasih," jawab Putri dengan senyum tulus, meski di dalam hatinya ada rasa bersalah yang terus mengganjal. "Kamu sendiri bagaimana? Masih banyak pikiran?"
Rizky menghela napas, lalu mengambil sepotong roti. "Banyak sekali. Masalah di pelabuhan belum selesai. Ayah menyuruhku dan Bang Rio pergi ke kantor polisi siang ini untuk memberikan keterangan resmi. Meskipun Pak Darmawan sedang mengurus 'hal-hal lain', kita tetap harus hadir secara formal."
Putri menahan napas. "Ke kantor polisi? Apakah itu berbahaya?"
"Tidak secara langsung," jawab Rizky, mencoba terdengar santai. "Ini hanya prosedur. Tapi ini tidak biasa. Biasanya masalah seperti ini bisa diselesaikan di meja makan atau dengan uang. Fakta bahwa mereka memanggilku berarti bukti yang ada di tangan mereka cukup kuat."
Putri menunduk, memainkan sendok di mangkuknya. Dia tahu itu karena buktinya. "Hati-hati, ya, Rizky. Tolong berjanji padaku kamu akan berhati-hati."
Rizky tersenyum, mengusap kepala Putri. "Aku janji. Jangan khawatir. Aku akan kembali dengan selamat. Lagipula, aku punya alasan kuat untuk pulang ke rumah dengan cepat." Dia menatap Putri dalam-dalam, membuat hati gadis itu berdebar kencang.
Saat sarapan hampir selesai, seorang pelayan datang dengan wajah cemas. "Tuan, Nyonya, ada tamu di depan. Dia bilang namanya Bang Rio, dan dia ingin bertemu Tuan Rizky segera."
Putri dan Rizky saling bertukar pandang. Rizky mengerutkan kening. "Bang Rio? Kenapa dia datang ke rumah se pagi ini? Biasanya kita bertemu di kantor."
Rizky segera berdiri. "Tunggu di sini, Putri. Aku akan menemui dia sebentar."
Putri mengangguk, tapi jantungnya berdegup kencang. Apakah ini berkaitan dengan pesan yang dia tulis semalam? Atau apakah Bang Rio datang untuk melaporkan sesuatu?
Beberapa menit kemudian, Rizky kembali ke ruang makan dengan wajah yang lebih serius dari sebelumnya.
"Ada apa, Rizky?" tanya Putri cemas.
"Masalah di pelabuhan semakin rumit," jawab Rizky cepat, sambil mengambil jaketnya. "Polisi menemukan bukti tambahan di dalam kontainer—sesuatu yang bahkan kami tidak tahu ada di sana. Sepertinya seseorang memang sengaja menjebak kita. Bang Rio datang menjemputku, kita harus segera pergi ke kantor polisi sekarang juga."
"Seseorang menjebak kalian?" ulang Putri, pura-pura kaget. "Siapa yang bisa melakukan itu?"
"Entah," jawab Rizky, lalu mendekati Putri dan mengecup keningnya cepat. "Aku harus pergi. Jangan keluar rumah, dan kunci pintu jika tidak ada orang yang kamu kenal. Hubungi aku jika ada apa-apa."
Rizky berlari keluar. Putri berjalan ke jendela dan mengintip. Dia melihat Bang Rio berdiri di samping mobil hitamnya. Pria itu mengenakan kemeja hitam dan celana jeans, posturnya tegak dan gagah. Saat Rizky mendekat, Bang Rio menoleh sejenak, dan seolah merasakan tatapan Putri, matanya menatap lurus ke arah jendela tempat Putri bersembunyi.
Putri mundur cepat, jantungnya berpacu. Apakah dia melihatnya?
Mobil Bang Rio dan Rizky segera melaju meninggalkan halaman rumah. Putri berdiri sendirian di ruang makan yang sepi. Dia memikirkan kata-kata Rizky: Polisi menemukan bukti tambahan... sesuatu yang bahkan kami tidak tahu ada di sana.
Itu aneh. Putri hanya mengirim foto-foto yang dia ambil sendiri. Jika ada bukti tambahan, itu berarti... ada orang lain yang juga ingin menjatuhkan Pak Hidayat? Atau... apakah Bang Rio yang menaruh bukti itu di sana?
Pikiran Putri kembali pada pesan yang dia tulis semalam, yang masih tersimpan di sakunya. Dia mengeluarkannya lagi dan menatapnya.
Jika serigala tua tidak berbahaya, mungkin kita bisa bicara.
Putri tahu dia harus bertindak cepat. Jika Bang Rio benar-benar membantunya—meskipun alasannya belum jelas—ini adalah kesempatan emas. Tapi dia harus memastikan dulu.
Tiba-tiba, ponsel Putri bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal, tapi dia tahu siapa pengirimnya. Pesan itu hanya berisi satu kalimat:
[Taman kota tua, jam 3 sore. Datang sendiri. Bawa kertas yang kau tulis semalam. - BR]
Darah Putri berdesir. Dia tahu! Dia tahu Putri menulis pesan itu! Bagaimana bisa? Apakah dia memasang alat sadap di kamarnya? Atau apakah dia hanya menebak? Atau... apakah dia punya cara lain untuk mengetahui apa yang dilakukan Putri?
Ketakutan menyelinap di hati Putri, tapi di saat yang sama, rasa penasaran dan keinginan untuk mengetahui kebenaran menguasainya. Jika Bang Rio bisa tahu apa yang dia lakukan di kamar tertutup, maka dia sangat berbahaya. Tapi jika dia bisa tahu tanpa melaporkannya ke Pak Hidayat, maka dia mungkin memang sekutu.
Putri menatap pesan itu lagi. Jam 3 sore di taman kota tua. Tempat yang sama di mana dia dan Nina pergi kemarin.
"Apa yang harus kulakukan?" bisik Putri pada dirinya sendiri. "Apakah ini jebakan maut, atau pintu menuju kemenangan?"
Dia memikirkan Rara, dia memikirkan Rizky, dan dia memikirkan orang tuanya. Dia tidak punya banyak pilihan. Dia harus tahu.
Putri mengangguk pada dirinya sendiri. Dia akan pergi. Tapi dia tidak akan pergi tanpa persiapan. Sebagai mantan mahasiswa hukum, dia tahu cara melindungi diri. Dia akan membawa bukti-bukti yang dia miliki dalam bentuk salinan tersembunyi, dan dia akan memastikan Nina tahu ke mana dia pergi, meskipun dia menyuruh Nina menunggu di luar.
Putri menyimpan kertas tulisannya itu kembali ke saku, lalu berjalan menuju kamarnya untuk bersiap. Permainan bayangan ini semakin intens, dan dia harus memastikan dia tidak menjadi bidak yang dikorbankan.
[PERTANYAAN UNTUK PEMBACA]: Putri menerima pesan dari Bang Rio yang memintanya bertemu di taman kota tua, dan pria itu bahkan tahu bahwa Putri menulis pesan balasan semalam. Situasi ini sangat berisiko. Jika kamu jadi Putri, apakah kamu akan memenuhi undangan itu dan mencoba mencari tahu niat Bang Rio, atau kamu akan menolak dan melaporkan hal ini pada Rizky?