Cinta mempertemukan kembali batas antara dua dunia, kehilangan, keajaiban yang terlahir dari luka.
Antara masa lalu dan masa depan, dua wanita, hidup dan mati.
Kinan hanya satu pilihan bertahan di "ruang masa " atau turun untuk cinta terakhirnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sayang, Aku di Sini
Minggu pagi Raka tidak tahu mengapa ia bangun, tidak ada alarm, suara, hanya kebiasaan tubuh lebih kuat dari keinginan hati untuk terus terbaring. Ia duduk di ranjang, menatap jendela memperlihatkan langit abu-abu—mendung menangis tapi tidak jadi.
Hari libur tidak ada kerja. Tidak ada alasan untuk keluar rumah untuk apa pun.
Tapi kakinya bergerak mengenakan celana jeans dan kemeja yang sama kemarin, sandal jepit yang sama, Ia tidak peduli karena tidak ada yang melihat.
Ibunya sudah pulang kampung kemarin, setelah seminggu menemani. Maya datang setiap hari, tapi Raka memintanya untuk tidak hari ini—"Gue butuh sendiri, May."—dan Maya, dengan mata lebih mengerti terlalu banyak, mengangguk.
Ia keluar rumah mengunci pintu, melangkah di gang sempit di jalan masih sepi. Ke mana? Ia tidak tahu tidak ada tujuan hanya berjalan, karena berdiri terlalu menyakitkan, duduk terlalu sunyi, dan berjalan satu-satunya cara untuk merasa masih hidup—meski hanya fisik, meski hati sudah mati.
Kakinya membawanya ke terminal naik angkot turun di taman kota.
Taman kota.
Raka berdiri di gerbang besi yang berkarat, menatap tempat yang dulu menjadi saksi awal segalanya. Taman yang dulu hijau dan hidup, kini terlihat pudar—rumput menguning di beberapa tempat, bangku cat hijau mengelupas, patung pahlawan ditutupi lumut.
Tapi bukan itu yang ia lihat. Ia melihat Kinan enam tahun yang lalu.
Raka baru pindah ke divisi pemasaran, masih canggung dengan rekan kerja baru, sering salah jalan ke toilet. Perusahaan mengadakan event peluncuran produk, dan ia ditugaskan mencari vendor dekorasi bunga.
"Taman kota aja, Ra," kata rekan kerjanya. "Ada yang jual bunga bagus, harganya terjangkau. Ceweknya cantik lagi."
Ia tidak peduli dengan cantik atau tidak hanya ingin menyelesaikan tugas, pulang, dan tidur. Tapi kakinya membawanya ke taman ini, ke sudut dekat patung pahlawan, gerobak kayu kecil dengan spanduk "Kinan's Garden" dibuat tangan.
Gadis itu bukan cantik dalam cara konvensional, terlalu kurus, pucat, dan sibuk mengatur bunga dengan tangan cepat untuk ukuran tubuhnya. Rambutnya dikepang dua, mengenai bahu, seperti anak-anak untuk perempuan yang ia tahu mungkin berusia dua puluh lima tahun.
"Mau beli bunga, Mas?" Ia melihat dengan senyum lebar menunjukkan gigi rata. "Mawar? Melati? Atau bucket campuran? Lagi diskon nih, ultah gerobak yang pertama."
Raka ingin mengatakan mencari vendor untuk kantor, butuh penawaran harga, portofolio, surat izin usaha. Tapi yang keluar malah kalimat "Bucket campuran ya dik. Yang... yang paling bagus."
Ia tertawa lepas terlalu keras untuk ukuran tubuhnya membuat beberapa orang menoleh.
"Paling bagus mahal, Mas," katanya, masih tertawa. "Tapi aku kasih diskon khusus. Pertama kali ketemu, kan? Harus ada kenang-kenangan."
Ia membuat bucket bunga, tangan kecilnya bergerak cepat—memotong, menyusun, mengikat. Mawar putih, melati, aster ungu, daun-daun hias. Dalam lima menit, bucket yang indah jadi di tangannya.
"Ini," Ia menyerahkan dengan senyuman yang sama. "Dua ratus ribu. Diskon dari dua lima puluh. Kenang-kenangan pertama kali ketemu."
Raka membayar. Tiga ratus ribu—lebih dari yang diminta," Ini dek."
Kinan melihat uangnya bingung "Kebanyakan, Mas."
" Gak pa-pa, tanda perkenalan," balasnya sambil tersenyum.
" Tapi...makasih kalau begitu. Aku catat sebagai hutang ya, nanti kalau mas ingin beli buket lagi dapat ... siapa? Nama mas"
"Raka."
"Raka," Kinan mengulang, seolah mencicipi nama itu. " Aku Kinan. K-I-N-A-N. Bukan K-A-N-A-N, bukan K- I-R-I tapi Kinan. Datang lagi ya, mas Raka. Aku di sini tiap hari, kecuali hujan. Kalau hujan di rumah, nonton drama Korea sambil makan mi."
Terlalu banyak informasi untuk pertemuan pertama. Tapi Raka menyukainya, menyukai cara bicaranya polos, memperlakukan orang asing seperti teman lama, pada dunia tiba-tiba terasa lebih terang hanya karena senyuman perempuan di gerobak bunga.
Ia pulang dengan bucket bunga yang tidak ia butuhkan. Meletakkannya di meja kerja, mendapat ejekan rekan-rekan—"Paketan lo, Ra?"—tapi ia tidak peduli melihat kartu kecil yang ia selipkan di antara bunga: nomor telepon, dengan gambar bunga kecil di sudut, dan tulisan tangan—"Kalau butuh bunga lagi. Atau kalau cuma mau ngobrol. -Kinan"
Dua minggu kemudian, mereka jalan untuk pertama kali bukan ke kafe mahal, ke bioskop—tapi ke warung soto pinggir jalan yang ia bilang "paling enak di dunia, lho mas, aku jamin." Raka yang biasanya tidak suka soto—terlalu berlemak, terlalu banyak bawang—tiba-tiba menyukainya.
Ia makan dengan lahap, mengajarnya cara mencampur kecap dengan sambal proporsi tepat.
Tiga bulan kemudian, mereka pacaran. Enam bulan, Raka melamar dengan cincin yang ia beli dengan tabungan setahun—bukan yang mahal, tapi Kinan suka "Terimakasih ya mas, cincin ini sangat berharga dari pada gerobak bunga," katanya sambil tersenyum
Satu tahun, mereka menikah secara sederhana, di rumah orang tuanya dengan bunga-bunga dari gerobak menghiasi pelaminan. Raka sangat bahagia, percaya pada janji Tuhan sehidup semati.
Tiga tahun. Tiga tahun yang berakhir di ruang ICU nomor tujuh, dengan mesin yang mendatar dan tangan dingin.
Raka berjalan ke bangku favorit mereka, bangku cat hijau yang mengelupas, di bawah pohon trembesi yang rindang. Tempat mereka duduk setiap sore, setelah tutup gerobak. Tempat mereka berbagi es kelapa, berbagi cerita, berbagi hidup.
Bangku itu kosong tentu saja kosong terasa
dingin meski cuaca panas.
Di seberang, di sudut dekat patung pahlawan, ada gerobak kayu tapi itu bukan gerobak Kinan—gerobak itu sudah dijual setahun lalu, untuk biaya pengobatan. Gerobak orang lain, dengan spanduk berbeda, penjual berbeda. Perempuan muda yang tidak ia kenal tersenyum pada pelanggan dengan cara lain, tidak pernah akan menjadi Kinan.
Raka menatapnya lamat sampai perempuan itu melihatnya, mengernyit, lalu mengalihkan pandangan—ada orang aneh duduk sendirian di bangku, menatap dengan mata kosong.
Ia tidak peduli. Tidak ada yang bisa membuatnya peduli lagi.
Angin bertiup. Daun trembesi berguguran, beberapa helai mendarat di pangkuannya. Raka mengambil satu. Hijau kekuningan, urat yang jelas, bentuk yang sempurna dalam ketidaksempurnaannya.
Kinan suka daun. Dulu, saat masih bisa berjalan, ia sering mengumpulkan daun-daun yang bagus, menekannya di antara halaman buku, membuat koleksi yang Raka sebut sebagai "benda mati" tapi Kinan membela sebagai "seni alam."
Koleksi itu masih ada di rumah. Di kotak kardus di bawah ranjang, ratusan daun yang dikeringkan, dengan tanggal dan lokasi ditulis di kertas kecil. "Taman kota, 12 Mei 2019." "Kebun raya, 3 Agustus 2020."
Raka menyimpan daun ini di saku tidak tahu untuk apa. Mungkin untuk ditambahkan ke koleksi yang tidak akan pernah bertambah lagi. Mungkin hanya untuk terhubung melakukan sesuatu yang ia suka.
"Mas?"
Suara dari belakang. Raka menoleh. Seorang anak kecil, mungkin lima tahun, memegang balon warna-warni. Di belakangnya, ibunya yang tampak khawatir melihat Raka—pucat, berjanggut, berpakaian kusut, duduk sendirian di bangku dengan mata merah.
"Ibu saya bilang," anak itu bicara pelan, "kalau sedih, harus cerita. Biar nggak sedih lagi."
Raka tercenung terlalu lama, sampai ibunya menarik anak itu menjauh, berbisik "Maaf, Mas, anak saya nakal," dan membawanya pergi dengan langkah cepat.
Tapi kata-kata itu tinggal " Kalau sedih, harus cerita.
Raka ingin tertawa sampai air matanya keluar tapi cerita pada siapa? Pada ibu yang sudah pulang kampung dan punya masalah sendiri? Pada Maya yang juga berduka dan tidak perlu beban tambahan? pada teman-teman kerja yang hanya akan kasihan dan berbisik di belakang?
Atau pada bangku kosong ini? Pada pohon trembesi yang tidak bisa menjawab? angin yang membawa daun-daun gugur tapi tidak membawa apa pun untuk kembali?
Tidak ada tempat untuk bercerita. Tidak ada yang bisa mengerti. Tidak ada yang bisa mengembalikannya
Siang tiba tanpa Raka sadari. Matahari muncul dari balik awan, panas tidak nyaman, membuat kemeja yang ia kenakan dua hari ini menempel di punggung.
Ia berdiri. Lututnya kaku, punggungnya nyeri, tapi ia berdiri. Berjalan ke gerobak bunga—
Perempuan muda itu melihatnya mendekat, waspada. Raka mengerti. Ia terlihat seperti orang gila, seperti pengemis bahaya.
"Satu bucket," ucapnya parau. "Mawar putih. Yang... yang paling bagus."
Kata-kata yang sama yang ia ucapkan enam tahun lalu memulai segalanya.
Perempuan itu mengernyit mulai bekerja. Tangan-tangannya bergerak, tidak secepat Kinan, tidak dengan cinta yang sama, tapi menghasilkan bucket yang bagus. Mawar putih, melati, aster ungu—bunga sama, susunan yang mirip, tapi bukan.
"Seratus lima puluh ribu," kata perempuan itu, menyerahkan bucket dengan hati-hati, seolah takut Raka akan menciumnya atau melakukan sesuatu aneh.
Raka membayar. Dua ratus ribu—lebih dari yang diminta, seperti dulu. Tapi tidak ada senyum lebar, tidak ada tawaran diskon, tidak ada "kenang-kenangan pertama kali ketemu."
Hanya transaksi bisnis bunga yang akan layu dan dibuang.
Ia membawa bucket itu kembali ke bangku. Duduk lagi. Menatap bunga-bunga yang indah tapi salah—terlalu sempurna, tanpa jiwa, terlalu bukan Kinan.
Ia ingat sesuatu. Sesuatu yang ia katakan, di bangku ini, beberapa bulan setelah mereka menikah.
" Mas, kalau aku pergi," Ia bicara dengan santai, seolah membahas cuaca, "Mas harus terus beli bunga di sini dari siapa pun yang gantiin biar... mas inget terus Kinan ."
Raka marah saat itu. Marah karena ia berbicara tentang kematian, marah karena menganggapnya mungkin, ketakutan yang ia ungkapkan dengan cara santai.
"Jangan ngomong gitu, sayang," katanya, memeluknya erat. "Kita akan tua bareng, gak akan ada yang pergi duluan karena Kinan bandel dan bikin stres."
Ia tertawa.
Kini, di bangku yang sama, dengan bunga yang sama tapi dari tangan berbeda, Raka menangis air mata yang tenang mengalir tanpa ia sadari, membasahi pipi, janggut dan kemeja yang sudah kotor.
"Mas inget, Nan," bisiknya pada bunga-bunga itu. "Mas beli bunga di sini. Mas... mas masih di sini."
\=\=
Sore tiba. Raka masih di bangku.
Bucket bunga di sampingnya, beberapa mawar sudah mulai layu di ujung kelopak. Ia tidak peduli tidak akan membawa pulang—tidak ada tempat untuk bunga di rumah yang kini hanya tempat tidur dan duka.
Orang-orang lewat berpasangan, berkeluarga, sendirian. Beberapa meliriknya, beberapa tidak. Dunia berputar, meski ia berhenti.
Maya datang pukul lima sore. Raka tidak tahu bagaimana ia tahu di sini—mungkin telepati, secara kebetulan, tempat yang jelas untuk dicari.
"Ra," Maya duduk di sebelahnya, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. "Gue khawatir."
Ia tidak menjawab menatap gerobak bunga di seberang sudah ditutup, penjualnya pulang dengan sepeda motor tua.
"Lo nggak jawab telepon," lanjutnya. "Gue ke rumah, lo nggak ada. Ibu lo telepon dari kampung, nanyain kabar. Gue nggak tahu jawab apa."
"Maaf," kata Raka, suaranya tidak seperti miliknya. "Gue nggak dengar telepon. Gue... gue cuma perlu sendiri."
Maya mengangguk. Mengerti, atau berpura-pura mengerti. Raka tidak peduli mana yang benar.
Mereka duduk dalam sunyi sampai matahari tenggelam di balik gedung-gedung tinggi, lampu taman menyala satu per satu, sampai udara menjadi dingin dan lembap.
"Dulu," Raka bicara, pertama kalinya sejak sore, "di sini. Gue ketemu Kinan. Di sini juga. Gue... gue nggak tahu cara ceritain."
Maya menoleh menunggu tidak memaksa.
"Dia lagi jualan bunga. Gue beli, padahal nggak butuh. Dia ketawa, suaranya terlalu keras. Gue... gue jatuh cinta. Di sini. Di bangku ini." Raka menatap kayu di bawahnya, seolah bisa melihat jejak mereka yang masih tertinggal. "Kini gue di sini lagi. Dia nggak ada. Bunga yang gue beli, bukan dari dia tawa yang gue dengar, bukan miliknya. Tapi gue masih di sini, May. Gue masih... gue nggak tahu cara pergi."
Maya menangis
"Gue rindu dia, May," lanjutnya pecah. "Bukan rindu yang... yang bisa diobatin. Bukan rindu yang bakal hilang tapi...gue harus terus hidup, kan? Itu yang semua orang bilang. Hidup. Untuk dia. Tapi gue nggak tahu caranya, May. Gue nggak tahu..."
Ia berhenti tidak ada kata lagi hanya isak yang tertahan, tubuh yang bergetar, pria yang duduk di bangku dengan bunga layu di sampingnya dan kehancuran di dalamnya.
Maya memegang tangan nya erat dan untuk pertama kalinya sejak Kinan pergi, ia membiarkan seseorang menyentuhnya tanpa menolak.
"Pelan-pelan, Ra," bisik Maya. "Satu hari satu langkah. Kita cari cara bareng."
Raka tidak percaya. Tidak percaya bahwa ada cara, bahwa ada "kita", bahwa ada masa depan yang bisa ditempuh tanpa dirinya. Tapi ia terlalu lelah untuk membantah hancur untuk menolak.
Ia berdiri. Bucket bunga ia tinggalkan di bangku—untuk penjual gerobak yang akan datang besok, untuk orang asing yang membutuhkan bunga, untuk siapa pun kecuali dirinya.
\=\=\=
Di depan kontrakan, Maya berkata sesaat lalu: "Gue masuk sebentar? Bersihin, masakin, apa pun. Lo nggak harus ngomong. Gue cuma... gue cuma nggak sanggup tinggalin lo sendiri malam ini."
Raka mengangguk. Tidak peduli, atau terlalu peduli untuk menolak. Ia tidak tahu lagi bedanya.
Di dalam, Maya bekerja membersihkan piring kotor, menyapu lantai, mengganti sprei yang sudah bau keringat dan air mata. Raka duduk di kursi, menatap tanaman lidah mertua semakin layu.
"Ini," Maya memberikan segelas air. "Minum. Terus tidur. Gue di sofa kalau lo butuh apa-apa."
Raka minum. Air yang seharusnya tidak berasa apa pun, tapi terasa pahit di lidahnya. Ia berjalan ke kamar berbaring di sisi Kinan, di sisi yang salah, menutup mata terlalu lelah untuk terbuka.
Tidur datang, akhirnya tanpa mimpi, atau tidur dengan mimpi yang terlalu menyakitkan untuk diingat hanya penundaan untuk pagi lain tanpa arti.
Tapi sebelum tidur, dalam keadaan setengah sadar, Raka merasa sesuatu angin sepoi dari pentilasi bau melati tidak ia bawa pulang. Dan suara, sangat samar, sangat jauh, seperti gema dari mimpi yang belum terjadi:
"Sayang...jangan menangis terus, Kinan di sini."
mampir 🤭